radiovisfm.com, Banyuwangi - Kepolisian menangkap 1 dari 3 orang yang di duga melakukan pengeroyokan kepada anggota Persatuan Setia Hati Terate (PSHT) Banyuwangi, setelah sebelumnya terjadi tindakan anarkis sekelompok massa yang berujung pada pengrusakan rumah warga di Desa Sukorejo dan Desa Ringin Telu Kecamatan Bangorejo.

Dilaporkan ada 4 orang anggota PSHT yang mengalami luka luka, akibat di serang oleh puluhan warga di depan Kantor Desa Sukorejo pada Minggu malam (4/8/2019) lalu. Ada yang mengalami luka di kepala diduga akibat di sabetan clurit, luka tusuk juga beberapa luka lainnya.

Sebelumnya, sebanyak 600 anggota PSHT se Banyuwangi melakukan latihan bersama di lapangan Sragi Kecamatan Songgon selama sehari penuh di hari Minggu tersebut. Latihan ini adalah untuk tingkatan paling akhir sabuk putih.

Selesai kegiatan, mereka pulang ke masing masing kecamatan. Sedangkan sekitar 20 an orang anggota PSHT Kecamatan Siliragung dan Pesanggaran menuju ke rumahnya melewati kawasan Kecamatan Bangorejo dengan mengendarai sepeda motor juga truck secara konvoi.

Namun saat melintas di depan kantor Desa Sukorejo tersebut, mereka mengaku dicegat lalu diserang oleh puluhan warga setempat dengan membabi buta hingga ada yang mengalami berbagai luka. Selanjutnya, mereka melapor ke Mapolsek Bangorejo untuk meminta perlindungan hukum atas kasus penganiayaan.

Kuasa Hukum PSHT cabang Banyuwangi, Fendi Aditya mengaku, puluhan anggota PSHT tersebut di serang menggunakan clurit, linggis juga kayu.

“Ini adalah criminal murni karena aksi penyerangan sudah di persiapkan serta diduga adanya percobaan pembunuhan dan dilakukan malam hari, sehingga kami minta kepolisian segera menangkap para pelakunya,” papar Fendi.

Dia juga membantah, jika saat melintas di TKP tersebut para anggoat PSHT membunyikan klakson kendaraannya dengan kencang.

“Anggota PSHT selaku klien kami sudah menanyakan ke pihak kepolisian terkait perkembangan kasus ini pada Selasa malam (6/8/2019) lalu, tapi rupanya belum ada tindakan apapun,” ujar Fendi.

Kondisi ini membuat mereka geram sehingga ratusan anggota PSHT mendatangi Mapolsek Bangorejo pada Kamis malam (8/8/2019) hingga berujung pada pengrusakan beberapa rumah warga, salah satunya milik Sunaryo (53) di Dusun Ringintelu Desa Ringintelu, yang seluruh barang di dalamnya hancur dan rusak tanpa sisa. Ada pula warung bakso milik Puji Erfandi di sisi selatan Kantor Desa Sukorejo juga menjadi sasaran amuk warga dengan memporak porandakannya.

“Itu bukan dilakukan anggota PSHT. Di mungkinkan ada sekelompok masyarakat yang menginginkan para pelaku pengroyokan segera ditangkap sehingga melakukan aksi pengrusakan itu,” ungkap Fendi.

“Sebagai kuasa hukum, saya hanya focus pada klien saya yang menjadi korban,” imbuhnya.

Sedangkan terkait pengrusakan rumah dan sebagainya, menurutnya bahwa anggota PSHT mengikuti prosedur hukum serta tidak boleh ada satu anggota maupun pengurus pun yang melakukan tindakan criminal yang melanggar hukum.

Fendi mengaku, kepolisian sudah memeriksa 3 saksi dan 2 saksi korban. Selanjutnya, muncul 3 nama dari BAP yang di tanda tanganinya, yang diduga sebagai pelaku pengroyokan.

