Datangi Mapolsek Rogojampi, Wali Murid Laporkan Ulah Oknum Guru

Peristiwa
Typography

radiovisfm.com, Banyuwangi - Puluhan Wali Murid SDN 2 Patoman Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi mendatangi Mapolsek setempat, untuk melaporkan ulah oknum guru yang di duga memotong rambut anak anak mereka secara tidak beraturan, hingga menyebabkan para pelajar tersebut tidak berani ke sekolah.

Tercatat ada sekitar 20 an wali murid melapor ke Mapolsek Rogojampi Banyuwangi, yang anak anaknya menjadi korban pemotongan rambut oleh oknum guru olah raga SDN 2 Patoman berinisial AR.

Bentuk pemotongan rambutnya pun bervariasi, namun tidak beraturan. Bahkan ada sejumlah siswa yang kulit kepalanya berdarah, di duga karena terkena alat pemotong rambut.

Kontan saja, mendapati kondisi ini ke 20 pelajar yang merupakan siswa kelas 3 hingga kelas 5 tersebut malu ke sekolah sejak Sabtu (09/03) dan Senin (11/03).

Ceritanya, 20 pelajar tersebut ikut ekstra kulikuler pencak silat di sekolahannya dengan di koordinatori oleh oknum guru, AR tersebut yang masih berstatus sebagai honorer.

Selama proses latihan berjalan, AR mendatangkan 2 orang pelatih dari luar sekolah. Dan pada kegiatan latihan Jum’at (07/03) lalu, AR meminta kedua pelatih itu untuk memotong rambut ke 20 pelajar tersebut dengan alasan mereka tidak mengindahkan perintah dirinya yang sudah 2 kali untuk potong rambut. Sedangkan saat itu, AR tidak berada di lokasi karena kuliah.

Seusai proses pemotongan rambut, beberapa wali murid mengaku anaknya pulang ke rumah dengan menangis karena malu mendapati kondisi rambutnya yang tidak beraturan. Bahkan ke esokan harinya, mereka takut untuk ke sekolah.

Menanggapi hal ini, Kepala Sekolah SDN 2 Patoman, Moh Badil membantah jika siswanya tersebut tidak berani ke sekolah pasca kejadian itu.

“Mereka tidak sekolah karena di ajak orang tuanya ke Markas Kodim 0825 Banyuwangi pada Jum’at kemarin untuk dimintai keterangan, karena kasus ini berbuntut panjang hingga melibatkan anggota Babinsa di desa setempat,” papar Badil.

“Selanjutnya di hari Senin, mereka juga di ajak mendatangi Mapolsek Rogojampi untuk proses pelaporan,” imbuhnya.

Badil mengatakan, pihaknya telah menggulirkan kebijakan untuk tidak memaksa siswa siswinya mengikuti kegiatan ekstra kulikuler, termasuk pencak silat tersebut.

“Pasca kejadian ini, pihak sekolah menon aktifkan AR terlebih dahulu hingga batas waktu yang tidak bisa di tentukan. Karena yang berhak memberikan sangsi selanjutnya adalah Dinas Pendidikan,” ujar Badil.

Sementara AR sendiri baru mengajar di SDN 2 Patoman sejak tahun ajaran baru lalu, dengan status guru honorer.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Kapolsek Rogojampi Banyuwangi Kompol Agung Setyo Budi mengakui adanya laporan dari puluhan wali murid tersebut.

“Hingga kini, masih dalam proses penyidikan lebih lanjut,” pungkas Kapolsek.

 

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.