radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang laki laki warga Kecamatan Gambiran Banyuwangi ditangkap kepolisian, setelah dilaporkan melakukan 2 aksi pencurian.

Kedok tersangka yang diketahui bernama Hadi Purnomo (26) tersebut terbongkar setelah mengambil ponsel milik Surya Wahyudi (22) warga Dusun Bulusari RT 03 RW 01 Desa Wringinagung Kecamatan Gambiran Banyuwangi.

Saat itu, tersangka bersama korban yang sudah saling mengenal itu menginap di rumah Yudi Setiawan di kawasan Dusun Bulusari RT 06 RW 01 Desa Jajag Kecamatan Gambiran. Setelah 5 hari menginap, tersangka pun pulang ke rumahnya di kawasan Dusun Petahunan RT 06 RW 02 Desa Jajag Kecamatan Gambiran.

Namun seiring dengan hal itu, ponsel milik Surya Wahyudi juga raib. Selanjutnya, kasus ini di laporkan ke pihak kepolisian oleh korban.

Kapolsek Gambiran Banyuwangi, AKP Sumaryata membenarkan adanya laporan dari korban tersebut, yang selanjutnya di tindak lanjuti dengan melakukan pengembangan penyidikan.

“Dari penyelidikan ini kepolisian berhasil menangkap tersangka di rumahnya berbekal jaringan ponsel milik korban,” tutur Kapolsek.

Kepada petugas, tersangka mengakui semua perbuatannya yang telah mengambil ponsel tersebut lalu di jual di wilayah Kecamatan Bangorejo.

Kapolsek menjelaskan, dari catatan kriminalitas, rupanya tersangka juga merupakan pelaku pencurian sepeda motor yang ada di wilayah kecamatan Gambiran. 

“Tapi dia sudah memprotoli sepeda motor hasil curiannya itu hingga beberapa bagian. Lalu masing masing bagian di pisahkan dan di jual ke toko kelontongan,” papar Kapolsek.

AKP Sumaryata menambahkan, ini merupakan hasil pengembangan kepolisian sehingga tersangka tersandung 2 kasus yang menjeratnya.

Kini, tersangka beserta barang bukti ponsel dan beberapa bagian sepeda motor yang sudah di pisahkan di amankan kepolisian. Atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Konflik internal berkepanjangan di tubuh lembaga  penyelenggara pendidikan PPLP-PT yang menaungi Uniba, membuat kepala dinas pendidikan Banyuwangi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jatim atas dugaan memberi keterangan palsu saat pembuatan akta kepengurusan PPLP PT yang dilaporkan oleh Ilyas Karnoto.

Selain Sulihtiyono, Polda Jatim juga menetapkan 6 orang tersangka lainnya, yakni Sadi, Siswaji, Murdiyanto, Mislan, Teguh Sumarno dan Heru Muhardi. Ketujuh orang yang ditetapkan tersangka itu, terlibat sebagai pengurus Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP-PT) PGRI versi Akta 31 tahun 2014 yang menaungi Universitas PGRI Banyuwangi atau Uniba.

Karena diduga terjadi Pemalsuan keterangan dalam pembuatan Akta 31 tersebut, Tujuh orang pengurus didalamnya dilaporkan oleh Ilyas Karnoto Kepolda Jatim pada 26 februari 2018 lali. Saat melapor, posisi Ilyas sebagai Sekretaris Pengurus PPLP PT PGRI versi Akta nomor 07 tahun 2011. Sulihtiyono dan Teguh Sumarno Cs resmi menyandang status tersangka pada tanggal 18 oktober 2018.

Menurut Ilyas, ia melihat adanya indikasi pidana ini, karena Sadi dan Teguh Sumarno Cs melakukan perubahan Akta 07 tahun 2011 ke akta 31 tahun 2014 tanpa melibatkan pengurus yang tercantum dalam akta nomor 07 tahun 2011.  Sehingga mekanisme perubahan akta itu tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dalam akta yang dirubahIlyas menambahkan, Akta 31 tahun 2014 ini menurutnya dibuat atas dasar permintaan Sadi dan Teguh Sumarno. Sadi datang kepada Notaris Ahmad Munif dengan mengaku sebagai pribadi dan ketua PPLP-PT PGRI. 

