radiovisfm.com, Banyuwangi - Satu dari dua pelajar yang mengalami kecelakaan di wilayah Banyuwangi Kota meninggal dunia di TKP, setelah sepeda motor yang dikendarai mereka bertabrakan dengan mobil.

Tepatnya peristiwa ini terjadi di seputaran jalan raya Simpang 4 Karangente di kawasan Kelurahan Sobo Kecamatan Banyuwangi kota, Minggu dini hari (25/8/2019) sekira pukul 01.45 WIB.

Kedua pelajar tersebut adalah Achmad Hestiavin (14) warga Lingkungan Jurangrejo Kelurahan Kalirejo Kecamatan Kabat, masih duduk dibangku SMP dan Sandi Kurniawan (17) warga Dusun Krajan RT 03 RW 13 Desa Kebaman Kecamatan Srono Banyuwangi, tercatat sebagai pelajar SMA.

Kanit Laka Polres Banyuwangi Iptu Ardi Bhita Kumala mengatakan, menurut keterangan saksi mata serta berdasarkan hasil olah TKP sementara kepolisian, awalnya sepeda motor Honda Revo bernopol P 5006 XL yang dikendarai oleh Achmad Hestiavin dengan membonceng Sandi Kurniawan melaju dari arah barat ke timur.

“Sesampainya di TKP pada saat yang bersamaan, melaju dari arah utara ke selatan mobil Honda HRV bernopol L 1992 ID yang di kemudikan Widiyanto Danny Kurniawan (47) warga Dusun Krajan RT 03 RW 04 Desa Genteng Kulon Kecamatan Genteng,” papar Iptu Ardi.

“Diduga karena si pengendara mobil tak mengetahui arah, maka dia melajukan kendaraannya lurus ke selatan. Padahal seharusnya, dia berbelok ke kiri karena di lokasi adalah satu jalur,” imbuhnya.

Akibatnya, terjadi kecelakaan dua kendaraan bermotor tersebut yang menyebabkan korban Achmad Hestiavin meninggal dunia di TKP karena mengalami luka berat pada kepalanya. Sedangkan temannya, Sandi Kurniawan mengalami luka bengkak di pipi kiri, luka robek di siku tangan kiri serta lecet pada kakinya.

Sedangkan pengemudi mobil tidak mengalami luka apapun.

Kanit Laka menambahkan, kini kepolisian terus melakukan pengembangan penyidikan untuk memastikan tingkat kesalahan dari masing masing pengendara melalui rekaman kamera CCTV.

“Nantinya, bisa dijadikan bukti untuk menetapkan tersangka. Karena dari pengakuan sopir mobil, dirinya tidak mengetahui arah jalur yang di laluinya,” kata Iptu Ardi.

Hal itu juga dibuktikan dengan plat nomor kendaraan yang di kemudikannya dari wilayah Surabaya.

Hingga kini, sopir mobil Honda HRV masih dimintai keterangan di kantor Unit Laka Lantas Polres Banyuwangi. Sedangkan keluarga korban masih belum menemui pihak kepolisian, diduga masih dalam suasana duka.

 

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam sehari, terjadi kebakaran hutan di Banyuwangi di 3 lokasi yang berbeda.

Pertama terjadi di petak 105F RPH Kalipait BKPH Blambangan KPH Banyuwangi Selatan wilayah administrative pemerintah Dusun Kutorejo Desa Kalipait Kecamatan Tegaldlimo.

Disini terdapat luas baku 10,70 Hektar dengan tanaman jenis Jati JPP kelas hutan produksi tahun 2011. Sedangkan lahan yang terbakar seluas 1 hektar yang didalamnya terdapat tanaman rumput, seresah dan daun kayu jati kering. Dari hasil pantauan pihak perhutani, kebakaran lahan ini di duga berasal dari puntung rokok yang di buang oleh orang tak dikenal.

Sementara api bisa dipadamkan selang 1 jam setelah dilakukan pemadaman oleh 2 petugas dari perhutani, dengan menggunakan peralatan seadanya.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, juga terjadi kebakaran lahan hutan di petak blok 72B RPH Karetan BKPH Karetan KPH Banyuwangi selatan masuk wilayah administrative pemerintah Dusun Jatirejo Desa Glagahagung Kecamatan Purwoharjo.

