Radiovisfm.com, Banyuwangi - Sejumlah masjid di 3 kecamatan di Banyuwangi mendapat kiriman tabloid Indonesia Barokah, yang berisi berbagai konten tentang segmentasi politik dari aktifitas dua pasangan Capres dan Cawapres.

Tepatnya beberapa masjid yang ada di Kecamatan Sempu, Kecamatan Cluring dan Kecamatan Banyuwangi Kota.

Mendapati temuan ini, Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) Banyuwangi bersama aparat kepolisian di jajaran Polres Banyuwangi turun ke lokasi untuk mengecek kebenaran informasi yang disampaikan oleh masyarakat, mengenai adanya pengiriman paket yang di dalamnya berisi tabloid Indonesia Barokah tersebut.

Koordinator Divisi SDM Bawaslu Banyuwangi, Hasyim Wahid mengatakan, temuan pertama di 3 masjid di kawasan Kecamatan cluring.

Disini ditemukan 1 amplop yang berisi 3 tabloid Indonesia Barokah dengan nama pengirim dari salah satu lembaga media asal Bekasi,” ujar Hasyim.

Lalu kami bawa 1 tabloid sebagai sample untuk dilakukan kajian lebih lanjut bersama Gugus Tugas yang ada di Propinsi Jawa Timur, yang di dalamnya terdiri dari KPI, Dewan Pers, Bawaslu dan KPU Jawa Timur,” paparnya.

Hasyim menjelaskan, dari kajian ini nantinya bisa dipastikan isi dan konten tabloid Indonesia Barokah tersebut. Apakah mengandung unsur pelanggaran pemilu ataukah tidak.

“Tapi jika tidak, maka akan dikirimkan kembali ke alamat si pengirimnya,” ungkapnya.

Hasyim juga mengatakan, pihaknya akan terus berkoodinasi dengan pihak kepolisian untuk menginventarisir mengenai jumlah masjid yang sudah menerima kiriman tabloid itu.

Karena dari hasil pengembangan penyelidikan, rupanya ada beberapa masjid di 3 kecamatan yang juga menerima kiriman,” tuturnya.

Sementara itu, Hasyim menyampaikan bahwa dari pantauan awal pihaknya, isi tabloid tersebut segmentasinya ke arah politik yang menyangkut aktifitas kedua pasangan Capres dan Cawapres, serta isu isu yang berkembang selama ini.

Kami masih belum menemukan konten yang ke arah sara dan lain-lain,” imbuhnya.

Namun kata Hasyim, untuk lebih memastikan lebih lanjut, pihaknya akan melakukan kajian lebih dalam dan berkoordinasi dengan Gugus Tugas di Propinsi Jawa Timur.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sekitar 12 solar track atau lampu penunjuk jalur tenaga matahari di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Kawah Ijen Banyuwangi hilang, padahal baru dipasang empat hari lalu.

Solar track tersebut memang sengaja dipasang di sepanjang jalur pendakian di TWA Gunung Ijen, sebagai penunjuk arah dan penerangan untuk jalan menuju puncak Ijen. Untuk pemasangan tahap pertama ini ada sekitar 60 buah lampu. 

Kepala Pos Taman Wisata Alam Gunung Kawah Ijen, Sigit Hari Wibowo mengatakan, rencananya akan di pasang sekitar 300 an unit.

“Tapi karena baru empat hari dipasang sudah hilang, maka pemasangan yang lainnya ditunda terlebih dahulu,” tuturnya.

Sigit mengaku masih belum mengetahui penyebab hilangnya solar track di jalur pendakian TWA Gunung Ijen tersebut, apakah faktor alam atau memang sengaja dicuri oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab.

BKSDA Jawa Timur akan menerjunkan tim untuk menyelidiki hilangnya lampu penunjuk arah bertenaga matahari itu,” kata Sigit.

Dia menjelaskan, saat ini solar track yang terpasang ada 65 unit, sehingga jarak 600 meter di pasang di masing masing 10 meteran sebagai pertanda bahwa itu adalah jalan.

“Dari pantauan di lapangan, ada beberapa solar track yang pecah di duga karena di ambil paksa oleh pelaku,” ujarnya.

Sigit menambahkan, rencananya di sepanjang jalur pendakian dari pos Paltuding hingga puncak Gunung Kawah Ijen akan dipasang 300 unit solar track lagi.

Karena lampu yang dipasang sudah banyak yang hilang, maka pemasangan solar track dihentikan sementara. Dan pemasangan tahap selanjutnya masih menunggu kajian lebih lanjut dari BKSDA Jawa Timur,” papar Sigit.

