radiovisfm.com, Banyuwangi - Ratusan personel kepolisian bersama aparat TNI dan sejumlah elemen lainnya turun untuk melakukan pengamanan perhelatan balap sepeda Tour de Indonesia yang melintas di kawasan Banyuwangi.

Total ada 930 personel yang diterjunkan untuk berjaga di 479 titik pengamanan yang tersebar di sejumlah wilayah di Banyuwangi, yang di lalui oleh para pembalap.

Kasubag Humas Polres Banyuwangi, Iptu Lita Kurniawan mengatakan, dari 930 personel tersebut 600 diantaranya adalah aparat kepolisian. Sedangkan TNI AD sebanyak 200 personel, TNI AL 30 personel, Dinas Perhubungan 30 personel juga Satpol PP 100 personel dan Linmas 400 orang.

“Seluruh Linmas di beberapa desa yang dilalui para peserta memang sengaja disiagakan secara maksimal, karena mereka bertugas menutup dan membuka jalan desa dari arus kendaraan bermotor di saat di lewati para peserta,” papar Iptu Lita.

Sementara itu khusus aparat kepolisian kata Lita, ke 600 personel yang disiagakan tersebut adalah dari berbagai kesatuan di jajaran Polres Banyuwangi juga seluruh polsek.

“Dan 1 SSK atau Satuan Setingkat Kompi yakni sekitar 100 an personel khusus dari unit Pengendalian Massa (Dalmas), yang bertugas pembersihan jalan dengan membawa berbagai alat kebersihan,” ungkap Lita.

“Mereka berbaur menjadi satu dengan para penyapu jalanan dari Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi, sehingga disaat kegiatan selesai kondisi jalanan kembali bersih,” imbuhnya.

Sementara itu, gelaran balap sepeda Tour De Indonesia ini di ikuti 100 pembalap dari 26 negara dengan menempuh jarak 825,2 KM.

Para peserta dilepas pada etape pertama, Senin 19 Agustus 2019 dengan rute Borobudur-Ngawi. Etape dua, Selasa 20 Agustus rute Madiun-Batu. Etape tiga, Rabu 21 Agustus rute Batu-Jember. Etape empat, Kamis 22 Agustus dengan rute Jember-Ijen Banyuwangi. Dan Etape lima, Jum’at 23 Agustus rute Gilimanuk-Bangli.

Khusus etape 4 rute Jember-Banyuwangi berjarak tempuh 147 KM dengan estimasi waktu 3 jam 30 menit sampai di finish Paltuding Kawah Ijen Banyuwangi. Peserta dilepas dri Jember Square pukul 10.00 WIB dan tiba di Paltuding Ijen pukul 13.50 WIB dengan melewati sejumlah titik keramaian di wilayah Banyuwangi. Seperti Pasar Rogojampi, kantor Bupati Banyuwangi, Simpang Lima, Taman Blambangan, Masjid Agung Baiturrohman dan rest area Jambu.

Dari rest area Jambu Kecamatan Licin inilah, para peserta harus menaklukkan jalan tanjakan erek erek dengan kemiringan 45 derajat untuk bisa mencapai garis finish di Paltuding Ijen.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang laki laki warga Kelurahan Karangrejo meninggal dunia diatas genteng rumah warga, saat memasang kabel TV bersama temannya.

Korban adalah Didik Hariyanto (45) tercatat sebagai warga Jalan Ikan Waderpari Kelurahan Karangrejo Kecamatan Banyuwangi kota. Setelah di evakuasi dari atas rumah warga di kawasan Lingkungan Sukowidi Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro, jenazah korban langsung di bawa ke RSUD Blambangan Banyuwangi guna dilakukan pemeriksaan medis.

Hasilnya, di duga korban meninggal karena terkena serangan jantung akibat kecapekan.

Menurut keterangan Hery Rusdiyanto, teman korban, dirinya mengajak korban untuk memasang kabel TV yang di kelolanya di kawasan TKP.

“Kami bersama sama menarik kabel untuk di pasang di sentralnya dengan menggunakan tembok salah satu pelanggan yang cukup tinggi karena untuk menghindari kendaraan lewat,” ujar Hery.

Pasalnya, lokasi pemasangan berada di pinggir jalan raya, utara perempatan Sukowidi. Laki laki berusia 51 tahun tersebut menjelaskan, setelah kabel siap dipasang, korban memegang ujung kabel sebelah utara lalu naik ke atas genteng dan dirinya juga ikut membantu menarik kabel agar lurus.

“Setelah terpasang ke bosternya, korban turun dan mengajak saya istirahat sambil minum kopi di pinggir jalan,” ungkap Hery.