Menurut Fendi, pihaknya sudah menanyakan ke pihak kepolisian, namun rupanya belum berhasil menangkap pelakunya.

“Kepolisian baru melakukan penangkapan 1 orang setelah ada 2 kali kerusuhan,” tutur Fendi.

Sedangkan 2 orang lainnya yang juga di duga sebagai pelaku masih dalam pengejaran.

Sementara itu, salah satu korban, Wigun (27) mengatakan, dirinya di pukuli oleh segerombolan warga Sukorejo yang sebelumnya menghadang rombongan anggota PSHT Siliragung dan Pesanggaran.

Laki laki asal Dusun Mulyoasri RT 04 RW 01 Desa Sumbermulyo Kecamatan Pesanggaran tersebut mengaku terguling dan terjungkal di tanah dengan kondisi tidak berdaya, setelah kepalanya mengalami luka yang diduga akibat sabetan benda tajam.

“Saya tidak kenal pelaku tapi hanya mengetahui ciri cirinya,” ungkap Wigun.

Rombongan PSHT ini diakui sebanyak 30 orang dan saat melintas di depan Kantor Desa Sukorejo Kecamatan Bangorejo tiba tiba diserang sekitar 50 orang warga.

Wigun membantah jika dirinya dan puluhan temannya mengendarai sepeda motor dengan suara klakson yang keras.

“Kami hanya melakukan konvoi dengan suara yang sedang sedang saja,” pungkas Wigun.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Masyarakat di Kelurahan Lateng Kecamatan Banyuwangi di gegerkan dengan penemuan mayat bayi perempuan ditempat pembuangan sampah di area Pasar Blambangan, Kamis (8/8/2019).

Pertama kali, mayat bayi naas tersebut ditemukan oleh seorang pemulung saat sedang mencari rongsokan.

Dan saat pertama di temukan, mayat bayi yang masih lengkap dengan tali pusarnya tersebut di bungkus tas plastic atau kresek warna biru yang di rangkap warna hitam. Bahkan di dalamnya juga ditemukan sarung laki laki, selendang bayi dan baju perempuan yang berlumuran darah.

Kontan saja, penemuan mayat bayi ini membuat puluhan warga datang ke lokasi tempat pembuangan sampah yang ada di sisi pojok timur belakang pasar Blambangan, untuk melihat kondisi si bayi.

Selang beberapa lama, sejumlah aparat kepolisian Polsekta Banyuwangi datang ke lokasi untuk mengevakuasi mayat bayi yang sudah di hinggapi lalat tersebut dan di bawa ke RSUD Blambangan Banyuwangi.

Kapolsekta Banyuwangi AKP Ali Masduki melalui Kanit Reskrim, Ipda Nurmansyah mengatakan, dari hasil olah TKP sementara kepolisian, ditemukan jenazah bayi tak berdosa di dalam tas plastic serta ada sarung laki laki, selendang bayi dan baju perempuan yang masih berlumuran darah.

“Kami akan mengetahui lebih lanjut kondisi bayi setelah di lakukan pemeriksaan oleh tim medis rumah sakit nantinya,” ujar Nurmansyah.

Yang pasti, bayi tersebut di duga dibuang oleh orang tuanya kurang dari 24 jam setelah di lahirkan.

“Kepolisian terus melakukan pengembangan penyidikan untuk bisa mengungkap pelaku pembuang bayi itu,” ungkap Nurmansyah.

Sementara itu, salah satu warga setempat, Rendra membenarkan adanya mayat bayi perempuan yang di temukan di tempat pembuangan sampah di Pasar Blambangan Lateng itu.

“Pertama kali mayat bayi di temukan oleh seorang pemulung saat sedang mencari rongsokan,” pungkas Rendra.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Ratusan orang yang diduga dari salah satu perguruan silat melakukan sweeping di Desa Sukorejo Kecamatan Bangorejo Banyuwangi, Rabu dini hari (7/8/2019), yang berbuntut pada pengeroyokan warga dan pengrusakan puluhan rumah.

