radiovisfm.com, Banyuwangi - Karena masih belum ada masyarakat yang mengakui bayi tanpa kaki dan tangan sebagai keluarganya, pihak RSUD Blambangan Banyuwangi memakamkan di pemakaman umum belakang rumah sakit, Rabu (12/9).

Namun upaya ini di lakukan atas persetujuan dari pihak kepolisian Polsek Tegaldlimo Banyuwangi, selaku penanggung jawab lokasi penemuan jenazah bayi malang tersebut.

Petugas kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi, Agus Wahyudi dibantu petugas yang lain, memakamkan jenazah bayi itu seperti layaknya jenazah pada umumnya. Mulai dari dimandikan, di bungkus kain kafan hingga di makamkan dengan cara muslim.

Upaya ini dilakukan oleh pihak rumah sakit karena berdasarkan peraturan yang ada, pemakaman jenazah bisa dilakukan setelah berada di kamar mayat selama kurang lebih 3 hari.

Kanit Reskrim Polsek Tegaldlimo Banyuwangi, Ipda Wignyo Asmoro mengatakan, sebagaimana perintah pimpinannya dalam hal ini Kapolsek Tegaldlimo, AKP Priyono bahwa pihaknya menindak lanjuti permintaan bantuan kepada rumah sakit untuk memakamkan jenazah bayi malang tersebut, karena hingga hari ketiga sejak ditemukannya mengapung di kolam lele pada Senin (10/9) belum juga ada pihak keluarga yang mengakuinya.

“Meski sudah di makamkan, namun jika diperlukan untuk proses penyelidikan maupun penyidikan lebih lanjut maka makam jenazah bayi tersebut bisa di bongkar kembali,” ujar Wignyo.

Pasca ditemukannya jenazah bayi laki laki tersebut sempat membuat geger masyarakat setempat, Senin (10/9). Pertama kali, jenazah bayi malang itu di temukan oleh seorang warga, Poniran mengambang di kolam ikan lele milik Selamet di kawasan Dusun Pondok Asem Desa Kedung Asri Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi, dengan posisi tengkurap.

Sementara, kedua tangan dan kakinya sudah tidak ada, tinggal badan dan kepalanya yang di duga sengaja di potong atau di mutilasi oleh pelaku untuk menghilangkan jejak, lalu di buang ke kolam lele. Agar masyarakat menduga, kedua kaki dan tangan si bayi hilang karena dimakan lele.

Selanjutnya, jenazah bayi malang tersebut di evakuasi ke kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian mulai menemukan titik terang kasus pembuangan jenazah bayi laki laki di kolam lele, dengan mengetahui identitas warga yang di duga sebagai pelaku.

Hal ini di sampaikan Kanit Reskrim Polsek Tegaldlimo Banyuwangi, Ipda Wignyo Asmoro saat meninjau hasil otopsi jenazah bayi malang tersebut di kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi, Rabu (12/9).

“Kami terus melakukan pengembangan penyidikan dengan memantau setiap pergerakan masyarakat disekitar TKP, utamanya para ibu hamil,” ungkap Wignyo.

Bahkan, penelusuran ini di lakukan kepolisian tidak hanya di kawasan lokasi penemuan jenazah bayi di dusun Pondok Asem, namun di perluas radiusnya hingga ke sejumlah dusun lain seperti di Kaliwatu, Persen termasuk Kutorejo dan Purworejo.

“Kepolisian melakukan pendataan terhadap warga yang sebelumnya diketahui hamil maupun yang saat ini tengah hamil,” ujar Wignyo.

Hasilnya kata Wignyo, kepolisian mencurigai adanya seorang warga yang di duga sebagai orang tua bayi maupun pelaku pembuangan bayi tak berdosa tersebut. Namun kepolisian masih tetap focus terhadap penyidikan, untuk bisa mengungkap pelaku dari kasus ini.

“Kami sudah memintai keterangan 6 orang saksi termasuk Poniran, warga yang pertama kali menemukan jenazah bayi di dalam kolam lele milik Selamet itu,”papar Wignyo.