Tidak terlalu lama, korban pamitan kepada Hery untuk memasang input di alat yang lain dan kembali naik ke atas genteng.

Hery mengatakan, saat itulah, dirinya melihat korban duduk selonjor layaknya orang sedang kecapekan. Sementara Hery sendiri melanjutkan memotongi kabel yang ada di bawah.

“Karena merasa hati saya tak enak, saya pun menghampiri dia ke atas genteng dan membangunkannya,” tutur Hery.

Namun tubuh korban tidak bergerak, lalu dia turun untuk mengambilkan air kemasan gelas dan di minumkan kepada korban. Rupanya, air tersebut juga tidak bisa masuk ke dalam mulut korban.

Hery mengaku, mendapati kondisi ini dirinya berteriak meminta tolong kepada warga yang kebetulan ada di TKP. Hingga akhirnya, 3 orang naik ke atas genteng untuk menurunkan tubuh korban dengan dibantu 1 unit truck untuk mengevakuasi.

Selanjutnya, korban di larikan ke RSUD Blambangan Banyuwangi guna dilakukan pemeriksaan medis, namun rupanya korban sudah meninggal dunia.

“Kemungkinan kematian korban bukan karena kesetrum listrik, tapi diduga terkena serangan jantung,” kata Hery.

Pasalnya, di akui Hery selama ini korban bekerja sebagai pemasang instalasi listrik sehingga di pastikan dia mengetahui antara aliran listrik yang tegangan tinggi ataupun rendah.

Sementara, dari pengakuan Hery, diduga korban mengalami kecapekan karena setiap malam membantu istrinya membuat kue sedangkan pagi harinya harus berjualan. Dan di hari kejadian, Hery mengajak korban memasang kabel.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak kepolisian yang berada di TKP maupun rumah sakit untuk melakukan olah TKP.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dua orang yang diduga Warga Negara Asing (WNA) melakukan aksi pencurian dengan cara hipnotis atau gendam.

Aksi mereka terekam kamera CCTV di sebuah minimarket di Jalan Raya Jember KM 13, atau depan Kampus Politeknik Banyuwangi (Poliwangi). Pemilik toko modern mengalami kerugian Rp 3 juta, akibat aksi pencurian tersebut.

Dalam video viral berdurasi 2 menit 50 detik tersebut, dua laki laki WNA melancarkan aksi saat toko sedang sepi. Satu orang melancarkan aksi kepada kasir, satu orang lagi menarik perhatian karyawan toko modern yang lain. Terlihat satu orang berdiri berwajah kearaban mencoba mengelabui kasir yang sedang menghitung uang. Satu lagi berwajah bule mencoba menarik perhatian penjaga toko yang lain.

Ditemui di toko modern, korban Lisa Fahlavi mengatakan, aksi pencurian ini terjadi pada Minggu (18/8/2019). Dua orang berwajah seperti WNA masuk dan langsung memilih-milih barang yang akan di beli. Sementara satu lagi langsung masuk ke dalam toko dan mengajak petugas lain untuk menunjukkan baju koko dan sarung. Kebetulan toko modern tersebut juga menjual pakaian muslim dan sarung.

“Dua orang datang yang satunya berwajah bule sedangkan lainnya berwajah seperti Arab,” ujar wanita yang akrab di panggil Icha tersebut.

“Yang berwajah Bule mengajak teman saya untuk mencari sarung dan baju koko, sementara yang wajahnya kayak orang Arab itu membeli dan membayar,” paparnya.

Saat membayar itulah, Icha mengaku pelaku melancarkan aksinya. Pelaku berwajah kearaban itu kemudian meminta untuk menukarkan uang ke kasir.

Entah kenapa, uang yang ada di laci sejumlah Rp 3 juta juga saya keluarkan. Padahal uang itu untuk membayar barang lain,” ungkap Icha.

Dia mengaku seperti di hipnotis dan setelah orangnya pergi dia baru sadar.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wahyu. Karyawan ini juga tidak menyangka jika dua orang yang diduga WNA itu melakukan aksi pencurian.

“Saya didatangi pria bule itu dengan alasan untuk menunjukkan sarung dan baju koko,” tutur Wahyu.

Karena selalu ditanya, Wahyu mengaku tidak mengamati aksi pelaku di kasir. Setelah keluar dari toko itulah, mereka semua baru menyadari aksi mereka.

Hingga saat ini aksi pencurian tersebut masih dalam penyelidikan dari pihak kepolisian.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Truck bermuatan obat pembasmi serangga kemasan kaleng terguling di jalan tanjakan sasak tambong Kecamatan Kabat, Selasa (20/8/2019), yang menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas mencapai 3 KM.

