radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang pemuda warga Desa Sumberarum Kecamatan Songgon Banyuwangi di temukan meninggal dunia di tengah sawah dengan kondisi yang sangat mengenaskan, di duga akibat di bunuh.

Awalnya, saat pertama kali di temukan warga, korban dalam posisi tengkurap dan sudah mengeluarkan bau tidak sedap serta tanpa identitas.

Namun setelah di lihat ciri ciri tubuh dan pakaian yang di kenakannya, korban di ketahui bernama Andri Kuntoro (19) yang selama ini tercatat sebagai warga Dusun Krajan Desa Sumberarum.

Kontan saja, masyarakat setempat pun geger dengan penemuan jenazah korban di areal persawahan di kawasan Dusun Watu Godok Desa Sragi Kecamatan Songgon tersebut. Selanjutnya, puluhan warga mengevakuasi jenazah korban untuk di bawa ke Puskesmas Songgon.

Kepala Desa Sumberarum, Ali Nurfatoni mengatakan, dari keterangan keluarganya, korban tidak pulang ke rumahnya sejak selasa malam (18/6/2019) karena saat itu dia berpamitan untuk menonton janger di rumah warga yang sedang menggelar hajatan.

“Lokasi janger itu berada di pinggir jalan, tidak jauh dari lokasi penemuan jenazah korban,” ujar Toni.

Dia menjelaskan, pada Rabu pagi (19/6/2019), warga menemukan sepeda motor Honda Beat milik korban terparkir di pinggir jalan sedangkan si pemiliknya tidak berada di tempat.

“Lalu, sepeda motor itu di serahkan kepada keluarga korban yang di lanjutkan dengan pencarian terhadap korban tapi tidak membuahkan hasil,” kata Toni.

Hingga akhirnya, pada kamis pagi (20/6/2019), masyarakat Desa Sragi di gegerkan dengan penemuan jenazah korban dengan kondisi perutnya sudah rusak dan sebagian isinya semburat keluar. Serta pada sekujur tubuh korban menghitam di duga akibat di bakar. Bahkan, wajah korban juga sudah sulit di kenali karena terdapat luka bekas hantaman benda tumpul.

“Yang memperkuat keluarganya bahwa korban adalah Andri Kuntoro yakni melihat celana jeans dan jamper yang dikenakan korban, serta sepeda motor yang di amankan warga itu,” papar Toni.

Korban merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara. 2 orang kakaknya bekerja di Bali, sedangkan adiknya tinggal bersama orang tuanya di Desa Sumberarum Kecamatan Songgon.

Untuk korban sendiri hidup bersama kakak sepupunya, Samsul Arifin dan selama ini dia bekerja sebagai kuli bangunan di Bali. Saat kejadian, korban masih berada di rumahnya untuk mudik lebaran.

“Sebelumnya saya dapat info bahwa di lokasi pertunjukan janger terjadi tawuran antar pemuda dan korban mengalami luka luka,” kata Samsul.

“Tapi sampai menjelang pagi, korban tidak pulang kerumah lalu saya mencari hingga ke pelosok desa dan area perkebunan tapi tidak membuahkan hasil,” papar Samsul.

Selanjutnya kata Samsul, pada Kamis pagi itulah dirinya mendapat kabar bahwa ada penemuan mayat laki laki tak di kenal di areal persawahan di Desa Sragi. Dan setelah melihat ciri ciri baju yang di pakai korban, Samsul pun mengakui bahwa itu adalah adiknya yang sebelumnya dikabarkan terlibat tawuran.

Hingga kini, kepolisian Polsek Songgon terus melakukan pengembangan kasus tersebut untuk bisa mengungkap pelakunya yang di duga lebih dari satu orang.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Polres Banyuwangi mendeklarasikan cinta damai dan anti kerusuhan pasca Pemilihan Umum (Pemilu), dengan melakukan penanda tanganan dari sejumlah elemen masyarakat yang dilanjutkan berolah raga bersama.

Kegiatan ini di gelar di lapangan Taman Blambangan, Minggu (16/6/2019) yang di pimpin langsung oleh Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi beserta jajaran forum pimpinan daerah dan para ketua Partai Politik juga sejumlah elemen masyarakat lainnya.

“Deklarasi anti kerusuhan dalam rangka Jawa Tmur bersatu menuju Indonesia damai ini, merupakan tagline yang di gulirkan oleh Kapolda Jawa Timur untuk dilaksanakan serentak di seluruh Kabupetan dan kota yang di kemas dalam kegiatan bersama dengan melibatkan seluruh masyarakat di Banyuwangi,” papar Kapolres.