Dengan menggunakan sepeda motor, mereka berkeliling perkampungan warga. Bahkan, beberapa dari mereka dengan anarkis melempari rumah warga dengan menggunakan berbagai macam benda seperti batu dan pentungan. Hingga menyebabkan kaca rumah milik warga setempat rusak.

Tercatat ada sekitar 20 an rumah yang di rusak oleh massa dengan mengendarai sepeda motor. Mendapati kondisi ini, ratusan aparat kepolisian bersiaga di lokasi.

Bahkan, kepolisian sempat mengeluarkan 3 kali tembakan ke udara untuk meredakan tindakan anarkis mereka. Namun rupanya, ratusan massa tersebut tidak mengindahkan peringatan kepolisian dan malah menggeber geber sepeda motornya di jalanan desa sambil mengejar warga yang tidak bersalah, yang kebetulan melintas.

Beruntung, warga yang menjadi amukan massa tersebut berhasil diamankan aparat kepolisian.

Salah satu warga setempat, Katemi mengaku rumahnya menjadi sasaran amukan massa. Kaca depan rumah pecah akibat di lempar batu.

“Orangnya banyak, ini merusak rumah rumah warga tanpa diketahui penyebabnya,” ujar Katemi.

“Mulai jam setengah dua belas tadi rame,” imbuhnya.

Kondisi ini di benarkan oleh Kepala Desa Sukorejo, Samsudin.

“Aksi sweeping yang berujung pada tindakan anarkis ini di duga di sebabkan karena adanya kesalah pahaman antara pendekar dari salah satu perguruan silat itu dengan warga,” papar Samsudin.

“Saat itu, beberapa oknum orang dari perguruan silat yang bersangkutan melakukan konvoi di Desa Sukorejo dan terlibat kesalah pahaman dengan warga sini,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, kondisi di Desa Sukorejo Kecamatan Bangorejo berangsur kondusif. Ratusan orang yang sempat membuat onar sudah membubarkan diri.

Sementara itu, puluhan aparat kepolisian masih bersiaga di depan kantor Desa Sukorejo untuk mengantisipasi adanya aksi lanjutan.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Guna membantu masyarakat di dalam memenuhi kebutuhannya sehari hari, kepolisian mendistribusikan air bersih di sejumlah daerah di Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi yang terdampak kekeringan.

Pada Senin (5/8/2019) ini, aparat kepolisian yang di pimpin langsung Kapolres Banyuwangi AKBP Taufiq Herdiansyah Zeinardi memberikan bantuan air bersih di beberapa dusun yang ada di Desa Sidowangi, khususnya di Dusun Pancoran karena dinilai paling terdampak akibat dari musim kemarau panjang yang terjadi saat ini.

Masyarakat setempat harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk bisa mendapatkan air bersih, karena sumber mata air di sungai Pasewaran yang selama ini mengaliri ke pemukiman warga sudah mulai berkurang. Sehingga kondisi air sudah kotor saat akan di konsumsi masyarakat.

Bahkan di Dusun Pancoran ini pula, air bersih baru bisa keluar setelah di lakukan pengeboran sumur sedalam 100 meter.

Kapolres mengatakan, ini merupakan bhakti social yang dilaksanakan jajaran kepolisian yang di harapkan masyarakat bisa terbantu.

“Mereka bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari hari, utamanya untuk minum,” ungkap AKBP Taufiq.

“Untuk kali ini di distribusikan 5000 liter air bersih dan ke depan akan lebih di perbanyak lagi,” imbuhnya.

Kapolres menjelaskan, kondisi ini menjadi satu pemikiran pihaknya untuk bisa mendapatkan solusi. Pasalnya, menurut keterangan kepala dusun maupun kepala desa setempat, kekeringan ini terjadi disetiap tahun di saat musim kemarau panjang dan masyarakat mengalami kekurangan air bersih.

“Untuk itulah, kami berpikir mencoba untuk menyelesaikan dan mengatasi permasalahan ini ke depan,” kata Kapolres.

