radiovisfm.com, Banyuwangi - Rumah warga di kawasan Kecamatan Gambiran Banyuwangi ludes terbakar, di duga akibat konsleting listrik.

Rumah tersebut adalah milik keluarga Samsul dan Sri Tamini yang ada di Dusun Jatisari RT 01 RW 01 Desa Wringinagung Kecamatan Gambiran. Akibat dilalap si jago merah, isi didalam rumah ludes terbakar bahkan hampir separuh bangunan rumah rusak parah.

Kapolsek Gambiran Banyuwangi, AKP Sumaryata mengatakan, pada Minggu pagi (3/2) sekira pukul 06.30 WIB ada seorang warga, Imam Komari melihat adanya nyala api dari arah belakang rumah korban serta mengeluarkan kepulan asap hitam.

“Lalu dia melapor ke Ketua RT setempat dan meminta bantuan warga sekitar untuk memadamkan api,” tutur AKP Sumaryata.

Dia menjelaskan, upaya pemadaman berlangsung selama kurang lebih 1 jam dengan dikerahkan 1 unit mobil PMK dari Kecamatan Gambiran di bantu warga sekitar menggunakan mesin sedot air (alkon) milik warga.

“Saat api melalap rumahnya, si pemilik sedang menghantarkan keluarganya ke Bandara Blimbingsari,” kata Kapolsek.

Dia mengaku, dari hasil olah TKP sementara kepolisian, di duga kebakaran ini di sebabkan karena konsleting listrik karena ditemukan instalasi listrik yang tidak semestinya atau banyak kabel kecil dan semrawut sehingga menimbulkan konsleting arus pendek.

“Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. Tapi si pemilik rumah mengalami kerugian sebesar Rp50 Juta,” pungkas AKP Sumaryata.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang oknum PNS pada jajaran Pemkab Banyuwangi di gerebek sang istri, karena di duga berbuat mesum dengan wanita lain.

WAP (34) oknum PNS Dinas Perhubungan Banyuwangi di duga sedang berduaan dengan L yang di duga kekasih gelapnya, di dalam rumahnya di kawasan Perumahan Villa Bukit Mas Blok TT nomor 5 Kelurahan Giri Kecamatan Giri.

Penggerebekan itu terjadi pada Jum’at siang (1/2/2019) sekira pukul 13.00 Wib. DY (30) sang istri tidak sendiri. Dia bersama dengan Babinkamtibmas dan Babinsa mendatangi rumah yang ditinggalkannya selama 5 bulan itu. 

“Selama ini saya sudah pisah ranjang dengan suami saya. Beberapa orang tetangga sempat bilang kalau suami saya sering memasukkan wanita lain di rumah,” ujar DY.

“Sebelum penggerebekan ini, saya juga di kasi info oleh tetangga,” imhbuhnya.

Saat digeberek itu, sang wanita dan suaminya bersembunyi di kamar mandi. 

DY pun menggedor pintu agar mereka keluar. Setelah digerebek, suaminya membantah melakukan hubungan intim.

“Saya juga dapat kabar jika perempuan selingkuhan suami saya itu lagi hamil,” tutur DY.

Tidak puas dengan melabrak keduanya, bersama dengan Babinsa dan Babinkamtibmas, DY mencari bukti jika keduanya telah melakukan perselingkuhan.

Di dalam kamar ditemukan banyak tisu sisa untuk mengelap sperma. Ada pula tisu bekas darah yang tercecer di kamar. 

“Kami menemukan beberapa barang bukti dan kini diamankan,” tutur Babinkamtibmas, Aipda Ponidi.

“Selanjutnya, kami serahkan kasus ini ke unit PPA Polres Banyuwangi,” ujarnya.

Selang beberapa lama, unit PPA Polres Banyuwangi mendatangi lokasi. Polisi spesialis menangani perlindungan perempuan dan anak ini kemudian membawa keduanya ke Mapolres Banyuwangi untuk dilakukan pemeriksaan. 

