radiovisfm.com, Banyuwangi - Kejaksaan Negeri Banyuwangi menggulirkan Festival Anggaran Bantuan Operasional Penyelenggara (BOP) PAUD yang pertama kalinya di Indonesia, menyusul banyaknya oknum yang mengatas namakan pihak kejaksaan meminta proyek dengan nilai cukup fantastis kepada seluruh sekolah PAUD di Banyuwangi.

Dari hasil temuan Kejaksaan Negeri, rupanya di dalam penggunaan dana BOP Pendidikan dari Dinas Pendidikan Banyuwangi yang diterima oleh seluruh PAUD tertentu, telah di tunggangi berbagai kepentingan tertentu.

Mereka di datangi rekanan yang mengatas namakan Kejaksaan Negeri dan Dinas Pendidikan, agar penggunaan dana BOP untuk pembelian alat alat media siswa dilakukan kepada rekanan 100 persen. Seperti Alat Peraga Edukasi (APE), Pasel, Buku dan Tas juga susu kemasan.

Karena merasa ketakutan, para guru dibawah naungan Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Banyuwangi terpaksa membeli ke rekanan meskipun kwalitas barang dengan harga yang ditawarkan terbilang cukup mahal. Padahal kebutuhan setiap sekolah di masing masing desa dan kecamatan itu berbeda, tergantung kondisi wilayah setempat.

Hal itu dialami seluruh PAUD di Banyuwangi sepanjang tahun 2017 dan 2018.

Sementara, beberapa guru PAUD dari sejumlah kecamatan mengaku sempat menanyakan langsung kepada Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sulihtyono, apakah penyaluran dana BOP Pendidikan dikondisikan oleh Dinas dan di wajibkan membeli barang kepada rekanan.

Namun mereka mengaku, saat itu Sulihtyono menjawab tidak ada keterlibatan Dinas Pendidikan dalam penyaluran ini. Dan Sulihtyono mengaku siap melindungi mereka jika terjadi permasalahan.

Untuk itulah, Kejaksaan Negeri memberikan penyuluhan hukum tentang ketaatan dalam pengelolaan Dana Biaya Operasional Penyelenggara (BOP) pada lembaga PAUD Tahun Anggaran 2019 kepada seluruh pengurus PAUD se Banyuwangi, guna memberikan perlindungan hukum sekaligus edukasi dan pemahaman terhadap mereka.

Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Bagus Nur Jakfar Adi Saputro mengatakan, ini dilakukan pihaknya untuk membuat citra pendidikan di Banyuwangi lebih baik, karena dari fakta di lapangan rupanya penggunaan dana BOP tersebut banyak di tunggangi berbagai kepentingan tertentu.

“Kami bertugas mendampingi para guru untuk membuat suatu inovasi baru atau sebuah terobosan di dalam penggunaan dana BOP agar lebih transparan,” ujar Bagus.

Salah satunya dengan digulirkan Festival Anggaran BOP PAUD tersebut. Sehingga nantinya kata Bagus, dana BOP beserta laporan pertanggung jawabannya diumumkan di depan khalayak umum.

“Ini sebagai tanda kebebasan bahwa penggunaan dana BOP 2019 tidak ada lagi pengekangan dan intervensi dari pihak manapun, semuanya independent,” papar Bagus.

Dia menjelaskan, jika di setiap pengadaan barang per siswa berkisar antara Rp 700.000 hingga Rp 1 juta, sedangkan jumlah siswa PAUD se Banyuwangi mencapai 3000 an anak, maka terdapat kerugian negara mencapai Rp 1 Miliar.

“Kami belum menghitung jumlah kerugian itu karena untuk menentukannya harus setelah di lakukan penyidikan,” pungkas Bagus.

Sementara itu, Ketua Himpaudi Banyuwangi, Dino Fita mengatakan, di 25 Kecamatan se Banyuwangi tercatat ada 313 PAUD dengan jumlah siswa mencapai 3000 an.

“Setiap PAUD mendapatkan dana BOP bervariasi antara Rp 7 Juta hingga Rp 50 juta, tergantung jumlah siswanya,” ungkap Dino.

Dia mengaku, angka tersebut akan naik turun sesuai dengan jumlah siswa yang ada di PAUD setempat di setiap tahunnya.