Luas baku lahan ini 10 hektar dengan jenis tanaman jati 2012 dengan fungsi hutan produksi. Sementara lahan yang terbakar seluas 1,50 hektar, yang seluruhnya adalah tanaman rumput, alang alang dan daun jati kering. Untung saja, api tidak sampai merusak tegakan tanaman kehutanan.

Sebanyak 5 orang tim gabungan dari petugas perhutani, babinsa, LMDH dan masyarakat setempat berupaya memadamkan api dengan menggunakan alat pemadam gepyok dan garbu serta mencegah melebarnya kebakaran dengan membuat ilaran atau sekat.

Menurut keterangan warga setempat, sebelumnya diketahui ada seorang laki laki mengalami ganguan jiwa berada di lokasi dan di duga melakukan pembakaran.

Selang beberapa lama, kebakaran hutan juga terjadi di area lahan petak 91C RPH Curahjati BKPH Curahjati KPH Banyuwangi selatan masuk wilayah administrative pemerintah Dusun Blok Sola Desa Sumberasri Kecamatan Purwoharjo.

Lahan yang terbakar seluas 0,5 hektar dengan jenis tanaman rumput serta daun kayu jati yang kering. Sementara lahan baku tercatat seluas 95 hektar dengan jenis tanaman jati kelas hutan produksi tanaman tahun 2004 serta merupakan fungsi hutan produksi.

Seperti di TKP yang lain, kebakaran hutan ini juga diduga akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh orang tidak bertanggung jawab. Dan upaya pemadaman api di lakukan oleh petugas perhutani beserta personel Tanam Nasional Alas Purwo (TNAP) dengan membuat ilaran atau sekat bakar.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi mencatat, kebakaran lahan ini juga diduga karena terjadinya musim kemarau cukup panjang beberapa bulan terakhir ini.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Bangunan rumah salah satu warga di kawasan Dusun Pancoran Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro Banyuwangi nyaris hancur seluruhnya, akibat terkena ledakan petasan, Rabu malam (21/8/2019).

Rumah milik Kacung (73) yang berada di kawasan RT 02 RW 03 tersebut kondisinya sangat mengenaskan. Hanya tinggal beberapa tiang penyangga saja dan atap rumah. Bahkan, suara ledakan terdengar hingga radius 20 KM lebih.

Dengan adanya peristiwa ini, si pemilik rumah meninggal dunia.

Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi mengatakan, dari hasil olah TKP sementara kepolisian, di duga kuat ledakan ini diakibatkan karena petasan yang sedang di racik oleh korban.

“Rencananya, petasan itu akan di gunakan untuk hajatan cucu korban yang sunat pada bulan depan agar acaranya meriah,” ujar Kapolres.

Namun naas, justru keinginan sang kakek ini berbuah petaka yang menyebabkan dia meninggal dunia.

Kapolres mengaku tidak bisa menelusuri asal muasal serbuk bahan peledak yang di dapatkan oleh korban.

“Kepolisian tidak bisa memintai keterangan siapapun karena korban sudah meninggal dunia,” tuturnya.

Karena menurut Kapolres, yang mengetahui secara pasti keberadaan serbuk petasan tersebut adalah korban.

“Dari pengakuan keluarganya, selama ini korban bekerja sebagai petani dan tidak pernah melakukan penjualan petasan dan sejenisnya,” papar Kapolres.

Sementara itu, pihak keluarga tidak berkenan di lakukan otopsi terhadap jenazah korban dan hal itu di perkuat dengan surat pernyataan dari mereka.

Setelah di ketahui meninggal dunia, para tetangga dan kerabatnya langsung memakamkan jenazah korban di pemakaman umum setempat pada malam itu juga. Sedangkan sejumlah aparat kepolisian Polsek Kalipuro mendatangi TKP untuk memastikan penyebab terjadinya ledakan tersebut.

Dari lokasi, kepolisian menemukan selongsong petasan yang belum terisi dan kertas bahan pembuatan petasan.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang laki laki warga Kelurahan Karangrejo meninggal dunia diatas genteng rumah warga, saat memasang kabel TV bersama temannya.

