radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah dilaporkan atas kasus dugaan pencemaran nama baik, kini Wahyu Widodo alias Raja Sengon melaporkan balik si pelapor atas kasus dugaan pemerasaan dan penggelapan.

Yang di laporkan balik tersebut adalah Bella warga Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi, yang sebelumnya melaporkan laki laki asal Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar tersebut atas dugaan pencemaran nama baik melalui media social Facebook. Dengan menyatakan bahwa Bella sebagai pelaku dan mucikari online di Banyuwangi.

Atas pelaporan itu, Raja Sengon pun sempat diperiksa selama 2 jam lebih oleh penyidikan tindak pidana tertentu (tipidter) Satuan reserse kriminal (Satreskrim) Polres Banyuwangi.

Kali ini, justru Raja Sengon melaporkan balik Bella ke pihak kepolisian atas dugaan kasus pemerasan dan dugaan penggelapan.

Saat dihubungi melalui ponselnya, Mawardi, pengacara Raja Sengon mengatakan, dalam kasus dugaan pencemaran nama baik di media sosial facebook oleh Bella tersebut, kliennya justru kerap diperas dan dimintai sejumlah uang oleh Bella.

“Klien saya tidak menuruti permintaan itu dan akhirnya diadukan ke pihak kepolisian,” kata Mawardi.

“Klien saya mempunyai sejumlah bukti lengkap. Bahkan saat ini kami juga telah melaporkan balik Bella kepada Satreskrim Polres Banyuwangi atas dugaan penggelapan,” paparnya.

Pengaduan tersebut sudah di kirim ke Polres Banyuwangi pada Januari 2019 lalu. Mawardi menjelaskan, terkait bukti-bukti tersebut akan diberikan saat kliennya nanti diperiksa dan dimintai keterangan.

Yang jelas buktinya lengkap,” ungkapnya.

Menurut Mawardi, pemerasan yang dilakukan Bella terhadap kliennya dilakukan dengan cara menakut-nakuti kliennya dengan foto vulgar antara keduanya. Foto-foto tersebut diambil oleh Bella dari i-cloud milik kliennya. 

Sementara untuk dugaan penggelapan, Mawardi mengatakan ada barang yang dibawa dan digelapkan oleh Bella. 

Melalui perantara, Bella meminta uang Rp 20 juta. Inilah yang membuat klien saya gerah,” kata Mawardi.

“Hubungan antara keduanya itu dulu pernah dekat,” tuturnya.

Namun entah apa penyebabnya, tiba tiba katanya Bella meminta uang dan itu di anggapnya sebagai pemerasan.

Kasus dugaan penggelapan,  ada sesuatu yang dibawa Bella hingga saat ini,” pungkas Mawardi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Wahyu Widodo alias Raja Sengon Banyuwangi di periksa kepolisian, terkait dugaan pencemaran nama baik melalui media social.

Sebelumnya, Raja Sengon pria Tajir Melintir tersebut viral setelah mengaku sebagai orang paling kaya yang memiliki 7 kontainer uang dan penakluk wanita.

Kini, pria yang bertempat tinggal di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar tersebut dipanggil penyidik Polres Banyuwangi. Pemanggilan Raja Sengon ini dilakukan setelah adanya pengaduan Bella warga Kecamatan Tegaldlimo atas dugaan pencemaran nama baik melalui media sosial. 

Raja Sengon sempat diperiksa selama 2 jam lebih oleh penyidikan tindak pidana tertentu (tipidter) Satuan reserse kriminal (Satreskrim) Polres Banyuwangi.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Prathista Wijaya membenarkan pemeriksaan Raja Sengon alias Wahyu Widodo.

Pemeriksaan dilakukan setelah ada pelaporan yang dilakukan seorang wanita atasnama Bella, warga Kecamatan Tegaldlimo pada 17 Januari lalu,” ujar Kasat Reskrim.

“Raja Sengon diduga telah mencemarkan nama baik Bella, dengan menuding Bella sebagai pelaku dan muncikari online di Banyuwangi,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, Raja Sengon memposting foto Bella di Facebook dengan dengan kalimat tersebut. 

Setelah pelaporan itu, kami juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang saksi,” tutur AKP Panji.

Saat pemeriksaan itu , Raja Sengon alias Wahyu Widodo menggunakan kaos oblong warna putih dan mengenakan celana warna abu-abu.