“Kami lega dan lebih tenang dengan adanya penyuluhan ini, setelah sebelumnya selalu di hantui rasa ketakutan di dalam penyaluran dana BOP Pendidikan itu,” papar Dino.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian Polsek Rogojampi Banyuwangi berhasil meringkus pelaku percobaan asusila, setelah dilakukan pengejaran selama 2 bulan.

Pada 13 Januari 2019 lalu, kepolisian mendapat laporan dari Riska Indriyani (19) warga Dusun Malar RT 02 RW 01 Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Banyuwangi. Yang menyampaikan bahwa dirinya mendapat perlakukan tidak senonoh dari Eko Wahyu Pambudi alias Ongsron, yang bertempat tinggal tidak jauh dari rumahnya. Laki laki berusia 23 tahun tersebut diakui korban sebagai teman suaminya.

Ceritanya, waktu itu korban bertemu dengan tersangka di pinggir jalan dan menanyakan tujuan korban, yang mengaku hendak menemui seseorang di kawasan Kecamatan Blimbingsari untuk menyelesaikan masalah.

Tersangka pun menawarkan diri untuk membantunya dan disetujui oleh korban yang saat itu sedang mengendarai sepeda motor. Keduanya berhenti di sebuah warung dan tersangka membujuk korban untuk naik sepeda motornya berboncengan. Sedangkan kendaraan korban dititipkan di sebuah warung.

Saat itulah, tersangka bukannya membawa ke lokasi yang di tuju korban, malah membelokkan laju sepeda motornya ke sebuah losmen di kawasan Dusun Prejengan II Desa Rogojampi Kecamatan Rogojampi.

Disinilah, korban di paksa untuk melayani nafsu bejat tersangka namun berhasil ditolak dan mengancam akan menceritakan peristiwa ini kepada suaminya. Diduga karena takut, tersangka pun menghantarkan korban pulang.

Saat ditengah perjalanan itulah, korban melompat dari sepeda motor lalu berteriak minta tolong. Mengetahui hal itu, tersangka melarikan diri sedangkan korban melaporkan peristiwa naas ini ke pihak kepolisian.

Kapolsek Rogojampi Banyuwangi, Kompol Agung Setyo Budi mengatakan, pasca kejadian itu tersangka kabur ke pulau bali.

“Upaya pengejaran kami lakukan hingga ke pulau dewata tapi tidak membuahkan hasil,” ungkap Kapolsek.

Dia menjelaskan, seiring berjalannya waktu, rupanya tersangka pulang ke rumahnya karena libur kerja dibali dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi.

“Saat itulah, aparat kepolisian berhasil meringkus tersangka di rumahnya tanpa perlawanan,” ujar Kapolsek.

Melalui Kapolsek, tersangka mengaku selama pelariannya di Bali, dia bekerja sebagai kuli bangunan.

Kini, tersangka beserta sejumlah barang bukti yang di gunakan saat melakukan aksinya di amankan kepolisian. Seperti 1 unit sepeda motor Yamaha Mio bernopol DK 8724 II dan 1 unit ponsel. Juga beberapa potong pakaian milik korban dan tersangka.

“Atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 285 jonto pasal 53 KUHP tentang percobaan pemerkosaan, dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara,” pungkas Kapolsek.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kejaksaan Negeri Banyuwangi menangkap terpidana korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan tahun 2007, dengan kerugian negara mencapai Rp 1,7 Miliar.

Terpidana Achmad Taufiq Hidayat (47) dieksekusi di rumahnya di kawasan Jalan Agung nomor 5 RT 03 RW 02 Desa Genteng Kulon Kecamatan Genteng Banyuwangi, oleh Kasi Intel, Bagus Adi Saputro bersama Kasi Pidsus, Kasi Datun dan Kasi Barang Bukti Kejaksaan Negeri Banyuwangi pada Selasa malam (26/2) sekira pukul 21.15 WIB setelah sebelumnya di lakukan pengintaian selama seminggu.

Tindak pidana korupsi ini di lakukan dalam kurun waktu Maret 2007 hingga Desember 2007 di 52 Sekolah Dasar se Banyuwangi. Terpidana melakukan tindak pidana korupsi yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah se Kabupaten Banyuwangi tahun anggaran 2007 mencapai Rp 5,2 Miliar, yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 1,7 Miliar.