Sigit juga berharap kepada para pengunjung taman wisata alam Gunung Ijen untuk bisa bersama- sama menjaga fasilitas yang ada saat ini.

Tujuanya agar para wisatawan yang berkunjung di gunung yang mempunyai danau kawah terbesar di Asia tersebut merasa nyaman.

Sebab BKSDA Jawa Timur, berkomitmen terus memperbaiki sarana dan prasarana yang ada di wilayah Gunung Kawah Ijen,” pungkasnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Terjadi kecelakaan laut di lintas penyeberangan Ketapang – Gilimanuk, yang menyebabkan seorang sopir truck tronton meninggal dunia akibat terjepit pintu Ramdor kapal.

Peristiwa ini terjadi di area dermaga LCM Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Selasa malam (22/1) sekira pukul 18.00 WIB.

Saat itu, kapal KMP SMS Swakarya milik perusahaan pelayaran PT Lintas Sarana Nusantara (LSN) bersandar di dermaha LCM menunggu antrian muatan.

Salah satu kendaraan yang sudah berada di dalam kapal adalah truck tronton bermuatan sekitar 30 ton semen, yang di sopiri oleh Putu Sanjaya (37) warga Jalan Jaya Giri gang VIII nomor 15 Denpasar Timur, Bali. Saat menunggu antrian itulah, Putu Sanjaya keluar kapal dan minum kopi di salah satu pedagang yang ada di pinggir dermaga LCM.

Selang beberapa lama, kapal yang di nahkodai Setiawan Prio Pangestu warga Dusun Krajan Kulon RT 01 RW 15 Desa Paleran Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember tersebut mulai menutup pintu ramdor untuk segera berangkat menuju Pelabuhan Gilimanuk bali.

Melihat hal ini, si sopir itupun berlari dan melompat ke pintu ramdor karena takut ketinggalan kapal. Namun naas, dia malah terpeleset dan tubuhnya membentur pintu ramdor kapal hingga terjepit.

Kapolsek KP3 Tanjung Wangi Banyuwangi, AKP Idham Kholid mengatakan, dengan adanya incident ini, nahkoda kapal membuka kembali pintu ramdor dan menepi di dermaga LCM.

“Lalu tubuh korban di larikan ke RSUD Blambangan Banyuwangi guna di lakukan penanganan medis,” ujar AKP Idham.

“Saat di bawa ke rumah sakit, korban masih dalam kondisi hidup. Tapi setelah mendapat penanganan medis di ruang IRD selama 10 menitan, korban meninggal dunia,” paparnya.

Kapolsek mengaku, peristiwa ini di duga disebabkan karena keteledoran nahkoda kapal. Pasalnya, dari informasi yang berhasil di himpun kepolisian, disaat mengetahui korban berlari menuju kapal, sejumlah ABK sudah berteriak agar nahkoda kapal menurunkan kembali pintu ramdor.

“Tapi pintu ramdor tetap bergerak ke posisi menutup karena di duga nahkoda kapal tidak mendengar teriakan para ABK itu,” tutur Kapolsek.

Oleh sebab itulah kata AKP Idhan, kepolisian segera memanggil nahkoda kapal untuk dimintai keterangan.

Setelah di ketahui sudah meninggal dunia, jenazah korban langsung di semayamkan di kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi menunggu kedatangan pihak keluarganya.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang nelayan asal Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi meninggal dunia saat menyelam ke dasar laut untuk mencari ikan di kawasan perairan Pulau Tabuhan Banyuwangi.

Korban diketahui bernama Ahmad Hosen (25) bertempat tinggal di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo.

Pada Senin (21/1) sekira pukul 08.45 WIB korban bersama 4 nelayan lainnya pergi melaut, yakni Amiruddin (54), Asim (46) dan Fathori (25) ketiganya warga Dusun Posumur RT 02 RW 04 Desa Bengkak Kecamatan Wongsorejo.

Mereka berangkat melaut untuk menjaring dan menembak ikan di sekitaran perairan Pulau Tabuhan. Namun sebelum berangkat, korban terlebih dahulu minum jamu pegel linu dan beberapa butir obat yang di belinya di toko jamu yang tidak jauh dari rumahnya.

Dan jamu tersebut di beli korban bersama temannya, Taufik Hidayat (35) warga Dusun Posumur Desa Bengkak pada Minggu malam (20/1).