Dia berharap, kasus ini bisa segera terungkap untuk mengetahui penyebab dan cara pelaku membunuh bayi itu.

“Meski telah dilakukan otopsi oleh tim medis RSUD Blambangan Banyuwangi, tapi masih belum bisa di jadikan acuan dari penyebab kematian si bayi,” papar Wignyo.

Sebelumnya, jenazah bayi laki laki tersebut pertama kali di temukan oleh seorang warga, Poniran mengambang di kolam ikan lele milik Selamet di kawasan Dusun Pondok Asem Desa Kedung Asri Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi, dengan posisi tengkurap, Senin (10/9).

Sementara kedua tangan dan kakinya sudah tidak ada, tinggal badan dan kepalanya yang di duga sengaja di potong atau di mutilasi oleh pelaku untuk menghilangkan jejak, lalu di buang ke kolam lele. Agar masyarakat menduga, kedua kaki dan tangan si bayi hilang karena dimakan lele.

Selanjutnya, jenazah bayi malang tersebut di evakuasi ke kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam peringatan 1 Muharram atau 1 Suro, masyarakat di Kelurahan Kampung Mandar Kecamatan Banyuwangi kota menggelar ritual Petik Laut, Selasa (11/9) sebagai wujud syukur terhadap laut yang selama satu tahun ini menjadi tempat mereka bekerja mencari ikan.

Puluhan perahu yang sudah di hias dan berisi berbagai macam sesaji melaju ke tengah laut. Sesaji tersebut diantaranya buah-buahan, bunga, kue sekaligus makanan beserta lauk pauknya.

Saat berada di tengah laut, masyarakat yang ikut di dalam perahu menggelar do’a bersama agar masyarakat nelayan Kampung Mandar selalu diberikan keselamatan dan terhindar dari segala mara bahaya saat melaut. Juga memohon agar diberikan rejeki ikan yang melimpah. Selanjutnya, beberapa sesaji yang sudah di siapkan tersebut di larung atau di lepaskan ke tengah laut.

Oleh sebab itulah, masyarakat setempat selalu menggelar ritual ini setiap satu tahun sekali karena merupakan warisan leluhur. Pasalnya, jika masyarakat Kampung Mandar tidak melakukannya di percaya akan terjadi mala petaka. Untuk ditahun 2018 ini, pelaksaan ritual Petik Laut Kampung Mandar terasa istimewa dibanding tahun tahun sebelumnya karena bersamaan dengan di gelarnya rangkaian Banyuwangi Fish Market Festival.

Kepala Dinas Perikanan dan Pangan (Disperipangan) Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo mengatakan, ritual petik laut tersebut merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Fish Market Festival yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival 2018. Sebelumnya, sejak 7 September telah di gelar berbagai kegiatan termasuk Ritual Petik Laut ini.

Dan puncaknya, pada Rabu (12/9) di gelar Fish Market Festival yang di sertai dengan Launching Clean Mandar Fish Center dan lomba bakar ikan serta lomba masak kreasi berbahan ikan.

“Pemkab Banyuwangi memang akan menjadikan Kampung Mandar sebagai Clean Mandar Fish Center, guna mengangkat potensi wilayah setempat yang selama ini dikenal sebagai kampung nelayan. Sekaligus sebagai upaya untuk mempromosikan Kampung Mandar, sebagai salah satu sentra ikan di Banyuwangi,” papar Hary.

Sementara, untuk posisi Kampung Mandar dinilai sangat strategis. Kampung Mandar merupakan salah satu kawasan yang masuk dalam Jalur Lintas Timur (JLT).

JLT merupakan akses kawasan pinggiran Banyuwangi, dari utara hingga selatan, menggunakan kontruksi beton cor. Selain itu, Kampung Mandar juga akan mendapat dampak dari  kawasan pelabuhan wisata, Boom Marina.

Saat ini, PT. Pelindo III tengah mengembangkan pelabuhan marina di Banyuwangi, yang nantinya merupakan marina terintegrasi pertama di Indonesia. 