Selain itu, Sadi juga mengaku sebagai kuasa rapat anggota pengurus PPLP PT PGRI. Padahal menurut Ilyas pengurus PPLP-PT PGRI versi Akta 07 2011 sebagai pengurus yang sah tidak pernah dilibatkan dalam rapat anggota PPLP-PT PGRI yang diklaim Sadi CS

Sebelum melaporkan kasus ini, Ilyas mengaku sudah melapor kepada Majelis Pengawas Notaris Daerah hingga ke Majelis Pengawas Notaris Pusat. Hasilnya dinyatakan penerbitan akta nomor 31 tahun 2014 itu tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Keputusan Majelis Notaris ini juga yang dijadikan Ilyas untuk melakukan upaya Peninjauan Kembali (PK) sebagai nofum (bukti baru) atas laporannya. 


Setelah melalui proses penyidikan, penyidik Polda Jatim akhirnya menetapkan Sadi dkk sebagai tersangka. Penetapan tersangka ini diketahui Sadi dari surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan yang diterima Ilyas. Pada surat tertanggal 18 Oktober itu disebutkan penyidik telah meningkatkan status Sadi dan kawan kawan menjadi tersangka atas kasus dugaan tindak pidana memberikan keterangan palsu ke dalam akta otentik sebagaimana dimaksud dalam pasal 266 KUHP. 

 

Menurut Ilyas, pihaknya sempat menggugat perdata akta tersebut. Di tingkat Pengadilan Negeri dan pihaknya menang. Lalu, banding hingga kasasi justru kalah. Lalu ia mengajukan PK  dengan adanya novum baru berupa putusan pelanggaran kode etik notaris dalam pembuatan akta 31/2014 yang dikeluarkan Majelis Pengawas Notaris Pusat.

Ilyas berharap, penetapan tersangka ini membuka titik terang terkait perjalanan akta PPL PT PGRI. Termasuk, berkaitan dengan nasib mahasiswa Uniba.

Saat dikonfirmasi wartawan via telepon selule, Kadiv Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera juga telah membenarkan surat penetapan tersangka sukihtiyono dan Tegus sumarno Cs tersebut. Untuk tindak lanjutnya, penyidik segera melakukan pemeriksaan setelah berkoordinasi dengan pengacara para tersangka. 

Namun saat dikonfirmasi wartawan, Teguh Sumarno yang pernah menjabat rektor Uniba 3 periode dan saat ini menjabat ketua yayasan yang menaungi Universitas Bhakti Indonesia atau UBI Banyuwangi tersebut, tidak menjawab telepon maupun pesan singkat via WhatsApp. 

Sedangkan Sulihtyono yang dalam akta 31 tahun 2014 menjabat sebagai pengawas saat dikonfirmasi wartawan mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak pelapor. Ia mengaku akan bermediasi dengan para pihak agar perkara ini selesai demi kemajuan UNIBA Banyuwangi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang perempuan penyandang tuna netra di Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi, di cabuli laki laki warga Kabupaten Bondowoso sambil di rekam melalui ponselnya.

Bahkan, dalam ponsel milik pelaku juga di temukan gambar korban dengan kondisi baju di singkap ke atas, beberapa saat sebelum di setubuhi. Perempuan malang tersebut adalah AS (30) warga Dusun Pringgondani Desa Watukebo Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Sementara, pelaku yang tergolong bejat itu di ketahui bernama Astro (53) warga Dusun Krajan RT 01 RW 01 Desa Kalianyar Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso, kini harus meringkuk di dalam sel tahanan Mapolsek Wongsorejo guna mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.

Kasus ini terjadi di rumah korban saat kondisi sepi. Waktu itu, tersangka datang ke rumah korban sambil merayu dengan janji janji akan menikahinya. Sementara, korban yang mengalami tuna netra sejak lahir itupun terbujuk oleh rayuan tersangka.

Pasalnya, sebelumnya tersangka pernah mendatangi rumah korban sebanyak 2 kali. Dan saat bertandang itu, tersangka selalu memakai songkok dan sarung serta baju taqwa lengan panjang yang di lengkapi dengan jubah. Disetiap bertamu ini pula, tersangka selalu mengajari korban mengaji.

Antara korban dengan tersangka sudah saling kenal sebelumnya, saat sama sama menjadi penggemar sebuah radio swasta di kawasan Situbondo hingga mereka berlanjut saling berkomunikasi melalui ponsel.