Kasat Polairud Banyuwangi, AKP Subandi mengatakan, korban bersama Asim melakukan penyelaman sekitar 4 meter ke dasar laut untuk menembak ikan, sedangkan Amiruddin dan Fathori menunggu diatas kapal.

“Selang 10 menitan, korban muncul ke permukaan laut dan langsung naik ke atas kapal,” ujar AKP Subandi.

“Saat itulah, korban mengalami muntah dan kejang kejang lalu di bawa ke darat untuk dilakukan pertolongan medis,” imbuhnya.

Namun rupanya kata AKP Subandi, korban sudah meninggal dunia dalam perjalanan ke darat. Selanjutnya, korban di evakuasi oleh personel kepolisian dari Satpolairud dan Polsek Wongsorejo lalu di bawa ke Puskesmas Wongsorejo bersama beberapa orang masyarakat Desa Bengkak.

“Dari hasil pemeriksaan medis, pada tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda tanda penganiayaan sehingga diduga meninggal dunia karena menderita suatu penyakit tertentu,” pungkasnya.

Sementara itu, setelah dilakukan pemeriksaan medis, jenazah korban langsung di semayamkan di rumah duka karena pihak keluarga tidak bersedia diotopsi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang petani asal Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi ditemukan meninggal dunia di areal persawahan, diduga karena terlalu banyak menghirup obat pestisida yang di gunakan untuk menyemprot tanaman jagungnya.

Hal ini di perkuat dengan ditemukannya tangki semprot dan obat pertanian yang tergeletak di samping jenazah korban.

Pertama kali, jenazah korban, Abdul Azis (60) warga Kalilaci RT 16 RW 02 Dusun Purworejo Desa Kalipait tersebut di temukan oleh tetangganya, Irsat (46) dalam posisi tergeletak di pematang sawah milik perhutani di area Petak 126 RPH Purwo Desa Kalipait Kecamatan Tegaldlimo pada Selasa pagi (22/1).

Selanjutnya, Irsat menghubungi tetangga korban, Matohir (40) untuk segera ke TKP karena tubuh korban sudah tidak bergerak. Lalu mereka menghubungi ambulance siaga milik desa dan di bawa ke Puskesmas Kedungwungu untuk dilakukan pemeriksaan luar.

Kapolsek Tegaldlimo Banyuwangi, AKP Priyono melalui Kanit Reskrim, Ipda Wignyo Asmoro mengatakan, dari hasil pemeriksaan luar tim medis, pada tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda tanda penganiayaan.

“Hasil pemeriksaan juga menunjukkan bahwa, korban meninggal dunia diduga akibat keracunan obat pertanian melalui saluran pernafasan,” ujar Ipda Wignyo.

“Pengakuan keluarganya, sebelum berangkat ke sawah, korban belum sarapan. Bahkan saat melakukan aktifitas penyemprotan tanaman jagung, dia juga tidak memakai masker,” paparnya.

Ipda Wignyo menjelaskan, lahan persawahan tersebut adalah milik perhutani yang sebelumnya di tanami pohon jati.

“Oleh masyarakat di sekitar pinggir hutan di garap untuk persawahan dengan ditanami berbagai macam tanaman,” ungkap Ipda Wignyo.

Sementara itu, pihak keluarga tidak bersedia dilakukan otopsi terhadap jenazah korban yang di perkuat dengan surat pernyataan. Selanjutnya, jenazah korban di semayamkan di rumah duka.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Rumah pengusaha kue kering di kawasan Kelurahan Panderejo Kecamatan Banyuwangi terbakar, Selasa malam (22/1) sekira pukul 20.30 WIB.

Tepatnya di Lingkungan Karangbaru RT 02 RW 03, yang merupakan milik keluarga Irawan Subagyo (52) dan Lilik (50). Didalamnya juga dihuni kedua orang tua Irawan, yakni Syakur dan Misna Rahayu yang sudah berusia lanjut.

Si jago merah dengan cepat membakar seluruh barang berharga yang ada di dalam rumah, mulai lemari, Kasur, televise, lemari es dan beberapa lainnya.

Untung saja, dalam incident ini tidak ada korban jiwa. Karena saat peristiwa terjadi, rumah dalam kondisi kosong. Pasalnya, Irawan dan Lilik juga Syakur sedang menghantarkan Misna Rahayu ke rumah anaknya yang ada di Kelurahan Kepatihan untuk perawatan, karena menderita sakit jantung.