Berbagai kegiatan rangkaian Fish Market Festival mulai Rijig-Rijig Pesisir Kampung Mandar (7 September), pameran ikan segar, produk olahan perikanan, pameran UKM yang ada di Kampung Mandar (8-12 September), kompetisi kano (8-9 September), diskusi dan expo gerai perikanan, (10-11 September), petik laut Kampung Mandar (11 September), serta Fish market festival pada 12 September, yang disertai launching Clean Mandar Fish Center, lomba bakar ikan dan lomba masak kreasi berbahan ikan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang buruh bangunan meninggal dunia di lokasi, setelah sepeda motor yang di kendarainya dilindas mobil Grand Livinia.

Peristiwa tragis ini terjadi di kawasan jalan raya Situbondo-Banyuwangi, minggu malam (9/9) pukul 19.00 WIB, tepatnya di depan Pos Lantas Wongsorejo masuk Dusun Krajan RT 02 RW 02 Desa Wongsorejo Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Korban meninggal dunia tersebut adalah Ismail (50) warga Dusun Krajan RT 05 RW 04 Desa Wongsorejo Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Kanit Laka Polres Banyuwangi, Ipda Ardi Bhita Kumala mengatakan, menurut keterangan sejumlah saksi mata, awalnya kendaraan Grand Livina bernopol DK 1958 WQ yang di kemudikan Muhammad Rofi (42) warga Dusun Palurejo RT 01 RW 09 Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar Banyuwangi melaju dari arah Selatan ke Utara.

“Sesampainya di depan pos lantas Wongsorejo, tiba tiba mobil tersebut berbelok ke kiri cukup tajam,” kata Ipda Ardi.

Akibatnya, mobil menabrak sepeda motor Supra X bernopol P 4513 XB yang sedang di duduki oleh korban yang menyebabkan korban meninggal dunia di TKP dengan mengalami luka robek pada kepala serta luka lecet pada kedua tangan dan kakinya.

Selain itu, di duga karena laju mobil tersebut terlalu kencang, juga menabrak bangunan pos lantas bagian teras hingga hancur.

“Kepada petugas, pengemudi mobil mengaku mengantuk sehingga tidak mengetahui jika laju kendaraannya berbelok ke kiri,” ungkap Kanit Laka.

“Dari hasil olah TKP kepolisian, peristiwa ini terjadi akibat kelalaian pengemudi mobil,” tuturnya.

Meski demikian, Kanit Laka masih belum bisa memastikan apakah nantinya pengemudi mobil tersebut bisa ditetapkan sebagai tersangka ataukah tidak karena masih di butuhkan pengembangan penyidikan.

Setelah berhasil di evakuasi, jenazah korban dilarikan ke Puskesmas Wongsorejo untuk di lakukan pemeriksaan luar. Selanjutnya, di semayamkan di rumah duka.

Sementara untuk mobil Grand Livina tersebut di evakuasi dengan menggunakan kendaraan lain menuju ke Kantor Unit Laka Lantas Polres Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dari hasil otopsi tim medis RSUD Blambangan Banyuwangi, hilangnya kedua tangan dan kaki jenazah bayi laki laki yang di temukan di kolam ikan lele di akibatkan karena sengaja di potong atau di mutilasi oleh pelaku. Otopsi ini di lakukan di kamar mayat, Rabu (12/9).

Jika ditimbang, berat badan bayi naas tersebut 800 gram dengan kondisi sudah membusuk. Sementara kedua tangan mulai dari pangkal lengan kanan kiri sudah tidak ada.

Demikian halnya dengan kedua kaki juga sudah tidak ada, artinya sudah terpotong sehingga tim medis tidak bisa mengukur panjang bayi secara keseluruhan. Namun dari pengukuran tim medis mulai ujung kepala sampai selangkangan bayi, sepanjang 32 cm.

Dokter Spesialis Bedah RSUD Blambangan Banyuwangi, Solakhudin yang melakukan otopsi tersebut mengatakan, jika melihat dari kondisi jenazah bayi, pihaknya berkesimpulan bahwa bayi tersebut di lahirkan secara premature, dengan usia kehamilan antara 7 hingga 8 bulan.

