radiovisfm.com, Banyuwangi - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, 11 dari 25 kecamatan di Banyuwangi masuk dalam kawasan rawan longsor. Yaitu Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah, Licin, Songgon, Kabat, Sempu, Glenmore, Kalibaru dan Pesanggaran.

Kawasan di 11 Kecamatan tersebut terdapat dataran cukup tinggi dan tebing, sehingga dinilai sangat membahayakan jika terjadi hujan deras dengan durasi cukup lama.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi, Eka Muharram mengatakan, khusus kawasan rawan longsor di Kecamatan Pesanggaran berada di area Dusun Sumberdadi Desa Kandangan.

“Disini terdapat bukit yang tanahnya sudah terdapat banyak retakan, sehingga sangat membahayakan dan beresiko tinggi terjadinya longsor,” ujar Eka.

“Apalagi di bawah bukit tersebut ada pemukiman penduduk dengan jumlah Kepala Keluarga yang cukup banyak,” imbuhnya.

Eka mengaku, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah memeriksa kondisi tanah di bukit tersebut. Bahkan, BPBD Banyuwangi juga telah memasang alat peringatan dini atau Early Warning System (EWS) longsor di area setempat.

“Masyarakat juga sudah mengetahuinya, jika alat EWS itu berbunyi maka mereka segera melakukan evakuasi,” kata Eka.

“Kami berharap jika terjadi longsor alat EWS itu benar benar berfungsi supaya bisa memberikan peringatan dini kepada masyarakat,” tuturnya.

Selain itu kata Eka, masyarakat yang tinggal di sekitar perbukitan tersebut sudah mempunyai kearifan local. Dalam artian, apabila terjadi hujan deras dengan durasi cukup panjang maka mereka sudah dengan sendirinya melakukan pengungsian karena sudah mengetahui ancaman yang membahayakan.

“Saat ini pemerintah daerah dalam posisi yang sangat sulit dalam menghadapi permasalahan ini,” tutur Eka.

Disatu sisi, upaya relokasi warga harus di lakukan. Selain itu, juga terkait dengan penyediaan lahan untuk relokasi tersebut.

“Disisi lain, masyarakat setempat cukup sulit untuk di relokasi karena menyangkut dengan mata pencaharian mereka, guna menopang perekonomian keluarganya,” papar Eka.

Namun yang pasti, di kawasan perbukitan Dusun Sumberdadi tersebut dinilai sudah tidak layak untuk di gunakan pemukiman penduduk.

Sementara itu, dari ke 11 Kecamatan di Banyuwangi yang beresiko tinggi rawan longsor tersebut pada umumnya ada di kawasan bukan pemukiman penduduk, atau berada cukup jauh dari area padat penduduk.

“Meski demikian, di perlukan kewaspadaan masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya bencana longsor itu,” pungkas Eka.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Untuk memberikan kemudahan kepada penumpang yang akan menggunakan kereta api, maka PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberlakukan aturan baru terkait Check-in.

Peraturan ini diberlakukan terhitung mulai 17 Januari 2019 pukul 15.00 WIB.

Dalam artian, bagi penumpang yang telah mendapatkan bukti pembelian tiket kereta api (blanko tiket putih, email notifikasi, struk, dan e-ticket) kini sudah dapat melakukan Check-in (mencetak Boarding Pass) pada mesin Check-in Counter di semua stasiun online yang melayani KA Jarak Jauh.

Manager Humas PT KAI Daop 9 Jember Luqman Arif mengatakan, Check-In di seluruh stasiun online ini hanya dapat dilakukan mulai H-7 hingga H-1 (24 jam) sebelum keberangkatan kereta api.

“Bagi penumpang KA Mutiara Timur Siang relasi Banyuwangi – Surabaya Gubeng yang akan berangkat tanggal 2 Februari 2019, maka penumpang dapat Check-in di Stasiun Semarang Tawang selambatlambatnya tanggal 1 Februari 2019 (24 jam sebelum jadwal kereta api berangkat). Dan tidak harus Check-in di stasiun keberangkatan,” papar Luqman.

Namun jika kurang dari 24 jam, penumpang yang bersangkutan hanya bisa melakukan Check-in di stasiun keberangkatannya dan stasiun antara sesuai relasi tiket kereta api.

