radiovisfm.com, Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meninjau langsung sejumlah kawasan yang terdampak banjir, Senin (26/11).

Usai subuh, Bupati Anas langsung menuju tiga lokasi yang terdampak, yaitu di Desa Gladag dan Desa Bubuk, Kecamatan Rogojampi dan Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh.

“Begitu dapat info mengenai banjir ini, saya langsung memerintahkan BPBD, Dinas PU Pengairan, PU Bina Marga dan Penataan Ruang, Dinas Sosial, aparat kecamatan dan Dinas Kesehatan untuk melakukan penanganan cepat,” papar Bupati Anas.

Diakuinya, alat berat sudah didatangkan ke lokasi untuk mengangkat material yang terbawa air.

“Intinya, semuanya bergotong royong dan bekerja maksimal, bekerja cepat, untuk memulihkan situasi,” ujar Bupati Anas.

Tiga lokasi yang terdampak banjir tersebut merupakan daerah aliran Sungai Badeng. Akibat banjir ini tercatat ada 80 rumah di tiga lokasi tersebut yang terdampak, namun hanya dua yang mengalami rusak sedang. Sebagian besar kemasukan air dan pasir.

Menurut Bupati Anas, pada Minggu malam (25/11) air juga langsung menyusut dan pada Senin (26/11) aktifitas warga kembali berjalan normal.

Dari pantauan dilapangan, rumah yang mengalami kerusakan sedang adalah rumah milik Rohim di Desa Gladag yang berada di sempadan sungai dan bagian belakangnya ambrol diterjang luapan air sungai.

“Dua keluarga yang rumahnya terdampak telah diungsikan, yang satu dibuatkan bangunan menempati tanah kas desa, yang satunya untuk sementara menempati rumah saudaranya,” ujarnya.

Bupati Anas kembali mengingatkan, agar warga yang bertempat tinggal di sempadan sungai harap waspada karena mulai memasuki musim penghujan.

“Mengantisipasi luapan banjir dari hulu sungai tersebut, saya perintahkan Dinas PU Pengairan untuk melakukan langkah teknis penanganan,” kata Bupati Anas.

Selain itu, dia meminta kepada semua aparat desa dan kecamatan untuk terus memantau pengelolaan lahan di wilayahnya.

Dalam artian, tata ruang, khususnya di kawasan dataran tinggi dinilai harus terus dijaga. Semua wajib patuh terhadap aturan tata ruang yang telah ditetapkan.

“Begitu juga dengan bangunan di sempadan sungai, harus ditata,” imbuhnya.

Bupati Anas meminta jangan diberikan ijin bagi mereka yang membangun di sempadan sungai.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Guntur Priambodo menjelaskan bahwa selain mendatangkan alat berat excavator, juga dilakukan pengerukan sediman yang berada di sekitar jembatan Garit Desa Alasmalang.

“Untuk jembatan Alasmalang, kami telah membangun parapet (dinding penahan luapan air sungai) yang berlanjut hingga saat ini,” ungkap Guntur.

“Untuk jembatan di Desa Gladag juga menyusul dibangun parapet,” imbuhnya.

Selain itu, jembatan yang dilalui aliran Sungai Badengan juga akan direkonstruksi. Seperti jembatan di Desa Gladag, rentangnya akan diperlebar menyesuaikan dengan lebar sungai. Jembatan tersebut berdasarkan kajian memang perlu direkonstruksi, baik dari sisi ketinggian maupun desain yang masih menggunakan tiga kaki yang berpotensi menghambat laju air.

“Pembangunan jembatan Alas Malang adalah otoritas Pemprov Jawa Timur dan rencananya tahun 2019 juga segera direkonstruksi,” kata Guntur.

Sembari menunggu pembangunan dari provinsi, pihaknya menempatkan alat berat di lokasi untuk berjaga-jaga bila air sungai yang meluap membawa material besar.

