radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang pedagang hewan meninggal dunia tertabrak kereta api diperlintasan tidak berpalang pintu di kawasan Dusun Lugjag Desa Lemahbang Dewo Kecamatan Rogojampi Banyuwangi, Minggu pagi (28/04/2019).

Tepatnya di KM 71+0, yang selama ini memang tidak ada palang pintu. Sedangkan di wilayah setempat menjadi perlintasan lalu lintas kendaraan bermotor.

Korban yang diketahui bernama Nurrohim (44) mengendarai sepeda motor GL Max bernopol P 4590 ZS melaju dari arah selatan ke utara. Diduga karena terburu, laki laki asal Dusun Cendono RT 02 RW 04 Desa Kembiritan Kecamatan Genteng tersebut, melajukan sepeda motornya menyeberang rel tanpa memperdulikan adanya kereta api yang melaju dari barat ke timur, atau dari arah Jember ke Banyuwangi.

Kanit Laka Polsek Rogojampi, Ipda Wijayanto saat di TKP mengatakan, saat menyeberang rel itulah, sepeda motor yang di tumpangi korban tersenggol kereta api hingga tubuh korban terlempar 20 meter dan tersungkur ke area persawahan.

“Di duga terlempar cukup jauh, menyebabkan kaki kiri korban mengalami patah tulang dan luka pada lehernya yang cukup parah hingga korban meninggal dunia di lokasi,” ujar Ipda Wijayanto.

“Lalu di lakukan upaya evakuasi terhadap jenazah korban kemudian di larikan ke kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi,” tuturnya.

Sementara itu, menurut keterangan salah satu tokoh masyarakat setempat, Sutoyo, selama ini korban berprofesi sebagai penjual hewan berkeliling daerah.

“Pagi itu, korban hendak menjual hewan sapinya di pasaran Kecamatan Wongsorejo,” kata Sutoyo.

“Seluruh sapi sudah diangkut truck, sedangkan korban sendiri mengendarai sepeda motor,” imbuhnya.

Sutoyo mengatakan, diduga korban terburu ke pasaran sapi Wongsorejo sehingga melajukan sepeda motornya dengan cepat.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Perhelatan balap sepeda Banyuwangi Women's Cycling Challenge 2019 yang digelar dalam rangka peringatan Hari Kartini, berhasil di menangkan Chika Rezza, pebalap dari Puslatda Jawa Timur, yang sekaligus dinobatkan sebagai 'Kartini Gowes'.

Perempuan kelahiran Malang, 21 Desember 2000 tersebut berhasil menjadi pemenang setelah menaklukkan rute sejauh 70,9 KM dengan catatan waktu 36 menit 14 detik.

Dia langsung memimpin pada kilometer pertama sesaat setelah dilepas dari depan Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Chika terus memacu pedalnya hingga memasuki garis finish pertama di rest area Jambu, Kecamatan Licin Banyuwangi.

“Rute paling berat adalah beberapa kilometer menjelang finish. Selain tanjakan, tenaga saya juga lumayan terkuras,” kata Chika.

Terjun di kelas Women Elite pada Challenge Ride, Chika berhasil menyingkirkan 32 pebalap lainnya di kelas yang sama. Ia mendahului Nurul Izza dari Malang dan Puspa Wardani dari Solo. Keduanya finish di urutan kedua dan ketiga.

Chika berhasil keluar juara meski baru pertama kalinya menjajal rute di seputar lereng Ijen tersebut.

Gadis yang sejak usia 3 tahun menggeluti olahraga balap sepeda itu, mengaku banyak berlatih di Kota Malang.

“Meski belum pernah menjajal trek ini, tapi saya termotivasi untuk jadi juara di rumah sendiri,” tutur Chika.

Kebetulan orang tua dia berasal dari Desa Sumberberas Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

“Event ini juga sebagai persiapan saya untuk mengikuti PON mendatang,” pungkasnya.

Banyuwangi Women's Cycling Challenge ini diikuti oleh ratusan pesepeda dari berbagai kota di Indonesia. Mereka terbagi dalam tiga kelas, Challenge Ride, Fun Ride dan Kebaya Ride.

Dan awarding penyerahan hadiah kepada para pemenang kategori Challenge Ride di gelar di Taman Terakota Ijen Kecamatan Licin Banyuwangi, Sabtu (27/4), yang di dalamnya terdapat ratusan patung penari Gandrung.

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ratusan Pesepeda perempuan mengikuti kompetisi balap sepeda Women Cycling Challenge, Sabtu (27/4/2019) yang di buka langsung oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Kompetisi ini mengambil start di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, yang di meriahkan dengan hadirnya para perempuan berkebaya yang ikut bersepeda meramaikan acara.

