radiovisfm.com, Banyuwangi - Sejak 2014 hingga awal November 2018 ini, tercatat ada 488 kapal pencuri ikan (illegal fishing) di perairan Indonesia yang di tenggelamkan oleh pemerintah.

Dalam kunjungannya ke Banyuwangi, Sabtu (3/11) Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku, sejak menjadi menteri di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) Oktober 2014, lebih dari 400 an kapal maling ikan yang sudah di tenggelamkan.

Adapun, kapal yang ditenggelamkan tersebut berasal dari berbagai negara seperti Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia hingga China.

Vietnam ada sebanyak 276 kapal, Filipina 90 kapal, Thailand 50 kapal, Malaysia 41 kapal, Indonesia 26 kapal, Papua Nugini 2 kapal, Cina 1 kapal, Belize 1 kapal dan tanpa negara 1 kapal.

“Masih tersisa 50 kapal lagi yang kami amankan, setelah di ketahui melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia,” ujar Menteri Susi.

“Rencananya, akan di tenggelamkan pada Agustus 2019 mendatang bertepatan dengan peringatan HUT ke 74 Kemerdekaan RI,” imbuhnya.

Lebih lanjut Menteri Susi mengatakan, terbanyak penenggalaman kapal dilakukan serentak pada Agustus 2018 lalu dalam rangka HUT ke 73 Kemerdekaan RI, yakni sebanyak 125 kapal yang terlibat Illegal Fishing. Dan penenggalaman serentak ini di pandunya secara langsung dari Bitung, Sulawesi Utara.

Untuk di Bitung ini sendiri di tenggalamkan 15 kapal. Selain di Bitung , penenggelaman kapal ini juga berlangsung di Pontianak ada 18 kapal, Cirebon 6 kapal, Aceh 3 kapal, Tarakan 2 kapal, Belawan 7 kapal, Merauke 1 kapal, Natuna atau Ranai 40 kapal, Ambon 1 kapal, Batam 9 kapal, Terempa atau Anambas sebanyak 23 kapal.

“Sehingga total ada 125 kapal,” pungkas Menteri Susi.

Sementara itu, kedatangan Menteri Susi ke Banyuwangi ini dalam rangka mengkampanyekan Gemar Makan Ikan di pondok pesantren. Dan yang di pilih untuk kegiatan ini adalah di Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Kecamatan Tegalsari Banyuwangi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Warga lingkungan Sukowidi RT 03 RW 03 Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro Banyuwangi mengeluhkan debu serbuk kayu dari pabrik pengolahan triplek yang berada di kawasan pemukiman penduduk.

Hampir setiap hari, warga setempat mengaku terus menerus menyapu debu kayu yang di duga berasal dari pabrik yang berada di sisi selatan rumah mereka yakni CV Putra Jaya Wood Indonesia, tepatnya di kawasan jalan Yos Sudarso. Bahkan, debu juga masuk ke dalam rumah warga dan kamar mereka hingga terlihat kotor karena sangat halus.

Seperti yang di sampaikan oleh Zainal Abidin, warga setempat. Menurut laki laki berusia 38 tahun tersebut, jika angin ke arah utara maka serbuk kayu tersebut di pastikan mengotori rumah warga, ditambah bau asap yang menyengat dari arah pabrik itu juga disertai bau lem sehingga dinilai mencemari lingkungan.

“Saya sudah complain kepada beberapa warga setempat yang bekerja di pabrik pembuatan triplek itu, tapi belum ada solusi,” ujar Zainal.

Bahkan, dia juga mengaku sempat datang ke Kantor Kelurahan Klatak melaporkan hal ini hingga di lakukan mediasi.

“Hasilnya, pihak perusahaan bersedia mengatasi polusi udara agar tidak masuk ke perkampungan warga,” tutur Zainal.

“Mungkin itu tidak bisa, karena debunya sudah merata masuk ke rumah warga,” imbuhnya.

Zainal menjelaskan, saat ini sudah ada puluhan warga yang menanda tangani penolakan keberadaan pabrik pembuatan triplek tersebut serta meminta untuk segera pindah dari wilayah setempat.