Dalam kunjungan itu, Bupati Anas juga meninjau pembersihan material pasir dan batu yang meluber dari aliran Sungai Cawan di Jembatan Jelun, Desa Jelun, Kecamatan Licin. Intensitas hujan yang tinggi di kawasan tersebut, menyebabkan jalan utama tertutup material tanah dan batu-batuan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Puluhan rumah warga di Dusun Karang Asem Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh Banyuwangi tergenang banjir dari luapan aliran sungai Badeng, akibat hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan setempat, Minggu (25/11).

Peristiwa ini terjadi di desa Alas Malang untuk yang kedua kalinya, setelah sebelumnya pada 22 Juni 2018 lalu ratusan rumah juga terendam setelah aliran 3 sungai meluap, yakni Sungai Badeng, Sungai Kumbo dan Sungai Kumaran yang berada di wilayah Kecamatan Songgon.

Sementara Desa Alas Malang sendiri merupakan hilir dari aliran ketiga sungai tersebut.

Kali ini, luapan sungai Badeng merendam puluhan rumah di Dusun Karang Asem hingga setinggi lutut orang dewasa. Pasalnya, di jembatan yang menjadi pertemuan aliran ketiga sungai tersebut terdapat beton penyangga di bagian tengah, yang menyebabkan berbagai material seperti kayu maupun bebatuan tersumbat hingga sungai meluap dan menggenangi rumah warga.

Dan para wargapun bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menutup ruas jalan dari Banyuwangi menuju Genteng yang melewati Singojuruh, karena ruas jalan dinilai tidak memungkinkan untuk di lewati kendaraan bermotor.

Dan para warga terus meningkatkan kewaspadaannya, mengantisipasi luapan air sungai semakin meninggi menyusul hujan deras masih terjadi di beberapa wilayah di Banyuwangi.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Pemkab Banyuwangi, Djajat Sudrajat meninjau langsung ke lokasi utamanya di kawasan aliran hulu sungai yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga.

“Semua elemen baik kepolisian, TNI dan muspika bersama warga setempat bergotong royong untuk memindahkan barang barang berharga yang rawan tergenang air jika aliran sungai terus meluap,” kata Djajat.

“Dari evaluasi di lapangan, Dinas Pengairan Banyuwangi akan segera membuat plengsengan di sisi kanan aliran sungai supaya sama bentuknya sama dengan yang sebelah kiri,” paparnya.

Djajat mengatakan, pemerintah segera menurunkan 2 alat berat di lokasi untuk mengangkat berbagai material yang tersumbat di beton penyangga jembatan, agar aliran sungai tidak meluap.

Sementara terkait dengan pembongkaran beton penyangga tersebut, Djajat mengaku itu adalah kewenangan dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur dan surat permintaan pembongkaran sudah dilayangkan hingga kini masih dalam proses.

“Seiring dengan di kirimkannya surat itu, Pemkab Banyuwangi melakukan pembangunan plengsengan di sepanjang aliran sungai,” ujar Djajat.

“Kalau kita yang memperbaiki nanti salah,” imbuhnya.

Djajat menambahkan, sejauh ini tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir tersebut.

Sementara itu, Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh ini berjarak sekitar 10 Kilometer dari wilayah Kecamatan Songgon yang merupakan hulu dari ketiga sungai tersebut. Pada 22 Juni 2018 lalu, wilayah setempat diterjang banjir bandang dari luapan ketiga sungai itu.

Tercatat sebanyak 300 rumah warga saat itu tergenang banjir dan lumpur dari sungai Badeng.

Tumi, salah satu warga Dusun Karang Asem Desa Alas Malang mengaku, air mulai masuk ke rumahnya sekitar pukul 17.00 WIB setinggi kurang lebih setengah meter.

“Tapi kalau di ukur dari pondasi mencapai 1 meter,” ujarnya.

Tumi menambahkan, dalam setahun, biasanya wilayah setempat bisa di terjang banjir bandang 4 kali yang di akibatkan karena konstruksi jembatan garit yang menyempit dan tidak dilewati air.