Kapolsek Wongsorejo Banyuwangi, AKP Kusmin mengatakan, saat bertamu untuk yang ketiga kalinya itulah, tersangka melakukan tindakan asusila terhadap korban layaknya pasangan suami istri.

“Ironisnya, selama tersangka melakukan ulah bejatnya itu malah di rekam di ponselnya,” ungkapnya.

AKP Kusmin menjelaskan, namun aksi tersangka ini tidak berlangsung lama karena kepergok tetangga korban.

Dan korban pun menceritakan ulah bejat tersangka ini kepada kakaknya, Poninten (30) saat baru pulang dari mencari rumput. Kontan saja, dia langsung melaporkan kasus yang menimpa adiknya ini ke Mapolsek Wongsorejo guna proses hukum lebih lanjut.

“Setelah mendapat laporan ini, kepolisian langsung menangkap tersangka yang kebetulan masih berada di rumah korban karena diamankan massa. Sekaligus di sita ponsel milik tersangka yang di dalamnya terdapat gambar dan video saat dia melakukan ulah bejatnya,” papar Kapolsek.

Selain ponsel, kepolisian juga mengamankan beberapa potong pakaian milik korban yang di gunakan saat berbuat asusila tersebut. Juga 1 unit sepeda motor Suzuki Titan bernopol P 4906 DV yang digunakan tersangka saat berkunjung ke rumah korban.

Atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 4 UU RI nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi jonto pasal 285 KUHP tentang perkosaan, dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kasus ini terbongkar berawal dari kedatangan Agus Hadi Purnomo ke ruang Satpas Mapolres Banyuwangi untuk mengecek SIM golongan B1 umum yang di milikinya. Setelah di periksa, ternyata sim tersebut adalah palsu dan yang asli adalah SIM A.

Selanjutnya, petugas melaporkan hal ini ke bagian SPKT Mapolres Banyuwangi untuk di lakukan pengembangan penyidikan lebih lanjut.

Kepada petugas, Agus mengaku sebelumnya meminta jasa pengurusan SIM kepada Ponidi warga Dusun Sukorejo RT 01 RW 02 Desa Sukomaju Kecamatan Srono.

Anggota Unit Resmob pun mengejar keberadaan Ponidi yang akhirnya berhasil di tangkap di halaman rumahnya. Dari pengakuan Ponidi, dia menjadi perantara pembuatan SIM palsu bersama Anwar alias Alex warga Dusun Krajan RT 03 RW 07 Desa Setail Kecamatan Genteng dan Ponari warga Dusun Maron RT 05 RW 01 Desa Genteng Kulon Kecamatan Genteng.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, dari keterangan Ponidi inilah, anggota Resmob kembali melakukan pengembangan penyidikan hingga berhasil menangkap keduanya saat berada di rumahnya masing masing.

“Dari penangkapan ini, mulai terkuak peran ketiga tersangka itu,” tutur Kasat Reskrim.

“Ponidi sebagai perantaran kepada Anwar yang juga berperan sebagai perantara kepada Ponari,” imbuhnya.

AKP Panji menjelaskan, dari pengakuan ketiga tersangka inilah, kepolisian berhasil menangkap Witarto warga Dusun Krajan RT 06 RW 01 Desa Sragi Kecamatan Songgon di rumahnya.

“Dia merupakan eksekutor atau pembuat dan pengganti SIM palsu,” ujar AKP Panji.

Sementara 3 tersangka lainnya itu merupakan orang yang mengaku bisa melayani jasa pembuatan dan perpanjangan SIM, yang selanjutnya di serahkan kepada tersangka Witarto untuk di buatkan SIM palsu sesuai pesanan.

“Tersangka Witarto mengaku telah puluhan kali melayani pembuatan SIM palsu melalui perantaran ketiga tersangka itu,” kata AKP Panji.

Untuk pengembangan penyidikan lebih lanjut, ke empa tersangka beserta barang buktinya di amankan di Mapolres Banyuwangi. Seperti 1 buah SIM golongan B1 umum atas nama Agus Hadi Purnomo, 1 buah screen sablon berukuran 30x40 cm dan 5 lembar transfer lettering merk Glory bersama kertas lapisannya.