Dilepas Bupati Anas di Pendopo Banyuwangi, para pesepeda perempuan dari berbagai kota di Indonesia siap berkompetisi menyusuri jalanan mendaki menuju Taman Gandrung Terakota Kecamatan Licin yang berada di lereng Gunung Ijen. 

“Pemerintah daerah ingin menggandeng komunitas balap sepeda perempuan di Indonesia,” ujar Bupati Anas.

“Kebetulan masih dalam rangkaian peringatan Hari Kartini, kami juga mengajak perempuan untuk bersepeda menggunakan kebaya. Banyuwangi ingin menunjukkan kalau perempuan itu kuat dan tangguh juga memiliki jiwa sportivitas,” paparnya.

Kompetisi balap sepeda perempuan di Banyuwangi ini diikuti para peseda dari berbagai kota di Indonesia. Mereka yang kebanyakan tergabung dari komunitas pecinta sepeda ini, datang dari Jayapura, Garut, Jember, Denpasar, Bondowoso, Jombang, Jakarta, Klaten, Kulon Progo, Madiun, Malang, Sentani, Surabaya, Tangerang, Solo, Cilegon dan Jogjakarta.

Bupati Anas menambahkan bahwa kompetisi ini dirancang sebagai event sporttourism. Peserta selain diajak berolahraga sepeda, mereka juga bisa menikmati keindahan lansekap Banyuwangi. Menempuh jarak sejauh 70,9 KM, mereka menyusuri wilayah perkotaan hingga menikmati hawa sejuk dan segar pegunungan lereng Kawah Ijen.

“Kegiatan ini merupakan salah satu even sporttourism daerah, makanya dipilih Pendopo dan Taman Gandrung Terakota sebagai lokasi start dan finish. Untuk sekaligus mempromosikan salah satu destinasi wisata arsitektur daerah yang unik,” ungkap Bupati Anas.

Pendopo Sabha Swagata merupakan rumah dinas Bupati Banyuwangi yang menyimpan kisah sejarah yang panjang. Di sini ada sumur Sritanjung yang terkait dengan legenda berdirinya Banyuwangi. Pendopo sendiri memiliki desain arsitektur dengan dilengkapi bunker guesthouse berkonsep green building. Di kawasan tersebut juga terdapat mushola, rancangan arsitek Andra Matin. 

Sedangkan Taman Gandrung Terakota merupakan taman yang berisi ratusan patung Gandrung yang dibangun di lahan persawahan Terasering di Kaki Gunung Ijen. Di tengah hamparan tersebut ditemukan amfiteater terbuka untuk pentas sendratari Gandrung setiap bulan. 

Bupati Anas menjelaskan, event ini menggabungkan antara seni budaya dengan sport yang menjadi symbol kekuatan para perempuan hebat. Karena diakui, biasanya perayaan Hari Kartini identik dengan kebaya dan sanggul sebagai symbol wanita Indonesia.

“Tapi saat ini mulai muncul banyak komunitas perempuan hingga adanya atlet perempuan yang menjadi juara dunia,” tuturnya.

Mendapati kondisi inilah kata Bupati Anas, pihaknya menggabungkan Sporttourism dengan perayaan Hari Kartini guna memberikan tempat khusus pada para wanita hebat, sebagai pemain utama melalui event Women Cycling Challenge.

“Kami targetkan, destinasi wisata Banyuwangi akan semakin banyak dikenal dan lewat even ini bisa mengundang semakin banyak orang untuk datang dan berwisata ke Banyuwangi,” Pungkas Bupati Anas.

Ajang ini melombakan dua kategori, Fun Ride dan Challenge Ride. Ditambah satu kategori khusus Fun Bike, Kebaya Ride.

Untuk para peserta kategori Fun Ride dan Challenge Ride memulai start dari Pendopo Sabha Swagata Banyuwangi dan finish di Taman Gandrung Terakota, Kecamatan Licin sejauh 70,9 KM. Sedangkan Kebaya Ride dan Fun Bike hanya memutari kawasan kota Banyuwangi sejauh 2,4 KM.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Rumah seorang warga di Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi hangus terbakar tanpa sisa, saat ditinggal menonton hiburan kesenian ludruk oleh pemiliknya. Tepatnya berada di kawasan Dusun Maelang RT 04 RW 03 Desa Watukebo.

Sebelumnya pada Kamis malam (25/4/2019) sekira pukul 20.00 WIB, pemilik rumah Saswito (33) bersama istri, anak dan ibu mertuanya pergi menonton kesenian Ludruk sekitar 1 KM dari rumahnya. Saat itu pintu rumah dalam kondisi terkunci.

Dan pada Jum’at dini hari (26/4/2019) sekira pukul 01.00 WIB tetangga korban, Syafi’i dan Syafiratus Zahro melihat adanya kobaran api dari arah rumah korban yang semakin lama semakin membesar.