Hingga saat ini aparat kepolisian dari unit PPA terus melakukan pemeriksaan intensif terkait kasus tersebut. 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Malam itu, Selasa (29/1) suasana di ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi masih ramai oleh puluhan calon penumpang kapal perintis.

Sebagian dari mereka tampak tiduran di lantai beralaskan seadanya, namun ada pula yang tengah asyik menyantap nasi bungkus yang di siapkan oleh Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Sosial yang membuka dapur umum selama beberapa hari di lokasi.

Raut wajah mereka terlihat capek dan nyaris mahal untuk tersenyum.

Satu diantara puluhan calon penumpang tersebut, tampak seorang perempuan sedang di periksa kesehatannya oleh petugas dari Klinik K3 Pelindo Husada Citra (PHC) Tanjung Wangi.

Dengan teliti, petugas memeriksa tensi darah dan kesehatan perempuan yang diketahui bernama Rini Ami tersebut.

Rupanya, perempuan berusia 29 tahun asal Desa Pagerungan Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, Madura tersebut baru saja selesai menjalani operasi penyakit Kista Ovarium atau Kista Rahim yang dideritanya.

Dengan di temani sang ibu, Hapsah dan anak laki laki semata wayangnya, dia menjalani operasi di Rumah Sakit Paramisidi Singaraja Bali dan harus di rawat selama 4 hari. Sedangkan suaminya tidak mendampingi karena bekerja di Lombok NTB.

Selanjutnya, usai operasi dia terlebih dahulu menginap di rumah pamannya yang ada di kawasan Sumber Timah Singaraja Bali.

Kepada Vis Fm, Rini mengaku sudah 3 hari berada di ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi bersama puluhan calon penumpang lainnya. Sedianya dia hendak pulang ke kampung halamannya di Sapeken untuk beristirahat.

Namun rupanya, kondisi di lapangan justru mengharuskan dia menginap berhari hari di Pelabuhan Tanjung Wangi menunggu keberangkatan Kapal KM Sabuk Nusantara 56.

“Sejak seminggu lalu kapal perintis tidak beroperasi karena cuaca buruk ditengah laut yakni gelombang tinggi mencapai 6 meter di sertai angin kencang,” ujar Rini.

“Saya ingin segera sampai di kampung halaman karena persediaan uang saya sudah menipis,” imbuhnya.

Sedangkan untuk makanan sehari hari selama menunggu, dia diberi nasi bungkus yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.

Rini juga mengaku, rencananya pihak Pelindo III Tanjung Wangi akan memberangkatkan kapal KM Sabuk Nusantara 56 pada Rabu sore (30/1).

Sementara itu, ada pula seorang ibu yang melahirkan saat menunggu kedatangan kapal perintis di ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Wangi, Selasa malam (29/1).

Yakni Rupianah (20) warga asli Desa Bajo Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, Madura.

Dia berangkat dari Denpasar Bali, tempat suaminya, Harmaen bekerja. Sedangkan suaminya sendiri merupakan warga Banjar Kauh Kecamatan Kutsel, Lombok NTB.

Rupianah berniat melahirkan di kampung halamannya, namun rupanya dia mengalami kontraksi sehingga melahirkan lebih cepat dari yang di jadwalkan.

Dari pemeriksaan medis, semestinya dia melahirkan pada 12 Februari 2019. Dan atas kelahiran ini, bayi perempuannya di beri nama Amalia Dwi Putri Tanjung Wangi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi -Puluhan wartawan di Banyuwangi jumat siang melakukan aksi solidaritas, sebagai bentuk penolakan pemberian grasi pada I Nyoman Susrama, otak pembunuhan Wartawan Radar Bali, Gede Bagus Narendra Prabangsa. Aksi tersebut berlangsung di depan taman makam pahlawan, Jl. A. Yani, Banyuwangi, yang diikuti puluhan wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Dalam aksinya, para wartawan juga membawa poster yang isinya meminta grasi untuk Susrama dicabut. Karena menurut mereka seharusnya tidak ada ampun bagi pembunuh wartawan. Apalagi pembunuhan itu dilakukan secara keji dan sudah direncanakan. 