“Warga sudah minta kepada pemerintah untuk merubah konstruksi jembatan itu, karena masyarakat resah setiap tahun daerah sini selalu di terjang banjir,” ungkap Tumi.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Meskipun menjalani berbagai latihan yang cukup berat, pasukan Raider TNI Angkatan Darat (AD) tetap menjalankan aktivitas ibadah.

Seperti yang terlihat di kawasan Taman Geopark Gunung Rante Banyuwangi, yang bersebelahan dengan rest area Paltuding Kawah Ijen.

Salah satu pasukan elit TNI AD tersebut terlihat menjalankan ibadah sholat. Diawali dengan adzan dan iqomah, ratusan calon pasukan Raider ini berjajar rapi menghadap kiblat. Masih dengan mengenakan seragam dan sepatu, mereka melakukan ibadah. Sementara bajunya di pakai untuk alas atau sajadah saat sholat.

Salah satu pelatih pembentukan pasukan Raiders TNI AD, Kapten Inf Ranji Sasmita mengatakan, selama melaksanakan kegiatan latihan yang cukup berat dimanapun berada, mereka tetap menjalankan ibadah. Tidak hanya yang beragama islam saja. Para calon Raider yang beragama non muslin juga melakukan ibadah dan lokasinya tidak jauh.

“Untuk yang beragama nasrani dan hindu juga melakukan ibadah di sekitar lokasi latihan,” ujar Kaptem Ranji.

“Ini di lakukan, agar latihan yang di gelar mereka berjalan lancar tanpa kendala,” imbuhnya.

Selain itu kata Kapten Ranji, ibadah merupakan hak rohani bagi manusia untuk tuhannya, yang di harapkan bisa mencetak pasukan yang elite dan religius.

“Latihan berat terus berjalan dan ibadah juga harus nomor satu meskipun dengan keterbatasan yang ada,” ungkap Ranji.

Dia menambahkan, saat ini TNI AD menggelar latihan Raider untuk 500 personel. Latihan ini merupakan gelombang kedua. Selama 84 hari mereka menjalani berbagai latihan. Mereka di lepas sejak 22 September 2018 lalu di Bondowoso dan akan berakhir di Pantai Grajagan Banyuwangi 14 Desember mendatang.

“Ini adalah kegiatan Satjarkostrad gelombang kedua. Mereka lulus dari sipil di latih menjadi tentara kemudian diseleksi lagi jasmani rohani serta psikologi kesehatannya untuk menjadi pasukan khusus,” kata Kapten Ranji.

Diakuinya, dari 6000 diseleksi menjadi 500 personel dan saat ini adalah latihannya.

Sementara untuk latihan, mereka berjalan kaki dan berlatih perang gerilya di hutan, gunung, rawa dan di laut. Per hari, para calon pasukan Raider ini berjalan kaki sepanjang 45 kilometer dan melakukan latihan perang sesuai dengan kondisi alam di Indonesia.

Pasukan Raider TNI AD ini dari jajaran Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mulai Solo, Malang dan Jember yang terbagi dalam 4 kompi. Untuk satu kompi berjumlah 125 personel.

“Saat ini, mereka menjalani latihan tahap basis aplikasi menyerang suatu tempat, membebaskan tawanan dan kegiatan genting lainnya,” pungkas Kapten Ranji.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pengadilan Negeri Banyuwangi kamis siang melakukan eksekusi rumah milik anggota DPRD Banyuwangi Ali Mustofa seluas 225 meter persegi.

Eksekusi rumah yang berlokasi di Perumahan Griya Dadapan Indah Desa Dadapan Kabat tersebut, sempat diwarnai ketegangan antara pihak kepolisian dengan massa pendukung Ali Mustofa yang mencoba menghalangi proses eksekusi.

Namun ketegangan dalam proses eksekusi itu tidak berlangsung lama. Karena ratusan polisi yang mengamankan eksekusi dibawah komando Kabag Ops polres Banyuwangi kompol Sumartono itu langsung mengambil sikap tegas, dengan menghalau massa yang dianggap menghalangi proses ekskusi.

