radiovisfm.com, Banyuwangi - Pebalap dari 22 negara siap berkompetisi dalam lomba balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018, yang tahun ini bertemakan Spirit of Blue Fire.

Kompetisi balap sepeda 2.2 yang masuk agenda resmi federasi balap dunia United Cycliste International (UCI) ini digelar pada 26-29 September, yang akan menempuh empat etape dengan rute sepanjang 599 kilometer.

Memasuki tahun ketujuh pelaksanaannya, ITdBI tahun ini diikuti 20 tim continental yang pesertanya berasal dari 22 negara. Antara lain dari New Zealand, Australia, Malaysia, Thailand, Afrika Selatan, Eritria, Yunani dan Belgia. Juga ada dari Prancis, Inggris, Jerman, Colombia, Spanyol, Jepang, Belanda, China, dan Slovenia.  

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, Banyuwangi konsisten menggelar ITdBI untuk ketujuh kalinya sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah berkontribusi bagi Indonesia dalam penyelenggaraan ajang internasional.

“Diharapkan, event ini akan jadi bagian yang mengabarkan hal positif tentang Indonesia kepada dunia,” ungkap Bupati Anas.

“Ajang ini juga menjadi pemicu pariwisata dengan datangnya delegasi dalam dan luar negeri serta penggemar sepeda,” imbuhnya.

Dengan sendirinya, ITdBI menaikkan awareness publik terhadap Kawah Ijen sebagai destinasi unggulan dengan fenomena api biru (blue flame) yang mendunia.

Sementara, Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Banyuwangi, Wawan Yadmadji mengatakan, para pebalap akan diajak menyusuri panorama elok Bumi Blambangan hingga berpacu menaklukkan tantangan ekstrim tanjakan Gunung Ijen. Semua rute tersaji lengkap, mulai perdesaan, perkebunan, pegunungan, hingga pantai.

“Bahkan, para pebalap juga di perkenalkan lokasi bersejarah di Banyuwangi, salah satunya Rowo Bayu Kecamatan Songgon yang di jadikan sebagai garis finish di salah satu etape,” papar Wawan.

Dia mengaku, dari 4 etape tersebut ada 2 tanjakan yang harus ditaklukkan oleh para pebalap yakni menuju Wisata Rowo Bayu serta ke Paltuding Kawah Ijen. Disepanjang rute, pebalap melewati berbagai kawasan indah yang bervariasi lengkap dengan keramahan warga.

“Ini sesuai dengan konsep sport tourism ITdBI, di mana ajang olahraga berpadu dengan strategi pengembangan pariwisata,” ujarnya.

Wawan menjelaskan, pada etape terakhir, pebalap akan mengambil titik start dari Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran, desa terujung selatan Banyuwangi yang berdekatan dengan Pantai Sukamade, salah satu segitiga destinasi wisata andalan Banyuwangi.

“Sepanjang jalan yang akan dilewati pebalap sudah dalam kondisi prima. Ini menunjukkan bahwa pariwisata bisa menjadi sarana konsolidasi infrastruktur,” pungkas Wawan.

Chairman ITdBI Guntur Priambodo mengatakan, jalur tanjakan menuju Gunung Ijen paling dinantikan, karena salah satu yang terekstrem di Asia dengan ketinggian 1.871 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan merupakan level tertinggi di balap sepeda (hors categorie).

“Ketinggiannya melampaui tanjakan Genting Highland dalam Tour de Langkawi Malaysia yang sekitar 1.500 mdpl,” ujar Guntur.

Untuk Stage 1 ITdBI 2018 sejauh 153,1 KM start Kantor Bupati Banyuwangi dan Finish Rowo Bayu Songgon. Etape 2 sejauh 179,3 KM start Stasiun Kalibaru serta Etape 3 sejauh 139,4 KM start RTH Maron Kecamatan Genteng. Di kedua etape ini finish di Kantor Bupati Banyuwangi.

Sementara etape 4 atau disebut etape neraka sejauh 127,2 KM, start Pasar Sarongan dan finish Paltuding Kawah Ijen.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Masyarakat Kelurahan Banjar Sari Kecamatan Glagah Banyuwangi menggelar ritual bersih desa, Senin (24/9), yang di awali dengan selamatan bersama di sumber mata air yang ada di Lingkungan Pancoran.