“Kami mengajak masyarakat untuk menjaga kabupaten Banyuwangi dari segala hal yang bisa memecah belah lingkungan,” imbuhnya.

Sehingga dengan kegiatan ini diharapkan seluruh peserta bisa bergembira dan sebagai pendinginan setelah di sibukkan dengan berbagai kegiatan selama Pilpres dan Pileg lalu.

“Kegiatan ini adalah dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat,” imbuh Kapolres.

Kapolres menjelaskan, dengan deklarasi damai dan menolak berbagai bentuk kerusuhan ini merupakan suatu kegiatan antisipasi agar di Banyuwangi tidak terjadi peristiwa seperti di Jakarta maupun di beberapa daerah lainnya.

“Kepolisian mempunyai prinsip yang sama untuk menciptakan situasi damai di seluruh Indonesia khususnya Jawa Timur,” ungkap Kapolres.

Dia menambahkan, dari evaluasi yang ada, selama Pilpres dan Pileg lalu ada dinamika yang terjadi di beberapa daerah termasuk di Banyuwangi.

“Secara umum, kondisi Banyuwangi aman dan kondusif serta tidak ada peristiwa yang cukup menonjol,” pungkas Kapolres.

Sementara itu, kegiatan ini di meriahkan dengan bagi bagi dorprize dan hadiah utama berupa sepeda motor.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dipenghujung masa angkutan arus balik Lebaran 2019, tercatat masih 40 persen kendaraan roda 2 pemudik yang belum kembali ke pulau Bali dari Jawa, sedangkan kendaraan roda 4 berbagai jenis tersisa 20 persen.

Dari data posko ASDP, sejak H+1 hingga H+7, Kamis (13/6/2019), sekitar 48.567 unit sepeda motor yang sudah kembali dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk Bali. Sedangkan selama masa arus mudik, tercatat kendaraan roda 2 yang menyeberang dari Bali ke Jawa mencapai 85.472 unit atau masih tersisa 36.905 unit yang belum kembali.

Sementara kendaraan roda 4 berbagai jenis tercatat ada 47.737 unit yang telah masuk ke Jawa. Dan hingga H+7 lebaran, sudah 38.510 unit yang kembali menyeberang ke Bali, atau tersisa 9.227 unit yang masih berada di kawasan Pulau Jawa.

Selain itu, untuk penumpang pejalan kaki selama arus mudik yang menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk bali ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi mencapai 428.027 orang. Dan hingga H+7 ini, yang sudah kembali ke pulau dewata sebanyak 311.224 orang, tersisa 116.803 orang atau sekitar 25 persen masih di Jawa.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Ketapang-Gilimanuk, Fahmi Alweni mengatakan, dari prediksi ASDP sebelumnya, para pemudik terangkut seluruhnya kembali ke Pelabuhan Gilimanuk pada H+7 hingga dini hari.

“Tidak menutup kemungkinan, masa angkutan Lebaran 2019 ini akan tuntas pada H+9 dan H+10 atau Sabtu dan Minggu (15-16/6/2019), karena dari beberapa prosentase pemudik yang tersisa itu di prediksi tidak bisa terselesaikan di H+7,” papar Fahmi.

Sementara itu, dari data yang ada pula, titik puncak arus mudik lebaran 2019 di lintas Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang terjadi pada H-3 yakni penumpang pejalan kaki mencapai 77.217 orang, Kendaraan roda 2 sebanyak 16.090 unit dan Kendaraan roda 4 mencapai 8.434 unit.

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Hingga memasuki H+6 Lebaran, masih ada 45 persen atau sekitar 47 ribuan kendaraan roda 2 pemudik yang belum kembali ke pulau dewata bali dari arah Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Dari data posko ASDP, pada masa arus mudik lalu tercatat 85.472 unit kendaraan sepeda motor pemudik yang menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk Bali ke Pelabuhan Ketapang.

Sementara hingga di H+6, Rabu (12/6/2019), sudah ada 38.825 unit sepeda motor yang kembali ke pulau Bali dari Jawa.

Untuk pemudik pejalan kaki yang di seberangkan dari Pelabuhan Gilimanuk Bali sebanyak 428.027 orang, dan pada H+6 ini yang sudah kembali baru 254.090 orang atau sekitar 60 persen sehingga masih tersisa 40 persen yang masih ada di Pulau Jawa.