“Dari hasil pemeriksaan luar yang kami lakukan, ditemukan luka robek serta patah tulang tengkorak pada kepala bagian belakang. Juga ada memar pada pipi kanan kiri dan patah tulang pada rahang bawah serta tepat di dagu terbelah dua,” papar Solakhudin.

Dia menjelaskan, untuk di bagian dada, kedua tangannya sudah tidak ada. Namun ditemukan ada luka robek pada bawah ketiak kanan ukuran 7x3 cm serta di bawah ketiak kiri ukuran 4x3 cm.

“Juga masih ditemukan sisa potongan tali pusar sepanjang 1 cm dengan kondisi sudah mulai membusuk,” imbuhnya.

Solakhudin juga mengaku masih menemukan sisa tulang paha kanan kiri, meskipun kedua kaki bayi sudah terpotong. Untuk di kaki kanan masih tersisa tulang paha sepanjang 3 cm, sedangkan di kaki kiri tersisa 2 cm tulang paha.

“Dari hasil tes pemeriksaan medis terhadap paru paru bayi, di temukan adanya gelembung udara,” kata Solakhudin.

Dalam artian, saat bayi tersebut di lahirkan premature masih sempat bernafas lalu meninggal dunia. Selanjutnya, pelaku melakukan pemotongan terhadap kedua tangan dan kaki si bayi.

“Dilihat dari kondisinya, diduga bayi itu di buang pelaku ke TKP sejak satu minggu setelah dilahirkan,” pungkas Solakhudin.

Sebelumnya, jenazah bayi laki laki tersebut di temukan mengambang di kolam ikan lele milik Selamet di kawasan Dusun Pondok Asem Desa Kedung Asri Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi, dengan posisi tengkurap, Senin (10/9).

Sementara kedua tangan dan kakinya sudah tidak ada, tinggal badan dan kepalanya. Yang selanjutnya di evakuasi ke kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Warga Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi punya cara yang menarik mengangkat potensi wilayahnya. Mereka menggelar karnaval dengan mengarak hasil panen buahnya yang dibungkus dalam event Kaliploso Horti Carnival (KHC), Senin (10/9). Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melepas karnaval unik ini. 

Setiap Rukun Warga (RW) di desa tersebut menampilkan sejumlah kreasinya, mengarak gunungan yang berisi hasil bumi serta memperagakan pakaian-pakaian karnaval yang didesain dari aneka bahan dari hasil pertanian.

Mulai dari buah-buahan seperti jeruk, buah naga, wortel, tomat, jagung, labu, nanas, pisang, dan pepaya, hingga aneka sayuran seperti terong, bunga kol, kacang panjang menjadi aksesoris pakaian para peserta. 

Ada busana dari pelepah daun kelapa yang dikombinasikan dengan asesoris unik dari cabai merah yang dirangkai apik menjadi kalung. Ada juga yang mengkreasikan busana dari daun nangka yang dilipat dan ditata rapi yang dikombinasikan dengan topi dari bunga dan dedaunan. 

Sebagian peserta mengarak hasil bumi dengan tandu, sementara sebagian yang lain mengaraknya menggunakan mobil yang dihias.

"Semua busana dan gunungan yang ditampilkan hari ini adalah murni hasil kreativitas warga desa. Menariknya, ini adalah swadaya warga yang bergotong royong membuat gunungan dan kreasi busana berbahan buah dan sayuran," kata Rudi Hartono, Kepala Desa Kaliploso. 

Bupati Anas mengaku sangat bangga dengan kreativitas warga ini.

"Mengangkat potensi hortikultura dalam sebuah karnaval, ini baru pertama di Banyuwangi. Apalagi ini hasil gotong royong dan swadaya warga. Saya sangat mengapresiasi warga Kaliploso," ujar Bupati Anas. 

Ditambahkan Anas, dengan kemasan yang terus ditingkatkan, ajang ini bisa menjadi daya tarik wisata baru di Banyuwangi.  

"Jika Kaliploso Horti Carnival ini digelar dengan jadwal yang teratur, bisa jadi atraksi yang menarik bagi wisatawan. Tidak menutup kemungkinan ke depan kita masukkan dalam agenda Banyuwangi Festival," kata Bupati Anas. 

