radiovisfm.com, Banyuwangi - Menjelang pelaksanaan Operasi Zebra 2018, Satuan Lalu Lintas Polres Banyuwangi mulai menyasar Pondok Pesantren dalam mensosialisasikan tertib berlalu lintas.

Kali ini, kegiatan yang bertemakan Santri Juga Tertib Lalu Lintas tersebut di gelar di Pondok Pesantren Al Anwari Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi, Senin (29/10) dengan melibatkan puluhan santriwan santriwati yang masih duduk di bangku SMP Unggulan setempat.

Kasat Lantas Polres Banyuwangi AKP Prianggo Parlindungan Malau melalui Kanit Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Polres Banyuwangi, Iptu Datik Hariyati yang memimpin langsung kegiatan sosialisasi tersebut mengaku, respon mereka dinilai cukup positif bahkan mereka banyak mengajukan pertanyaan, diantaranya tentang penggantian warna sepeda motor dengan menggukan skotlet maupun pemakaian 1 spion dan modifikasi lainnya.

“Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pendidikan berlalu lintas terhadap anak anak sejak dini agar mereka mengetahui mengenai peraturan bahwa usia pengendara yang mengendarai kendaraan bermotor tidak boleh kurang dari 17 tahun, baik kendaraan roda 2 maupun roda 4,” papar Iptu Datik.

“Selain itu, jika sudah berusia 17 tahun harus di lengkapi dengan kepemilikan SIM,” imbuhnya.

Menurut Iptu Datik, jika masih di temukan adanya pengendara kendaraan bermotor di bawah usia 17 tahun, maka orang tuanya di kenakan sangsi untuk membuat surat pernyataan tidak memperbolehkan anaknya untuk mengendarai kendaraan bermotor demi keselamatan jiwa mereka.

“Satuan lalu lintas sengaja menyasar pembelajaran tentang tertib berlalu lintas bukan hanya sekolah umum saja, tapi Pondok Pesantren perlu di sentuh karena para santri dinilai juga bisa tertib berlalu lintas,” pungkas Iptu Datik.

Sementara itu, salah satu guru pengajar di Ponpes Al-Anwari, Mas’ul Latif mengapresiasi kegiatan sosialisasi tertib lalu lintas tersebut yang dinilainya sangat bagus karena bisa membuat stimulus perasaan terhadap para santri, walaupun sebagian besar dari mereka sudah di berikan batasan untuk belajar.

“Tapi saat liburan, saya justru mengetahui dari postingan mereka di media social dan juga laporan dari wali murid bahwa para santri banyak yang bepergian ke tempat wisata dengan menggunakan sepeda motor, terkadang tanpa menggunakan helm maupun tidak di lengkapi dengan SIM,” papar Mas’ul.

Oleh karena itulah, Mas’ul berharap kegiatan serupa bisa dijadikan agenda rutin dengan menyasar seluruh siswa siswi dari berbagai tingkatan.

“Pihak pondok pesantren maupun kepala sekolah juga mengaku membuka lebar untuk kepolisian menggelar kegiatan ini, guna mendukung program pihaknya membentuk karakter para santri yang inter intelektual,” kata Mas’ul.

Kegiatan Operasi Zebra ini di gelar Polres Banyuwangi mulai 30 Oktober hingga 12 November 2018, dengan sasaran semua jenis kendaraan bermotor yang melanggar peraturan.

Seperti, tidak menggunakan helm berstandar SNI, tidak menggunakan sabuk pengaman, pengemudinya di bawah umur, juga menggunakan ponsel saat berkendara dan berbagai pelanggaran lainnya.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah siap membagikan ratusan baliho dan spanduk kepada partai politik dan tim pemenangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) untuk dipasang di wilayah Banyuwangi. Pengadaan Alat Peraga Kampanye (APK) berupa baliho dan spanduk kampanye pilpres ini dilakukan oleh KPU Pusat, namun proses pencetakannya dilakukan oleh KPU Banyuwangi.

Komisioner KPU Banyuwangi Jamaludin menuturkan, proses pencetakan APK yang difasilitasi lembaga penyelenggara pemilu tingkat kabupaten itu sudah dilakukan sejak beberapa hari yang lalu. Akhir oktober ditargetkan  APK tersebut sudah jadi dan bisa diserahkan kepada peserta Pemilu pada awal November. Untuk pemasangan dan pencopotan APK tersebut menjadi tanggung jawab peserta pemilu sendiri.

Jamaludin menambahkan, selain melakukan pencetakan APK Pilpres, KPU juga mencetak APK parpol peserta pemilu legislatif. Dan saat ini di Banyuwangi ada dua parpol yang lolos sebagai peserta pemilu 2019 namun tidak memiliki caleg di Banyuwangi, yakni PSI dan PKPI.