“Atas semua perbuatannya, ke empat tersangka di jerat pasal 263 jonto pasal 55 KUHP tentang pemalsuan surat, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas AKP Panji.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna menjaga kejiwaannya, pihak keluarga mengamankan perempuan penyandang tuna netra warga Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi yang sebelumnya menjadi korban tindakan asusila.

AS (30) warga Dusun Pringgondani Desa Watukebo tersebut kini di ungsikan ke rumah saudaranya, yang masih berada di wilayah Banyuwangi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kejiwaannya dari omongan warga tentang kasus yang di alaminya.

AS menjadi korban kebejatan Astro (53) warga Dusun Krajan RT 01 RW 01 Desa Kalianyar Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso. Dia tega mencabuli korban yang sejak lahir mengalami tuna netra tersebut, dengan iming iming hendak menikahinya. Ironisnya, tersangka merekam perbuatannya dengan menggunakan ponsel saat mencabuli korban.

Kapolsek Wongsorejo Banyuwangi, AKP Kusmin membenarkan bahwa korban kini di ungsikan ke rumah saudaranya agar tenang.

“Karena pasca kejadian itu korban terlihat shock. Dan dia mengaku tidak menginginkan peristiwa ini terjadi,” kata AKP Kusmi.

Dijelaskan Kapolsek, peristiwa ini terjadi saat tersangka bertamu ke rumah korban untuk yang ketiga kalinya. Karena sebelumnya, tersangka 2 kali pernah mendatangi rumah korban.

“Rupanya, untuk pertemuan yang ketiga kalinya ini, tersangka sudah mengatur rencana busuk untuk merayu korban dengan iming iming hendak di nikahi. Hingga terjadi peristiwa naas yang menimpa korban itu,” papar Kapolsek.

“Kami telah melakukan visum terhadap korban di puskesmas setempat, guna memperkuat upaya penahanan tersangka,” imbuhnya.

Sementara itu, dari kasus ini terungkap fakta baru berdasarkan barang bukti yang di amankan kepolisian. Selain ponsel milik tersangka yang terdapat foto korban dan video saat dia melakukan aksi bejatnya, kepolisian juga mengamankan terong dan mentimun dari lokasi.

“Dari pengakuan tersangka, kedua benda itu di gunakannya untuk memancing daya rangsang korban sebelum dia melakukan tindakan asusila itu,” pungkas Kapolsek.

Perkenalan antara korban dengan tersangka berawal dari sama sama menjadi pendengar sebuah radio swasta di wilayah Kabupaten Situbondo. Setelah berkomunikasi melalui ponsel hingga beberapa kali, akhirnya tersangka bermain ke rumah korban.

Dan selama mendatangi rumah korban tersebut, tersangka berpakaian layaknya kiyai yakni memakai songkok, sarung, baju taqwa lengan panjang lengkap dengan jubah. Bahkan, di setiap kali bertamu itu, tersangka selalu mengajari korban mengaji.

Dari sinilah, di duga korban terpedaya dengan rayuan tersangka.

Kini, tersangka harus meringkuk di dalam sel tahanan Mapolsek Wongsorejo Banyuwangi. Atas semua perbuatannya, tersangka di jerat pasal 4 UU RI nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi jonto pasal 285 KUHP, dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Diduga menggelapkan mobil yang di sewanya, seorang laki laki warga Kecamatan Muncar Banyuwangi harus berurusan dengan kepolisain.

Dia adalah Gufron Ahmad (41) bertempat tinggal di Dusun Krajan RT 02 RW 03 Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar.

Kasus ini terungkap berawal dari laporan Mohamad Amin (61) yang juga merupakan warga Kecamatan Muncar. Dalam laporan ke pihak kepolisian, dia mengaku mobil Brio putih bernopol P 1593 VQ miliknya raib di bawa kabur tersangka, setelah sebelumnya di sewa.

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi AKP Panji Pratista Wijaya mengatakan, setelah mendapat laporan korban, aparat Resmob Polres Banyuwangi langsung bergerak ke rumah tersangka yang disebut sebut telah menyewa mobil korban, tapi tidak ada di lokasi.

“Lalu kepolisian mengejar keberadaan tersangka hingga beberapa bulan dan akhirnya berhasil di tangkap di kawasan Dusun Mangunrejo RT 02 RW 04 Desa Blambangan Kecamatan Muncar di bulan Oktober 2018 ini,” papar

AKP Panji.