Karnaval ini, diikuti ratusan warga Desa Kaliploso dari segala usia. Mulai anak-anak hingga orang tua terlihat bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Soleh (39), salah satunya. Soleh mengaku senang dengan kegiatan ini karena bisa memperkuat kebersamaan, sekaligus memacu dia berkreasi. 

"Saat membuat gunungan, kita mikir bareng-bareng modelnya. Sayur dan buah apa yang pas untuk ditata. Seru. Lalu kita menatanya bareng-bareng. Belum lagi kita mikir pakaian kita, jadinya senang ada acara ini," kata Soleh.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pihak panitia menyatakan, kain berukuran besar bewarna merah putih kombinsai silver yang di mainkan oleh peserta drumband dalam pembukaan Pekan Olah Raga Kabupaten (Porkab) Banyuwangi bukan bendera melainkan asesoris.

 Kain tersebut berukuran 2,4 x 2,4 meter berjumlah 18 buah yang di pegang oleh para peserta drumband yang merupakan gabungan dari siswa siswi tingkat SMP dan SMA se Banyuwangi.

Dan rupanya, kain tersebut menjadi sorotan para penonton karena berwarna merah putih sedangkan di bagian tengah ada kombinasi silver.

Sontak saja, di media social menjadi viral pihak panitia dituding telah melecehkan bendera pusaka Indonesia yang ditambahi warna silver.

Menanggapi hal ini, Seksi Bidang Hukum Porkab, Ribut Puriyadi mengatakan, berdasarkan UU nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasaa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan mengenai bendera yang menjadi lambing negara dijelaskan dalam pasal 4 dari ayat 1 hingga . Bendera berbentuk persegi panjang dengan lebar dua pertiga dari ukuran panjang. Bahan kain yang di gunakan adalah bahan yang tidak luntur.

“Sedangkan kain yang di mainkan oleh peserta drumband itu berukuran cukup besar mencapai 2,4 x 2,4 meter dengan bentuk bujur sangkar dan bukan persegi panjang,” papar Ribut.

“Itu bukan bendera tapi hanyalah asesoris untuk melengkapi dari atraksi drumband,” ujarnya

Seksi acara bidang Pagelaran Porkab Banyuwangi, yang sekaligus sebagai koreo dari kegiatan tersebut, Didik Hermansyah meminta maaf atas penafsiran yang salah tersebut.

“Kami tidak ada niatan untuk melecehkan bendera bangsa Indonesia,” tutur Didik.

“Kain itu sengaja dibuat berukuran besar dengan bentuk bujur sangkar hanya sebagai ilustrasi dari lagu Berkibarlah Benderaku yang di mainkan oleh para peserta drumband,” kata Didik.

Dia juga mengaku sengaja telah mempersiapkan kain tersebut sebagai konsep pagelaran, tidak lain hanya untuk membangun semangat para pelajar disaat bermain.

Ditambahkan Didik, kain tersebut sebelumnya juga pernah di gunakan saat Parade Surya Senja atau penurunan bendera peringatan 17 Agustus di Gedung  Grahadi Surabaya dan itu pun tidak ada masalah, karena diakuinya benda itu memang hanya sebagai asesoris.

Sementara itu, Ketua Tim Acara Porkab Banyuwangi, Sabariman Sutopo menegaskan bahwa, kain itu berukuran besar yang di gunakan oleh para peserta Drumband dalam pembukaan Porkab Banyuwangi 2018 tersebut bukan bendera nasional melainkan hanya asoseris semata.

“Dilihat dari bentuknya saja tidak sama dengan bendera, yakni bujur sangkar apalagi ukurannya yang cukup besar,” ungkap Sutopo.

Pembukaan Porkab ini di laksanakan di Stadion Diponegoro Banyuwangi pada Minggu (9/9).

Sementara, porkab sendiri mempertandingkan 34 Cabang Olahraga (Cabor), diantaranya 24 cabor resmi dan 10 cabor eksibisi. Dengan diikuti para pelajar di 25 kecamatan se Kabupaten Banyuwangi.

More Articles ...