Pada 2013, terdakwa pernah di periksa di Mapolres Banyuwangi dan terbukti bersalah lalu berkasnya di limpahkan ke Kejaksaan Negeri Banyuwangi, serta menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya. Selama itu, terdakwa menjalani penahanan 30 hari dan setelah habis masa penahanan maka terdakwa di keluarkan demi hukum.

Dalam keterangan persnya, Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Adonis mengatakan, Tuntutan Pidana dibacakan Jaksa Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya pada tanggal 21 April 2014 dengan amar tuntuan, terdakwa terbukti bersalah melakukan tindakan pidana korupsi melanggar pasal 3 UU nomor 31 Tahun 1999 yang di ubah dengan UU nomor 20 Tahun 2001 dengan pidana penjara selama 4 tahun 6 bulan dan pidana denda sebesar Rp 50 juta, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak di bayar maka harus diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan.

“Juga membayar uang pengganti sebesar Rp 1,7 Miliar, dengan ketentuan jika tidak mampu membayarnya maka diganti dengan kurungan 1 tahun penjara,” ujar Adonis.

Dia menjelaskan, putusan ini pun di gulirkan oleh Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya pada 20 Mei 2014 dengan nomor 19/Pid.Sus/2014/PN.Sby dengan amar putusan bahwa terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama 4 tahun 6 bulan dan denda pidana sebesar Rp 100 juta, serta membayar uang pengganti sebesar Rp 1,6 Miliar dengan ketentuan yang sama seperti tuntuan sebelumnya.

“Sehingga apabila terdakwa tidak bisa membayar uang pengganti maka total hukuman penjara yang di jalaninya adalah 6 tahun 2 bulan,” kata Adonis.

“Pada 25 Agustus 2014 terdakwa mengajukan banding dan di putus dengan surat amar putusan banding,” imbuhnya.

Selanjutnya, terdakwa mengajukan kasasi dan di putus dengan surat putusan nomor 1014 K/Pid.Sus/2015/PT.Sby tanggal 13 Mei 2015 dengan amar putusan menolak permohonan kasasi dari terdakwa.

Namun menurut Adonis, putusan Mahkamah Agung (MA) tersebut baru di terima JPU Kejaksaan Negeri Banyuwangi pada tanggal 13 September 2018. Yang selanjutnya, Kejaksaan Negeri melakukan pemanggilan selama 3 kali namun terdakwa tetap mangkir.

“Hingga akhirnya di lakukan eksekusi terhadap terdakwa dengan berkoordinasi pada Kejaksaan Agung,” pungkas Adonis.

Kini, penahanan terdakwa di lakukan di Lapas Banyuwangi dengan status tahanan Kejaksaan Negeri Banyuwangi.

Sementara itu, terdakwa sendiri mengaku sebagai korban dalam kasus ini. Dan dia menuding, otak yang sebenarnya dalam penyaluran DAK 2007 adalah Khoirullah yang saat itu menjabat sebagai kepala UPTD Genteng, sedangkan dirinya hanya sebagai marketing dari PT Bumi Asri yang merupakan rekanan dari pengadaan buku SD dan MI tersebut.

“Saya di ajak kerja sama oleh Mohamamd Faizal selaku Direktur Operasional PT Bumi Asri untuk mencarikan surat pesanan proyek DAK hingga bertemulah pejabat yang di akuinya bernama Khoirullah itu,” papar Terdakwa.

Akhirnya disepakati, Khoirullah meminta Rp 25 juta dari proyek itu serta masing masing kepala sekolah yang mendapatkan surat pesanan diikat Rp 1 juta.

“Dari sini, ada keterlibatan sejumlah kepala UPTD di beberapa kecamatan hingga didapatkan 47 sekolah,” tutur terdakwa.

Dan rupanya, malah di take over oleh seseorang yang di akui bernama Faisal ke PT Pustaka Sarana Media.

“Di satu sisi saya harus menjalankan tanggung jawa untuk membayar pajak dan uang kepala sekolah serta kepala UPTD, hingga pada akhirnya saya yang di tuding melakukan korupsi,” kata terdakwa.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pelaku perjudian Togel Online di Banyuwangi berhasil di bekuk aparat kepolisian.

Pelaku yang di ketahui bernama Nur Komari (54) tersebut di tangkap di rumahnya di kawasan Jalan Bengawan Gang Nusa Indah RT 03 RW 02 Kelurahan Singonegaran Kecamatan Banyuwangi kota.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, awalnya kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai adanya perjudian jenis Togel Online di area Kelurahan Singonegaran.