Lain halnya dengan Kuswana (55) yang mengaku mengalami sesak nafas dan batuk darah, setelah sering menghirup serbuk kayu.

“Setiap hari rumah saya kotor karena banyaknya serbuk kayu dari pengolahan triplek itu malah sampai masuk ke kamar saya,” tutur Kuswana.

Pasalnya, rumah Kuswana tidak berplafon sehingga kotoran mudah masuk.

“Sebelumnya saya pernah bekerja di pabrik itu selama 3 bulanan setelah suami saya meninggal dunia,” kata Kuswana.

Namun dia sempat berhenti karena mengaku tidak kuat dengan bau lem meskipun sudah memakai masker hingga mengalami batuk darah.

Setelah bepergian ke Flores, Kuswana kembali bekerja dengan meminta sebagai tenaga borongan. Namun rupanya, kondisinya semakin parah karena kembali mengalami batuk darah.

“Saya cuma dapat gaji antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per hari hingga akhirnya saya putuskan untuk berhenti kerja,” papar Kuswana.

Dia menceritakan, meski sudah berhenti kerja namun dia mengaku masih mengalami sesak nafas seiring dengan terus masuknya serbuk kayu ke dalam rumahnya.

Lain halnya dengan Sri Rahayu (47) yang mengaku tidak bersedia dimintai tanda tangan atas keberadaan pabrik pembuatan triplek tersebut.

“Karena serbuk kayu dan asap yang di timbulkan dari arah pabrik itu telah mencemari lingkungan juga menimbulkan bau yang sangat menyengat,” papar Rahayu.

“Makanya saya gak mau tanda tangan,” imbuhnya.

Sementara itu, Pemilik CV Putra Jaya Wood Indonesia, Budi alias Bingbing mengaku sudah beretikat baik untuk mengatasi polusi udara yang ditimbulkan dari perusahaan yang di pimpinnya itu dengan memindah posisi cerobong asap.

“Saya sudah bertemu langsung dengan perwakilan warga, Zainal Abidin di dampingi Ketua RT dengan di mediasi oleh Lurah Klatak, Candra Istiono untuk mencari solusi dari permasalahan ini,” papar Bingbing.

Dan diakuinya semua sudah selesai dengan upaya yang akan di lakukannya untuk menghindari pencemaran lingkungan tersebut.

“Saya kaget karena ternyata warga masih mempermasalahkan hal itu meski sudah di lakukan mediasi,” ungkap Bingbing.

Dan diakui pula, dimungkinkan ini ada kaitannya dengan persaingan bisnis namun dengan mengatas namakan warga.

 

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Pakar kuliner terkenal, William Wongso mengunjungi Banyuwangi untuk mengeksplorasi khazanah kuliner di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu.

Penasihat kuliner untuk sejumlah maskapai penerbangan itu berada di Banyuwangi selama dua hari, Kamis-Jumat (1-2/10). Saat bertemu dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, William mengaku mengeksplorasi sekaligus melakukan kurasi terhadap makanan khas Banyuwangi.

Eksplorasi kuliner ini dilakukan untuk menyambut acara internasional di Banyuwangi pada Mei 2019 mendatang.

“Di bulan Mei 2019 itu seluruh kedutaan besar yang ada di Laos bakal menggelar acara di Banyuwangi,” kata William.

“Dan kami mempersiapkan banyak hal untuk ditampilkan, termasuk kulinernya,” imbuhnya.

Di Laos, terdapat perkumpulan para duta besar yang bertugas di negara yang berbatasan dengan Myanmar, Tiongkok, dan Vietnam tersebut. Mereka kerap membikin pertemuan untuk mempererat persahabatan antarnegara.

“Tahun depan, Banyuwangi dipilih oleh mereka sebagai tempat pertemuan,” ungkap William.

Beberapa kuliner yang dibidik William Wongso adalah sego tempong, sego cawuk, dan pecel pitik. Sejumlah buah lokal juga dieksplorasi untuk dipadupadankan dengan menu masakan.

William yang dikenal menguasai seni masakan Eropa dan Asia tersebut menuturkan, pihaknya mencoba mempelajari cita rasa lokal, kemudian disesuaikan dengan cita rasa internasional.