Selamatan ini di laksanakan pagi hari dengan di pimpin langsung oleh Camat Glagah Banyuwangi, Astorik didampingi Lurah Banjar Sari, Senari. Dalam selamatan tersebut, ratusan warga membawa bekal nasi pecel petek, yang merupakan makanan khas banyuwangi.

Sebelum menyantap nasi pecel petek, terlebih dahulu di lakukan pembacaan do’a yang di pimpin oleh tokoh masyarakat setempat. Sementara untuk lokasi sumber mata air tersebut, berjarak kurang lebih 2 kilometer ke arah barat dari pemukiman penduduk.

Untuk menuju ke lokasi, warga berjalan beriringan melewati pematang sawah yang di sisi kanan dan kirinya mengalir air jernih yang berasal dari sumber air Pancoran. Dan air tersebut di manfaatkan oleh warga untuk mengairi sawah mereka. Sementara di lokasi sumber mata air, terdapat pohon beringin cukup besar.

Lurah Banjar Sari, Senari mengatakan, ritual bersih desa di Kelurahan Banjar Sari ini di laksanakan setiap satu tahun sekali di tanggal 14 Muharram.

“Ritual ini sengaja di awali dengan do’a bersama di sumber mata air pancoran karena di anggap sebagai sumber dari air yang mengalir dan memberikan kehidupan terhadap masyarakat setempat, yang sebagian besar adalah petani,” papar Senari.

Selain itu menurut Senari, warga setempat juga terlebih dahulu meminta restu kepada mbah buyut Sentono yang dipercaya sebagai penjaga sumber mata air tersebut, sebelum melaksanakan ritual bersih desa.

“Setelah sholat maghrib, seluruh masyarakat di Kelurahan Banjarsari menggelar selamatan kampung di depan rumah mereka masing masing, dengan menyajikan makanan yang sama yaitu pecel petek,” ujar Senari.

Dia menambahkan, di malam harinya, di gelar pengajian dan pembacaan lontar yusuf di kantor Kelurahan Banjar Sari semalam suntuk.

Camat Glagah Banyuwangi, Astorik menjelaskan, sumber mata air tersebut sesungguhnya bisa di kelola dengan baik menjadi destinasi wisata baru untuk bisa mendatangkan wisatawan.

“Yang nantinya di harapkan, dari pengelolaan wisata sumber mata air ini bisa berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat,” ungkap Astorik.

Pasalnya menurut Astorik, di lokasi tersebut di nilai cukup bagus apalagi di dalamnya terdapat pohon beringin berukuran cukup besar dan rindang, lengkap dengan suara gemericik air di sepanjang aliran mata air tersebut.

“Saya minta pada Lurah dan masyarakat setempat untuk saling berkoordinasi menentukan berbagai langkah di dalam upaya rencana pembukaan wisata sumber mata air itu,” tutur Astorik.

Sementara itu, dari data yang ada, jumlah penduduk di Kelurahan Banjar Sari mencapai 6 ribuan orang lebih. Mereka bertempat tinggal di 5 lingkungan, yaitu Lingkungan Sukorojo, Krajan, Gunung Sari, Tembakon dan Lingkungan Pancoran.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Perhelatan musik Jazz Gunung Ijen kembali mengalun indah di Banyuwangi, Sabtu (22/9). Meski hawa dingin menyelimuti amfiteater Jiwa Jawa Resort tempat berlangsungnya acara, yang berada di kaki Gunung Ijen, ratusan penggemar jazz dari berbagai kota di Tanah Air tidak beranjak dari tempatnya.

Suasana hangat yang berhasil dibangun para musisi membuat penonton betah lesehan di atas bantal walau malam terus merambat. 

Jazz Gunung Ijen tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keenam kalinya. Line up pengisi acara ada Andien juga Shadow Puppets feat Marcell Siahaan. Ada pula musisi jazz senior Mus Mujiono dan Idang Rasjidi.

Suasana pegunungan Ijen yang dingin mulai menghangat saat Shadow Puppets bersama Marcell tampil mengawali puncak konser malam itu, dengan lagu Semusim.

Mereka juga menampilkan sederet tembang lawas salah satunya berjudul “Nonton Bioskop” yang pernah populer dibawakan Bing Slamet dalam balutan jazz yang asyik.