“Aparat kepolisian pun melakukan penyelidikan hingga berhasil menemukan identitas pelaku,” ungkapnya.

Kasat Reskrim mengaku, dari sinilah, upaya penangkapan dilakukan terhadap pelaku di rumahnya tanpa perlawanan.

Dari introgerasi kepolisian di dapatkan pengakuan dari pelaku bahwa, dirinya selama ini menerima titipan nomor togel yang di beli oleh para penombok lalu di masukkan ke website secara online di www.brotogel.com melalui akunnya.

“Didalam akunnya sendiri, pelaku menyimpan saldo atau deposit sebesar Rp 460.690,” tutur Kasat Reskrim.

“Dalam setiap harinya, pelaku mendapatkan tambahan saldo rata rata Rp 1.000.000,” imbuhnya.

AKP Panji menjelaskan, saat di mintai keterangan petugas, pelaku mengakui semua perbuatannya dan ini sudah di lakukan sejak lama dengan melayani para pembeli di seputaran wilayah Kecamatan Banyuwangi kota.

Sementara, dari hasil penggerebekan di rumah pelaku, kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya 2 buah struk bukti transfer, 1 buah ATM BCA atas nama pelaku, 2 unit ponsel dan saldo deposit dalam akun sebesar Rp 460.690.

“Kini, pelaku beserta barang buktinya diamankan di Mapolres Banyuwangi,” tutur Kasat Reskrim.

Dan atas semua perbuatannya, pelaku di jerat pasal 303 KUHP tentang perjudian dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk mengantisipasi terjadinya antrian panjang kendaraan bermotor hingga meluber ke jalan raya saat pelaksanaan Hari Raya Nyepi 2019 di pulau Bali, stake holder terkait menyiapkan 4 kantong parkir di area Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Untuk perayaan Hari Raya Nyepi sendiri berlangsung pada Jum’at (07/03/2019).

Sementara arus penyeberangan dari arah Pelabuhan Ketapang Banyuwangi mulai ditutup pada Minggu (06/03/2019) pukul 23.30 WIB dan dibuka kembali pada Jum’at dini hari (08/03/2019) pukul 04.30 WIB.

Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi mengatakan, selama penutupan tersebut di pastikan akan terjadi antrian panjang kendaraan bermotor di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi maupun di Pelabuhan Gilimanuk Bali, menunggu di bukanya kembali arus penyeberangan lintas Jawa-Bali itu.

“Dari hasil koordinasi kepolisian bersama sejumlah stake holder terkait termasuk ASDP, maka disiapkan 4 kantong parkir untuk kendaraan bermotor,” ujar Kapolres.

“Yakni 2 kantong parkir di area Pelabuhan Ketapang juga di kawasan Stasiun Banyuwangi Baru Ketapang dan di Terminal Sritanjung,” imbuhnya.

Masing masing pengemudi di beri kartu antrian oleh petugas. Dan mereka akan di seberangkan saat arus penyeberangan di buka kembali, sesuai dengan nomor antriannya.

Kapolres menjelaskan, disetiap kantong parkir tersebut di jaga ketat oleh aparat kepolisian bersama TNI dan stake holder lainnya, yang juga bertugas memberikan kartu antrian tersebut.

“Dalam operasi terpadu ini, Polres Banyuwangi sendiri menurunkan 350 personel kepolisian di tambah instansi lainnya,” tutur Kapolres.

Dia mengaku, selama perayaan Hari Raya Nyepi ini yang menjadi focus pengamanan adalah di Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Tanjung Wangi yang merupakan akses perpindahan orang dan barang.

Sementara itu, kepolisian juga memperketat pengamanan di seluruh pelabuhan rakyat yang tersebar di 25 kecamatan se Banyuwangi selama pelaksanaan Hari Raya Nyepi.

“Ini upaya untuk mengantisipasi adanya penyusupan oknum tertentu ke pulau dewata bali, yang di khawatirkan bisa menganggu umat hindu yang sedang merayakan Hari Raya Nyepi,” pungkas Kapolres.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Satuan Reskrim Polres Banyuwangi berhasil membongkar jaringan penyelewengan penjualan BBM tanpa ijin di wilayah Banyuwangi selatan, dengan menangkap 8 orang pelaku.