Luqman menjelaskan, perubahan aturan ini bertujuan untuk memudahkan penumpang yang ingin melakukan Check-in jauh-jauh hari dari stasiun online terdekat yang mereka inginkan.

Ini juga dapat mencegah keterlambatan penumpang dikarenakan adanya antrean Check-In di mesin Check-In Counter pada hari keberangkatan,” ungkap Luqman.

Lebih lanjut Luqman mengatakan, PT KAI juga telah menyediakan fitur e-boarding pass pada aplikasi KAI Access. Fitur ini membuat penumpang tidak perlu lagi repot-repot mengantre di mesin Check-In Counter untuk Check-In.

“Sementara, e-boarding pass dapat diakses oleh penumpang mulai dari 2 jam sebelum keberangkatan KA-nya,” tuturnya.

Sementara itu, dengan berbagai kemudahan ini, PT KAI berharap dapat membuat penumpang menjadi lebih nyaman dalam melakukan perjalanan kereta api dari mulai sebelum keberangkatan, selama perjalanan, hingga tiba di stasiun tujuan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 4 rumah warga di kawasan Desa Sumbersewu Kecamatan Muncar Banyuwangi mengalami kerusakan pada atapnya, akibat di hantam angin putting beliung, Minggu (13/1).

Meski demikian, dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. Data pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, ke 4 rumah yang mengalami kerusakan tersebut adalah milik Purnomo (40) di wilayah Dusun Krajan, utamanya pada atap teras dan daun pintu.

Juga rumah Tjipta Sujarwo Tjuek atau Papi Juan (75) di kawasan Dusun Palukuning, yang mengalami kerusakan pada atap gudang wallet, atap garasi mobil dan atap tempat pakan udang. Serta rumah Siem (40) dan Sumirin (50) keduanya di area Dusun Palukuning, yang mengalami kerusakan pada atap dapur juga atap rumahnya.

Camat Muncar Banyuwangi, Lukman Hakim mengatakan, kerusakan hanya terjadi pada atap rumah saja dan tidak sampai roboh sehingga dinilai tidak terlalu segnifikan.

“Tapi ada satu pintu rumah warga yang jebol, dan itu di rencanakan segera di lakukan perbaikan senin besok,” ujar Lukman.

“Perbaikan akan melibatkan perangkat desa maupun kepala dusun setempat dengan dana dari swadaya,” imbuhnya.

Dan akibat peristiwa ini, masih belum ditaksir besaran kerugian yang di derita oleh para pemilik rumah.

Meski demikian, kami segera melapor ke BPBD Banyuwangi,” pungkas Lukman.

Selain di wilayah Kecamatan Muncar, angin putting beliung juga terjadi di kawasan pantai bomo Kecamatan Blimbingsari dan juga tidak menimbulkan korban jiwa.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Terhitung mulai bulan Maret 2019 mendatang, pendakian dan kunjungan ke Kawah Ijen akan ditutup sekali dalam setiap bulan. Tepatnya di setiap hari Jum’at di minggu pertama.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi Balai Besar KSDA Jawa Timur, Sumpena mengatakan, penutupan ini dilakukan untuk memberikan kesempatan terhadap alam beristirahat.

“Selama penutupan ini pula, di laksanakan kegiatan pembersihan sampah maupun berbagai kegiatan pengelolaan lainnya,” ujar Sumpena.

Dia mengaku, dalam kegiatan ini juga akan melibatkan masyarakat dan sejumlah instansi terkait termasuk Dinas Lingkungan Hidup dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA).

“Juga, berbagai kelompok pecinta alam serta kelompok penyedia jasa usaha wisata ke Ijen,” tutur Sumpena.

Selain itu kata Sumpena, para penambang belerang juga di libatkan dalam kegiatan bersih bersih sampah ini agar kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen tetap terawat.

Sementara, di bulan April 2019, rencananya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur juga mulai menerapkan pembelian tiket masuk ke Kawah Ijen Banyuwangi secara online.

Bagi masyarakat yang akan berwisata ke Kawah Ijen bisa mengunduh aplikasi pembelian tiket online melalui Play Store, lalu masuk ke layanan tiket online “Ijen Blue Fire”.