"Meski tidak memiliki calon anggota legislatif (caleg) tingkat kabupaten, dua parpol tersebut tetap akan mendapat APK yang pengadaannya difasilitasi KPU," tutur Jamaludin.

Walaupun tidak memiliki caleg di tingkat kabupaten, PSI dan PKPI tersebut telah ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2019 bersama 14 parpol yang lain. Karena itu, kedua parpol tersebut memiliki caleg di tingkat provinsi maupun Pusat. Sehingga KPU wajib  memfasilitasi pengadaan APK untuk 16 parpol, termasuk PSI dan PKPI.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Relawan Jokowi (Rejo) menargetkan, perolehan suara pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin di Banyuwangi mencapai 70 persen.

Hal ini di sampaikan Ketua DPW Rejo Jawa Timur, H Kelana Apriliaanto saat menggelar Deklarasi Rejo di Banyuwangi.

“Deklarasi Rejo Banyuwangi ini di nilai sebagai wujud resmi bahwa eksistensi Rejo di Banyuwangi memang benar benar ada, dalam rangka memenangkan pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin,” papar Kelana.

Dia mengaku, Rejo di Jawa Timur sudah terbentuk sampai ke pengurusan tingkat kecamatan.

“Tugas Rejo disini adalah sebagai garda depan untuk mengawal dan memenangkan serta bagaimana menangkis adanya berita berita Hoax, yang dinilai belum tentu kebenarannya,”  papar Kelana.

Hal itu kata Kelana, sesuai dengan harapan Jokowi yang menginginkan agar para relawan bekerja dengan ikhlas dan betul betul berjuang untuk memenangkan dirinya dalam Pemilu 2019.

Sementara itu, Ketua DPC Rejo Banyuwangi, Adhen Eko Aryadi mengatakan, keberadaan Rejo di Banyuwangi tidak hanya berbicara masalah prosentasi perolehan suara saja, namun juga untuk mengamankan suara Jokowi di Banyuwangi dalam Pemilu 2019.

“Seluruh relawan sepakat untuk memenangkan Jokowi dengan tidak mudah percaya terhadap berita berita yang belum jelas sumbernya,” ujar Adhen.

Pasalnya kata Adhen, kebohonngan itu justru yang akan menimbulkan perpecahan.

Adhen menjelaskan, Rejo Banyuwangi akan terus mengawal segala gerakan untuk menyebarkan kebaikan dengan tidak melawan kebencian.

“Tapi ingin mengerahkan Rejo untuk memenangkan Jokowi dengan menebarkan kebaikan,” kata Adhen.

Diakuinya, dalam kepengurusan Rejo Banyuwangi banyak di libatkan anak anak muda.

Adhen mengatakan, ini untuk anggapan bahwa selama ini anak anak muda hanya sebagai pengikut saja di setiap perhelatan Pemilu.

“Ini saatnya anak anak muda mempunyai ruang dan memberikan kreatifitasnya untuk membuktikan bahwa anak muda siap memenangkan Jokowi,” pungkasnya.

 

Radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah menilai, Kabupaten Banyuwangi terbanyak menyumbang event yang masuk dalam Top 100 Kalender Wisata Nasional di 2019 dibanding daerah lain.

Ketiga event yang digelar Pemkab Banyuwangi yang di pastikan masuk event nasional 2019 tersebut adalah Gandrung Sewu, International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) dan Banyuwangi Etno Carival (BEC).

Hal ini di sampaikan Menteri Pariwisata, Arief Yahya usai menghadiri perhelatan Gandrung Sewu di Banyuwangi. Bahkan menurutnya, BEC masuk top 10 event Nasional.

“Event tahunan Festival Gandrung Sewu layak masuk kalender wisata nasional setelah melalui kurasi,” ungkap Menpar Arief.

“Tim kurator Kemenpar menilai kualitas pelaksanaan Gandrung Sewu terus menunjukkan peningkatan,” imbuhnya.

Menurut Menpar, untuk masuk top 100 kalender event nasional, sebuah event harus bersaing dengan lebih dari 200 event lain se-Indonesia. Gandrung Sewu lolos penilaian tim dan dinyatakan layak masuk dalam Top 100 Calendar of Events.

“Gandrung Sewu memiliki keunggulan dari tiga nilai sebuah pertunjukan seni yang baik,” tutur Menpar.

Nilai itu adalah 3C (creativity, cultural, commercial). Gandrung Sewu juga dinilai sangat kreatif. Mulai dari jumlah penampilnya yang kolosal, konfigurasi tarinya apik kelas dunia, dan yang jelas sangat cameragenic. Yaitu Indah di kamera, sekaligus indah di offline.

Menpar melanjutkan, nilai lainnya adalah pertunjukan ini berbasis dan berakar dari budaya lokal Banyuwangi.

“Dan yang paling penting, Gandrung Sewu mampu menggeliatkan ekonomi daerah,” kata Menpar.

