radiovisfm.com, Banyuwangi - Berdalih hasil kejahatannya di gunakan untuk biaya menikah, seorang pemuda asal Kecamatan Kalipuro Banyuwangi melakukan serangkaian aksi penjambretan.

Namun tindakan kriminalitas Fajar Wahyudianto harus terhenti ditangan aparat kepolisian, setelah mengambil paksa 2 ponsel milik Basrowi (40) saat berada di kawasan Jalan Ikan Tongkol RT 01 RW 04 Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi kota.

Selanjutnya, Pemuda berusia 24 tahun warga Lingkungan Krajan RT 03 RW 03 Kelurahan Bulusan Kecamatan Kalipuro tersebut menjual ponsel hasil kejahatannya melalui media social Facebook seharga Rp 800.000.

Kapolsekta Banyuwangi, AKP Ali Masduki melalui Kanit Reskrim Ipda Nurmansyah mengatakan, kedok tersangka ini terbongkar setelah korban melaporkan peristiwa naas yang di alaminya ke pihak kepolisian.

“Dari hasil pengembangan penyidikan, kepolisian menemukan salah satu ponsel milik korban yang di pegang salah seorang warga Kecamatan Rogojampi,” ujar Ipda Nurmansyah.

“Setelah di interograsi, dia mengaku mendapatkan ponsel itu dengan cara membeli dari seseorang bernama Fajar Wahyudianto melalui Facebook,” imbuhnya.

Kepolisian pun bergerak cepat untuk mencari keberadaan tersangka, hingga berhasil di tangkap.

Menurut Ipda Nurmansyah, di hadapan petugas, tersangka mengaku mengambil paksa ponsel korban tersebut dengan cara menendang anak korban yang masih di bawah umur, yang saat itu sedang memegang ponsel di pinggir jalan di TKP.

“Setelah melakukan aksinya, tersangka kabur dengan mengendarai sepeda motor Vario Techno 150 cc hitam bernopol P 3930 UP miliknya,” kata Ipda Nurmansyah.

Dia menambahkan, kepada petugas pula, tersangka mengaku terpaksa melakukan aksi kejahatan ini karena hasil penjualan barangnya hendak digunakan untuk biaya menikahi kekasihnya.

Kini tersangka yang selama ini tinggal bersama saudaranya di kawasan Kelurahan Kebalenan tersebut, harus meringkuk di dalam sel tahanan Mapolsekta Banyuwangi.

Dan atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Satuan Reskoba Polres Banyuwangi menangkap Aliong, dengan di amankan barang bukti narkotika jenis sabu dan pil ekstasi.

Heryanto alias Aliong (35) ditangkap satuan yang di gawangi Kasat Narkoba AKP Imron tersebut, di area parkiran Ruko 5A di Perumahan Taman Laguna Residence Lingkungan Sukowidi Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro Banyuwangi.

Dari tangan laki laki pemilik salah satu counter ponsel di Banyuwangi dan merupakan warga Perumahan Taman Sutri Indah Blok B 10 RT 04 RW 01 Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi tersebut, kepolisian mengamankan 3 paket narkotika jenis sabu seberat 9,65 gram dan 10 butir pil ekstasi warna hijau logo XTC seberat 4,28 gram. Juga 2 buah kotak plastic, 1 buah bekas bungkus rokok dan 1 buah potongan lakban hitam, 1 unit ponsel dan 1  unit mobil Nissan Grand Livina hitam bernopol P 1744 VJ.

Kasat Narkoba mengatakan, sebelumnya, kepolisian mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai sepak terjang tersangka, yang diduga sebagai pengedar narkoba.

“Lalu kami lakukan pengembangan penyidikan hingga petugas berhasil mengetahui keberadaan tersangka,” ujarnya.

AKP Imron menjelaskan, sejumlah aparat kepolisian mendapati mobil tersangka melaju ke arah utara lalu di buntuti. Dan saat berhenti di TKP, kepolisian langsung menggeledah isi mobil tersangka hingga berhasil di temukan sejumlah barang bukti tersebut yang selanjutnya di amankan di Mapolres Banyuwangi berserta tersangka.

