radiovisfm.com, Banyuwangi - Rumah milik warga Kecamatan Songgon Banyuwangi roboh dan nyaris rata dengan tanah, setelah di guyur hujan cukup deras selama lebih dari 2 jam.

Rumah tersebut milik Lukman (50) di kawasan Dusun Tegalwudi RT 01 RW 02 Desa Bedewang Kecamatan Songgon Banyuwangi. Seluruh bangunan rumah terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Sedangkan lantainya beralaskan tanah namun sudah dilengkapi dengan genteng.

Selama ini, Lukman tinggal bersama ibunya, Muslikah (80) di rumah tersebut. Dalam kesehariannya, dia bekerja serabutan demi kelangsungan hidupnya.

Saat terjadi hujan deras, kedua korban berada di dalam rumah sedang beristirahat. Mereka mendengar suara kretek kretek yang di kira suara hujan. Namun setelah terlihat rumah mulai miring, Lukman berlari keluar dan saat itulah rumahnya roboh. Lukman pun teringat ibunya yang masih di dalam rumah.

Selanjutnya, dia bersama adiknya, Imam Muslih, mencari ditumpukan rumah yang hancur tersebut dan terlihat ibu korban merangkak keluar dari reruntuhan rumah.

Camat Songgon Banyuwangi, Kunta Prastawa mengatakan, rumah korban sudah masuk dalam salah satu rumah yang diperbaiki dalam program Bedah Rumah yang digulirkan oleh pihak TNI.

“Untuk di wilayah Kecamatan Songgon, tercatat ada 60 rumah warga kurang mampu yang masuk dalam daftar Bedah Rumah dan salah satunya adalah rumah milik korban itu,” ujar Kunta.

Dia menjelaskan, saat ini seluruh material bahan bangunan sudah ada di lokasi dan rencananya pencanangan program Bedah Rumah akan di laksanakan pada Senin (21/1) mendatang.

“Tapi karena kondisi rumah korban sudah roboh, maka rencananya akan segera di lakukan perbaikan tanpa menunggu pencanangan,” tutur Kunta.

“Selama menunggu proses perbaikan, kini korban mengungsi di rumah tetangganya,” pungkasnya.

Sementara itu, kondisi rumah korban saat ini sangat mengenaskan. Seluruh bagian rumahnya hancur termasuk genteng. Bahkan, kayu kayu yang menopang bangunan rumahpun patah.

Untung saja dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 4 rumah warga di kawasan Desa Sumbersewu Kecamatan Muncar Banyuwangi mengalami kerusakan pada atapnya, akibat di hantam angin putting beliung, Minggu (13/1).

Meski demikian, dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. Data pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, ke 4 rumah yang mengalami kerusakan tersebut adalah milik Purnomo (40) di wilayah Dusun Krajan, utamanya pada atap teras dan daun pintu.

Juga rumah Tjipta Sujarwo Tjuek atau Papi Juan (75) di kawasan Dusun Palukuning, yang mengalami kerusakan pada atap gudang wallet, atap garasi mobil dan atap tempat pakan udang. Serta rumah Siem (40) dan Sumirin (50) keduanya di area Dusun Palukuning, yang mengalami kerusakan pada atap dapur juga atap rumahnya.

Camat Muncar Banyuwangi, Lukman Hakim mengatakan, kerusakan hanya terjadi pada atap rumah saja dan tidak sampai roboh sehingga dinilai tidak terlalu segnifikan.

“Tapi ada satu pintu rumah warga yang jebol, dan itu di rencanakan segera di lakukan perbaikan senin besok,” ujar Lukman.

“Perbaikan akan melibatkan perangkat desa maupun kepala dusun setempat dengan dana dari swadaya,” imbuhnya.

Dan akibat peristiwa ini, masih belum ditaksir besaran kerugian yang di derita oleh para pemilik rumah.

Meski demikian, kami segera melapor ke BPBD Banyuwangi,” pungkas Lukman.