Selanjutnya, mereka menuju ke lokasi hiburan ludruk tersebut untuk memberitahu korban bahwa rumahnya terbakar.

Kontan saja, api yang cukup besar tersebut menghanguskan seluruh bagian rumah korban yang terbuat dari kayu dan anyaman bamboo tersebut, beserta isi didalamnya. Mendapati kondisi ini, korban pun melapor ke pihak kepolisian guna meminta perlindungan hukum.

Kapolsek Wongsorejo Banyuwangi, AKP Kusmin mengatakan, luas rumah korban sekitar 6x9 meter yang berada di area kebun, berjarak kurang lebih 100 meter dengan rumah tetangga lainnya.

“Dari hasil penyelidikan kepolisian, di duga kebakaran ini di akibatkan karena konsleting listrik,” ujar Kapolsek.

“Karena selama ini korban menggunakan gas elpiji dan bahan bakar kayu untuk memasak,” imbuhnya.

Sedangkan saat kejadian, sudah dua hari mereka tidak menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Sementara gas elpijinya sendiri sudah hampir habis.

Kapolsek menjelaskan, dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa, hanya kerugian materiil yang di derita korban mencapai Rp 40.000.000.

“Karena beberapa barang berharganya juga ikut terbakar, diantaranya 1 unit sepeda motor beserta BPKB nya, sound system dan lainnya,” kata Kapolsek.

Dia menambahkan, pasca kejadian, aparat kepolisian melakukan olah TKP serta mencari keterangan saksi dan mengumpulkan beberapa barang bukti sebagai penguat.

Sementara itu, korban sendiri belum bisa memastikan kapan bisa memperbaiki rumahnya yang sudah ludes terbakar tersebut. Dan direncanakan, mereka akan menginap di rumah saudaranya untuk sementara waktu.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Yuni Susanti, anggota Dharma Wanita Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Penataan Ruang Banyuwangi menjadi pemenang kostum terbaik pada event Women Cycling Challenge kategori Kebaya Ride.

Lomba Balap Sepeda ini melombakan dua kategori, Fun Ride dan Challenge Ride. Ditambah satu kategori khusus fun bike, Kebaya Ride. Untuk Kebaya Ride start dan finish digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi. 

Dalam ajang ini juga diberikan hadiah bagi pesepeda yang memiliki kostum yang unik dan menarik. Ada 3 orang yang menyabet juara dalam ajang ini. Salah satunya adalah Yuni Susanti. Meski berbadan gemuk, namun dia berusaha maksimal untuk menggayuh sepedanya lengkap dengan kebaya dan jarit. 

“Saya ikuti event ini sebagai bentuk kesadaran berolahraga,” ujarnya.

“Biasanya ada komunitas yang hanya menentukan body goal tertentu. Tapi lewat event ini semua perempuan diberi kesempatan sama untuk ikut bersepeda, termasuk saya yang berpostur besar,” kata Yuni.

Dia mengaku tidak memiliki persiapan khusus untuk menyiapkan kostumnya, karena memakai yang sudah ada.

“Saya harap agar event semacam ini digelar rutin setiap tahun karena bisa mengingatkan dirinya untuk rajin berolahraga,” ungkap Yuni.

Sementara itu, Ketua Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) Banyuwangi, Dhani Azwar Anas mengatakan, ajang ini sengaja diciptakan untuk para wanita yang bertujuan untuk menyadarkan perempuan mengenai pentingnya berolahraga. 

“Dengan konsep kebaya, ini menunjukkan ciri khas wanita Indonesia, yang selalu menjunjung tinggi kesopanan dan etika, sesuai dengan perjuangan dan figur dari RA Kartini,” tutur Dhani.

Menurutnya, tentu ini menjadi momentum mengajak wanita berolahraga dan juga demi kesehatan keluarga.

“Dengan bersepeda menggunakan berkebaya, dinilai sebagai simbol wanita Indonesia tangguh memegang teguh etika dan perjuangan yang ditinggalkan oleh RA Kartini,” ujar Dhani.

Event Women Cycling Challenge ini digelar sebagai bagian rangkaian peringatan Hari Kartini. Dilepas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi, mereka berkeliling sepanjang 2,4 kilometer, Sabtu (27/4/2019). 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Rumah milik keluarga Daimon di kawasan Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi kota ludes terbakar. Bahkan, hampir seluruh perabotan di dalam rumah hangus di lalap si jago merah. Yaitu 2 unit sepeda motor, 2 sepeda gayuh, 3 Televisi, 2 lemari es, 4 kipas angin, 1 laptop, 1 mesin cuci, 1 kamera digital, 6 tempat tidur dan 1 set kursi.