“Kini tersangka menjalani pemeriksaan kepolisian guna mengetahui kemungkinan adanya jaringan tersangka di Banyuwangi maupun di luar daerah,” papar Kasat Narkoba.

Memang diakui AKP Imron, untuk pengguna narkotika jenis sabu dan pil ekstasi ini dari kalangan kelas menengah ke atas karena harganya yang terbilang cukup mahal.

“Peredarannya, sudah merambah ke hampir seluruh wilayah di Banyuwangi,” pungkas Kasat Narkoba.

Kini, tersangka harus menjalani penanganan hukum dan atas semua perbuatannya di jerat pasal 114 subsider pasal 112 UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian berhasil mengungkap jaringan pencurian ponsel yang beraksi di lokasi kegiatan Festival Banyuwangi Bersholawat di Stadion Diponegoro Banyuwangi, dengan menangkap 2 orang tersangka.

Jaringan ini terbongkar setelah kepolisian menerima laporan dari Koko Hariyanto yang mengaku 2 ponsel miliknya hilang, saat berada di Kedai Gandos di kawasan Jalan Pajajaran Kelurahan Taman Baru Kecamatan Banyuwangi kota, pada Sabtu (24/11).

Selanjutnya, aparat kepolisian Polsekta Banyuwangi bergerak cepat melakukan pengembangan penyidikan, hingga berhasil menangkap Suhendrik (37) warga Lingkungan Ujung RT 01 RW 01 Kelurahan Kepatihan Kecamatan Banyuwangi kota.

Residivis kasus pencurian dengan pemberatan ini mengakui jika telah mencuri 2 ponsel milik Koko Hariyanto di lokasi tersebut. Yang selanjutnya di jual kepada seseorang yang di akui bernama Agus Supriyadi, bertempat tinggal di Lingkungan Kerobokan RT 01 RW 03 Kelurahan Kampung Mandar Kecamatan Banyuwangi kota seharga Rp 1.500.000.

Kapolsekta Banyuwangi, AKP Ali Masduki mengatakan, aparat kepolisian pun melakukan pengembangan penyidikan dan berhasil menangkap laki laki berusia 35 tahun tersebut di depan gedung BNI Cabang Banyuwangi di kawasan jalan Banterang Kelurahan Kampung Melayu Kecamatan Banyuwangi kota.

“Kepada petugas, tersangka Agus Supriyadi ngaku selama ini menerima pembelian berbagai barang hasil dari aksi kejahatan,” ujar Kapolsekta.

“Untuk pemasarannya, tersangka menjual melalui media social maupun di jual langsung dengan harga yang relative murah,” imbuhnya.

Kapolsek menjelaskan, dari hasil penadah ini, tersangka juga mengaku telah melakukan penjualan sebanyak 16 kali.

Sementara itu, untuk tersangka Suhendrik sendiri ditangkap langsung oleh Kanit Reskrim Polsekta Banyuwangi, Ipda Nurmansyah di Stadion Diponegoro saat akan beraksi di area kegiatan Festival Banyuwangi Bersholawat, Senin malam (26/11).

Dari sinilah, tersangka mengaku ada 5 orang yang sedang beraksi di dalam Stadion Diponegoro untuk mencuri ponsel milik para jama’ah.

“Pengakuan tersangka itu benar, setelah kegiatan Sholawat selesai ada 5 orang melapor ke Mapolsekta Banyuwangi mengenai ponselnya yang raib di lokasi,” tutur Kapolsek.

Dia menambahkan, hal ini menjadi pekerjaan rumah pihak kepolisian untuk bisa mengungkap para pelakunya tersebut.

“Kepolisian sudah mengantongi beberapa nama yang di duga melakukan aksi pencurian itu,” pungkas Kapolsek.

Berdasarkan catatan kriminalitas, tersangka Suhendrik pernah ditahan di Lapas Banyuwangi atas kasus penganiayaan pada tahun 1998 lalu dengan vonis 4 bulan penjara.

Masih di tahun yang sama, tersangka kembali melakukan penganiayaan dan di vonis hukuman 1 tahun 4 bulan penjara. Selanjutnya, di tahun 2000 juga di tahan atas kasus pencurian dengan vonis 7 bulan penjara.