Selain di wilayah Kecamatan Muncar, angin putting beliung juga terjadi di kawasan pantai bomo Kecamatan Blimbingsari dan juga tidak menimbulkan korban jiwa.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Terhitung mulai bulan Maret 2019 mendatang, pendakian dan kunjungan ke Kawah Ijen akan ditutup sekali dalam setiap bulan. Tepatnya di setiap hari Jum’at di minggu pertama.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi Balai Besar KSDA Jawa Timur, Sumpena mengatakan, penutupan ini dilakukan untuk memberikan kesempatan terhadap alam beristirahat.

“Selama penutupan ini pula, di laksanakan kegiatan pembersihan sampah maupun berbagai kegiatan pengelolaan lainnya,” ujar Sumpena.

Dia mengaku, dalam kegiatan ini juga akan melibatkan masyarakat dan sejumlah instansi terkait termasuk Dinas Lingkungan Hidup dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA).

“Juga, berbagai kelompok pecinta alam serta kelompok penyedia jasa usaha wisata ke Ijen,” tutur Sumpena.

Selain itu kata Sumpena, para penambang belerang juga di libatkan dalam kegiatan bersih bersih sampah ini agar kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen tetap terawat.

Sementara, di bulan April 2019, rencananya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur juga mulai menerapkan pembelian tiket masuk ke Kawah Ijen Banyuwangi secara online.

Bagi masyarakat yang akan berwisata ke Kawah Ijen bisa mengunduh aplikasi pembelian tiket online melalui Play Store, lalu masuk ke layanan tiket online “Ijen Blue Fire”.

Disini, masyarakat bisa langsung memesan sekaligus melakukan pembayaran dan setelah itu mendapatkan nomor registrasi. Dari nomor registrasi inilah, yang nantinya bisa di cetak di loket masuk Kawah Ijen ataupun di kantor seksi BKSDA Banyuwangi.

Dan disepanjang bulan Januari hingga Maret dilakukan uji coba secara internal terlebih dahulu sekaligus sebagai ajang sosialisasi kepada masyarakat.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Di sela-sela kunjungan kerjanya meninjau simulasi penanganan bencana, Sabtu (5/1), Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen. Pol. Luki Hermawan menyempatkan diri mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Banyuwangi.

Bersama sang istri, jenderal bintang dua itu tampak menikmati kawasan Pantai Pulau Merah dan De Djawatan. Kapolda juga didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakapolda Jatim Brigjen. Pol. Toni Harmanto, dan Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi. 

Tiba di Pantai Pulau Merah, Kapolda langsung merasa terkesan. Dan saat melihat tulisan besar ikonik “Pulau Merah” yang berlatarkan pulau mungil di tengah laut, dia spontan mengajak rombongan untuk berfoto bersama. Kapolda lalu berjalan menyusuri pantai yang berpasir putih tersebut dan mengagumi keindahannya.

Usai dari Pulau Merah, Kapolda langsung menuju ke destinasi De Djawatan yang merupakan area hutan mini dengan pepohonan berusia ratusan tahun yang menjulang tinggi. Kapolda sangat terkesan dengan pemandangan di De Djawatan yang sering disebut mirip latar film “Lord of the Ring”. 

“Lokasi ini sangat bagus, ada kawasan semacam hutan tapi di tengah kota. Apalagi kawasan setempat terdapat pohon-pohon tua yang besar ditumbuhi semacam lumut,” papar Kapolda.

Kapolda bahkan bersemangat mengambil gambar di sejumlah spot di De Djawatan. Tidak hanya berfoto bersama rombongannya, Kapolda juga berfoto bersama istrinya.

Selama 30 menit di sana, Kapolda terlihat sangat menikmati wana wisata De Djawatan. 

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan bahwa Pemkab Banyuwangi dengan dukungan penuh dari BUMN akan terus mengembangkan kawasan wisata Pulau Merah dan Djawatan. 

“Seminggu lalu, Menteri BUMN Rini Soewarno dan Dirut Perhutani telah berkunjung ke Pulau Merah dan De Djawatan. Bahkan, pengembangan kawasan di pantai Pulau Merah akan dimulai pada bulan Januari juga,” papar Bupati Anas.

Sementara untuk pengembangan area De Djawatan kata Bupati Anas, pihaknya juga melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan sejumlah kampus, karena diinginkan De Djawatan tersebut menjadi semacam kebun raya mini.