Dia menjelaskan, menurut pengakuan korban, mobilnya tersebut di sewa tersangka sejak bulan Mei 2018 lalu dengan harga sewa Rp 300.000 per hari. Namun hingga batas waktu yang telah di tentukan, tersangka tidak juga mengembalikan mobil korban lalu di laporkan ke pihak kepolisian.

“Menurut keterangan tersangka, mobil korban telah di gadaikan kepada orang lain sehingga dia tidak bisa mengembalikannya,” ujar Kasat Reskrim.

“Setelah tertangkap, kepolisian menggelandang tersangka ke Mapolres Banyuwangi untuk di lakukan penahanan,” pungkasnya.

Atas perbuatannya, tersangka di jerat pasal 372 dan pasal 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. Sementara untuk barang bukti mobil milik korban, hingga kini masih di lakukan pengembangan penyidikan kepolisian.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dari wilayah Kecamatan Muncar Banyuwangi, kepolisian menangkap 3 orang pengedar pil koplo dengan menyita ribuan butir sebagai barang bukti.

Kali ini, Satuan Reskoba Polres Banyuwangi mengamankan Didik Priyo Cahyono (27) di kawasan pinggir jalan masuk Dusun Krajan Desa Kumendung Kecamatan Muncar.

Dari tangan laki laki asal Dusun Krajan RT 02 RW 03 Desa Srono Kecamatan Srono Banyuwangi tersebut, kepolisian mengamankan barang bukti 3000 butir obat jenis Trihexyphenidyl yang terbungkus dalam beberapa plastic klip, serta uang tunai Rp 225.000 hasil dari penjualan obat obatan sediaan farmasi tersebut. Juga di amankan 1 unit ponsel dan 1 unit sepeda motor Honda Beat bernopol P 6958 WX.

Kasat Narkoba Polres Banyuwangi, AKP Imron mengatakan, awalnya kepolisian mendapat laporan dari masyarakat mengenai ulah tersangka yang di sebut sebut sering menjual pil Trihexyphenidyl ke pelanggannya dari berbagai kalangan. Satreskoba pun melakukan pengembangan penyidikan hingga berhasil mendapati identitas tersangka.

“Kami menghubungi ponsel tersangka berpura pura untuk membeli pil koplo hingga di sepakati lokasi transaksinya di TKP penangkapan itu lalu kami tangkap,” papar AKP Imron.

“Kepada petugas, dia mengaku mendapatkan pil koplo itu dari seseorang tak di kenal yang juga tidak diketahui alamatnya,” imbuhnya.

AKP Imron menjelaskan, masih di wilayah yang sama, kepolisian kembali melakukan pengembangan penyidikan yang selanjutnya menyasar di sebuah rumah di kawasan Dusun Krajan RT 02 RW 06 Desa Kumendung Kecamatan Muncar.

“Disini, diamankan seorang pemilik rumah, Poniran alias Kacuk (45) yang juga di sebut sebut sering mengedarkan pil koplo hingga ke wilayah kecamatan lain,” tutur AKP Imron.

Dari tangan laki laki yang hanya tamat kelas 4 Sekolah Dasar tersebut, di amankan barang bukti 5 butir pil Trihexyphenidyl dan uang tunai Rp 500.000 serta 2 unit ponsel.

AKP Imron mengaku, penangkapan tersangka Poniran ini merupakan pengembangan dari tertangkapnya pemakai pil koplo, Bambang Setiyawan. Dimana, dari tangan Bambang di amankan barang bukti 290 butir pil Trihexyphenidyl yang hendak di edarkan.

“Dia mengaku, pil itu di beli dari tersangka Poniran,” kata AKP Imron.

Dalam hal ini, kepolisian tidak menahan Bambang Setiyawan karena sebagai saksi.

Kasat Narkoba menambahkan, dari wilayah Kecamatan Muncar, kepolisian kembali menangkap tersangka lain yakni Zainal Arifin (26) yang tertangkap di rumahnya di kawasan Dusun Mangunrejo RT 02 RW 02 Desa Blambangan.

“Dari lokasi, kepolisian mengamankan 52 butir pil Trihexyphenidyl dan 2 unit ponsel,” pungkasnya.

Kini, ketiga tersangka beserta barang buktinya tersebut di amankan di Mapolres Banyuwangi. Dan atas semua perbuatannya, mereka di jerat pasal 197 subsider pasal 196 UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

More Articles ...