Dan untuk di tahun 2018 ini, atas aksi kriminalitas yang di lakukannya, tersangka di jerat pasal 362 KUHP tentang pencurian dan pemberatan serta pasal 480 KUHP tentang penadah hasil curian, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna menstabilkan kejiwaannya, kepolisian menurunkan tim Psikolog untuk mendampingi seorang siswi Sekolah Dasar yang menjadi korban pencabulan dari bapak kandungnya sendiri.

NR (11) kini harus menanggung tekanan psikis atas perbuatan bejat yang dilakukan Poniman Halimsanto (32), yang merupakan bapak kandungnya. Warga Kelurahan Karangrejo Kecamatan Banyuwangi kota tersebut tega mencabuli anaknya sendiri sejak masih berusia 6 tahun, tepatnya sejak bulan Agustus 2013 silam.

Bahkan, perbuatan layaknya pasangan suami istri ini di lakukan tersangka selama dua minggu sekali dalam satu bulan dengan melakukan ancaman terhadap korban. Dan terakhir kali, perbuatan bejat ini dilakukan tersangka pada September 2016.

Kapolres Banyuwangi AKBP Taufiq Herdiansyah Zeinardi mengatakan, setelah mendapat laporan dari nenek korban, Misnatun mengenai peristiwa naas yang di alami cucunya tersebut, kepolisian langsung menangkap tersangka di rumahnya, yang selama ini tinggal bersama istri keduanya.

“Korban tinggal bersama neneknya, setelah kedua orang tuanya bercerai,” ungkap Kapolres.

Sementara Sri Pundani, ibu korban kini tinggal di bali untuk bekerja.

Kapolres menjelaskan, yang menjadi pekerjaan rumah bagi pihak kepolisian adalah menjaga psikologi korban agar bisa kembali menjalankan aktifitasnya sehari hari seperti biasa.

“Mulai sekolah, mengaji maupun bermain dengan teman teman sebayanya,” kata Kapolres.

“Kami segera turunkan psikiater dan psikolog untuk dampingi korban sekaligus memberikan pendampingan hukum, supaya tidak di bully oleh teman temannya setelah kasus yang menimpanya di ketahui masyarakat,” papar mantan Kapolres Bondowoso tersebut.

Sementara itu, kedok tersangka ini terbongkar saat neneknya meminta korban untuk mengaji, namun dia menolak dengan alasan kesehatannya terganggu.

Disitulah, nenek korban merasa curiga dengan gelagat dan keluhan kesehatan dari cucunya yang dinilai tidak lazim di rasakan oleh anak anak seusianya.

Dan setelah di desak, akhirnya korban menceritakan semua perbuatan bejat yang di lakukan bapaknya terhadap dirinya. Lalu nenek korban melaporkan hal ini ke pihak kepolisian hingga di lakukan penangkapan terhadap tersangka.

Atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 76 jonto pasal 81 ayat 1 dan 3 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Satuan Reskrim Polres Banyuwangi melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Ketua Kelompok Kerja Masyarakat (Pokmas), di duga melakukan pungli pengurusan sertifikat tanah melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).

Penangkapan terhadap Gito Suprayogi ini di laksanakan aparat kepolisian yang tergabung dalam Unit Pidkor dan Unit Opsnal Kota Satreskrim, di halaman parkiran Kantor Bank BRI Unit Kalibaru di kawasan jalan raya Jember Desa Kalibaru Wetan Kecamatan Kalibaru Banyuwangi.

Laki laki berusia 45 tahun warga Dusun Krajan RT 02 RW 03 Desa Banyuanyar Kecamatan Kalibaru tersebut, tercatat sebagai Ketua Pokmas PTSL di wilayah setempat.

Dari OTT ini kepolisian berhasil mengamankan barang bukti uang tunai sejumlah Rp 10.000.000 dan 1 buah Sertifikat Hak Milik nomor 01449 atas nama Hoiriyah berlamatkan di Desa Banyuanyar Kecamatan Kalibaru. Juga 1 buah Hanpdhone, 1 unit sepeda motor Honda Beat hitam milik tersangka beserta 1 buah kwitansi penerimaan uang sebesar Rp 7.500.000.