Dia nampak kaget setelah banyak wartawan menunggu pemeriksaan tersebut. Dan hanya mengatakan tidak ada apa sambil meninggalkan sejumlah wartawan yang mencoba untuk mengkonfirmasinya.

Dihubungi melalui ponselnya, Penasehat hukum Wahyu Widodo, Mawardi enggan berkomentar banyak terkait dengan pengaduan tersebut.

Klien saya dipanggil penyidik kapasitas sebagai saksi teradu. Sehingga menghadiri undangan penyidik dan semua pertanyaan dijawab dengan baik,” papar Mawardi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian berhasil membongkar jaringan peredaran pil koplo di wilayah Banyuwangi kota dengan mengamankan 3 orang pengedarnya.

Penangkapan pertama di lakukan terhadap Kevin Yudho Sadewa warga Dusun Pekarangan Desa Kelir Kecamatan Kalipuro. Laki laki berusia 22 tahun tersebut di tangkap di rumah temannya, yang ada di kawasan Jalan Candi Sewu Kelurahan Penganjuran Kecamatan Banyuwangi kota.

Kapolsekta Banyuwangi, AKP Ali Masduki mengatakan, sebelum melakukan penangkapan, kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai adanya transaksi pil koplo di TKP.

“Karena di lokasi di sebut sebut sering di gunakan untuk transaksi jual beli obat obatan sediaan farmasi itu,” ujar Kapolsek.

Dia menjelaskan, dari informasi inilah, sejumlah aparat kepolisian Polsekta Banyuwangi dengan di pimpin Kanit Reskrim, Ipda Nurmansyah melaksanakan lidik di lapangan hingga berhasil mengamankan tersangka saat menghantarkan pil pesanan temannya tersebut.

Dari penangkapan ini, di amankan barang bukti 2 klip plastic kecil berisi 20 butir pil jenis Trihexyphenidyl, 1 unit ponsel dan uang tunai Rp 50.000.

“Dari pengakuan tersangka inilah, kepolisian kembali mengembangkan penyidikan dengan menyasar rumah Rosandi Arga yang ada di kawasan jalan Ikan Cakalang Lingkungan Ujung Kelurahan Kepatihan,” papar AKP Ali Masduki.

Karena menurut tersangka, laki laki berusia 20 tahun tersebut juga di tuding sering menjual pil yang sama.

Dari sini, upaya kepolisian pun tidak sia sia dan berhasil mengamankan tersangka beserta barang bukti 4 plastik klip kecil berisi 34 butir pil jenis Trihexyphenidyl serta uang tunai Rp 150.000 hasil penjualan.

“Upaya kepolisian tidak hanya berhenti sampai disini saja,” kata Kapolsek.

Selajutnya, menyasar ke kawasan Kelurahan Singotrunan. Karena di wilayah setempat, di duga ada seseorang yang juga mengedarkan pil koplo.

Penyidikan kepolisian ini pun membuahkan hasil dengan menangkap Dino Ferdiansyah (20) warga Jalan Lawu Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi kota.

Dia di tangkap di kawasan jalan MH Thamrin Kelurahan Pengantigan dengan diamankan 1 plastik klip berisi 4 butir pil Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 20.000 serta 1 unit ponsel.

Kini, ketiga tersangka beserta barang buktinya di amankan di Mapolsekta Banyuwangi guna di lakukan pengembangan penyidikan lebih lanjut.

“Atas semua perbuatannya, mereka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang  Kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah kepergok warga saat baru saja melakukan aksi pencurian di sebuah toko, seorang warga Samarinda Propinsi Kalimantan Timur babak belur di hajar massa. Karuan saja, dia belum bisa menikmati hasil kejahatannya malah menjadi sasaran amukan massa.

Mendapati kondisi ini, sejumlah aparat kepolsiian Polsekta Banyuwangi mendatangi TKP untuk menyelamatkan tersangka.

Dia adalah Muzaidun, (44), warga Jln. Soekarno Hatta, Simpang Tiga, Loa Janan Ilir, Samarinda.

Pria ini menjalankan aksinya di toko Sahabat yang berada di Jl. Susuit Tubun II/4, Banyuwangi sekira pukul 17.45 WIB, Kamis malam (31/1/2019).

Informasi yang dihimpun dilapangan, pelaku membobol toko tersebut dengan cara menjebol atap toko. Diapun mengambil uang yang ada di dalam toko. Selanjutnya dia kembali keluar melalui jalur semula. Namun naas, saat turun dari tembok warga sekitar memergokinya. Selanjutnya, warga ramai ramai mengejar hingga akhirnya tertangkap di area parkir Masjid Baiturrahman.