Kompol Sumartono menghimbau kepada ratusan massa yang mencoba menghalangi eksekusi itu agar tidak bertindak anarkis yang dapat berpotensi terjadinya pelanggaran hukum.

Himbauan tersebut mendapat respon dari massa yang hadir, hingga proses eksekusi berjalan lancar, yang ditandai dengan selesainya pembacaan risalah eksekusi yang dilakukan oleh Sunardi selaku juru sita pengadilan negeri banyuwangi.

Sementara itu, Ali Mustofa mengaku tidak terima dengan adanya proses eksekusi tersebut.

Saat ini saya tengah mengajukan gugatan keberatan dilakukannya eksekusi di Pengadilan Negeri Banyuwangi serta menggugat secara perdata Bank BTN,” ujar Ali. 

“Seharusnya, eksekusi rumah ini dilakukan setelah ada keputusan dari pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap atas gugatan yang saya ajukan,” imbuhnya.

Ali Mustofa juga menengarai ada kejanggalan selama proses lelang yang dilakukan oleh bank BTN, hingga ia juga pernah melaporkan oknum bank BTN ke polres Banyuwangi.

Namun hingga proses eksekusi berakhir, politisi Nasdem asal desa tembokrejo muncar ini hanya bisa pasrah rumahnya dikosongkan dan dikuasai oleh pemenang lelang hendro priyanto warga kelurahan tamanbaru banyuwangi.

Eksekusi rumah milik Ali Mustofa seluas 225 meter persegi di perumahan Griya Dadapan Indah kabat itu, bermula saat dia membeli rumah tersebut kepada seseorang bernama Nikmah.

Pembelian tersebut dilakukan secara over kredit pada tahun 2016 lalu seharga 180 juta sesuai dengan tanggungan kredit Nikmah di bank BTN. Karena saat itu, status rumah yang berada di timur rumah makan daepong itu, masih dalam tanggungan kredit perumahan di bank BTN.

Proses over kredit antara Ali dan Nikmah itu dilakukan melalui notaris yang bernama Singgih. Namun saat proses over kredit itu, tanpa melibatkan pihak Bank BTN, sehingga nama Ali Mustofa tidak masuk dalam siatem Bank BTN sebagai debitur atau Nasabah BTN. Karena yang tercatat di BTN masih atas nama Hikmah yang saat itu juga tercatat memiliki tanggungan denda di Bank BTN.

Namun tanggungan denda hikmah di BTN tak juga diselesaikan oleh Ali mustofa selaku pemilik rumah tersebut, bahkan Ali mustofa juga tidak membayar kredit bulanan ke Bank BTN, hingga pihak BTN melelang rumah tersebut, yang dalam proses lelangnya dimenangkan oleh Hendro Priyanto.

Bahkan saat ini, sertifikat rumah tersebut yang bernomor 1003 sudah dibalik nama, dari yang sebelumnya atas nama Hikmah berganti kepada Hendro Priyanto selaku pemenang lelang.

Eksekusi rumah milik Ali mustofa di Perum Griya Dadapan Indah pada Kamis siang (22/11) itu, adalah eksekusi yang kedua kalinya. Karena sebelumnya, juru sita pengadilan negeri banyuwangi pernah melakukan eksekusi pertama pada tanggal 22 februari 2018, namun gagal. Karena saat hendak dilakukan eksekusi, dihadang oleh puluhan massa pendukung dari Ali mustofa.

Lalu pengadilan melakukan  eksekusi untuk kedua kalinya dengan mengerahkan personil kepolisian lebih besar lagi dari eksekusi sebelumnya.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian berhasil mengungkap identitas pengemudi mobil Elf yang sebelumnya kabur setelah menabrak pemuda asal kecamatan Wongsorejo Banyuwangi hingga meninggal dunia.