Mereka juga membawakan lagu baru Marcell dan lagu hitsnya seperti “Jangan Pernah Berubah”.

"Dinginnya Ijen harus saya lawan dengan gerakan lincah. Biar suasana jadi hangat," ujar Marcell yang tampil atraktif malam itu.

Berikutnya tampil legenda jazz tanah air, Idang Rasjidi n The Next Generation. Idang berkolaborasi dengan anak-anak muda berusia belasan tahun memberikan suguhan harmoni nada memikat yang memanjakan telinga penonton. 

Idang juga tampil mengiringi Sastrani dan Mus Mujiono membawakan lagu-lagu yang telah melegenda seperti “Arti Kehidupan” dan “Tanda-tandanya”. Dan koor suara penonton pun mengiringi sepanjang lagu yang dinyanyikan.

"Saya jatuh cinta dengan tempat ini. Bila perhelatan musik jazz di Indonesia kita ibaratkan muka yang tersenyum, maka Jazz Gunung Ijen adalah lesung pipitnya. Terima kasih kepada Banyuwangi yang telah menyumbangkan kemerduan ke seluruh negeri," puji Idang. 

Penyanyi Andien menjadi penampil pamungkas sekaligus yang paling ditunggu para penonton generasi milenial. Andien tampil istimewa dengan membawakan lagu-lagu hitsnya. 

"Saya sudah lama mendengar bila vibe-nya di sini menyenangkan. Begitu ditawari, saya langsung mengiyakan," kata Andien. 

“Great ambiance, great crowd, great place!” kata Andien soal Jazz Gunung Ijen.

Penonton diajak bernyanyi dan berdansa mengiringi delapan lagu yang dibawakan olehnya. Keharuan dan kecerian pun datang silih berganti saat Andien menyanyikan lagu-lagu lawas hingga single terbarunya.

Deretan lagu seperti Gemintang,  Milikmu Selalu, Rindu Ini, hingga Indahnya Dunia dibawakan Andien dengan menawan. Kemeriahan mendadak hadir saat Andien turun ke deretan kursi penonton untuk mengajak mereka berdendang bersama.

Bagi Andien kedatangannya di Banyuwangi untuk kedua kalinya ini juga terasa spesial karena menjadi nostalgia saat berbulan madu di Kota The Sunrise of Java ini.

"Ini sangat menyenangkan bisa kembali lagi di Banyuwangi. Dulu saat honeymoon Gunung Ijen jadi destinasi kami juga beberapa tempat di Banyuwangi," kata Andien .

Perhelatan Jazz Gunung Ijen tahun ini memang terasa spesial. Venue jazz mengambil lokasi amfiteater di kawasan Taman Gandrung Terakota di Jiwa Jawa Resort. Amfiteater ini menawarkan pemandangan dengan latar belakang kawasan persawahan berupa ratusan patung penari Gandrung, tarian khas Banyuwangi, yang tersebar di lahan persawahan di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl). 

Salah satu penonton asal Jakarta, Juanito, mengaku puas dengan penampilan para musisi yang tampil di Jazz Gunung Ijen malam ini. Dia mengaku sengaja datang ke Banyuwangi penasaran dengan jazz Ijen 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ikon pariwisata seni-budaya di Banyuwangi terus bertambah. Sabtu sore (22/9/2018), telah diresmikan Taman Gandrung Terakota (TGT) dengan ratusan penari gandrung di lahan sawah terasering di kaki Gunung Ijen, tepatnya di kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort, Kecamatan Licin, Banyuwangi. 

“Terakota adalah nama lain dari tembikar atau gerabah sebagai bahan dasar visualisasi penari gandrung ini,” ujar Sigit Pramono, penggagas Taman Gandrung Terakota yang juga pemilik Jiwa Jawa Resort.

Ini adalah situs untuk merawat dan meruwat Tari Gandrung sebagai salah satu identitas budaya Banyuwangi,” imbuhnya.

Sigit menambahkan, upaya merawat dan meruwat budaya tersebut sengaja dilakukan dengan pendekatan kawasan, di mana situs budaya ini terhampar di puluhan hektar lahan persawahan yang dibiarkan tetap alami.