“Seperti penggunaan rasa pedas. Orang Banyuwangi berbeda cara menikmatinya dengan dunia barat. Hal inilah yang akan saya eksplorasi,” ujar William.

Banyuwangi, kata William, dipilih karena memiliki keunikan tersendiri. Banyuwangi yang sedang naik daun diharapkan mampu memberikan pengalaman berbeda bagi para duta besar yang ada di Laos.

“Karena untuk ke Bali dan Jakarta, mungkin mereka pernah berkunjung,” imbuh William.

Maka atas inisiatif dari Laos, memilih Banyuwangi agar para dubes negara lain yang bertugas di Laos memiliki pengalaman baru.

Kuliner Banyuwangi juga dinilai memiliki kekhasan tersendiri. Seperti pecel pitik yang dikenal sebagai makanan pengiring saat acara ritual atau tradisi adat Suku Osing, masyarakat asli Banyuwangi.

Tak hanya kuliner yang bakal dieksplorasi untuk acara internasional tersebut. Kebudayaan, hasta karya, dan tari-tarian juga turut dikurasi. William Wongso bersama tim akan menyeleksi berbagai potensi tersebut untuk ditampilkan pada acara itu.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berterima kasih atas dipilihnya Banyuwangi sebagai tempat pertemuan para diplomat asing tersebut.

“Ini merupakan kehormatan bagi Banyuwangi karena daerah kecil di ujung timur Pulau Jawa yang sedang bekerja untuk berkembang, ternyata dipilih sebagai tempat pertemuan para diplomat,” papar Bupati Anas.

“Tentu momen ini jadi instrumen pemasaran yang efektif bagi Banyuwangi,” ungkapnya.

Bupati Anas juga mengaku berterima kasih terhadap William Wongso yang dinilai mempunyai dedikasi luar biasa didalam mengangkat kuliner local.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang pedagang sayur di Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi meninggal dunia, setelah sepeda motor yang di kendarainya di tabrak Truck Fuso tak dikenal yang melarikan diri.

Korban diketahui bernama Suhawi (65) warga Dusun Kebunrejo RT 02 RW 01 Desa Alasrejo Kecamatan Wongsorejo ditemukan meninggal dunia di lokasi, dengan kondisi sangat mengenaskan yakni kepalanya nyaris hancur akibat terlintas ban truck.

Kapolsek Wongsorejo Banyuwangi, AKP Kusmin mengatakan, dari hasil olah TKP dan menurut keterangan beberapa orang saksi mata, korban mengendarai sepeda motor Yamaha Vega tanpa plat nomor melaju dari Selatan ke Utara dengan membawa tobos berisi sayuran yang hendak di jual.

“Dari arah bersamaan, melaju Truck Fuso tak di kenal,” ujarnya.

Kapolsek menjelaskan, saat keduanya melintas di kawasan jalan raya Desa Wongsorejo tepatnya di utara Kantor Desa Wongsorejo masuk RT 01 RW 07 Kecamatan Wongsorejo, tiba tiba sepeda motor korban menyalip truck fuso tersebut.

“Tanpa di sadari, tobos yang di angkutnya menyenggol kendaraan truck fuso hingga korban terjatuh ke jalan raya dan meninggal dunia di lokasi dengan kondisi yang mengenaskan,” tutur Kapolsek.

Sementara, truck fuso tersebut langsung melarikan diri setelah melihat korban meninggal dunia.

Selanjutnya, sejumlah warga membawa lari jenazah korban ke Puskesmas Wongsorejo guna di lakukan pemeriksaan medis.

AKP Kusmin menambahkan, peristiwa naas itu terjadi murni di akibatkan karena kelalaian pengendara kendaraan bermotor.

“Saat ini kami terus mengejar keberadaan truck fuso beserta pengemudinya dengan menyebar informasi ke berbagai polres samping,” pungkas AKP Kusmin.

Setelah berhasil di evakuasi ke puskesmas Wongsorejo dan di lakukan pemeriksaan medis, jenazah korban pun di semayamkan di rumah duka yang selanjutnya di makamkan di pemakaman umum setempat.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Lurah Klatak Kecamatan Kalipuro, Candra Istiono mengaku sudah memediasi antara warga dengan pihak pemilik pabrik pembuatan triplek terkait dengan dugaan pencemaran lingkungan.