Dia adalah Tukidi (49) warga Dusun Krajan RT 05 RW 03 Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo, pengemudi mobil Elf bernopol P 1311 VT. Pada Rabu siang (21/11) lalu, menabrak sepeda motor Vixion bernopol P 5404 ZE yang di kemudikan Zainul Bahrul (17) warga Dusun Curah Sawo RT 06 RW 01 Desa Sidodadi Kecamatan Wongsorejo hingga korban meninggal dunia.

Saat itu, mobil Elf tersebut baru keluar dari SPBU Wongsorejo yang ada di Jalan Raya Situbondo Desa Alas Rejo Kecamatan Wongsorejo, setelah mengisi solar.

Bersamaan dengan itu, mobil tersebut menabrak sepeda motor yang dikendarai korban tanpa menggunakan helm, yang melaju dari arah selatan ke utara hingga terjatuh lalu kembali ditabrak oleh pengendara sepeda motor Honda Beat yang tidak diketahui identitasnya.

Menurut keterangan saksi mata, setelah menabrak korban, baik mobil Elf maupun sepeda motor Honda Beat tersebut melarikan diri. Sementara korban langsung dilarikan ke puskesmas Wongsorejo guna di lakukan perawatan medis. Namun naas, nyawa korban tidak bisa tertolong setelah beberapa menit di rawat.

Menyikapi hal ini, Kapolsek Wongsorejo Banyuwangi, AKP Kusmin mengaku melakukan pengembangan penyidikan dengan memintai keterangan sejumlah saksi mata termasuk melihat hasil rekaman kamera CCTV yang ada di area SPBU.

“Disitu, terlihat jelas nomor polisi dari mobil Elf tersebut,” ujar AKP Kusmin.

Dia menjelaskan, aparat kepolisian Polsek Wongsorejo bersama Satuan Lalu Lintas Unit Laka berupaya mengungkap identitas pemilik mobil, hingga akhirnya berhasil di temukan alamat si sopir tersebut.

“Menurut pengakuan sopir, dia sempat membantu menghantarkan korban ke puskesmas wongsorejo dan selanjutnya pulang. Karena dia mengaku tidak mengetahui apa yang harus di perbuat,” papar Kapolsek.

AKP Kusmin menambahkan, sebelum pihak kepolisian mendatangi rumah sopir mobil Elf, ternyata keluarga korban sudah menemuinya terlebih dahulu untuk menentukan langkah selanjutnya diantara mereka.

“Kini, sopir mobil Elf itu di gelandang ke Unit Laka Polres Banyuwangi untuk di mintai keterangan guna memastikan sangsi yang akan dijatuhkan kepolisian, berdasarkan tingkat kesalahan yang di lakukannya,” papar AKP Kusmin.

Setelah berhasil mengungkap identitas sopir mobil Elf, kini kepolisian masih mempunyai pekerjaan rumah untuk bisa menemukan pengendara sepeda motor Honda Beat yang melarikan diri tersebut.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk meningkatkan kwalitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, PT ASDP mewajibkan seluruh karyawannya untuk mengikuti pelatihan Bahasa inggris, seiring dengan terus meningkatnya wisatawan asing yang menggunakan jasa transportasi penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk.

Kebijakan ini berlaku di managemen penyeberangan baik karyawan dibagian penjualan tiket, pengatur lalu lintas kendaraan di pelabuhan maupun yang ada di bagian dalam kantor.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Ketapang-Gilimanuk, Solikin mengatakan, peningkatan kwalitas SDM ini di harapkan bisa menjawab tantangan ke depan bahwa pengguna jasa penyeberangan bukan hanya wisatawan local saja namun juga manca negara.

“Turis yang datang ke pelabuhan perlu di sapa serta di berikan senyuman dengan menggunakan Bahasa inggris yang baik dan benar,” kata Solikin.

“Awalnya saat saya baru menjabat GM disini kaget lihat para karyawan yang tidak menyapa para turis yang datang ke pelabuhan karena kurang lancar berkomunikasi dengan Bahasa inggris,” paparnya.