“Pada intinya, kesenian Gandrung memang berasal dari tradisi rakyat, yang awalnya adalah wujud syukur atas hasil pertanian yang melimpah. Karena itu, situs rawat-ruwat Tari Gandrung ini pun kita hamparkan berdampingan dengan aktivitas rakyat, yaitu petani yang tetap membajak sawah dengan kerbau, menanam dan memanen padi,” papar bankir senior mantan direktur utama BNI tersebut.

Ditaman ini, pengunjung bisa menikmati keindahan Gunung Ijen yang memiliki tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut (mdpl) di sisi barat. Di Ijen itulah terdapat kawah yang memancarkan api biru (blue flame) yang mendunia. Menengok ke timur, akan terlihat birunya Selat Bali.

Sigit mengatakan, pihaknya sengaja memilih bahan tanah liat yang lebih rentan. Namun, dari kerentanan itulah, ada nilai tersendiri yang akan diusung dalam galeri raksasa terbuka ini.

“Justru itulah makna dan nilai yang kita tawarkan, kesenian dan ketidakabadian. Karena, yang abadi adalah proses, makna dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya,” terangnya.

Taman Gandrung Terakota terinspirasi dari Terracotta Warrior and Horses di Tiongkok yang dibangun pada masa Kaisar Qin Shi Huang (259-210 SM). Penataannya melibatkan kurator seni rupa dari Galeri Nasional Indonesia sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr Suwarno Wisetrotomo.

Taman Gandrung Terakota tidak hanya menyajikan deretan patung-patung penari gandrung. Memasuki kawasan ini, pengunjung dipertontonkan bukit hijau dan hamparan sawah, para petani membajak sawah, kebun kopi, pohon durian, beraneka jenis bambu, dan tanaman endemik setempat. 

Di tengah hamparan tersebut ditemukan amfiteater terbuka untuk pertunjukan kesenian berjadwal dan perhelatan musik jazz. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sangat antusias dengan tumbuhnya destinasi baru di Banyuwangi itu. 

"Kami sangat bangga dengan antusiasme berbagai pihak untuk terus mengembangkan Banyuwangi. Ini dibangun tanpa APBD, melainkan oleh swasta yang punya kepedulian terhadap seni-budaya Banyuwangi," kata Bupati Anas.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Masyarakat Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh Banyuwangi menggelar ritual Kebo Keboan, Minggu (23/9)  sebagai rasa ucap syukur kepada Yang Maha Kuasa atas karunia tanah yang subur dan panen yang melimpah.

Ritual di mulai dengan selamatan Ijab Qobul yang di pimpin oleh tetua adat, dilanjutkan dengan makan nasi tumpeng bersama di sepanjang jalan desa.

Lalu, di lanjutkan dengan ritual ider bumi kebo keboan. Dimana, puluhan warga yang berperan sebagai hewan kerbau memakai replica tanduk serta di sekujur tubuhnya di lumuri cairan arang sehingga seluruhnya menghitam beserta wajahnya. Mereka berkeliling kampung dengan di iringi kesenian barong. Ada pula Dewi Sri, yang merupakan simbol kesuburan masyarakat agraris, yang ditandu mengikuti manusia kerbau diarak. 

Ribuan masyarakat pun memadati lokasi acara. Banyak dari mereka tidak bisa menghindari saat di dekati dan di usap arang oleh para kebo jadi jadian tersebut.

Kubangan yang di gunakan tempat kebo keboan ini berada tepat di depan Rumah Budaya Kebo Keboan. Dimana sebelumnya adalah di lahan sawah kering yang di sulap menjadi kubangan air.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ini merupakan model yang cukup baik di tengah gempuran moderenitas namun kebudayaan local terus tumbuh. Dan masyarakat semakin bangga dengan budaya lokal.

“Saya apresiasi peningkatan kwalitas ritual KeboKeboan yang cukup segnifikan disetiap tahunnya,” ungkap Bupati Anas.

Bahkan di tahun ini, kemasan acaranya di buat semakin menarik dengan berbagai sentuhan yang menggambarkan adat budaya masyarakat setempat,” imbuhnya.

Juga di setiap pintu masuk di sulap menjadi pintu gerbang yang kental filosofi budaya, dengan di lengkapi sayuran maupun buah hasil pertanian masyarakat setempat.

Bupati Anas mengaku, ini bisa di contoh daerah lain karena kegiatan sebesar itu tidak meminta bantuan anggaran ke Pemerintah Daerah dan sepenuhnya swadaya masyarakat.