Koordinator aksi solidaritas untuk prabangsa, Syaifudin Mahmud menyatakan, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa prihatin atas pemberian grasi terhadap Susrama. Dengan pemberian grasi itu, kata Dia, tidak lama lagi otak pembunuhan terhafap wartawan itu akan menghirup udara bebas. Jika memang ini terjadi, hal tersebut dianggap benar-benar menciderai kebebasan pers di Indonesia. 

Pimred Radar  Banyuwangi ini mengajak seluruh wartawan untuk mengawal terus kasus ini, agar Susrama sebagai otak pembunuhan Prabangsa tetap berada di dalam tahanan sesuai putusan awal pengadilan yakni pidana penjara seumur hidup. Para awak media juga mendesak agar presiden mencabut grasi terhadap susrama tersebut.

Sementara itu, Enod Sugiharto, salah seorang pengurus IJTI menyatakan, selama ini sangat banyak kasus kekerasan yang dialami wartawan yang tidak terungkap. Kasus yang menimpa Prabangsa berhasil diungkap pihak Kepolisian dengan susah payah. Namun Setelah divonis bersalah oleh pengadilan, malah mendapatkan keringanan hukuman berupa grasi.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan dari AJI, Hermawan, menyatakan, pemerintah harus meninjau ulang grasi yang diberikan kepada Susrawa sebagai otak pembunuhan wartawan Radar Bali. Pihaknya mendesak pemerintah untuk membatalkan grasi yang diberikan kepada Susrama tersebut. Kasus pembunuhan Prabangsa ini berhasil diungkap polisi. Eksekusi terhadap korban dilakukan di rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli, pada 11 Februari 2009.

Susrama menjadi aktor intelektual dalam kasus pembunuhan terhadap Prabangsa ini. Pembunuhan diduga terkait pemberitaan kasus dugaan penyimpangan proyek di dinas pendidikan dalam pembangunan sekolah TK Internasional di Bangli. Susrama memerintahkan dua anak buahnya untuk menghabisi korban di belakang rumahnya.Mayat korban kemudian dibuang di tengah laut Padangbai, Klungkung.

Mayat prabangsa kemudian ditemukan mengambang di laut Padangbai, Klungkung, pada 16 Februari 2009 dalam kondisi mengenaskan. Pengadilan memvonis prabangsa dengan hukuman seumur hidup. Namun pemerintah memberikan grasi kepada Susrama, berupa perubahan hukuman dari pidana seumur hidup menjadi 20 tahun penjara.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Tabloid Indonesia Barokah yang saat ini beredar di Banyuwangi dan sudah diamankan Panwaslu Kecamatan segera dikembalikan kepada yang berhak. Pengembalian tersebut akan dilakukan kepada PT. Pos Banyuwangi selaku pihak yang mengirimkan awal. Proses pengembalian akan dilakukan secara bertahap. Pengembalian tabloid yang berisi tentang pemberitaan negatif pasangan capres nomor urut 2 ini dilakukan, menyusul hasil kajian Bawaslu RI yang menyatakan Tabloid tersebut tidak mengandung konten kampanye.

Komisioner Bawaslu Banyuwangi, Hasyim Wahid menuturkan, hasil inventarisir yang dilakukan Bawaslu Banyuwangi melalui Panwaslu Kecamatan ditemukan 1.110 paket pos berisi Tabloid Indonesia Barokah. Masing-masing paket berisi 3 eksemplar tabloid, sehingga jumlah totalnya ada 3.330 eksemplar tabloid indonesia barikah yang tersebar di 25 kecamatan di Banyuwangi.

Peredaran Tabloid yang disebut-sebut menyudutkan salah satu pihak ini paling banyak ditemukan di wilayah Kecamatan Srono. Jumlahnya mencapai 133 paket atau 399 eksemplar Tabloid. Sedangkan wilayah yang mendapat pengiriman paling sedikit adalah wilayah Kecamatan Gambiran dan Genteng yang hanya ditemukan 2 paket.