Sedangkan untuk kendaraan roda 4 berbagai jenis tercatat 47.737 unit yang menyeberang dari Bali ke Jawa pada masa arus mudik. Dan hingga saat ini sudah 31.856 unit yang menyeberang atau masih tersisa 20 persen yang belum kembali ke pulau Bali.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Ketapang-Gilimanuk, Fahmi Alweni memprediksikan, puncak arus balik Lebaran 2019 ini akan terjadi pada H+6 dan H+7 karena di daerah pulau jawa ada tradisi lebaran ketupat yang di gelar pada 7 hari setelah Idul Fitri.

“Selain itu, untuk masyarakat yang bekerja di sector non formal di Bali, baru aktif bekerja pada Senin (17/6/2019) atau pada H+11 Lebaran,” ujar Fahmi.

Meski demikian kata Fahmi, disetiap hari pihaknya tetap mengoperasikan 32 armada kapal dari 56 unit yang disiapkan, dengan 7 dermaga yang siagakan.

“Jika kondisi di pelabuhan sangat padat, maka 24 unit armada kapal cadangan tersebut akan di operasikan secara bergantian,” kata ungkap Fahmi.

Sementara dari pantauan di lapangan, hingga H+6 malam, kendaraan bermotor berbagai jenis terus mengalir di Pelabuhan Ketapang menunggu antrian untuk di seberangkan ke Pelabuhan Gilimanuk Bali.

Dari data yang ada pula, titik puncak arus mudik lebaran 2019 di lintas Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang terjadi pada H-3 yakni penumpang pejalan kaki mencapai 77.217 orang, Kendaraan roda 2 sebanyak 16.090 unit dan Kendaraan roda 4 mencapai 8.434 unit.

 

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Masyarakat Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri Banyuwangi menggelar ritual adat Puter Kayun, sebagai napak tilas untuk menghargai jasa para leluhur, yang telah berhasil membuka jalan dari wilayah setempat ke kawasan Pantai Watu Dodol.

Kegiatan ini di laksanakan setiap tahun pada tanggal 10 Syawal atau hari ke sepuluh Lebaran.

Dan di tahun 2019 ini, digelar tepat pada Jum’at (14/6). Dimana, belasan dokar yang sudah di hias berjalan beriringan dari area Kelurahan Boyolangu menuju ke Pantai Watu Dodol.

Kegiatan ini di buka oleh unsur Muspika Kecamatan Giri bersama tokoh budaya setempat, yang selanjutnya mereka naik dokar hias tersebut untuk mengikuti tradisi Puter Kayun.

Tampak di barisan depan, dokar hias yang di naiki oleh Kapolsek Giri Iptu Suryono Bhakti bersama istri, di susul para pejabat Muspika lainnya.

Ketua Panitia, Tuti mengatakan, tradisi ini terus digelar sebagai napak tilas jejak Ki Buyut Jakso, leluhur warga Boyolangu yang di percaya sebagai orang yang pertama kali membangun jalan di kawasan Watudodol.

“Saat buka jalan itu, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena di bagian utara ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar,” ujar Tuti.

Lalu Ki Buyut Jakso bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang kini menjadi Boyolangu.

“Atas kesaktiannya itulah, akhirnya Ki Buyut Jakso berhasil membuka jalan sehingga wilayah tersebut di beri nama Watu Dodol, yang artinya watu di dodol atau dibongkar,” papar Tuti.

Sejak itulah kata Tuti, Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya harus berkunjung ke Pantai Watu Dodol untuk melakukan napak tilas tentang apa yang telah di lakukannya.

“Karena saat itu hampir sebagian besar masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka pun mengendarai dokar untuk napak tilasnya yang hingga kini masih terus dilestarikan,” pungkas Tuti.

Sesampainya di Watu Dodol, ratusan warga Kelurahan Boyolangu yang mengikuti tradisi ini, menggelar selamatan dengan bekal yang sudah mereka bawa dari rumah.

Lalu menaburkan bunga berbagai rupa ke laut untuk menghormati para pendahulu mereka yang meninggal dunia saat pembukaan jalan.

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Terjadi kecelakaan di jalan Nasional di kawasan Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi antara Kendaraan Pick Up dengan Truck Box, yang mengakibatkan salah satu sopir meninggal dunia di TKP.

Tepatnya terjadi di jalan raya Banyuwangi-Situbondo, depan kantor Kecamatan Wongsorejo, pada Rabu dini hari (12/6/2019) sekira pukul 02.00 WIB.

