radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang laki laki warga Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi di temukan meninggal dunia dengan gantung diri di area semak semak di kawasan Kecamatan Rogojampi, Rabu (9/1) sekira pukul 09.30 WIB.

Tepatnya di Dusun Jajang Surat Desa Karang Bendo, selatan gedung SMP Negeri 2 Rogojampi.

Pertama kali di temukan, leher korban menggantung di salah satu batang pohon besar dengan menggunakan kain sarung. Korban memakai kaos hitam dan celana pendek jeans coklat. Namun tidak ditemukan kartu identitas apapun, sehingga awalnya korban adalah orang tidak dikenal atau Mr.X.

Sejumlah aparat kepolisian Polsek Rogojampi pun mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP, dan disini ditemukan 1 unit ponsel beserta cashnya tergelatak di bawah jenazah korban juga sepasang sandal jepit.

Selanjutnya, kepolisian berupaya menghubungi salah satu nomor yang ada di ponsel tersebut sehingga berhasil terhubung.

Dari hasil pengembangan penyidikan itulah, kepolisian berhasil mengungkap identitas korban yang ternyata bernama Zainidin (50) warga Dusun Sidowangi RT 05 RW 02 Desa Sidowangi Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi.

Selanjutnya, jenazah korban di bawa ke kamar mayat RSUD Blambangan Banyuwangi guna dilakukan pemeriksaan luar.

Kanit Reskrim Polsek Rogojampi Banyuwangi, Iptu Abdul Rohman mengatakan, dari hasil pemeriksaan ini tidak ditemukan adanya tanda tanda penganiayaan pada tubuh korban, sehingga di duga kuat korban meninggal dunia murni karena gantung diri.

“Pertama kali ditemukan lidah korban menjulur ke bawah disertai air liur. Juga keluar kotoran dari dubur dan air mani dari kelaminnya,” ujar Iptu Abdul Rohman.

“Pada leher korban yang hitam juga sudah terlihat putih di duga korban meninggal dunia lebih dari 6 jam,” imbuhnya.

Iptu Abdul Rohman menambahkan, kepolisian masih belum bisa memastikan penyebab kematian korban karena dari keterangan keluarganya, sebelumnya korban sempat berkomunikasi melalui ponsel dan tidak pernah menceritakan masalah yang dihadapi maupun dugaan adanya penyakit yang di derita.

Sementara itu, salah satu anak korban, Syaifullah langsung mendatangi RSUD Blambangan Banyuwangi setelah mendapat informasi bapaknya ditemukan meninggal dunia gantung diri.

“Selama ini bapak saya jarang pulang karena disetiap harinya bekerja mencari rongsokan di berbagai tempat,” ungkap laki laki berusia 25 tahun tersebut.

Dan saat ini pula, korban sudah bercerai dengan istrinya, Suhaini (40) lalu memilih keluar rumah untuk hidup di jalanan mencari rongsokan.

“Saya dan keluarga juga dapat informasi jika bapak saya sudah menikah siri dengan warga Jember,” kata Syaiful.

Namun hingga kini, Syaiful juga mengaku tidak mengetahui wajah dari istri siri bapaknya tersebut.

Bahkan sebelumnya, beberapa kali korban sempat menghubungi Syaiful memberi kabar jika berada di kawasan Kecamatan Wongsorej.

“Tapi bapak saya tidak mau dijemput dan hanya bilang kalau suatu saat saja main main sama istri barunya,” pungkas Syaiful.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Di sela-sela kunjungan kerjanya meninjau simulasi penanganan bencana, Sabtu (5/1), Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen. Pol. Luki Hermawan menyempatkan diri mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Banyuwangi.

Bersama sang istri, jenderal bintang dua itu tampak menikmati kawasan Pantai Pulau Merah dan De Djawatan. Kapolda juga didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakapolda Jatim Brigjen. Pol. Toni Harmanto, dan Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi. 