Ketua Panitia Indra Gunawan menjelaskan tradisi ini merupakan selamatan desa sebagai ucapan syukur masyarakat tani atas hasil limpahan panen dan doa buat musim tanam di tahun depan.  

Dulu acara ini hanya sebatas kegiatan ritual biasa di desa di sekitar sawah dan perkampungan,” ujar Indra’

Tapi dengan sentuhan pemkab menurutnya, acara ini dikemas kolosal yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Sementara, kegiatan ini mendapat apresiasi dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid yang langsung hadir dilokasi.

Hilmar mengaku sangat tertarik dengan event budaya ini. Dia menilai warga  Alasmalang berhasil menjaga dan melestarikan tradisi turun temurun ini. 

"Nilai dari budaya ini mempunyai makna, festival kebo-keboan ini dalam rangka menyambut kehidupan mengenal alam, dan menjadi tradisi yang memiliki nilai besar bagi masyarakat. Dan saya salut, warga berhasil meleatarikan, bahkan semua swadaya dan bergerak bersama. Satu kata untuk Alasmalang, hebat," ujarnya. 

Menurutnya, Banyuwangi telah berhasil membuat event sederhana menjadi sangat luar biasa. Even ini, kata dia, merupakan paket lengkap karena menggabungkan pariwisata, sosial, pendidikan dan tentunya kebudayaan.

 

 

 

 

Radiovisfm.com, Banyuwangi - Najwa Shihab berhasil membuat meriah malam Minggu warga Banyuwangi. Ribuan warga Banyuwangi tumpah ruah di Gedung Seni Budaya, Sabtu malam (22/9) menyaksikan aksi seru Najwa memandu talkshow "Catatan Najwa" dengan nara sumber Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas salah satunya. 

Tak kurang dari 5.000 warga Banyuwangi memadati Gesibu saat acara puncak, tiping "Catatan Najwa" yang merupakan rangkaian acara Narastreet Festival. Hampir semuanya berasal dari kalangan anak muda dan generasi millenial. 

"Malam ini, kita bakal seru-seruan bersama di Banyuwangi," kata Najwa Shihab yang disambut riuh tepuk tangan penonton. 

Kemeriahan semakin bertambah ketika bintang tamu pertama keluar. Ia adalah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Applause meriah datang dari tribun penonton.

"Selama jadi bupati, apa yang paling seru dan lucu?" tanya Najwa kepada Bupati Anas. 

Bupati Banyuwangi dua periode itu, mengenang masa-masa ketika berjumpa dengan masyarakat. Pernah suatu ketika mobilnya yang tengah blusukan di tengah kampung dicegat oleh seorang ibu-ibu bersama anaknya. Mereka hendak menumpang. 

"Semula, ibu-ibu itu tidak tahu kalau di dalam mobil itu saya. Ketika beberapa saat setelah masuk, ibu itu baru sadar. Saya langsung dipeluknya," ceritanya

Suami Ipuk Festiandani itu juga begitu terkesan ketika program-programnya mendapatkan apresiasi yang tulus dari masyarakat Banyuwangi. Salah satu program tersebut adalah beasiswa Banyuwangi Cerdas yang berupa biaya kuliah gratis hingga lulus bagi mahasiswa berprestasi yang tak mampu. 

"Sebagai ungkapan rasa syukur karena cucunya bisa kuliah, ada seorang nenek datang ke rumah dengan membawa setandan pisang," kenangnya. 

Selain Bupati Anas, Catatan Najwa semakin meriah tatkala bintang tamu lainnya keluar. Karena mengambil tema seru-seruan, Najwa menghadirkan para komika yang ngehit di Indonesia.

Bayu Skak keluar terlebih dahulu. Youtuber asal Malang itu, dikenal dengan konten-kontennya yang lucu dan juga kritis terhadap hal-hal yang tak beres dalam kehidupan sehari-hari. 

Tak lama kemudian, Joshua Suherman yang merupakan partner Bayu Skak dalam film Yo Wes Ben juga dihadirkan. Keduanya lantas menyanyi bersama salah satu theme song film tersebut. "Kita nyanyi lagu 'Gak Iso Turu' bareng-bareng yah," ajak mereka berdua.