Upaya pemadaman yang di lakukan petugas pemadam kebakaran mengalami kesulitan, di sebabkan lokasi rumah korban berada di gang sempit padat penduduk. Selain itu, banyaknya masyarakat yang berkerumun di sekitar lokasi juga menyebabkan petugas harus ekstra hati hati di dalam menarik selang air untuk memadamkan api.

Dan selama upaya pemadaman berlangsung, petugas di bantu masyarakat juga puluhan aparat Satpol PP. Sementara, api baru bisa di padamkan sekitar pukul 23.00 WIB dengan menurunkan 3 unit mobil pemadam kebakaran.

Meski demikian, api tidak sampai merembet ke rumah warga yang lainnya karena masyarakat setempat saling bergotong royong memadamkan api dengan peralatan seadanya, setelah melihat adanya kobaran api di rumah korban.

“Saya bersama istri dan kedua orang tua saya keluar rumah sekira pukul 19.30 WIB,” kata Irawan Subagyo.

Dan diakuinya, mereka tidak menyalakan kompor. Pasalnya, dalam kesehariannya, Irawan bersama istrinya membuat kue kering untuk melayani pemesanan warga maupun toko. Sedangkan di hari itu, mereka membuat kue hanya pada pagi dan siang saja. Sehingga di malam harinya sudah tidak ada aktifitas pembuatan kue.

“Tapi biasanya pembuatan kue kering kami lakukan hingga menjelang pagi jika banyak pesanan,” ujar Irawan.

Oleh sebab itu, dia memiliki 5 unit kompor untuk proses pengovenan. Saat kejadian kata Irawan, 3 tabung gas sudah dilepas dari kompornya karena sudah habis. Sedangkan 2 tabung lainnya masih menempel di kompor.

“Saya belum mengetahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut apakah karena konsleting listrik ataukah lainnya,” tutur Irawan.

Sementara itu, pihak kepolisian juga belum bisa memastikan penyebab kebakaran tersebut karena masih dilakukan olah TKP serta memintai keterangan beberapa orang saksi mata termasuk pemilik rumah.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Satuan Polisi Air, Laut dan Udara (Satpolairud) bersama Satuan Reskoba Polres Banyuwangi melakukan pengembangan penyidikan dengan memeriksa pil dari jamu yang di minum oleh nelayan asal Kecamatan Wongsorejo, sebelum akhirnya di temukan meninggal dunia.

Pasalnya, korban yang diketahui bernama Ahmad Hosen (25) warga Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo pergi melaut bersama 3 orang temannya sesame nelayan, Amiruddin (54), Asim (46) dan Fathori (25) ketiganya warga Dusun Posumur RT 02 RW 04 Desa Bengkak Kecamatan Wongsorejo di kawasan perairan Pulau Tabuhan Banyuwangi.

Disini, korban mencari ikan dengan cara menjaring dan menembak. Saat berada di dasar laut dengan kedalaman sekitar 4 meter bersama Asim, tiba tiba korban muncul ke permukaan laut dan langsung naik ke atas kapal.

Saat itulah, korban mengalami muntah dan kejang kejang lalu di bawa ke darat untuk dilakukan pertolongan medis.

“Menurut keterangan teman temannya, sebelum melaut korban minum jamu dan pil yang di beli di salah satu toko yang ada di sekitaran Kecamatan Wongsorejo,” papar Kasat Polairud Banyuwangi, AKP Subandi.

“Kepolisian menyita 5 butir pil yang masih tersisa di tangan Taufik Hidayat (35) warga Dusun Posumur Desa Bengkak Kecamatan Wongsorejo, yang sebelumnya membeli jamu bersama korban,“ imbuhnya.

AKP Subandi menjelaskan, kini, Satuan Reskoba tengah melakukan pengembangan penyidikan untuk memastikan apakah pil tersebut layak ataukah tidak untuk di perjual belikan.

“Upaya ini juga memastikan apakah pil itu Legal berijin ataukah tidak. Karena dari hasil pemeriksaan medis Puskesmas Wongsorejo, pada tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda tanda penganiayaan,” ujar AKP Subandi.

Dia menambahkan, dari hasil pengembangan penyidikan inilah nantinya yang menjadi dasar untuk bisa memastikan, kasus ini mengandung unsur pidana ataukah tidak.

“Dalam hal ini, si penjual jamu di mungkinkan akan menjalani pemeriksaan kepolisian,” tutur AKP Subandi.

Selain itu, ketiga nelayan yang pergi melaut bersama korban juga teman korban yang diketahui bersama sama membeli jamu tersebut langsung dimintai keterangan pihak kepolisian.

 

More Articles ...