Tiba di Pantai Pulau Merah, Kapolda langsung merasa terkesan. Dan saat melihat tulisan besar ikonik “Pulau Merah” yang berlatarkan pulau mungil di tengah laut, dia spontan mengajak rombongan untuk berfoto bersama. Kapolda lalu berjalan menyusuri pantai yang berpasir putih tersebut dan mengagumi keindahannya.

Usai dari Pulau Merah, Kapolda langsung menuju ke destinasi De Djawatan yang merupakan area hutan mini dengan pepohonan berusia ratusan tahun yang menjulang tinggi. Kapolda sangat terkesan dengan pemandangan di De Djawatan yang sering disebut mirip latar film “Lord of the Ring”. 

“Lokasi ini sangat bagus, ada kawasan semacam hutan tapi di tengah kota. Apalagi kawasan setempat terdapat pohon-pohon tua yang besar ditumbuhi semacam lumut,” papar Kapolda.

Kapolda bahkan bersemangat mengambil gambar di sejumlah spot di De Djawatan. Tidak hanya berfoto bersama rombongannya, Kapolda juga berfoto bersama istrinya.

Selama 30 menit di sana, Kapolda terlihat sangat menikmati wana wisata De Djawatan. 

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan bahwa Pemkab Banyuwangi dengan dukungan penuh dari BUMN akan terus mengembangkan kawasan wisata Pulau Merah dan Djawatan. 

“Seminggu lalu, Menteri BUMN Rini Soewarno dan Dirut Perhutani telah berkunjung ke Pulau Merah dan De Djawatan. Bahkan, pengembangan kawasan di pantai Pulau Merah akan dimulai pada bulan Januari juga,” papar Bupati Anas.

Sementara untuk pengembangan area De Djawatan kata Bupati Anas, pihaknya juga melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan sejumlah kampus, karena diinginkan De Djawatan tersebut menjadi semacam kebun raya mini.

“Konsep final pengembangan sedang disusun,” imbuhnya.

Bupati Anas menegaskan, intinya De Djawatan akan menjadi laboratorium hidup tentang berbagai jenis tanaman, ada unsur edukasinya supaya semakin menarik wisatawan.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna memberikan pembelajaran terhadap masyarakat mengenai tanggap bencana Tsunami di kawasan daerah rawan terdampak, kepolisian Polda Jawa Timur bersama polres jajaran dan TNI menggelar simulasi penanggulangan Tsunami di pantai Pancer Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi, Sabtu (05/01).

Kegiatan ini di saksikan langsung oleh Kapolda Jawa Timur, Irjen Polisi Luki Hermawan juga Danrem 083 Baladhika Jaya, Kolonel Infantri Bagus Suryadi Tayuh dan Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi serta Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Sementara, ratusan warga setempat juga terlibat dalam simulasi tersebut, yang sebagian besar mereka adalah yang pernah menjadi korban tsunami di Pantai Pancer.

Pasalnya, Tsunami pernah menerjang pantai Pancer 25 tahun lalu tepatnya pada 3 Juni 1994 sekira pukul 02.00 WIB. Saat itu, sekitar 250 an warga tercatat meninggal dunia, yang bertempat tinggal di seputaran pantai Lampon, Pancer dan Grajagan. Namun yang terbanyak adalah warga di Pantai Pancer yang mencapai 117 orang.

Dalam simulasi ini digambarkan saat masyarakat mendengar suara gemuruh dan air laut pasang yang di duga akan terjadi tsunami, lalu mereka menabuh kentongan berkali kali pertanda bahaya. Selanjutnya, masyarakat berlarian untuk menyelamatkan diri.

Namun digambarkan pula, puluhan orang terluka akibat terseret ombak dan menghantam bangunan. Mendapati kondisi ini, kepolisian beserta basarnas melakukan upaya pertolongan untuk selanjutnya dilakukan penanganan medis. Bahkan, digambarkan pula aparat Satpolairud Banyuwangi menyisir di sepanjang perairan Pantai Pancer dengan menggunakan perahu karet untuk mencari para korban yang terseret ke tengah laut.