Candra mengatakan, terkait laporan warga yang mengadukan adanya polusi udara di pemukiman penduduk yang disebabkan proses pembuatan triplek di CV Putra Jaya Wood Indonesia, diakui sudah di lakukan penanganan lebih lanjut.

“Saya sudah lakukan mediasi antara pihak pelapor dalam hal ini perwakilan warga, Zainal Abidin di dampingi Ketua RT setempat, dengan pemilik perusahaan Budi alias Bingbing,” papar Candra.

“Dari pertemuan ini, intinya warga meminta tidak ada lagi pencemaran polusi udara yang di sebabkan debu serbuk kayu ke rumah rumah warga,” imbuhnya.

Hasilnya kata Candra, pihak perusahaan menyanggupi untuk menata kembali dan mengatur posisi berbagai peralatan dan sarana prasarana yang digunakan untuk pemrosesan guna mengurangi polusi udara.

Sementara itu, terkait adanya penggalangan tanda tangan yang di lakukan warga atas penolakan keberadaan pabrik tersebut, Candra mengaku belum mengetahuinya secara langsung dan hanya mendengarnya saja.

“Pihak kelurahan sudah melakukan upaya mediasi untuk menghindari kegaduhan di masyaraka,” dalih Candra.

“Mediasi ini hanya untuk menyampaikan aduan masyarakat ke pihak perusahaan,” tuturnya.

Sedangkan hasilnya, tergantung dari perkembangan di lapangan apakah masyarakat masih terdampak dengan serbuk debu kayu tersebut ataukah tidak.

Sementara itu, Camat Kalipuro, Hendry Suhartono mengatakan, pihaknya telah melakukan pembinaan kepada para pemilik seluruh perusahaan yang ada di wilayahnya, agar tetap memperhatikan amdal serta prosesnya tidak mengganggu lingkungan sekitar.

“Jangan sampai masyarakat terdampak dari produksi yang di lakukan perusahaan,” kata Hendry.

“Kami menginginkan, keberadaan perusahaan bisa memberikan dampak simbiosis mutualisme terhadap masyarakat untuk saling menguntungkan,” paparnya.

Terkait dengan keberadaan pabrik pembuatan triplek tersebut, Camat mengaku akan segera turun ke lapangan untuk mengecek kelengkapan surat surat pendiriannya sekaligus sarana prasarana yang ada.

“Jika merugikan masyarakat karena menimbulkan polusi, kami akan menindak tegas dengan melakukan penertiban. Supaya tidak menjadi hal yang tidak terselesaikan dan berimbas ke masyarakat,” pungkas Hendry.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam rangkaian kampanye di Banyuwangi, Calon Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin berziarah ke makam Kiyai Saleh Kelurahan Lateng, yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pertama di Banyuwangi.

Disini, laki laki kelahiran 11 Maret 1943 tersebut membaca do’a di dampingi beberapa ulama sambil duduk lesehan di depan makam Kiyai Saleh dengan di jaga ketat puluhan aparat kepolisian di lokasi.

“Sebelumnya, dalam rangkaian kampanye politik saya ini, saya bersilaturrahmi di Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Kecamatan Tegalsari. Selanjutnya menggelar deklarasi Arus Baru Indonesia (ARBI) di GOR Tawang Alun lalu menghadiri panen padi di Kecamatan Songgon,” papar Amin kepada sejumlah wartawan usai berziarah.

Amin mengaku, pihaknya sengaja berziarah ke makam Kiyai Saleh ini karena untuk menghormati jasa beliau yang dinilai sebagai salah satu pendiri NU pertama di Banyuwangi.

KH Ma’ruf Amin adalah ulama dan politisi Indonesia yang lahir di Kresek, Tangeran di masa pendudukan Jepang 75 tahun silam. Sejak Agustus 2015, ia menjabat sebagai Rais 'Aam Syuriah pada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Ketua Majelis Ulama Indonesia.