“Misalnya, membuatkan sumur bor di beberapa lokasi yang bisa menyalurkan ke warga yang ada di beberapa desa,” tuturnya.

Sementara itu, memasuki musim kemarau ini, tercatat ada 3 desa di Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

Ketiga desa tersebut adalah Desa Sidowangi tepatnya di Dusun Pancoran, juga Dusun Jatian Desa Bangsring dan Dusun Karangrejo Selatan Desa Wongsorejo. Seluruhnya berada di daerah perbukitan yang melewati perkebunan.

Disaat musim kemarau panjang seperti saat ini, sumur warga mengalami kekeringan.

Sejumlah pihak sudah memberikan bantuan air bersih, seperti dari BPBD Banyuwangi, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jember juga Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 14 Banyuwangi, berhasil menggagalkan pengiriman ratusan lembar kulit biawak melalui bandara International Banyuwangi.

Total ada 517 lembar kulit biawak tanpa dokumen di amankan pihak Kargo Angkasa Pura II Bandara International Banyuwangi dan RKW 14 Banyuwangi.

Kejadian ini berawal dari kecurigaan petugas terhadap sebuah paket kardus yang berdeskripsikan baju yang akan di kirim oleh salah satu jasa pengiriman di Banyuwangi melalui Bandara.

Kepala RKW 14 Banyuwangi, Vivi Primayanti mengatakan, setelah paket di masukkan ke dalam mesin X Ray Avsec ternyata tidak berisikan baju. Hal ini semakin membuat petugas yakin bahwa antara isi dan deskripsi paket berbeda, sehingga perlu di bongkar.

“Setelah dibongkar ternyata isi paket itu berisi 517 lembar kulit biawak kering yang akan di kirim dari Banyuwangi dengan tujuan Cileungsi, Bogor,” kata Vivi.

“Di duga, ratusan kulit kering biawak itu akan di jadikan barang barang koleksi manusia, seperti tas, sepatu, dompet,” imbuhnya.

Vivi menjelaskan, sebenarnya, biawak masuk dalam jenis satwa tidak dilindungi atau Apendik Buah. Yakni satwa liar yang belum terancam punah namun akan menjadi terancam punah apabila perdagangannya tidak terkontrol.

“Sebab itu, untuk mengontrolnya harus menggunakan surat angkut jika di lakukan pengiriman ke luar kota,” ujar Vivi.

Dia mengaku, untuk bisa mendapatkan surat angkut tersebut si pemilik terlebih dahulu harus memiliki surat ijin edar terkait mengedarkan satwa jenis ini meski dalam kondisi hidup maupun mati.

“Jika tidak memiliki surat ini, maka dianggap mengambil dari alam secara illegal serta bisa dikenakan sangsi hukuman. Karena surat angkut itu berisikan asal usul satwa mulai dari lokasi penangkapan hingga jumlahnya,” papar Vivi.

Selanjutnya, pihak Angkasa Pura II menyerahkan paket berisi ratusan lembar kulit kering biawak tersebut ke BBKSDA Jawa Timur untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Dan saat ini, seluruh kulit biawak di amankan di Kantor Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Seorang warga Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi meninggal dunia setelah tercebur di tambak udang tempatnya bekerja.

Peristiwa ini terjadi di area tambak udang PT WLBM petak XI di kawasan Dusun Andelan Desa Sumberkencono Kecamatan Wongsorejo, Senin dini hari (5/8/2019) sekira pukul 01.30 WIB.

Saat itu, korban yang diketahui bernama Muhammad Roib (30) tercatat sebagai warga Dusun Krajan RT 05 RW 01 Desa Wongsorejo meminjam sepeda motor KLX bernopol P 4948 FAC milik Roni Alfian, temannya. Lalu korban berpamitan dan menuju ke pos 1 menemui teman kerjanya yang lain, Abdulatif .