Dalam keterangan persnya, Selasa (27/11), Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufiq Herdiansyah Zeinardi mengatakan, kedok tersangka ini terbongkar setelah seorang warga, Hj Hoiriyah mendaftarkan 3 bidang tanah yang ada di Desa Banyuanyar Kecamatan Kalibaru kepada tersangka selaku Ketua Pokmas di tahun 2016 lalu.

“Oleh tersangka, korban di bebani biaya sebesar Rp 40.000.000. Sedangkan dari kesepakatan bersama antara pihak Desa, Pokmas dan warga, untuk biaya PTSL hanya sebesar Rp 700.000 per bidang,” papar Kapolres.

Dia menjelaskan, saat itu, korban baru membayar sebesar Rp 12.500.000 dan itu dibayarkan 2 kali yaitu Rp 7.500.000 dan Rp 5.000.000 selama 2016 hingga 2017, sedangkan sisanya diminta ketika sertifikat keluar.

Selanjutnya, tahun 2018 ini, korban di hubungi tersangka sambil mengatakan bahwa 3 sertifikatnya sudah jadi dan korban di minta untuk melunasinya.

“Tapi korban mengaku hanya mempunyai uang Rp 10.000.000. Sebenarnya, sertifikat tersebut sudah selesai di tahun 2017 lalu,” ujar Kapolres.

“Mereka pun sepakat bertemu di TKP untuk pembayaran itu setelah korban melakukan pengambilan uang tunai,” imbuhnya.

Sebelum bertransaksi, rupanya tersangka terlebih dahulu melapor ke pihak kepolisian karena merasa curiga jika dirinya ditipu oleh tersangka.

Disini, tersangka menyerahkan 1 sertifikat Hak Milik nomor 014499 atas nama Hoiriyah kepada korban.

“Saat itulah, sejumlah aparat kepolisian melakukan Operasi Tangkap Tangan dan mengamankan tersangka ketika menerima uang dari korban sejumlah Rp 10.000.000 lalu diamankan di Mapolres Banyuwangi,” kata mantan Kapolres Bondowoso tersebut.

AKP Taufiq menambahkan, dari pengakuan tersangka, dirinya sudah melakukan pengurusan Sertifikat Hak Milik sebanyak 300 kali sepanjang tahun 2017 hingga 2018.

Dari penangkapan ini, tersangka di jerat pasal 12 UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang pemberntasan tindak pidana korupsi, yang di ubah dengan UU RI nomor 20 tahun 2001 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda mencapai Rp 1 miliar.

Selain itu, tersangka juga di jerat pasal 368 KUHP tentang pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara serta pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Semestinya orang tua hadir untuk melindungi anaknya, tidak demikian dengan Poniman Halimsanto.

Laki laki berusia 32 tahun warga Kelurahan Karangrejo Kecamatan Banyuwangi kota tersebut tega berbuat asusila terhadap NR anak kandungnya sendiri, hingga puluhan kali.

NR yang kini berusia 11 tahun dan masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar tersebut, mendapat perlakuan tidak senonoh dari bapak kandungnya sejak dirinya berusia 6 tahun atau tepatnya sejak Agustus 2013 silam.

Saat itu, tersangka mengancam korban akan di pukuli jika tidak mau di ajak tidur. Karena merasa ketakutan, korban pun menuruti permintaan tersangka yang merupakan bapak kandungnya tersebut.

Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufiq Herdiansyah Zeinardi mengatakan, sejak saat itulah, korban mengaku di cabuli bapaknya dua minggu sekali dalam setiap bulan.

“Terakhir kali, perbuatan bejat ini di lakukan tersangka pada bulan September 2016,” ujarnya.

Kapolres menjelaskan, selama ini, korban tinggal bersama neneknya, Misnatun. Sementara kedua orang tuanya bercerai sejak 2014. Sang ibu, Sri Pundani tinggal di Bali untuk bekerja, sedangkan bapaknya menikah lagi dan tinggal bersama istri keduanya.

“Tapi sesekali, korban bermain ke rumah bapaknya yang dihalamannya terdapat bengkel sepeda motor, yang menjadi satu dengan kamar bagian depan,” kata Kapolres.