Amin duduk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada 9 Agustus 2018, ia diumumkan sebagai calon Wakil Presiden Indonesia pada pemilihan umum Presiden Indonesia 2019, mendampingi petahana Joko Widodo.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian Polres Banyuwangi menggelar Operasi Zebra Semeru 2018 selama 14 hari, dengan lebih mengedepankan penindakan tilang terhadap para pelanggar lalu lintas.

Kegiatan ini mulai digelar 30 Oktober hingga 12 November 2018 mendatang, dengan melibatkan sekitar 96 anggota polri beserta aparat TNI dan Dinas perhubungan.

Dan sebagai penanda dimulainya kegiatan ini, pada Selasa (30/10) di laksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi Zebra Semeru 2018 di Mapolres Banyuwangi dengan dipimpin langsung Kapolres Banyuwangi, AKBP Donny Adityawarman.

Dalam gelar pasukan yang bertemakan penegakan hukum dan meningkatkan kesadaran serta kepatuhan masyarakat dalam berlalu lintas di wilayah Banyuwangi tersebut, di hadiri jajaran Forum Pimpinan Daerah dan ratusan aparat kepolisian serta puluhan personel TNI AL dan TNI AD juga Dinas Perhubungan Banyuwangi.

“Operasi zebra semeru ini untuk penindakan terhadap pengendara kendaraan bermotor yang berada di sekitaran Banyuwangi maupun yang melintas di Banyuwangi yang melanggar peraturan, agar mereka lebih sadar dan lebih paham di dalam berlalu lintas,” papar Kapolres.

“Saya berharap, dengan adanya operasi ini angka kecelakaan lalu lintas menurun drastic,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Banyuwangi, AKP Prianggo Parlindungan Malau mengatakan, ada 10 titik yang menjadi prioritas untuk pelaksanaan operasi zebra semeru ini, yakni yang dinilai rawan terjadi kecelakaan lalu lintas (Black Spot), rawan terjadi kemacetan kendaraan bermotor serta lokasi yang rawan terjadinya pelanggaran lalu lintas. Ke 10 titik tersebut diantaranya di depan Hotel Santika, depan Masjid Baiturrahman, makam datuk di seputaran Kecamatan Kalipuro, timbangan Watu Dodol, timbangan Kalibaru, jalan Wahid Hasyim Genteng, jalan raya Jember-Gambiran, simpang 4 tembokrejo Muncar, jalan raya Jember depan Polsek Gambiran dan depan Hotel Mahkota Genteng.

“Tapi tidak menutup kemungkinan operasi ini juga di gelar di sejumlah lokasi lainnya secara insidentil, karena di khawatirkan justru pelanggaran lalu lintas terjadi di luar 10 lokasi itu,” papar Kasat Lantas.

Dia menjelaskan, operasi ini lebih mengedepankan penegakan hukum untuk menertibkan dan menciptakan kesadaran berlalu lintas bagi seluruh masyarakat khususnya Banyuwangi. Artinya, lebih mengedepankan penindakan secara represif dengan penindakan tilang atau Yudistial dibanding dengan penindakan non yudistial seperti teguran.

“Penindakan tilang sebesar 80 persen dan penindakan di luar tilang sebesar 20 persen,” tutur Kasat Lantas.

Dan tidak menutup kemungkinan, petugas juga tetap melakukan kegiatan prefentif seperti sosialisasi, pengaturan dan pengawalan serta patroli namun jumlah kegiatannnya lebih sedikit di banding penindakan tilang.

Kasat Lantas menambahkan, ada beberapa jenis pelanggaran yang menjadi prioritas dalam penindakan operasi zebra semeru ini, utamanya yang sangat rawan menciptakan dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas serta menimbulkan fatalitas seperti korban meninggal dunia atau luka berat.

“Yaitu, menggunakan ponsel saat mengemudikan kendaraan bermotor, menggunakan helm tidak ber SNI, melawan arus, juga mengemudikan kendaraan bermotor di bawah pengaruh narkoba atau alcohol,” papar AKP Prianggo.

Selain itu kata Kasat Lantas, kendaraan roda 4 yang merupakan kendaraan barang namun di gunakan untuk mengangkut orang karena dinilai sangat membahayakan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

 

More Articles ...