Truk boks sarat muatan bernomor polisi P 8818 TR tersebut terguling dan melintang di tengah jalan.

Musibah ini diduga lantaran kendaraan mengalami rem blong saat melintasi jalan raya yang menanjak. Beruntung kecelakaan ini tidak sampai menelan korban jiwa. Sang sopir dan kernet truk diketahui selamat.

 Akibat dari kecelakaan ini arus lalu lintas di jalur nasional Banyuwangi - Jember macet total sejauh tiga kilometer.

Akhmad Lutfi Felani, 35 tahun, sopir truk boks mengungkapkan kecelakaan yang dia alami ini bermula saat ia melaju dari arah selatan ke utara menuju arah Banyuwangi untuk muatan obat nyamuk.

Sesampainya disini, kendaran saya hilang kendali berjalan mundur lantaran tak kuat saat melintasi tanjakan,” ungkap laki laki warga Desa Benelan Lor Kecamatan Kabat tersebut.

Dia mengaku sempat melakukan pengereman namun upaya itu sia-sia lantaran rem kendaraannya ternyata blong. Seketika itu kendaraanya langsung oleng dan terguling melintang di tengah jalan. Beruntung, tergulingnya truk sarat muatan ini tidak sampai menimpa pengendara lain.

Sang sopir dan kernet juga diketahui hanya mengalami luka ringan keduanya langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat.

Proses evakuasi truk boks naas ini berlangsung cukup panjang. Pihak Satlantas Polres Banyuwangi sampai harus menerjunkan kendaraan berat untuk menderek truk ini ke pinggir jalan agar tidak menganggu arus lalu lintas yang kebetulan sedang ramai. Sekitar sejam lebih akhirnya kendaraan ini berhasil terevakuasi ke pinggir jalan raya.

Sementara, Kanit Turjawali Satlantas Polres Banyuwangi Ipda Heru Slamet Hariyanto yang berada di TKP mengatakan, truk ini bermuatan obat nyamuk.

Dari pengakuan sopir, saat melintas di utara Sasak Tambong yang sedikit menanjak tiba tiba remnya mendadak blong  hingga akhirnya kendaraan itu terguling dan melintang,” ujar Heru.

Sopir dan kernet hanya mengalami luka dan sudah dilarikan ke puskesmas terdekat,” tuturnya.

Ipda Heru mengaku, untuk lalu lintas sedikit tersendat karena proses evakuasi yang berlangsung cukup lama.

Selanjutnya, sejumlah warga bergotong royong mengeluarkan muatan di dalam truk boks untuk memudahkan proses evakuasi truk oleh Satlantas Polres Banyuwangi. Setelah kosong, baru kendaraan tersebut di kembalikan ke posisi berdiri.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah di lakukan pengembangan penyidikan, kepolisian menetapkan RDH sebagai tersangka pembuangan bayinya yang ditemukan di surau pinggir sungai di Desa Kenjo Kecamatan Glagah Banyuwangi pada hari Minggu (18/8/2019) lalu. Tepatnya di kawasan Dusun Krajan RT 01 RW 01.

Penetapan tersangka ini dilakukan kepolisian setelah 2 orang saksi di periksa yakni Ansori, selaku ketua RT setempat dan Sekretaris Desa Kenjo, Untung. Kedua saksi tersebut yang pertama kali menemukan bayi perempuan tergeletak di lantai surau. Selain itu, kepolisian juga memeriksa RDH yang diduga sebagai ibu bayi.

Kanit Reskrim Polsek Glagah, Aiptu S Edy mengatakan, dari hasil keterangan para saksi serta beberapa barang bukti pendukung yang diamankan, maka kepolisian memperoleh titik terang bahwa perempuan berusia 27 tahun itu diduga kuat sebagai ibu kandung dari bayi yang telah di lahirkan dan di temukan di surau.

“Kepolisian menetapkan RDH sebagai tersangka tapi tak dilakukan penahanan dan hanya di awasi dengan berkoordinasi bersama Dinas Sosial untuk menentukan langkah selanjutnya,” ujar Aiptu Edy.

“Kepolisian sengaja tidak menahan RDH karena pasal yang di sangkakan adalah 308 KUHP dengan ancaman 2,5 tahun penjara,” ungkapnya.

Dalam pasal ini berbunyi bahwa karena ketakutan diketahui atas kelahiran anaknya sesaat kemudian setelah melahirkan bayi dan menempatkan bayi tersebut untuk ditemukan orang lain serta meninggalkannya agar terhindar dari tanggung jawab merawatnya.