“Disinilah, tersangka tega berbuat asusila terhadap anak kandungnya tersebut hingga layaknya pasangan suami istri dengan melakukan pengancaman,” imbuhnya.

Kapolres menjelaskan, kedok tersangka ini terbongkar saat neneknya meminta korban untuk mengaji, namun dia menolak dengan alasan kesehatannya terganggu.

“Disitulah, nenek korban merasa curiga dengan gelagat dan keluhan kesehatan dari cucunya yang dinilai tidak lazim di rasakan oleh anak anak seusianya,” papar mantan Kapolres Bondowos tersebut.

Dan setelah di desak, akhirnya korban menceritakan semua perbuatan bejat yang di lakukan bapaknya terhadap dirinya. Lalu nenek korban melaporkan hal ini ke pihak kepolisian hingga di lakukan penangkapan terhadap tersangka.

Lebih lanjut Kapolres mengatakan, kini, tersangka beserta barang bukti beberapa potong pakaian milik dirinya dan korban di amankan kepolisian. Atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 76 jonto pasal 81 ayat 1 dan 3 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

“Karena kasus ini di lakukan bapak kandung sendiri, maka hukumannya di tambah sepertiga dari batas maksimal,” pungkas Kapolres.

“Saya khilaf melakukan ini semua,” ujar tersangka di hadapan petugas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Saat menolong dua pemakai pil koplo yang terjatuh dari sepeda motornya, aparat kepolisian justru berhasil mengungkap peredaran obat terlarang tersebut di wilayah Kecamatan Srono Banyuwangi.

Peristiwa ini terjadi di kawasan jalan raya di Dusun Sukolilo Desa Sukomaju Kecamatan Srono.

Saat itu, sejumlah aparat kepolisian yang tergabung dalam Unit Reskrim Polsek Srono Banyuwangi melihat adanya dua pemuda yang melajukan sepeda motornya dengan kecepatan cukup tinggi, saat melihat keberadaan aparat kepolisian.

Mereka adalah Dika (19) dan Risky (20) keduanya warga Dusun Blangkon Desa Kebaman Kecamatan Srono. Diduga karena kecepatan kendaraannya terlalu tinggi dan kondisi jalanan yang licin, kedua pemuda itu pun terjatuh dari atas sepeda motor.

Melihat kejadian itu, aparat kepolisian berbalik dan menolong mereka yang ternyata tidak mengalami luka apapun. Namun rupanya, saat kepolisian memeriksa saku celana Dika ditemukan 30 butir pil koplo jenis Trihexyphenidyl yang dikemas dalam plastic klip kecil.

 Kepada petugas, dia mengaku mendapatkan obat obatan sediaan farmasi tersebut dari Suprapto (46) yang bertempat tinggal di Dusun Sukolilo RT 04 RW 02 Desa Sukomaju Kecamatan Srono.

Selanjutnya, kepolisian menggerebek rumah laki laki yang di sebut sebut sebagai pengedar pil koplo tersebut dan di temukan 1.700 butir pil Trihexyphenidyl yang dikemas 17 plastik klip, masing masing berisi 100 butir. Dan barang bukti itu di simpan tersangka di dalam lemari pakaiannya. Selanjutnya, kepolisian menahan tersangka di Mapolsek Srono dan di laporkan ke Satuan Reskoba Polres Banyuwangi.

Saat di konfirmasi, Kasat Narkoba Polres Banyuwangi, AKP Imron membenarkan adanya penangkapan pengedar pil koplo di wilayah Kecamatan Srono tersebut.

“Untuk proses pengembangan penyidikan di lakukan oleh Polsek Srono selaku pihak yang menangkap tersangka,” tutur AKP Imron.

“Peredaran pil koplo ini hampir merata di seluruh wilayah di 25 kecamatan se Banyuwangi dengan sasaran pemakainya sudah merambah ke para pelajar,” papar Kasat Narkoba.

Hal ini dinilai karena harga pil koplo yang terbilang cukup murah, sehingga mudah terjangkau oleh para pelajar.

Atas semua perbuatannya, tersangka Suprapto dijerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

“Sedangkan 2 pemuda yang kedapatan menyimpan pil koplo, hanya dikenakan sangsi sebagai saksi,” pungkas AKP Imron.

More Articles ...