Mantan jurnalis televisi ini menyatakan, sesuai dengan Surat Edaran Bawaslu Nomor 187 tahun 2019 yang salah satu poinnya menyebutkan isi Tabloid Indonesia Barokah belum mengandung unsur Kampanye. Sehingga pihaknya sudah menginstruksikan ke Panwaslu Kecamatan untuk berkoordinasi dengan PT. Pos di masing-masing Kecamatan guna mengembalikan Tabloid Tersebut. 

PT Pos menjadi rujukan tempat pengembalian tabloid Indonesia Barokah itu, karena dianggap sebagai pengirim awal, sehingga dianggap pihak yang tepat menerima pengembalian tabloid tersebut.

Untuk Tabloid Indonesia Barokah yang sebelumnya berasal dari masyarakat atau pengurus masjid, maka Panwaslu Kecamatan akan mengembalikannya pada yang bersangkutan. Namun untuk Tabloid yang dititipkan pada instansi lain seperti pihak Kepolisian, menurut Hasyim itu menjadi domain dari masing-masing instansi tersebut.

Hasyim wahid  menambahkan, Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dengan Tabloid Indonesia Barokah itu, bisa melaporkannya ke Bawaslu Banyuwangi. Dan akan ditangani sesuai dengan Perbawaslu 7 tahun 2018 tentang Penanganan Pelanggaran pemilu.

" Sesuai Surat Edaran Bawaslu no 187 tahun 2019 menyebut tabloid Indonesia Barokah belum mengandung unsur kampanye, kami instruksikan Paswascam untuk kembalikan ke PT. Pos yang menjadi rujukan  tempat pengambilan tabloid", kata Hasyim.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Perempuan asal Kabupaten Sumenep, Madura melahirkan di ruang tunggu Pelabuhan Tanjungwangi, saat menunggu kedatangan kapal perintis bersama puluhan calon penumpang lainnya, setelah selama seminggu tidak berlayar akibat cuaca buruk.

Perempuan tersebut di ketahui bernama Rupianah (20) yang merupakan warga asli Desa Bajo Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, Madura awalnya tiduran di ruang tunggu bersama puluhan calon penumpang lainnya.

Mereka menunggu keberangkatan kapal KM Sabuk Nusantara 56 dari dermaga Pelabuhan Tanjungwangi menuju ke beberapa pulau kecil yang ada di Madura, salah satunya adalah Sapeken yang menjadi tujuan akhir Rupianah.

Saat itulah, tiba tiba perutnya merasa sakit dan beberapa kali keluar masuk kamar kecil untuk buang air besar. Dan selang beberapa lama, perutnya yang sudah membesar tersebut merasa kesakitan yang luar biasa hingga akhirnya ditolong oleh petugas kesehatan Klinik K3 Pelindo Husada Cipta (PHC) Tanjungwangi bersama para calon penumpang lainnya di dampingi satpam pelabuhan, dibawa ke rumah bidan Amalia Hasanah yang ada di depan pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi.

Selang beberapa lama di lakukan penanganan medis, Rupianah pun melahirkan bayi perempuan secara normal pada Selasa malam (29/1) sekira pukul 18.40 WIB.

“Kondisi bayi sehat dengan berat badan 2.500 gram dan panjang 44 cm,” ujar Bidan Amalia.

Selang beberapa lama di lahirkan, bayi tersebut di beri nama Amalia Dwi Putri Tanjung Wangi.

“Dari kartu kesehatan yang dibawanya, di jadwalkan seharusnya Rupianah melahirkan pada 12 Februari 2019 mendatang,” ungkap Amalia.

“Tapi karena mengalami kontraksi menurut Amalia, dia pun melahirkan lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan,” imbuhnya.

Amalia mengaku, kondisi ini diduga disebabkan karena sang ibu telah melakukan perjalanan jauh sehingga menimbulkan stress.