Tercatat 3 pelaku membeli BBM jenis premium di SPBU 54.681.31 Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran. Sedangkan 5 pelaku lainnya membeli di 2 SPBU yakni di SPBU pesanggaran tersebut dan di SPBU 5568440 Siliragung.

Untuk 3 pelaku yang beraksi di SPBU Pesanggaran adalah Titik Fitriyono (34) warga Dusun Kedungrejo RT 07 RW 06 Desa Sambimulyo Kecamatan Bangorejo dengan diamankan barang bukti 1 unit mobil Pick Up Suzuki Future biru bernopol B 9125 JI, 6 jirigen kosong kemasan 30 liter, 1 selang sepanjang 1,5 meter, 2 ponsel dan uang tunai Rp 1.100.000. Dalam sehari, pelaku bisa menjual BBM premium sebanyak 150 liter dengan keuntungan Rp 80.000 per hari. Dan aksi ini sudah dilakukan sejak Desember 2018.

Juga Muhammad Ali Sodikin (24) warga Dusun Krajan RT 05 RW 02 Desa Barurejo Kecamatan Siliragung, dengan diamankan 1 mobil Suzuki carry putih bernopol P 1102 A, 2 jirigen, 1 selang dan 1 ponsel. Dia bisa meraup keuntungan Rp 22.500 perhari dan sudah di lakukan sejak November 2018.

Serta Prambudi (38) warga Dusun Purwosari RT 03 RW 02 Desa Buluagung Kecamatan Siliragung, yang diamankan barang bukti 1 unit mobil Toyota Wagon hijau bernopol DK 1495 AQ, uang tunai Rp 50.000 dan 12 jirigen kosong isi 5 literan. Disetiap hari, pelaku membeli dan menjual BBM premium sebanyak 77 liter dengan keuntungan Rp 94.000 dan ini sudah berlangsung sejak September 2018.

Sementara 5 pelaku yang melakukan aksinya di 2 SPBU adalah Frendi Artasa (25) warga Dusun Rejoagung RT 06 RW 02 Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran, dengan diamankan 1 unit mobil Toyota Avanza silver bernopol P 562 ZO, 1 selang plastic biru dan 2 jirigen berkapasitas 30 literan. Pelaku telah membeli BBM premium sebanyak 2 kali seharga Rp 400.000 dengan keuntungan Rp 40.000 perjirigen, dan ini sudah di lakukan sejak Januari 2019.

Juga Mispan (48) dan Aris Priakin (26) keduanya warga Dusun Gumukrejo RT 17 Desa Sidorejo Kecamatan Purwoharjo. Dari tangan keduanya kepolisian menyita 1 unit mobil Daihatsu Zebra hitam putih bernopol DK 1295 YD, 1 mobil Daihatsu grand max silver bernopol P 8115 VQ, 1 selang, 2 ponsel serta uang tunai Rp 1.700.000. Mereka sudah melakukan pembelian selama 2 kali seharga Rp 445.000 dengan keuntungan Rp 50.000 perhari dan telah di lakoni sejak November 2018.

Selain itu, kepolisian juga menangkap Anang Makruf (27) warga Dusun Sumberagung RT 06 RW 02 Desa Karangdoro Kecamatan Tegalsari dengan barang bukti 1 mobil Pick Up hitam bernopol P 9527 VD, 2 jirigen isi 30 literan, 1 tangki bekas mobil dan 1 selang plastic. Pelaku sudah menjual 180 liter BBM premium dengan keuntungan Rp 1000 perliter sejak Januari 2019.

Juga Nanok Wariyanto (27) warga Dusun Yudomulyo RT 03 RW 03 Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo, dengan diamankan 1 mobil Sedan Honda Civic biru tua bernopol T 1869 AL, 1 ponsel, 3 jirigen dan uang tunai Rp 120.000. Kepada petugas, pelaku mengaku bisa meraup keuntungan Rp 300.000 perhari dan ini sudah di lakukan sejak Januari 2019.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, awalnya kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai adanya beberapa orang yang melakukan pembelian BBM di 2 SPBU yang dinilai mencurigakan.

“BBM yang mereka beli di masukkan ke dalam tangki mobil dengan jumlah diatas rata rata biasanya,” ujar Kasat Reskrim.