Menurut pengakuan RDH di hadapan penyidik, awalnya dia ingin kencing yang berlanjut perutnya sakit setelah berada di dalam kamar. Lalu RDH pergi ke sungai yang berada sekitar 10 meter belakang rumahnya berniat buang air besar.

“Tapi justru dia melahirkan bayi perempuan dan sempat tenggelam di dalam air.” imbuh Aiptu Edy.

Karena ketakutan, RDH pun meletakkan bayinya di lantai surau dengan hanya beralaskan keset. Lalu dia pergi dengan harapan bayinya menangis dan ditemukan oleh orang lain. Dengan begitu, RDH ingin melepas tanggung jawab untuk merawat anaknya tersebut.

“Dari pengakuan RDH juga, selama ini kedua orang tuanya tak mengetahui jika dirinya hamil,” kata Edy.

Dan bapak RDH tersebut adalah Ansori, ketua RT yang pertama kali menemukan bayinya.

Kanit Reskrim menambahkan, saat dimintai keterangan, Ansori bersikukuh mengaku tidak mengetahui jika anaknya mengandung.

Hal itu dibuktikan dengan hasil pemeriksaan terhadap RDH di puskesmas Paspan Glagah yang menyatakan bahwa ada kalanya seseorang tidak terlihat perutnya membesar saat dalam keadaan hamil, seperti yang dialami RDH.

Sementara itu, selama ini RDH berstatus sebagai janda dan tinggal bersama kedua orang tuanya di wilayah setempat dengan memiliki seorang anak dari hasil pernikahannya terdahulu.

“Kami juga terus melakukan pengembangan penyidikan untuk mengungkap identitas laki laki yang menghamili RDH,” tutur Aiptu Edy.

Sebagai barang bukti, kepolisian mengamankan 1 buah keset, 1 lembar kain, 1 sajadah yang digunakan membungkus bayi setelah ditemukan serta 1 buah baju daster milik RDH.

Sebelumnya, bayi perempuan berukuran panjang 48 cm dan berat 2,3 KG di temukan oleh Ketua RT setempat, Ansori dan istrinya, Masruroh tergeletak di lantai surau yang ada di pinggir sungai di kawasan Dusun Krajan RT 01 RW 01 Desa Kenjo Kecamatan Glagah, Minggu dini hari (18/8/2019) sekira pukul 00.30 WIB. Kini bayi tersebut masih mendapat perawatan intensif di RSUD Blambangan Banyuwangi. Berdasarkan dari berat badannya, di duga bayi tersebut lahir prematur.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian memastikan pengamanan pelantikan anggota DPRD Banyuwangi terpilih periode 2019-2024 berlangsung cukup ketat.

Dan guna memastikan prosedur pengamanan, aparat kepolisian dari Satuan Sabhara Polres Banyuwangi memasang beberapa alat manual maupun digital, Selasa (20/8/2019). Sementara pelantikan tersebut dilaksanakan pada Rabu (21/8/2019).

Kasat Sabhara Polres Banyuwangi AKP Basori Alwi mengatakan, kali ini pihaknya melakukan berbagai persiapan pengamanan dengan memasang peralatan tersebut yang berfungsi untuk mendeteksi para tamu undangan termasuk kolega kolega dari anggota dewan terpilih, sehingga dipastikan mereka masuk ke area gedung DPRD Banyuwangi dalam kondisi steril.

“Salah satu alat digital yang kami pasang adalah Security Dor yang bisa mendeteksi barang barang logam maupun bahan peledak atau bom berjarak hingga 5 meter, yang diduga membahayakan yang di bawa oleh pengunjung,” papar AKP Basori.

Namun menurutnya alat ini di setel secara efektif dengan jarak 2 hingga 3 meter. Ditambah dengan 5 ekor anjing pelacak, yang masing masing mempunyai keahlian mendeteksi bahan peledak maupun bidang unjung rasa yang dinilai bisa menganggu ketertiban umum.

“Jika ada barang yang di bawa pengunjung dinilai mencurigakan, baik senjata tajam maupun senjata api maka alat ini bisa langsung mendeteksinya,” kata Kasat Sabhara.

“Dan setelah terdeksi, di lanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan alat mirror dan metal detector,” tuturnya.

Sementara itu, untuk anggota Sabhara yang diturunkan dalam pengamanan ini mencapai 2 ribuan orang. Dan nantinya ditambah dengan personel dari kesatuan lain sebagai kekuatan penuh.

AKP Basori memaparkan, peralatan Security Dor tersebut di pasang di pintu masuk umum termasuk menggunakan mirror dan anjing pelacak. Juga di pasang di pintu masuk utama undangan serta di pintu masuk ruang pelantikan paripurna.