Beberapa surat penting pun ikut terbakar hingga tinggal separuh bagian. Seperti ijasah anak anak korban juga tumpukan uang senilai Rp 800.000. Yang berhasil terselamatkan, hanya beberapa buah perhiasan emas jenis kalung dan gelang.

Kasiatun, istri dari Daimon mengatakan, sebelum terjadi kebakaran, seperti biasanya suaminya tersebut mengisi bensin ke dalam botol yang sudah di tata rapi di lantai pada Jum’at pagi (26/4/2019) sekira pukul 06.30 WIB.

Dalam kesehariannya, laki laki berusia 71 tahun itu membuka kios bensin di ruang tamu rumahnya.

“Padahal biasanya, suami saya mengisi bensin di halaman rumah,” kata Kasiatun.

Ketika sedang asyik memindahkan bensin ke dalam botol melalui selang kecil, tiba tiba salah satu botol roboh hingga bensin tumpah di lantai. Bersamaan dengan itu, muncul api cukup besar menyambar beberapa peralatan rumah tangga.

Perempuan berusia 66 tahun itu mengaku langsung memberikan pertolongan kepada suaminya, dengan melempar handuk basah ke arah api namun justru semakin membesar.

“Rambut saya pada bagian depan sampek ikut terbakar api,” tutur Kasiatun.

Pasangan suami istri itupun berlari keluar rumah sambil berteriak meminta tolong kepada warga. Namun naas, kobaran api semakin membesar menghanguskan seluruh isi di dalam rumah. Puluhan warga setempat pun bergotong royong ikut memadamkan api dengan peralatan seadanya.

Selang beberapa lama, 3 unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi. Dan api baru bisa di padamkan, setelah dilakukan pemadaman selama 2 jam lebih.

Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. Namun korban mengaku mengalami kerugian hingga Rp 150 juta.

Dari rentetan kejadian yang ada, di duga kebakaran tersebut diakibatkan karena cairan bensin mengenai bekas puntung rokok milik korban yang ada di sekitar lokasi. Kini, korban hanya bisa meratapi nasibnya untuk bisa mengembalikan kondisi rumahnya yang sudah hancur.

“Sementara saya dan suami akan menumpang menginap di rumah anak saya,” pungkas Kasiatun.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna mempermudah masyarakat di dalam pelayanan pajak tahunan Kendaraan Bermotor, Polda Jawa Timur menggulirkan kebijakan system pembayaran bisa melalui gerai pasar modern. Hal ini sebagai alternative bagi masyarakat di seluruh wilayah di Jawa Timur.

Wadirlantas Polda Jawa Timur, AKBP Muhammad Aldian mengatakan, setelah melakukan pembayaran nantinya ada bukti struk sebagai konfirmasi.

“Dari bukti pembayaran itu akan tertera link nya lalu di scan menggunakan handphone milik pewajib pajak,” ungkapnya.

Aldian menjelaskan, dari hasil scan tersebut akan keluar notice pajak dalam bentuk digital, yang nantinya bisa di cetak sendiri.

“Jika ada operasi kelengkapan surat surat kendaraan bermotor, masyarakat bisa menunjukkan bukti pembayaran pajak tahunan itu yang tertera di ponselnya kepada petugas kepolisian,” ujar Aldian.

“Itu dianggap syah dalam bentuk digital serta sebagai bukti otentik pembayaran pajak,” tuturnya.

Aldian mengaku, bagi masyarakat yang merasa kurang bisa mencetak langsung di Kantor Samsat terdekat. Pelayanan ini khusus pembayaran pajak tahunan dan bukan yang 5 tahunan.

“Meski demikian, setiap data yang masuk akan di verifikasi secara otomatis apakah masuk kategori yang sudah terlambat pembayarannya ataukah tidak,” kata Aldian.

“Jika sudah terlambat dan verifikasinya tidak memenuhi syarat, maka harus langsung ke Kantor Samsat dan tidak bisa di lakukan menggunakan aplikasi itu,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur, Boedi Prijo Soeprijatno menambahkan, ini adalah salah satu inovasi baru antara Bapenda dengan Dirlantas Polda Jawa Timur.

“Ini merupakan layanan pilihan dan layanan alternative yang masuk di gerai pasar modern itu yang tersebar di seluruh Indonesia, bukan hanya Jawa Timur,” ujar Boedi.

Sehingga kata Boedi, masyarakat yang kendaraannya ada di wilayah Jawa Timur, bisa membayar pajak di seluruh gerai pasar Modern tersebut meskipun di luar daerah.

“Nantinya, akan mendapatkan struk sebagai bukti pembayaran disertai dengan munculnya pemberitahuan pembayaran melalui sms di ponsel,” ungkap Boedi.

“Hanya dalam hitungan detik akan tercetak notice yang juga terdapat barcode yang di syahkan oleh Dirlantas,” pungkasnya.

 

 

More Articles ...