“Rupanya tangki mobil tersebut sudah di modifikasi dengan cara di beri kran dan selang untuk mengeluarkan BBM dari dalam tangki,” imbuhnya.

Lalu, BBM tersebut di jual kembali oleh mereka dengan harga eceran untuk mendapatkan keuntungan berlipat.

Kasat Reskrim mengaku, setelah dilakukan pengembangan penyidikan hingga beberapa hari, aparat kepolisian pun berhasil menangkap ke 8 tersangka dalam waktu yang hampir bersamaan. Selanjutnya, mereka di gelandang ke Mapolres Banyuwangi guna dimintai keterangan.

“Kepolisian segera memanggil para pemilik SPBU itu untuk dilakukan pemeriksaan, apakah dia mengetahui aksi para tersangka ataukah tidak,” pungkas Kasat Reskrim.

Kini, ke 8 pelaku menjalani pemeriksaan di Mapolres Banyuwangi. Dan atas semua perbuatannya, mereka di jerat pasal 53 huruf d UU nomor 2 tahun 2001 tentang Migras dengan ancaman hukuman maksimal 3 tahun penjara dan denda maksimal Rp 40 miliar.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang pelaku percobaan pencurian kendaraan bermotor di wilayah Kecamatan Rogojampi Banyuwangi berhasil ditangkap warga dan kepolisian, lalu di hajar beramai ramai.

Peristiwa ini terjadi di kawasan Dusun Jagalan Desa Rogojampi pada Minggu malam (24/2/2019). Berawal dari kecurigaan salah satu warga saat melihat seorang laki laki tak di kenal yang kepergok hendak mencuri sepeda motor milik tetangganya.

Meskipun di tegur secara baik baik, namun laki laki itu malah mengeluarkan senjata tajam dan mengancam warga tersebut, sambil mengatakan hendak bertemu dengan seseorang yang di akui bernama Ajeng.

Kapolsek Rogojampi Banyuwangi, Kompol Agung Setyo Budi mengatakan, warga itu pun mengaku tidak ada tetangganya yang bernama Ajeng. Bersamaan dengan itu, dia justru mengajak berkelahi.

“Saat di ladeni oleh warga itu, pelaku malah berlari ke arah semak semak untuk bersembunyi,” ujar Kapolske.

“Lalu kepala dusun setempat melaporkan peristiwa ini ke Mapolsek Rogojampi guna meminta upaya penyidikan,” imbuhnya.

Mantan Kasat Narkoba Polres Banyuwangi tersebut menjelaskan, sejumlah aparat kepolisian bersama puluhan warga melakukan penyisiran di lokasi yang di duga digunakan oleh pelaku bersembunyi.

Upaya ini pun membuahkan hasil sekaligus menangkap pelaku. Dan puluhan warga yang merasa geram dengan ulahnya, langsung memukul pelaku beramai ramai. Untung saja, aparat kepolisian berhasil mengamankan pelaku lalu di gelandang ke Mapolsek Rogojampi guna di mintai keterangan.

“Kepada petugas, pelaku mengaku bernama Dadang Kurniawan berusia 25 tahun dan bertempat tinggal di Dusun Pandean RT 03 RW 01 Desa Banjar Kemantren Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo. Sedangkan petugas tidak menemukan kartu identitas apapun terhadap pelaku,” papar Kapolsek.

Namun dia bersama beberapa orang temannya berangkat dari Kecamatan Silo Jember untuk melakukan aksinya di sejumlah wilayah di Banyuwangi.

Hal itu di buktikan dengan adanya upaya kejar kejaran dari beberapa warga di kawasan Dusun Lugjag Desa Pengatigan Kecamatan Rogojampi, terhadap seorang pelaku yang berusaha mencuri sepeda motor milik warga setempat.

“Hingga saat ini kepolisian terus mengembangkan kasus ini karena info yang beredar di lapangan, ada 12 orang yang akan melakukan aksi yang sama di wilayah Kecamatan Rogojampi,” kata Kapolsek.

Sementara video pelaku setelah di massa pun sudah beredar luas di media social, yang di sebut sebut sebagai pelaku begal atau perampokan.

“Dia adalah pelaku percobaan pencurian sepeda motor,” pungkas Kapolsek.

Kini, pelaku beserta barang bukti senjata tajam yang digunakan mengancam warga di amankan di Mapolsek Rogojampi guna di lakukan pengembangan penyidikan.

 

More Articles ...