Korban adalah Didik Hariyanto (45) tercatat sebagai warga Jalan Ikan Waderpari Kelurahan Karangrejo Kecamatan Banyuwangi kota. Setelah di evakuasi dari atas rumah warga di kawasan Lingkungan Sukowidi Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro, jenazah korban langsung di bawa ke RSUD Blambangan Banyuwangi guna dilakukan pemeriksaan medis.

Hasilnya, di duga korban meninggal karena terkena serangan jantung akibat kecapekan.

Menurut keterangan Hery Rusdiyanto, teman korban, dirinya mengajak korban untuk memasang kabel TV yang di kelolanya di kawasan TKP.

“Kami bersama sama menarik kabel untuk di pasang di sentralnya dengan menggunakan tembok salah satu pelanggan yang cukup tinggi karena untuk menghindari kendaraan lewat,” ujar Hery.

Pasalnya, lokasi pemasangan berada di pinggir jalan raya, utara perempatan Sukowidi. Laki laki berusia 51 tahun tersebut menjelaskan, setelah kabel siap dipasang, korban memegang ujung kabel sebelah utara lalu naik ke atas genteng dan dirinya juga ikut membantu menarik kabel agar lurus.

“Setelah terpasang ke bosternya, korban turun dan mengajak saya istirahat sambil minum kopi di pinggir jalan,” ungkap Hery.

Tidak terlalu lama, korban pamitan kepada Hery untuk memasang input di alat yang lain dan kembali naik ke atas genteng.

Hery mengatakan, saat itulah, dirinya melihat korban duduk selonjor layaknya orang sedang kecapekan. Sementara Hery sendiri melanjutkan memotongi kabel yang ada di bawah.

“Karena merasa hati saya tak enak, saya pun menghampiri dia ke atas genteng dan membangunkannya,” tutur Hery.

Namun tubuh korban tidak bergerak, lalu dia turun untuk mengambilkan air kemasan gelas dan di minumkan kepada korban. Rupanya, air tersebut juga tidak bisa masuk ke dalam mulut korban.

Hery mengaku, mendapati kondisi ini dirinya berteriak meminta tolong kepada warga yang kebetulan ada di TKP. Hingga akhirnya, 3 orang naik ke atas genteng untuk menurunkan tubuh korban dengan dibantu 1 unit truck untuk mengevakuasi.

Selanjutnya, korban di larikan ke RSUD Blambangan Banyuwangi guna dilakukan pemeriksaan medis, namun rupanya korban sudah meninggal dunia.

“Kemungkinan kematian korban bukan karena kesetrum listrik, tapi diduga terkena serangan jantung,” kata Hery.

Pasalnya, di akui Hery selama ini korban bekerja sebagai pemasang instalasi listrik sehingga di pastikan dia mengetahui antara aliran listrik yang tegangan tinggi ataupun rendah.

Sementara, dari pengakuan Hery, diduga korban mengalami kecapekan karena setiap malam membantu istrinya membuat kue sedangkan pagi harinya harus berjualan. Dan di hari kejadian, Hery mengajak korban memasang kabel.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak kepolisian yang berada di TKP maupun rumah sakit untuk melakukan olah TKP.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Metlek Eyob, pembalap asal Iran yang tergabung dalam tim Terengganu Cycling Malaysia menjadi pemenang dalam event balap sepeda Tour de Indonesia etape 4 yang finish di Banyuwangi, Kamis (22/8/2019).

Pebalap dengan nomor punggung 145 tersebut berhasil mencetak catatan waktu 4 jam 16 menit 33 detik, setelah di lepas dari Jember Square menuju Paltuding Ijen Banyuwangi berjarak tempuh mencapai 147 KM.

Di posisi kedua di tempati Thomas Lebas dari tim Kinan Cycling Jepang dan ketiga Amir Kolahdouz Hagh dari tim Taiyun Miogee Cycling.

Sebagai raja tanjakan atau Green Jersey, Thomas Lebas berhasil menaklukkan 3 tanjakan di KM 31 kawasan Jember juga di KM 134 Ijen Garden Homestay serta di garis finish paltuding KM 143,3 KM.

Dalam keterangannya, Metlek Eyob mengatakan, balapan etape 4 kali ini dinilai paling berat di banding 3 etape sebelumnya, terutama tanjakannya yang sangat terjal. Dia mengaku hanya berusaha melakukan yang terbaik.