Dari hasil olah TKP sementara kepolisian, kendaraan Truck Box bernopol S 8068 UZ yang di kemudikan Suwandi (36) warga Dusun Ngumpul RT 03 RW 03 Desa Ngumpul Kecamatan Jogorot Kabupaten Jombang, melaju dari selatan ke utara atau dari arah Bali hendak menuju ke Jombang, dengan kendaraan dalam kondisi kosong tanpa muatan.

Kanit Laka Polres Banyuwangi Iptu Ardi Bhita Kumala mengatakan, bersamaan dengan itu, dari arah berlawanan utara ke selatan melaju kendaraan Pick Up bernopol P 9357 ZQ yang di kemudikan oleh Samawi (28) warga Dusun Krajan RT 19 RW 02 Desa Alasbuluh Kecamatan Wongsorejo dengan kecepatan sedang.

“Sesampainya di TKP, tiba tiba kendaraan Pick Up itu oleng ke kanan di duga si sopir mengantuk sehingga berada di jalur kendaraan Truck Box,” ujar Iptu Ardi.

Kanit Laka mengaku, karena jarak yang sudah dekat dan kedua pengemudi tidak bisa menghindar, maka terjadilah kecelakaan lalu lintas tersebut hingga kendaraan Pick Up terguling, di duga akibat kecepatan Truck Box cukup kencang.

Dalam peristiwa ini, sopir Pick Up, Samawi meninggal dunia di lokasi dengan mengalami beberapa luka cukup parah pada tubuhnya. Sementara kedua kendaraan tersebut mengalami kerusakan pada bagian depan sebelah kanan.

“Kami masih terus mendalami kasus ini dengan memintai keterangan sejumlah saksi mata yang melihat kejadian itu, sekaligus mengumpulkan bukti bukti sebagai penguat,” papar Kanit Laka.

Pasalnya, dari olah TKP kepolisian, di dapati kendaraan Truck Box terlalu mengambil jarak ke tengah sehingga memakan jalur dari kendaraan Pick Up.

Setelah berhasil di evakuasi, kedua kendaraan tersebut di amankan di bagian unit Laka Satlantas Polres Banyuwangi.

Sementara, untuk sopir Truck Box juga dimintai keterangan guna mengungkap penyebab terjadinya kecelakaan maut itu.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Meskipun arus kendaraan bermotor pada arus balik Lebaran di Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi terus meningkat, namun hingga H+3 di hari Minggu (9/6/2019) masih 30 persen pemudik yang kembali ke pulau Bali dari Jawa.

Sisanya, 70 persen pemudik diprediksi akan kembali ke perantauan setelah lebaran ketupat, atau hari raya 7 hari.

Data yang dihimpun oleh PT ASDP Indonesia Ferry Ketapang Banyuwangi, sejak H+1 hingga H+3 Lebaran 2019, jumlah penumpang pejalan kaki  yang sudah menyebrang ke Bali sekitar 126 ribu orang. Jika diprosentase baru sekitar 29,54 persen dibandingkan total pemudik saat arus mudik yang berkisar 428.019 orang yang menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk bali ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Untuk kendaraan roda dua baru sekitar 19.276 unit yang menyebrang ke Bali atau 22,55 persen dari total pemudik 85.472 unit. Sementara untuk kendaraan roda empat, masih berkisar 25,47 persen atau 12.157 unit kendaraan yang menyeberang, dari 47.737 unit kendaraan yang melakukan mudik.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Ketapang-Gilimanuk, Fahmi Alweni memprediksi, arus balik lebaran 2019 di Pelabuhan ASDP Ketapang bakal lebih panjang.

Sesuai dengan adat dan tradisi, pemudik masih menunggu lebaran ketupat yang digelar pada hari ke tujuh lebaran,” ungkap Fahmi.

“Diprediksi, puncak arus balik akan terjadi pada H+6 dan H+7,” pungkasnya.

Sementara itu, hingga H+3 di malam hari suasana pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi masih terpantau ramai lancar. Para pemudik yang akan kembali merantau ke Bali langsung bisa masuk ke areal pelabuhan setelah membeli tiket dan mengisi data manifes.

Selanjutnya, pemudik bisa langsung menunggu di areal parkir, sebelum masuk ke dalam kapal.  

PT ASDP menyediakan 32 kapal dari 56 kapal yang beroperasi di lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

 

More Articles ...