Dalam simulasi ini, juga di paparkan bagaimana cara menolong salah satu korban selamat yang tersangkut di atas pohon setelah di terjang tsunami.

Saat dikonfirmasi, Kapolda Jawa Timur Irjen Polisi Luki Hermawan mengatakan, simulasi penanganan bencana tsunami di Pantai Pancer ini merupakan kegiatan pertama yang di gelar Polda Jawa Timur.

“Ini sengaja di gelar di Banyuwangi guna memberikan edukasi kepada masyarakat karena di Pantai Pancer pernah terjadi bencana tsunami sehingga di harapkan masyarakat setempat bisa memahami apa saja yang harus mereka lakukan di saat terjadi bencana serupa. Baik ketika terjadi maupun pasca bencana,” papar Kapolda.

“Apalagi dalam beberapa bulan terakhir ini di sejumlah wilayah di Indonesia terjada bencana,” imbuhnya.

Kapolda mengaku, tidak menginginkan bencana ini kembali terjadi. Meski demikian, diperlukan kewaspadaan dari masyarakat mengingat disepanjang pantai selatan Banyuwangi dinilai masuk zona tinggi rawan terjadi bencana tsunami.

“Di wilayah Jawa Timur ada 8 kabupetan yang masuk daerah rawan bencana Tsunami yakni Jember, Lumajang, Malang Kabupaten, Blitar Kabupaten, Trenggalek, Tulungagung, Pacitan dan Banyuwangi. Seluruhnya berada di wilayah Pantai Selatan,” beber Kapolda.

Sementara itu, Danrem 083 Baladhika Jaya, Kolonel Infantri Bagus Suryadi Tayuh mengatakan, di pantai Pancer ini merupakan salah satu titik paling timur di pulau jawa yang dianggap rawan terjadi bencana tsunami.

“Kegiatan untuk menyiapkan masyarakat setempat agar tanggap terhadap bencana tsunami. Sehingga di saat benar benar terjada bencana tersebut, mereka sudah sigap dan tanggap,” pungkas Danrem.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Berdasarkan aspek Topografi, 46 dari 217 desa dan kelurahan yang tersebar di 25 kecamatan se Banyuwangi disinyalir rawan terdampak bencana tsunami. Sementara, ke 46 desa tersebut berada di 3 zona kawasan ancaman rawan tsunami, mulai dari zona tinggi, zona sedang dan zona rendah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Fajar Suasana mengatakan, untuk yang masuk zona tinggi berada di wilayah pantai selatan, mulai dari pantai Rajegwesi di Kecamatan Pesanggaran hingga di pantai Grajagan Kecamatan Purwoharjo.

Sedangkan untuk zona sedang mulai dari kawasan Pantai Grajagan hingga ke Pantai Boom Kecamatan Banyuwangi kota.

“Untuk wilayah yang masuk zona rendah, dari kawasan pantai Boom hingga ke berbagai pantai di kawasan Banyuwangi utara tepatnya di Kecamatan Wongsorejo,” ujar Fajar.

Topografi secara ilmiah artinya adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami (bulan dan sebagainya), dan asteroid.

Fajar mengaku, daerah yang dinilai paling rawan terdampak bencana tsunami ada di sekitaran pinggir pantai karena berhadapan langsung dengan laut, utamanya kawasan laut selatan.

“Di harapkan, masyarakat yang bertempat tinggal tidak jauh dari area pantai untuk terus meningkatkan kewaspadaan,” kata Fajar.

“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat mempunyai penghitungan sendiri terhadap kawasan yang masuk rawan bencana tsunami,” imbuhnya.

Oleh sebab itu menurut Fajar, muncul perkiraan 46 desa yang dinilai rawan terdampak tsunami, khususnya kesiapan masing masing desa yang masuk dalam titik rawan tersebut.