“Saat mulai tanjakan, semua pembalap mempunyai strategi naik dua dua,” ungkap Eyob.

“Tim yang menjadi kompetitor adalah kebanyakan dari Malaysia dan Indonesia, sehingga saya berjuang keras melawan mereka,” tuturnya.

Eyob juga mengaku ingin membawa pulang satu Jersey seperti kemenangan yang diraihnya saat ini.

Untuk bisa mengikuti kompetisi ini kata Eyob, dirinya bersama tim benar benar melalui seleksi yang ketat.

“Lain kali saya ingin ikut kembali karena event ini sebagai balapan yang tak mudah ditaklukkan,” kata Eyob.

Sementara, sebagai pembalap terbaik Asian Rider atau Yellow Jersey di raih Huat Goh Choon dari tim Terengganu Cycling Malaysia.

Selanjutnya, pada Etape lima, Jum’at 23 Agustus pembalap harus melintasi kawasan pulau Bali dengan start Gilimanuk dan finish di Bangli.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ratusan personel kepolisian bersama aparat TNI dan sejumlah elemen lainnya turun untuk melakukan pengamanan perhelatan balap sepeda Tour de Indonesia yang melintas di kawasan Banyuwangi.

Total ada 930 personel yang diterjunkan untuk berjaga di 479 titik pengamanan yang tersebar di sejumlah wilayah di Banyuwangi, yang di lalui oleh para pembalap.

Kasubag Humas Polres Banyuwangi, Iptu Lita Kurniawan mengatakan, dari 930 personel tersebut 600 diantaranya adalah aparat kepolisian. Sedangkan TNI AD sebanyak 200 personel, TNI AL 30 personel, Dinas Perhubungan 30 personel juga Satpol PP 100 personel dan Linmas 400 orang.

“Seluruh Linmas di beberapa desa yang dilalui para peserta memang sengaja disiagakan secara maksimal, karena mereka bertugas menutup dan membuka jalan desa dari arus kendaraan bermotor di saat di lewati para peserta,” papar Iptu Lita.

Sementara itu khusus aparat kepolisian kata Lita, ke 600 personel yang disiagakan tersebut adalah dari berbagai kesatuan di jajaran Polres Banyuwangi juga seluruh polsek.

“Dan 1 SSK atau Satuan Setingkat Kompi yakni sekitar 100 an personel khusus dari unit Pengendalian Massa (Dalmas), yang bertugas pembersihan jalan dengan membawa berbagai alat kebersihan,” ungkap Lita.

“Mereka berbaur menjadi satu dengan para penyapu jalanan dari Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi, sehingga disaat kegiatan selesai kondisi jalanan kembali bersih,” imbuhnya.

Sementara itu, gelaran balap sepeda Tour De Indonesia ini di ikuti 100 pembalap dari 26 negara dengan menempuh jarak 825,2 KM.

Para peserta dilepas pada etape pertama, Senin 19 Agustus 2019 dengan rute Borobudur-Ngawi. Etape dua, Selasa 20 Agustus rute Madiun-Batu. Etape tiga, Rabu 21 Agustus rute Batu-Jember. Etape empat, Kamis 22 Agustus dengan rute Jember-Ijen Banyuwangi. Dan Etape lima, Jum’at 23 Agustus rute Gilimanuk-Bangli.

Khusus etape 4 rute Jember-Banyuwangi berjarak tempuh 147 KM dengan estimasi waktu 3 jam 30 menit sampai di finish Paltuding Kawah Ijen Banyuwangi. Peserta dilepas dri Jember Square pukul 10.00 WIB dan tiba di Paltuding Ijen pukul 13.50 WIB dengan melewati sejumlah titik keramaian di wilayah Banyuwangi. Seperti Pasar Rogojampi, kantor Bupati Banyuwangi, Simpang Lima, Taman Blambangan, Masjid Agung Baiturrohman dan rest area Jambu.

Dari rest area Jambu Kecamatan Licin inilah, para peserta harus menaklukkan jalan tanjakan erek erek dengan kemiringan 45 derajat untuk bisa mencapai garis finish di Paltuding Ijen.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah di lakukan pengembangan penyidikan, kepolisian menetapkan RDH sebagai tersangka pembuangan bayinya yang ditemukan di surau pinggir sungai di Desa Kenjo Kecamatan Glagah Banyuwangi pada hari Minggu (18/8/2019) lalu. Tepatnya di kawasan Dusun Krajan RT 01 RW 01.