Selanjutnya, mereka berboncengan menuju ke pasar Galekan untuk membeli rokok dan nasi bungkus.

Kapolsek Wongsorejo Iptu Kusmin mengatakan, berdasarkan keterangan saksi mata, setelah dari pasar Galekan mereka kembali ke tambak. Sesampainya di pos 1, korban menarik gas sepeda motor yang dikendarainya berkali kali dan langsung menuju ke utara.

“Sesampainya di samping tiang listrik yang terbuat dari beton, korban menyerempet tiang itu hingga keduanya terjatuh ke dalam tambak petak XI,” ungkap Kapolsek.

Mendapati kondisi ini, Abdulatif naik ke atas jalan dan meminta tolong kepada teman temannya. Pasalnya, korban yang terjatuh ke dalam kolam tidak juga keluar ke permukaan air.

“Beberapa temannya pun langsung mencari keberadaan korban di dalam tambak tapi rupanya korban ditemukan sudah tidak bernyawa lagi,” tutur Kapolsek.

Selanjutnya mereka membawa jenazah korban ke puskesmas Wongsorejo untuk dilakukan visum luar dan di ajukan untuk dilakukan outopsi mayat. Namun rupanya, pihak keluarga tidak berkenan di lakukan outopsi.

“Dari hasil olah TKP sementara kepolisian, korban meninggal dunia diduga akibat kepalanya terbentur beton tiang listrik lalu terkena kincir di dalam tambak,” pungkas Iptu Kusmin.

Setelah di lakukan visum luar, jenazah korban langsung di semayamkan di rumah duka. Dan dari hasil pemeriksaan medis, pada tubuh korban tidak di temukan adanya tanda tanda penganiayaan.

Sebagai barang bukti, 2 pasang sandal jepit milik korban dan saksi serta 1 buah sepeda motor diamankan kepolisian.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dua bocah asal Kecamatan Bangorejo Banyuwangi meninggal dunia akibat tenggelam di sungai irigasi di wilayah setempat. Kini jenazah kedua korban di semayamkan di rumah duka, setelah sebelumnya ditemukan mengambang di TKP.

Mereka adalah Ijati Aqua Angga (13) tercatat sebagai pelajar kelas 6 Sekolah Dasar dan Akbar Rizki Arizal (13), pelajar kelas 1 SMP. Keduanya bertempat tinggal di kawasan Dusun Ringinmulyo Desa Ringin Telu Kecamatan Bangorejo.

Menurut keterangan saksi mata, kedua korban mandi mandian di sungai Irigasi Baru yang tidak jauh dari rumah mereka, Jum'at (2/8/2019) sekira pukul 14.30 WIB.

Kapolsek Bangorejo Banyuwangi, AKP Bahrul Anam mengatakan, salah seorang warga, Eka Wijaya (31) sudah mengingatkan mereka agar tidak mandi di sungai irigasi tersebut karena kondisinya cukup dalam.

Tapi mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut dan tetap asyik mandi bareng,” ungkap AKP Bahrul.

Selang beberapa lama, warga setempat melihat tubuh kedua korban mengambang di permukaan sungai dalam kondisi sudah meninggal dunia,” imbuhnya.

Selanjutnya, puluhan warga di bantu aparat kepolisian Polsek Bangorejo mengevakuasi jenazah korban dan membawanya ke Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Kebondalem guna dilakukan penanganan medis. Namun naas, kedua korban sudah meninggal dunia.

Dari hasil pemeriksaan medis, pada tubuh korban tidak di temukan adanya tanda tanda penganiayaan,” tutur Kapolsek.

Dan dari hasil olah TKP sementara kepolisian, korban meninggal dunia akibat tenggelam karena tidak bisa berenang.

Setelah dilakukan pemeriksaan medis, jenazah kedua korban di semayamkan di rumah duka.

Sementara sebagai barang bukti, sejumlah barang milik kedua korban di amankan kepolisian. Seperti sandal warna merah, celana pendek jeans dan kaos.  

More Articles ...