Disini, masyarakat bisa langsung memesan sekaligus melakukan pembayaran dan setelah itu mendapatkan nomor registrasi. Dari nomor registrasi inilah, yang nantinya bisa di cetak di loket masuk Kawah Ijen ataupun di kantor seksi BKSDA Banyuwangi.

Dan disepanjang bulan Januari hingga Maret dilakukan uji coba secara internal terlebih dahulu sekaligus sebagai ajang sosialisasi kepada masyarakat.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Rumah milik warga Kecamatan Songgon Banyuwangi roboh dan nyaris rata dengan tanah, setelah di guyur hujan cukup deras selama lebih dari 2 jam.

Rumah tersebut milik Lukman (50) di kawasan Dusun Tegalwudi RT 01 RW 02 Desa Bedewang Kecamatan Songgon Banyuwangi. Seluruh bangunan rumah terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Sedangkan lantainya beralaskan tanah namun sudah dilengkapi dengan genteng.

Selama ini, Lukman tinggal bersama ibunya, Muslikah (80) di rumah tersebut. Dalam kesehariannya, dia bekerja serabutan demi kelangsungan hidupnya.

Saat terjadi hujan deras, kedua korban berada di dalam rumah sedang beristirahat. Mereka mendengar suara kretek kretek yang di kira suara hujan. Namun setelah terlihat rumah mulai miring, Lukman berlari keluar dan saat itulah rumahnya roboh. Lukman pun teringat ibunya yang masih di dalam rumah.

Selanjutnya, dia bersama adiknya, Imam Muslih, mencari ditumpukan rumah yang hancur tersebut dan terlihat ibu korban merangkak keluar dari reruntuhan rumah.

Camat Songgon Banyuwangi, Kunta Prastawa mengatakan, rumah korban sudah masuk dalam salah satu rumah yang diperbaiki dalam program Bedah Rumah yang digulirkan oleh pihak TNI.

“Untuk di wilayah Kecamatan Songgon, tercatat ada 60 rumah warga kurang mampu yang masuk dalam daftar Bedah Rumah dan salah satunya adalah rumah milik korban itu,” ujar Kunta.

Dia menjelaskan, saat ini seluruh material bahan bangunan sudah ada di lokasi dan rencananya pencanangan program Bedah Rumah akan di laksanakan pada Senin (21/1) mendatang.

“Tapi karena kondisi rumah korban sudah roboh, maka rencananya akan segera di lakukan perbaikan tanpa menunggu pencanangan,” tutur Kunta.

“Selama menunggu proses perbaikan, kini korban mengungsi di rumah tetangganya,” pungkasnya.

Sementara itu, kondisi rumah korban saat ini sangat mengenaskan. Seluruh bagian rumahnya hancur termasuk genteng. Bahkan, kayu kayu yang menopang bangunan rumahpun patah.

Untung saja dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 4 korban warga Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi yang salah satunya adalah balita, mengalami luka cukup parah akibat sepeda motor yang mereka kendarai mengalami kecelakaan.

Tepatnya terjadi di kawasan Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi, di selatan toko Anisa masuk Dusun Curahuser RT 02 RW 01 mDesa Sumberanyar Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Sementara, dua kendaraan yang mengalami kecelakaan antara Sepeda Motor Honda Beat Putih bernopol P 6567 UD dengan Sepeda Motor Beat Hitam bernopol P 6801 XE.

Kanit Laka Polres Banyuwangi, Iptu Ardhi Bita Kumala mengatakan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, sepeda motor Beat putih yang di kendarai Agus (29) warga Dusun Alas Malang RT 03 RW 03 Desa Alasrejo Kecamatan Wongsorejo melaju dari arah Utara ke Selatan dengan membonceng istrinya, Vera (24) dan anaknya yang masih berusia 3,5 tahun, Muhammad Ramdan.

“Sesampainya di TKP, sepeda motor tersebut menyalip bus yang ada di depannya,” ujar Kanit Laka.

Bersamaan dengan itu kata Iptu Ardhi, melaju dari arah berlawanan sepeda motor Honda Beat hitam yang di kendarai Lina (23) warga Dusun Badolan Desa Bajulmati Kecamatan Wongsorejo.

“Di duga karena jaraknya sudah terlalu dekat sehingga tabrakan tidak bisa dihindari,” tutur Iptu Ardhi.