Oleh karena itulah, dengan mengikuti pelatihan ini di harapkan ke depan performa penyeberangan bisa terealisasi seperti di Bandara. Sehingga transportasi di Indonesia secara terintegrasi memberikan kesan yang baik dari sisi keamanan maupun keselamatan, kepada para wisatawan asing.

“Apalagi ke depan bandara Banyuwangi segera di jadikan Bandara International dengan di mulai penerbangan Kuala Lumpur-Banyuwangi dan di rencanakan juga akan di buka ke Singapura,” papar Solikin.

Tentu hal ini semakin menarik minat wisatawan untuk datang ke Banyuwangi maupun ke Bali dan Lombok.

“Di saat wisatawan tiba di Banyuwangi dan akan melanjutkan perjalanan ke Bali dan Lombok melalui jalur darat, di pastikan mereka akan transit dan menyeberang melalui Pelabuhan Ketapang Banyuwangi,” ujar Solikin.

Kondisi inilah yang di manfaatkan oleh ASDP untuk meningkatkan kwalitas SDM para karyawannya, dengan mewajibkan mereka mengikuti pelatihan Bahasa Inggris untuk memperlancar komunikasi terhadap wisatawan asing.

Peningkatan kwalitas SDM karyawan ASDP ini bukan tanpa alasan, mengingat Pelabuhan Ketapang Banyuwangi merupakan pintu gerbang menuju pulau bali yang dinilai masih menjadi primadona bagi wisatawan domestic dan asing untuk di kunjungi. Demikian sebaliknya, pelabuhan Gilimanuk bali juga merupakan pintu gerbang ke pulau Jawa yang menjadi jalur penyeberangan bagi wisatawan setelah berlibur di Bali.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Terjadi kecelakaan dua kendaraan bermotor di kawasan Jalan Raya depan Kantor Bea Cukai Banyuwangi, yang di sebabkan karena diduga sopir mengantuk.

Kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan tersebut adalah Pickup Daihatsu Grandmax bernopol DK 9887 BK dan Truck Mitsubishi bernopol N 8527 US.

Sementara, kecelakaan ini tepatnya terjadi di kawasan Jalan Raya jurusan Banyuwangi-Situbondo, depan kantor Bea Cukai di lingkungan Kampung Baru Kelurahan Bulusan Kecamatan Kalipuro Banyuwangi, Kamis pagi (22/11) sekira pukul 04.45 WIB.

Kanit Laka Polres Banyuwangi, Ipda Ardhi Bita Kumala mengatakan, dari keterangan saksi mata di TKP, kendaraan Truck Mitsubishi yang di kemudikan Sanali (63) warga Jalan Penataran Gang 2 nomor 1 RT 01 RW 3 Kelurahan Taman Baru Kecamatan Banyuwangi kota tersebut melaju dari arah selatan ke utara dengan kecepatan sedang.

“Dari arah berlawanan, melaju kendaraan Pickup Daihatsu Grandmax yang di kemudikan Aris Yandika (19) warga Dusun Kemiri RT 04 RW 02 Desa Kedungasri Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto,” ungkap Kanit Laka.

Dia menjelaskan, sesampainya di TKP tiba tiba kendaraan Pickup tersebut melampung ke kanan dan menabrak bak truck Mitsubishi, yang mengakibatkan kedua kendaraan mengalami kerusakan pada material kendaraan.

“Kecelakaan ini terjadi di duga sopir Pickup mengantuk sehingga hilang keseimbangan,” ujar Ipda Ardhi.

Dan hal itu di benarkan oleh Aris Yandika saat dimintai keterangan aparat kepolisian, karena lelah dalam perjalanan sehingga kurang konsentrasi di dalam mengemudikan kendaraannya.

“Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa hanya kerugian material saja sebesar Rp 3.000.000,” pungkas Kanit Laka.

Akibat peristiwa ini, seluruh barang yang di angkut mobil Pickup berserakan dijalan. Dan setelah di evakuasi, kedua kendaraan itu di amankan di kantor Unit Laka Polres Banyuwangi.

 

More Articles ...