Saat pelaku beraksi, toko sandang itu memang sedang tutup. Sekitar pukul 18.00 WIB, salah satu karyawan, Rojik membuka toko tersebut. Dia mendengar warga berteriak maling. Diapun sempat ikut mengejar bersama warga yang lain.

Belakangan dia baru menyadari rupanya pelaku beraksi di toko tempatnya bekerja. Pelaku sempat merasakan bogem mentah warga. Maklum saja, lokasi kejadian relatif ramai. Sehingga saat ada warga yang berteriak maling spontan warga yang lain ikut mengejar.

Saat tertangkap, wargapun menghajar pelaku untuk melampiaskan kemarahannya. Nyawa pelaku terselamatkan setelah petugas dari Polsekta Banyuwangi datang.

Salah seorang petugas Polsek bahkan sempat menjadi sasaran pukulan massa saat mengevakuasi pelaku. Dikonfirmasi mengenai hal ini, Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki melalui Kanit Reskrim Ipda Nurmansyah mengatakan, tersangka masuk ke dalam toko tersebut dengan cara mencongkel bagian atap.

Kemudian turun dan mengambil uang yang ada di dalam laci kasir,” ujarnya.

Sebagai alat untuk mencongkel atap, kata Nurmansyah, pelaku menggunakan linggis. Polisi menemukan dua linggis kecil yang digunakan tersangka.

Polisi juga menyita uang tunai senilai Rp 1.113.000. yang diambil pelaku dari toko tersebut. Total kerugian yang diderita pemilik toko sebanyak Rp 5 juta,” kata Nurmansyah.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tidak hanya kasus dugaan pencemaran nama baik, Wahyu Widodo alias Raja Sengon juga di laporkan atas dugaan pengancaman dan UU ITE.

Pelaporan Bella, warga Kecamatan Tegaldlimo mulai melebar terhadap pria Tajir Melintir asal Kecamatan Muncar Banyuwangi tersebut. Dan dua laporan terakhir itu sudah di serahkan ke pihak kepolisian pada 17 Januari lalu.

Saat di hubungi melalui sambungan celluler, Pengacara Bella, Eko Sutrisno mengaku melaporkan atas dugaan pencemaran nama baik, namun hal itu tergantung penyidik untuk mendalaminya karena di dalamnya juga terdapat pengancaman dan UU ITE.

Pengancaman itu dilakukan beberapa kali oleh Raja Sengon melalui aplikasi WhatsApp,” ungkap Eko.

Karena tidak digubris, kemudian Raja Sengon menuliskan hal-hal jelek atas nama kliennya. Malah dituduh katanya sebagai muncikari online dan mengunggah informasi yang tidak benar di medsos,” paparnya.

Dan itu sudah di laporkan semuanya.

Sementara itu, pelapor, Bella mengaku shock atas perbuatan yang dilakukan Raja Sengon. Akibat dari tingkah laku Wahyu Widodo tersebut, dirinya merasa malu dan enggan keluar rumah.

 Dan saat di singgung terkait pelaporannya melalui sambungan ponselnya, Bella mempersilahkan untuk menanyakan kepada pengacaranya.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian berhasil membongkar jaringan peredaran narkotika jenis Sabu yang di kendalikan dari dalam Lapas Banyuwangi, dengan menangkap seorang pelaku beserta barang buktinya.

Tersangka diketahui bernama Rusli (27) warga Jalan Cemara 14 RT 01 RW 02 Kelurahan Kebalenan Kecamatan Banyuwangi kota, ditangkap sejumlah aparat kepolisian Polsekta Banyuwangi di kawasan pinggir Jalan Brawijaya depan Perumahan Kebalenan Kelurahan Kebalenan Kecamatan Banyuwangi kota, tidak jauh dari rumahnya.

Kapolsekta Banyuwangi, AKP Ali Masduki mengatakan, awalnya kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai adanya transaksi narkoba di pinggir jalan raya di kawasan perumahan Kebalenan.

“Aparat kepolisian pun bergerak cepat ke lokasi yang di maksud dan berhasil menemukan tersangka sedang menunggu pelanggannya,” ujar Kapolsek.