Akibatnya, Lina mengalami patah pada bagian pangkal hidung dan luka terbuka pada bagian lutu kirinya. Sedangkan Agus mengalami pendarahan di kepala serta luka robek pada bagian wajahnya. Serta istrinya, Vera mengalami luka lecet pada jari kanan dan anaknya yang masih balita mengalami patah tulang pada tangan kanannya.

Iptu Ardhi mengaku, seluruh korban di larikan ke Puskesmas Bajulmati lalu di rujuk ke RSUD Blambangan Banyuwangi, guna di lakukan penanganan medis.

“Dari hasil olah TKP sementara kepolisian, peristiwa kecelakaan ini di duga diakibatkan karena kelalaian pengemudi sepeda motor Honda Beat Putih yang berusaha menyalip kendaraan di depannya,” papar Kanit Laka.

Sementara itu, setelah di evakuasi, kedua kendaraan tersebut di amankan di kantor Laka Polres Banyuwangi.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang laki laki warga Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi di temukan meninggal dunia dengan gantung diri di area semak semak di kawasan Kecamatan Rogojampi, Rabu (9/1) sekira pukul 09.30 WIB.

Tepatnya di Dusun Jajang Surat Desa Karang Bendo, selatan gedung SMP Negeri 2 Rogojampi.

Pertama kali di temukan, leher korban menggantung di salah satu batang pohon besar dengan menggunakan kain sarung. Korban memakai kaos hitam dan celana pendek jeans coklat. Namun tidak ditemukan kartu identitas apapun, sehingga awalnya korban adalah orang tidak dikenal atau Mr.X.

Sejumlah aparat kepolisian Polsek Rogojampi pun mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP, dan disini ditemukan 1 unit ponsel beserta cashnya tergelatak di bawah jenazah korban juga sepasang sandal jepit.

Selanjutnya, kepolisian berupaya menghubungi salah satu nomor yang ada di ponsel tersebut sehingga berhasil terhubung.

Dari hasil pengembangan penyidikan itulah, kepolisian berhasil mengungkap identitas korban yang ternyata bernama Zainidin (50) warga Dusun Sidowangi RT 05 RW 02 Desa Sidowangi Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Selanjutnya, jenazah korban di bawa ke kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi guna dilakukan pemeriksaan luar.

Kanit Reskrim Polsek Rogojampi Banyuwangi, Iptu Abdul Rohman mengatakan, dari hasil pemeriksaan ini tidak ditemukan adanya tanda tanda penganiayaan pada tubuh korban, sehingga di duga kuat korban meninggal dunia murni karena gantung diri.

“Pertama kali ditemukan lidah korban menjulur ke bawah disertai air liur. Juga keluar kotoran dari dubur dan air mani dari kelaminnya,” ujar Iptu Abdul Rohman.

“Pada leher korban yang hitam juga sudah terlihat putih di duga korban meninggal dunia lebih dari 6 jam,” imbuhnya.

Iptu Abdul Rohman menambahkan, kepolisian masih belum bisa memastikan penyebab kematian korban karena dari keterangan keluarganya, sebelumnya korban sempat berkomunikasi melalui ponsel dan tidak pernah menceritakan masalah yang dihadapi maupun dugaan adanya penyakit yang di derita.

Sementara itu, salah satu anak korban, Syaifullah langsung mendatangi RSUD Blambangan Banyuwangi setelah mendapat informasi bapaknya ditemukan meninggal dunia gantung diri.

“Selama ini bapak saya jarang pulang karena disetiap harinya bekerja mencari rongsokan di berbagai tempat,” ungkap laki laki berusia 25 tahun tersebut.

Dan saat ini pula, korban sudah bercerai dengan istrinya, Suhaini (40) lalu memilih keluar rumah untuk hidup di jalanan mencari rongsokan.

“Saya dan keluarga juga dapat informasi jika bapak saya sudah menikah siri dengan warga Jember,” kata Syaiful.

Namun hingga kini, Syaiful juga mengaku tidak mengetahui wajah dari istri siri bapaknya tersebut.

Bahkan sebelumnya, beberapa kali korban sempat menghubungi Syaiful memberi kabar jika berada di kawasan Kecamatan Wongsorej.

“Tapi bapak saya tidak mau dijemput dan hanya bilang kalau suatu saat saja main main sama istri barunya,” pungkas Syaiful.

 

More Articles ...