“Jika satu desa masuk zona sedang namun dari masyarakat serta sarana prasarananya kurang mendukung, maka justru ancamannya cukup tinggi,” ungkap Fajar.

Meski demikian, diminta masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari pantai untuk tidak resah dengan hasil penghitungan BNPB tersebut.

“Tapi dari BPBD Banyuwangi sendiri, membagi 3 zona kawasan yang rawan bencana tsunami berdasarkan Topografinya,” pungkas Fajar.

Sementara itu, Pemkab Banyuwangi bersama berbagai stake holder termasuk Kepolisian dan TNI terus berupaya untuk menghimbau kepada masyarakat yang berada di sepanjang pinggir pantai, agar segera melapor jika mendapati adanya kondisi laut yang dinilai tidak seperti biasanya.

Bahkan, juga di lakukan simulasi penanggungan bencana tsunami yang melibatkan masyarakat pinggir pantai.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Hujan deras mengguyur kawasan Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi selama 6 jam lebih pada Minggu (06/01), menyebabkan 40 hektar lahan persawahan terendam banjir dan seorang nenek meninggal dunia akibat terseret air.

Korban adalah Ngatemi (60) warga Dusun Karangbaru RT 05 RW 02 Desa Alasbuluh Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi mengalami luka memar di bagian kepala. Dan jenazahnya ditemukan warga beberapa kilometer dari lokasi dia terseret.

Camat Wongsorejo Banyuwangi, Sulistyowati mengatakan, sebelumnya, korban berniat menyusul anaknya yang bekerja ditengah hutan. Saat itu korban berjalan di kawasan Curah yang menjadi saluran air disaat terjadi banjir akibat curah hujan yang tinggi.

“Ketika melewati curah itulah, tiba tiba banjir datang dan menyeret tubuh korban,” kata Camat Wongsorejo.

Oleh warga yang mengetahui peristiwa ini, langsung melaporkan ke pihak desa dan kepolisian juga kecamatan yang selanjutnya dilakukan pencarian terhadap korban hingga akhirnya berhasil di ketemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia.

“Disaat musim kemarau, di curah curah itu dalam kondisi kering karena tidak ada air mengalir. Tapi jika terjadi hujan deras dan banjir, maka curah tersebut menjadi saluran air yang berasal dari hutan yang berada di kawasan Dusun Karangbaru atau Pal Lima Desa Alas Buluh,” papar Sulistyowati.

Selain itu, hujan deras yang mengguyur kawasan setempat juga merendam sekitar 40 hektar lahan persawahan di Desa Sidodadi Kecamatan Wongsorejo.

“Banjir tersebut berasal dari luapan Dam Lasmin dan Dam MBah Gringsing yang ada di wilayah Desa Sidodadi akibat tidak menampung volume air yang terus meningkat karena curah hujan cukup tinggi,” ujar Sulistyowati.

Sementara itu, di waktu yang bersamaan, banjir juga merendam rumah warga di kawasan Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar Banyuwangi hingga setinggi lutut orang dewasa. Namun sekira pukul 18.00 WIB air sudah mulai surut.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 4 dari 7 alat peringatan dini tsunami (Early Warning System) yang di pasang oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi di 4 lokasi pesisir pantai mengalami kerusakan. Yaitu di Pantai Rajegwesi dan Pantai Pancer yang ada di Kecamatan Pesanggaran, juga di pantai Blimbingsari Kecamatan Blimbingsari dan Pantai Boom Kecamatan Banyuwangi kota.

Sementara 3 EWS yang hingga kini masih berfungsi maksimal adalah di kawasan pantai Muncar Kecamatan Muncar, Pantai Grajagan Kecamatan Purwoharjo dan Pantai Lampon Kecamatan Pesanggaran.

Ke 7 alat EWS tersebut merupakan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi, Eka Muharram mengatakan, meskipun ke 3 EWS tersebut masih bisa berfungsi sebagai alat peringatan dini tsunami, namun pengoperasiannya masih manual.