Selain Bayu Skak dan Joshua, hadir pula komika yang baru naik daun, Aji Pratama. Komika berusia 17 tahun itu, merupakan pemenang lomba stand up comedy mengkritik DPR yang diselenggarakan lembaga legislatif tersebut. Ada juga komika senior Iwan Sastra yang turut memeriahkan acara tersebut. 

Narastreet Festival sebenarnya rangkaian acara yang digelar sejak Jumat siang (21/9). Ada berbagai acara seru dengan berbagai komunitas di Banyuwangi. Seperti komunitas fotografer, skateboard, BMX, hingga literasi. Mereka berbagi segala hal tentang komunitasnya. Mereka juga menunjukkan aksinya di arena Narastreet.

Panggung musik, pameran komunitas, stand bazar juga turut meramaikan acara tersebut.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pagelaran drama musikal Meras Gandrung, mengawali pelaksanaan Jazz Gunung Ijen, di amfiteater Jiwa Jawa Resort, Sabtu (22/9). Sekaligus sebagai penanda dibukanya Taman Gandrung Terakota, Jiwa Jawa Resort Kecamatan Licin Banyuwangi.

Sendratari perdana di amfiteater tersebut dihadiri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan pemilik Jiwa Jawa Resort sekaligus penggagas Jazz Gunung Ijen, Sigit Pramono. 

Para seniman Desa Adat Kemiren, mulai dari musisi, sinden, penari gandrung, dan lainnya, memainkan drama Meras Gandrung. ‎Meras Gandrung merupakan ritual seorang penari Gandrung menjadi seorang Gandrung. 

Seorang Gandrung, selain harus bisa menari, juga piawai mengolah suara menjadi sinden. Setelah sekian lama berlatih sinden dan menari, penari gandrung wajib menjalankan ritual sebagai tanda dia siap untuk tampil menjadi Gandrung. 

Drama musikal ini diperankan oleh para dedengkot seniman gandrung, seperti sinden ternama Banyuwangi, Temuk Misti, penabuh gendang Haidi bing Slamet, serta puluhan penari gandrung Kemiren. 

"Meras Gandrung adalah prosesi ritual sebagai penanda dia siap menjadi penari gandrung. Ini bisa disebut wisudanya penari gandrung. Di Jazz Gunung Ijen kami ingin menunjukkan bahwa seni di Banyuwangi tak kalah menariknya," kata Sigit Pramono. 

Dalam drama musical Meras Gandrung tersebut, digambarkan seorang remaja putri yang lebih tertarik musik populer, diarahkan menjadi penari gandrung. Dengan dorongan orangtua dan para seniman, akhirnya remaja itu bersedia menjadi gandrung. Setelah giat berlatih, remaja itu menjalani Meras Gandrung. 

Dalam prosesi tersebut, penari gandrung harus menjalani serangkaian ujian. Mulai dari gerakan tari, lekukan suara sinden dan lainnya. Setelah dinyatakan lulus, penari gandrung itu menjalani ritual melalui upacara meminum ramuan gurah suara, untuk menghilangkan dahak dan riak yang ada di tenggorokan. 

Ramuan tersebut berisi wortel, bawang merah, daun lombok, kunir, dan ramuan lainnya. Ramuan itu diracik dan cairan itu dimasukkan dalam hidung. Rasanya sangat sakit bagi penari gandrung. 

"Ketika seseorang belajar gandrung, sebagai landasan untuk pementasan perdana dia harus diperas, dalam Meras Gandrung. Ini sebagai penanda penari gandrung itu siap," kata Haidi. 

Sementara, Jazz Gunung Ijen yang memasuki tahun ke empat pelaksanaan, pada tahun ini dimeriahkan oleh sejumlah musisi jazz tanah air. Mulai dari musisi senior Idang Rasjidi, Mus Mujiono, hingga penyanyi jazz Andien dan Shadow Puppets feat. Marcell Siahaan. 

Jazz Gunung ijen ini memiliki daya tarik sendiri bagi penggemarnya. Digelar di amfiteater terbuka, menjadikan lokasi panggung berdekatan dengan posisi penonton, sehingga interaksi antara penampil dan penonton menjadi semakin intim.

Sehingga penonton terasa lekat tanpa sekat seakan menyaksikan penampilan musik di belakang rumah sendiri.

 

More Articles ...