Penetapan tersangka ini dilakukan kepolisian setelah 2 orang saksi di periksa yakni Ansori, selaku ketua RT setempat dan Sekretaris Desa Kenjo, Untung. Kedua saksi tersebut yang pertama kali menemukan bayi perempuan tergeletak di lantai surau. Selain itu, kepolisian juga memeriksa RDH yang diduga sebagai ibu bayi.

Kanit Reskrim Polsek Glagah, Aiptu S Edy mengatakan, dari hasil keterangan para saksi serta beberapa barang bukti pendukung yang diamankan, maka kepolisian memperoleh titik terang bahwa perempuan berusia 27 tahun itu diduga kuat sebagai ibu kandung dari bayi yang telah di lahirkan dan di temukan di surau.

“Kepolisian menetapkan RDH sebagai tersangka tapi tak dilakukan penahanan dan hanya di awasi dengan berkoordinasi bersama Dinas Sosial untuk menentukan langkah selanjutnya,” ujar Aiptu Edy.

“Kepolisian sengaja tidak menahan RDH karena pasal yang di sangkakan adalah 308 KUHP dengan ancaman 2,5 tahun penjara,” ungkapnya.

Dalam pasal ini berbunyi bahwa karena ketakutan diketahui atas kelahiran anaknya sesaat kemudian setelah melahirkan bayi dan menempatkan bayi tersebut untuk ditemukan orang lain serta meninggalkannya agar terhindar dari tanggung jawab merawatnya.

Menurut pengakuan RDH di hadapan penyidik, awalnya dia ingin kencing yang berlanjut perutnya sakit setelah berada di dalam kamar. Lalu RDH pergi ke sungai yang berada sekitar 10 meter belakang rumahnya berniat buang air besar.

“Tapi justru dia melahirkan bayi perempuan dan sempat tenggelam di dalam air.” imbuh Aiptu Edy.

Karena ketakutan, RDH pun meletakkan bayinya di lantai surau dengan hanya beralaskan keset. Lalu dia pergi dengan harapan bayinya menangis dan ditemukan oleh orang lain. Dengan begitu, RDH ingin melepas tanggung jawab untuk merawat anaknya tersebut.

“Dari pengakuan RDH juga, selama ini kedua orang tuanya tak mengetahui jika dirinya hamil,” kata Edy.

Dan bapak RDH tersebut adalah Ansori, ketua RT yang pertama kali menemukan bayinya.

Kanit Reskrim menambahkan, saat dimintai keterangan, Ansori bersikukuh mengaku tidak mengetahui jika anaknya mengandung.

Hal itu dibuktikan dengan hasil pemeriksaan terhadap RDH di puskesmas Paspan Glagah yang menyatakan bahwa ada kalanya seseorang tidak terlihat perutnya membesar saat dalam keadaan hamil, seperti yang dialami RDH.

Sementara itu, selama ini RDH berstatus sebagai janda dan tinggal bersama kedua orang tuanya di wilayah setempat dengan memiliki seorang anak dari hasil pernikahannya terdahulu.

“Kami juga terus melakukan pengembangan penyidikan untuk mengungkap identitas laki laki yang menghamili RDH,” tutur Aiptu Edy.

Sebagai barang bukti, kepolisian mengamankan 1 buah keset, 1 lembar kain, 1 sajadah yang digunakan membungkus bayi setelah ditemukan serta 1 buah baju daster milik RDH.

Sebelumnya, bayi perempuan berukuran panjang 48 cm dan berat 2,3 KG di temukan oleh Ketua RT setempat, Ansori dan istrinya, Masruroh tergeletak di lantai surau yang ada di pinggir sungai di kawasan Dusun Krajan RT 01 RW 01 Desa Kenjo Kecamatan Glagah, Minggu dini hari (18/8/2019) sekira pukul 00.30 WIB. Kini bayi tersebut masih mendapat perawatan intensif di RSUD Blambangan Banyuwangi. Berdasarkan dari berat badannya, di duga bayi tersebut lahir prematur.

More Articles ...