“Itu belum maksimal sehingga di perlukan kewaspadaan dari masyarakat setempat, utamanya yang bertempat tinggal di sepanjang pinggir pantai,” ujar Eka.

Dalam artian, disaat terjadi gelombang tinggi dan alat EWS tersebut berbunyi maka di harapkan masyarakat segera mencari lokasi yang aman.

Alat peringatan dini tsunami adalah sebuah alat yang dirancang untuk mendeteksi tsunami, kemudian memberikan peringatan untuk mencegah jatuhnya korban. Sistem ini umumnya terdiri dari dua bagian penting yaitu jaringan sensor untuk mendeteksi tsunami, serta infrastruktur jaringan komunikasi untuk memberikan peringatan dini adanya bahaya tsunami kepada wilayah yang diancam bahaya agar proses evakuasi dapat dilakukan secepat mungkin.

“Untuk ke 4 alat EWS yang sudah tidak berfungsi itu hingga kini masih belum dilakukan perbaikan karena membutuhkan biaya yang cukup mahal,” kata Eka.

“Oleh sebab itu, BPBD Banyuwangi telah mengusulkan penambahan alat EWS baru ke BNPB pusat,” imbuhnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi juga memasang 2 alat Early Warning System (EWS) di 2 titik, yakni Pantai Pancer Kecamatan Pesanggaran dan Pantai Muncar Kecamatan Muncar, yang hingga kini masih berfungsi dengan normal.

Berdasarkan aspek zona kawasan, sejumlah pantai di wilayah Banyuwangi selatan dinilai rawan terjadi tsunami karena berada di area laut selatan.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sekitar 500 kepala keluarga di area perkampungan tetelan dan alas gedang di Dusun Selogiri Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro Banyuwangi terisolir, akibat jalan perkebunan di kawasan setempat tertutup material dari tebing yang longsor setelah diguyur hujan cukup deras.

Akses jalan total tidak bisa di lewati karena material longsoran yang hampir seluruhnya bebatuan berukuran besar bercampur lumpur, menutup seluruh bagian jalan sepanjang 15 meter.

Sementara ketinggiam tebing itu sendiri mencapai 14 meter yang merupakan perbukitan batu dan tidak ada tanaman penguatnya. Sehingga selama ini, perbukitan tersebut sedikit demi sedikit terkikis air hujan.

Dan puncaknya, hujan deras dengan durasi cukup lama mengguyur kawasan setempat pada kamis pagi (03/01) sekira pukul 06.00 WIB yang menyebabkan tebing ambrol. Aktifitas masyarakat pun lumpuh total, karena jalan tersebut merupakan satu satunya jalur menuju ke pusat keramaian maupun ke wilayah perkotaan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi, Eka Muharram mengatakan, upaya pembersihan material longsoran secara manual hingga kini masih belum dilakukan berbagai pihak termasuk BPBD, karena dinilai sangat membahayakan.

Karena masih ada batu berukuran sangat besar terganjal di pepohonan sehingga jika dilakukan pembersihan di khawatirkan terjadi longsoran susulan yang menyebabkan batu tersebut terjatuh,” papar Eka.

Dia menjelaskan, masyarakat setempat bersama perhutani Banyuwangi utara kini terus berupaya melakukan pembenahan jalan alternatif sebagai akses jalan pengganti.

Karena lokasi longsoran itu sendiri berada di dalam area perkebunan yang merupakan kawasan perhutani. Dan mayoritas penduduk yang berada di area setempat adalah para pekerja perkebunan.

Upaya pembenahan jalur alternatif ini dilakukan hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan, sampai akses jalan sudah benar benar bisa di lewati warga,” ujar Eka.

Selain menutup akses utama, longsoran tebing tersebut juga merusak pipa air hingga terputus, yang selama ini sebagai saluran untuk mensubsidi ke masyarakat di Desa Selogiri maupun di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi. Juga, aliran listrik ke pemukiman warga terputus.

 

More Articles ...