“Konsep final pengembangan sedang disusun,” imbuhnya.

Bupati Anas menegaskan, intinya De Djawatan akan menjadi laboratorium hidup tentang berbagai jenis tanaman, ada unsur edukasinya supaya semakin menarik wisatawan.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 4 korban warga Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi yang salah satunya adalah balita, mengalami luka cukup parah akibat sepeda motor yang mereka kendarai mengalami kecelakaan.

Tepatnya terjadi di kawasan Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi, di selatan toko Anisa masuk Dusun Curahuser RT 02 RW 01 mDesa Sumberanyar Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Sementara, dua kendaraan yang mengalami kecelakaan antara Sepeda Motor Honda Beat Putih bernopol P 6567 UD dengan Sepeda Motor Beat Hitam bernopol P 6801 XE.

Kanit Laka Polres Banyuwangi, Iptu Ardhi Bita Kumala mengatakan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, sepeda motor Beat putih yang di kendarai Agus (29) warga Dusun Alas Malang RT 03 RW 03 Desa Alasrejo Kecamatan Wongsorejo melaju dari arah Utara ke Selatan dengan membonceng istrinya, Vera (24) dan anaknya yang masih berusia 3,5 tahun, Muhammad Ramdan.

“Sesampainya di TKP, sepeda motor tersebut menyalip bus yang ada di depannya,” ujar Kanit Laka.

Bersamaan dengan itu kata Iptu Ardhi, melaju dari arah berlawanan sepeda motor Honda Beat hitam yang di kendarai Lina (23) warga Dusun Badolan Desa Bajulmati Kecamatan Wongsorejo.

“Di duga karena jaraknya sudah terlalu dekat sehingga tabrakan tidak bisa dihindari,” tutur Iptu Ardhi.

Akibatnya, Lina mengalami patah pada bagian pangkal hidung dan luka terbuka pada bagian lutu kirinya. Sedangkan Agus mengalami pendarahan di kepala serta luka robek pada bagian wajahnya. Serta istrinya, Vera mengalami luka lecet pada jari kanan dan anaknya yang masih balita mengalami patah tulang pada tangan kanannya.

Iptu Ardhi mengaku, seluruh korban di larikan ke Puskesmas Bajulmati lalu di rujuk ke RSUD Blambangan Banyuwangi, guna di lakukan penanganan medis.

“Dari hasil olah TKP sementara kepolisian, peristiwa kecelakaan ini di duga diakibatkan karena kelalaian pengemudi sepeda motor Honda Beat Putih yang berusaha menyalip kendaraan di depannya,” papar Kanit Laka.

Sementara itu, setelah di evakuasi, kedua kendaraan tersebut di amankan di kantor Laka Polres Banyuwangi.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang laki laki warga Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi di temukan meninggal dunia dengan gantung diri di area semak semak di kawasan Kecamatan Rogojampi, Rabu (9/1) sekira pukul 09.30 WIB.

Tepatnya di Dusun Jajang Surat Desa Karang Bendo, selatan gedung SMP Negeri 2 Rogojampi.

Pertama kali di temukan, leher korban menggantung di salah satu batang pohon besar dengan menggunakan kain sarung. Korban memakai kaos hitam dan celana pendek jeans coklat. Namun tidak ditemukan kartu identitas apapun, sehingga awalnya korban adalah orang tidak dikenal atau Mr.X.

Sejumlah aparat kepolisian Polsek Rogojampi pun mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP, dan disini ditemukan 1 unit ponsel beserta cashnya tergelatak di bawah jenazah korban juga sepasang sandal jepit.

Selanjutnya, kepolisian berupaya menghubungi salah satu nomor yang ada di ponsel tersebut sehingga berhasil terhubung.

Dari hasil pengembangan penyidikan itulah, kepolisian berhasil mengungkap identitas korban yang ternyata bernama Zainidin (50) warga Dusun Sidowangi RT 05 RW 02 Desa Sidowangi Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Selanjutnya, jenazah korban di bawa ke kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi guna dilakukan pemeriksaan luar.