Dia menjelaskan, mendapati kondisi ini, petugas pun langsung melakukan penangkapan terhadap tersangka dan dari tangannya di amankan barang bukti 7 paket Sabu seberat 2,56 gram, 1 unit alat timbangan digital, 1 box clip kosong, 2 unit ponsel serta 1 dompet hitam dan 1 buah lakban hitam.

“Kepada petugas, dia mengaku hendak mengedarkan barang haram itu kepada pembelinya di lokasi yang sudah di sepakati,” tutur AKP Ali Masduki.

Setelah di mintai keterangan, penahanan tersangka pun di limpahkan ke Satuan Reskoba Polres Banyuwangi guna di lakukan pengembangan penyidikan.

“Hasilnya, aksi peredaran Sabu yang di lakukan tersangka ini di duga di kendalikan dari seorang bandarnya yang saat ini mendekam di dalam Lapas Banyuwangi,” tutur Kapolsek.

“Hingga kini, kepolisian masih mengembangkan kasus ini,” imbuhnya.

Kapolsek menambahkan, dalam beberapa hari terakhir ini pihaknya berhasil mengungkap kasus peredaran Pil Trihexyphenidyl yang berlanjut ke peredaran Sabu. Pasalnya, kepolisian beberapa kali menerima laporan masyarakat mengenai adanya pesta minuman keras yang dicampur pil Trex di sejumlah wilayah di Kecamatan Banyuwangi.

“Dari pengembangan penyidikan itulah, kepolisian berhasil mengungkap sejumlah kasus peredaran barang haram di Banyuwangi kota,” pungkas Kapolsek.

Apapun alasan yang di kemukakan tersangka, namun dia terbukti membawa barang haram tersebut.

Dan atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 112 UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Aparat Kepolisian Satuan Sabhara Polres Banyuwangi mengamankan puluhan botol minuman keras berbagai jenis dari 3 lokasi.

Awalnya, kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai adanya anak muda maupun pelajar di kawasan Kecamatan Sempu sering menggelar pesta minuman keras di wilayah setempat.

Sejumlah anggota Satuan Sabhara pun bergerak menuju ke sebuah toko milik Robi Candra yang ada di Desa Karangsari. Rupanya, penggerebekan ini tidak sia sia.

Kepolisian berhasil mengamankan 11 botol minuman keras berbagai jenis dari toko milik laki laki berusia 37 tahun tersebut. Yakni, 6 botol arak bali dan 5 botol minuman keras pabrikan seperti Topi Miring, Ice Line, Drum dan Newport.

Kasat Sabhara Polres Banyuwangi, AKP Basori Alwi mengatakan, pengungkapan kasus peredaran miras ini pun terus di kembangkan.

Kali ini menyasar di wilayah Kecamatan Muncar. Disini, tepatnya di pinggir jalan Desa Tembokrejo sejumlah anggota Sabhara menghentikan laju mobil Toyota merah bernopol N 1908 UG yang di sopiri oleh Wayan Purnama (38) warga Dusun Stoplas RT 01 RW 01  Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar.

“Dari hasil razia ini di temukan 3 botol arak bali masing masing berukuran 600 ml yang akan di hantarkan kepada seorang pembelinya, seharga Rp25.000 per botol,” papar AKP Basori.

“Pembelinya langsung melarikan diri saat melihat adanya aparat kepolisian yang menangkap Wayan Purnama,” imbuhnya.

Selanjutnya, kepolisian melakukan penggeledahan di rumah Wayan namun tidak ditemukan miras arak lainnya.

“Dari pengakuan Wayan, dirinya menjadi penjual arak dengan cara Cash On Delivery atau antar alamat sejak satu bulan lalu,” papar AKP Basori.

Kepada petugas, Wayan mengaku mendapatkan minuman arak tersebut dari seseorang bernama I Gede Yudi Priyanto yang beralamatkan di Dusun Patoman Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi dengan harga per botol Rp20.000.

Kepolisian pun bergerak ke rumah laki laki berusia 41 tahun tersebut untuk dilakukan penggerebekan.

“Disini, di amankan 50 botol arak bali masing masing berukuran 600 ml,” ungkapnya.

AKP Basori menambahkan, kini ketiga pelaku tersebut diamankan di Mapolres Banyuwangi beserta barang buktinya.

Sementara itu, dari perbuatan penjualan minuman keras yang di lakukannya tersebut, ketiga pelaku hanya di kenakan sangsi tipiring.

 

More Articles ...