“Jika nantinya ada barang bawaan pengunjung yang terdeteksi dan dinilai membahayakan, maka mereka diwajibkan untuk menunjukkan guna memastikan tingkat berbahayanya,” papar AKP Basori.

Sementara itu, pelantikan ini dilakukan terhadap 50 anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi terpilih periode 2019-2024.

Dalam pelantikan tersebut, secretariat DPRD menyebar hampir seribu undangan yang ditujukan kepada Forpimda, KPU, Bawaslu, pimpinan instansi vertical, jajaran SKPD, Camat, Kepala Desa, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Pimpinan Partai Politik dan Media Massa.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian memeriksa 2 orang saksi serta seorang perempuan yang diduga orang tua dari bayi yang ditemukan di kawasan Desa Kenjo Kecamatan Glagah Banyuwangi.

Senin (19/8/2019), penyidik Polsek Glagah memanggil Ansori, selaku ketua RT dari lokasi penemuan bayi juga Sekretaris Desa Kenjo, Untung untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Selain itu, tampak pula seorang perempuan berperawakan kecil juga memenuhi panggilan kepolisian.

Dia adalah RDH (27), yang di duga ibu kandung dari bayi perempuan yang di temukan tergeletak di lantai surau tidak jauh dari aliran sungai, yang ada di Dusun Krajan RT 01 RW 01 Desa Kenjo Kecamatan Glagah.

Meski demikian, Kapolsek Glagah AKP Imron mengaku masih melakukan pengembangan penyidikan terhadap kasus ini dengan memintai keterangan 2 orang saksi, yang disebut sebut pertama kali mengetahui dan menemukan bayi tersebut.

“Sekaligus mengumpulkan beberapa barang bukti pendukung,” ungkap AKP Imron.

“Dari keterangan para saksi itulah nantinya akan berkembang dengan sendirinya untuk bisa mengungkap identitas orang tua si bayi,” tuturnya.

Diakui Kapolsek, ada beberapa nama yang sudah dikantongi kepolisian untuk segera dilakukan pemeriksaan termasuk RDH, guna memperkuat pelaku sebenarnya.

Dan Kapolsek membantah jika RDH adalah ibu kandung si bayi karena masih di butuhkan pengembangan penyidikan lebih lanjut.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Glagah, Aiptu S Edy menjelaskan, dari hasil keterangan beberapa orang saksi yang dipanggil, dinilai mulai terkuak siapa ibu kandung dari bayi malang yang ditemukan tergeletak di lantai surau tersebut, setelah sebelumnya mereka berusaha untuk menutupinya.

“Dari pengakuan RDH, awalnya sekira pukul 22.00 WIB di Sabtu malam (17/8/2019), dirinya mengeluh perutnya sakit kepada ibunya dan ingin kencing,” kata Edy.

Setelah kencing di depan rumahnya, RDH kembali ke kamarnya namun justru perutnya terasa semakin sakit. Hingga akhirnya dia pergi ke sungai untuk berniat buang air besar.

“Ternyata, justru dia melahirkan seorang bayi perempuan. Lalu RDH membawa bayinya ke surau yang tidak jauh dari sungai untuk diletakkan,” papar Edy.

Selanjutnya dia mencari orang tuanya untuk memberitahukan hal ini. Namun rupanya, ketua RT setempat menemukan bayi tersebut terlebih dahulu selang beberapa jam hingga akhirnya dilaporkan ke perangkat desa dan kepolisian, pada Minggu dini hari (18/8/2019) sekira pukul 00.30 WIB.

Aiptu Edy menambahkan, disaat banyak warga berkerumun di lokasi penemuan bayi, RDH justru ada disitu seakan akan tidak terjadi apa apa.

“Dia sengaja tidak mengatakan kepada siapapun jika itu adalah bayinya karena takut orang tuanya marah,” tutur Aiptu Edy.

Sementara RDH yang selama ini berstatus sebagai janda tersebut, ada hubungan kekerabatan dengan ketua RT setempat.

Hingga kini, bayi perempuan tersebut masih berada di RSUD Blambangan Banyuwangi guna mendapat perawatan intensif. Dihadapan kepolisian, RDH mengakui semua perbuatannya.

Namun kepolisian tetap bersikukuh proses hukum tetap jalan terus dan belum menetapkan tersangka dalam kasus ini.

Atas semua perbuatannya, terduga pelaku pembuangan bayi terancam UU perlindungan anak dan pasal 305 KUHP tentang menelantarkan anak yang mestinya harus dilindungi, dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

 

More Articles ...