Sementara itu, Rupianah mengaku selama ini tinggal bersama suaminya, Harmaen (27) di Denpasar Bali tempatnya bekerja.

Sedangkan Harmaen sendiri merupakan warga Banjar Kauh Kecamatan Kutsel, Lombok Nusa Tenggara Barat.

“Saya berangkat dari Denpasar Bali bersama dengan teman saya akan pulang ke Sapeken Madura karena ingin melahirkan di kampung halaman,” ujar Rupianah.

Pasalnya, dari perhitungan tim medis, seharusnya dia melahirkan anak keduanya tersebut pada 12 Februari 2019 mendatang. Sementara suaminya tidak ikut menghantarkan pulang karena masih kerja.

Dan Rupianah tiba di area Pelabuhan Tanjungwangi pada Senin pagi (28/1). Namun rupanya, keinginan Rupianah untuk melahirkan di kampung halamannya pupus dan dia justru melahirkan di Banyuwangi.

“Suami saya akan segera menjemput ke Banyuwangi dan rencananya saya akan kembali ke Denpasar Bali,” papar Rupianah.

Dan untuk sementara masih menginap di rumah bidan Amalia Hasanah tersebut.

Port Security Tanjungwangi, M.Taufik Kadarman Dewantara mengatakan, sebelumnya dirinya mendapat laporan dari para calon penumpang kapal dan pihak BNPB bahwa ada salah satu penumpang yang akan melahirkan.

“Lalu saya tolong ibu Rupianah membawanya dengan menggunakan mobil menuju rumah bidan Amalia Hasanah,” tutur Taufik.

“Tapi sebelumnya, saya menghubungi petugas kesehatan Klinik K3 PHC Tanjungwangi untuk ikut serta melakukan penanganan medis,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 21 orang terjaring razia penyakit masyarakat yang di gelar aparat Satpol PP di beberapa hotel dan tempat kost, kamis malam (24/1).

Dari razia di 2 hotel di dapatkan 6 pasang yang bukan suami istri. Bahkan satu pasang diantaranya merupakan pelajar tingkat SLTA sedang berduaan di dalam kamar hotel, tanpa di lengkapi kartu identitas. Selain itu, juga di amankan pasangan yang laki laki bujang sedangkan perempuannya sudah mempunyai suami.

Bahkan saat menggelar razia di tempat kost, satpol PP mendapatkan 2 laki laki dan 1 perempuan yang berada didalam satu kamar dengan kondisi terkunci.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Banyuwangi, Anacleto Da Silva mengatakan, razia ini di gelar di wilayah Banyuwangi kota sebagai upaya untuk menegakkan Peraturan Daerah nomor 11 tahun 2014 tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, serta Peraturan Daerah nomor 2 tahun 2014 tentang penyelenggaraan administrasi kependudukan Kabupaten Banyuwangi.

“Ini dilakukan juga sebagai tindak lanjut dari laporan masyarakat yang merasa resah dengan banyaknya hotel dan tempat kost di kawasan Kecamatan Banyuwangi kota yang diduga sering digunakan tempat mesum,” ujar Anacleto.

“Penertiban ini akan terus di lakukan aparat Satpol PP sebagai upaya pemberantasan terhadap penyakit masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, bagi pemilik hotel dan tempat kost di berikan teguran keras agar tidak menerima tamu atau orang kost yang tidak memiliki kartu identitas, guna mengurangi berbagai perbuatan asusila.

“Jika ke depan masih ditemukan, maka akan di kenakan sangsi penutupan dan pencabutan izin usaha,” tutur Anacleto.

Setelah di amankan, ke 21 orang yang terjaring razia tersebut di gelandang ke Kantor Satpol PP guna di lakukan pendataan dan di wajibkan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali.

“Untuk pelajar yang kedapatan di dalam hotel itu akan di lakukan informasi kepada pihak kepala sekolah untuk bisa memberikan pembinaan lebih lanjut kepada mereka,” pungkas Anacleto.

 

More Articles ...