Kanit Reskrim Polsek Rogojampi Banyuwangi, Iptu Abdul Rohman mengatakan, dari hasil pemeriksaan ini tidak ditemukan adanya tanda tanda penganiayaan pada tubuh korban, sehingga di duga kuat korban meninggal dunia murni karena gantung diri.

“Pertama kali ditemukan lidah korban menjulur ke bawah disertai air liur. Juga keluar kotoran dari dubur dan air mani dari kelaminnya,” ujar Iptu Abdul Rohman.

“Pada leher korban yang hitam juga sudah terlihat putih di duga korban meninggal dunia lebih dari 6 jam,” imbuhnya.

Iptu Abdul Rohman menambahkan, kepolisian masih belum bisa memastikan penyebab kematian korban karena dari keterangan keluarganya, sebelumnya korban sempat berkomunikasi melalui ponsel dan tidak pernah menceritakan masalah yang dihadapi maupun dugaan adanya penyakit yang di derita.

Sementara itu, salah satu anak korban, Syaifullah langsung mendatangi RSUD Blambangan Banyuwangi setelah mendapat informasi bapaknya ditemukan meninggal dunia gantung diri.

“Selama ini bapak saya jarang pulang karena disetiap harinya bekerja mencari rongsokan di berbagai tempat,” ungkap laki laki berusia 25 tahun tersebut.

Dan saat ini pula, korban sudah bercerai dengan istrinya, Suhaini (40) lalu memilih keluar rumah untuk hidup di jalanan mencari rongsokan.

“Saya dan keluarga juga dapat informasi jika bapak saya sudah menikah siri dengan warga Jember,” kata Syaiful.

Namun hingga kini, Syaiful juga mengaku tidak mengetahui wajah dari istri siri bapaknya tersebut.

Bahkan sebelumnya, beberapa kali korban sempat menghubungi Syaiful memberi kabar jika berada di kawasan Kecamatan Wongsorej.

“Tapi bapak saya tidak mau dijemput dan hanya bilang kalau suatu saat saja main main sama istri barunya,” pungkas Syaiful.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Hujan deras mengguyur kawasan Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi selama 6 jam lebih pada Minggu (06/01), menyebabkan 40 hektar lahan persawahan terendam banjir dan seorang nenek meninggal dunia akibat terseret air.

Korban adalah Ngatemi (60) warga Dusun Karangbaru RT 05 RW 02 Desa Alasbuluh Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi mengalami luka memar di bagian kepala. Dan jenazahnya ditemukan warga beberapa kilometer dari lokasi dia terseret.

Camat Wongsorejo Banyuwangi, Sulistyowati mengatakan, sebelumnya, korban berniat menyusul anaknya yang bekerja ditengah hutan. Saat itu korban berjalan di kawasan Curah yang menjadi saluran air disaat terjadi banjir akibat curah hujan yang tinggi.

“Ketika melewati curah itulah, tiba tiba banjir datang dan menyeret tubuh korban,” kata Camat Wongsorejo.

Oleh warga yang mengetahui peristiwa ini, langsung melaporkan ke pihak desa dan kepolisian juga kecamatan yang selanjutnya dilakukan pencarian terhadap korban hingga akhirnya berhasil di ketemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia.

“Disaat musim kemarau, di curah curah itu dalam kondisi kering karena tidak ada air mengalir. Tapi jika terjadi hujan deras dan banjir, maka curah tersebut menjadi saluran air yang berasal dari hutan yang berada di kawasan Dusun Karangbaru atau Pal Lima Desa Alas Buluh,” papar Sulistyowati.

Selain itu, hujan deras yang mengguyur kawasan setempat juga merendam sekitar 40 hektar lahan persawahan di Desa Sidodadi Kecamatan Wongsorejo.

“Banjir tersebut berasal dari luapan Dam Lasmin dan Dam MBah Gringsing yang ada di wilayah Desa Sidodadi akibat tidak menampung volume air yang terus meningkat karena curah hujan cukup tinggi,” ujar Sulistyowati.

Sementara itu, di waktu yang bersamaan, banjir juga merendam rumah warga di kawasan Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar Banyuwangi hingga setinggi lutut orang dewasa. Namun sekira pukul 18.00 WIB air sudah mulai surut.

More Articles ...