Diantaranya, warung dan restoran rakyat ramai diserbu ribuan wisatawan, penginapan penuh serta wisatawan belanja oleh-oleh. Dan yang tak kalah penting, ada dukungan yang tinggi dari kepala daerahnya terhadap sektor pariwisata sangat kuat.

Menpar Arief menambahkan, selain Gandrung Sewu, event International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) juga dipastikan kembali masuk event nasional 2019.

“Bahkan, BEC masuk top 10 event nasional,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut gembira kabar tersebut. Dan dia berterima kasih kepada Kemenpar yang terus mendukung perkembangan pariwisata di Banyuwangi.

“Ini jadi spirit bagi pihak kami untuk lebih kreatif menggarap sektor wisata sebagai sarana menggerakkan ekonomi warga,” kata Bupati Anas.

Selain itu, Bupati Anas juga mengapresiasi upaya Budayawan dan para pendidik yang semua terlibat dalam perhelatan Gandrung Sewu ini.

“Banyak pesan moral dan keagamaan yang ditampilkan dalam event yang sudah digelar untuk ke 8 kalinya ini,” tutur Bupati Anas.

Dimulai dengan Sholawatan yang di lanjutkan dengan penampilan Hadrah Kuntulan hingga ditampilkan fragmen sejarah kegigihan perjuangan rakyat Banyuwangi melawan penjajah VOC Belanda.

“Ini menggambarkan bagaimana jejak masa lalu Banyuwangi tidak terpisahkan dengan nilai nilai spirit perjuangan, keagamaan sekaligus budaya,” papar Bupati Anas.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Sebanyak 21 penggiat pariwisata (Blooger-Influencer) Amerika Selatan dan Eropa menjelajahi destinasi wisata di Banyuwangi.

Difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri, mereka mengeksplorasi wisata daerah berjuluk The Sunrise of Java itu selama lima hari, mula 19-23 Oktober 2018. Mereka juga sempat menikmati eksotika pergelaran kolosal Festival Gandrung Sewu.

Rombongan tersebut terdiri atas blogger, influencer alias orang-orang pembentuk opini di media sosial, tour operator, dan jurnalis dari kawasan Amerika Selatan dan Eropa Barat. 

Kasubdit III, Direktorat Amerika II Kemenlu RI, Darianto Harsono mengaku, mereka ada yang dari Brazil, Chili, Peru, Uruguay, Venezuela, Yunani, Portugal, Spanyol dan Belgia.

“Kemenlu memilih untuk mempromosikan Banyuwangi lebih luas karena perkembangan pariwisata daerahnya yang cukup pesat,” ujar Darianto.

“Kami juga mengagendakan pertemuan dengan tour operator dan pelaku industri pariwisata di Banyuwangi, termasuk pihak perhotelan untuk membuka peluang kerjasama yang baik antar tour operator ini,” paparnya.

Saat di Banyuwangi, mereka juga diajak menonton Festival Gandrung Sewu, sebuah atraksi kolosal 1.200 penari di bibir Pantai Boom berlatar Selat Bali.

Mereka terlihat antusias dan mengaku sangat kagum dengan atraksi wisata budaya tersebut.

Jose Sergio, pengelola majalah Volta Ao Mundo, majalah travel terbesar di Portugal mengaku, majalah ini nantinya akan menurunkan artikel tentang destinasi wisata di Banyuwangi.

“Festival Gandrung Sewu sangat spesial karena dibawakan ribuan penari dalam balutan kostum cantik dengan warna merah menyala yang seragam,” kata Jose terkagum kagum.

“Ditambah dengan narasi cerita yang apik dan pemandangan Selat dan Pulau Bali, serta penontonnya yang juga sangat kooperatif,” imbuhnya.

Dan pertunjukan ini bagi Jose sangat mengagumkan.

“Saya beruntung bisa jadi saksi dari pertunjukan yang luar biasa ini. Dan ini sangat layak dijual ke global,” kata Jose.

Jose pun tidak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke ribuan penari tersebut. Tidak hanya itu, sejumlah blogger dan influncer berbagai negara juga terlihat sibuk mengabadikan adegan sendratari kolosal tersebut.

Mereka semua mengaku takjub dengan pertunjukan Gandrung Sewu.  

Selama di Banyuwangi, mereka mengunjungi Kawah Ijen yang mempunyai fenomena api biru (blue flame) yang mendunia. Selain itu, mereka menjelajahi Bangsring Underwater, Pulau Merah, dan Taman Nasional Alas Purwo di mana terletak Pantai Plengkung dengan salah satu ombak untuk selancar terbaik di dunia.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Perhelatan Gandrung Sewu menjadi berkah tersendiri bagi tukang parkir di sejumlah pasar modern di Banyuwangi, yang mengaku pendapatannya meningkat cukup segnifikan.

Seperti yang di sampaikan oleh Sahrawi, yang biasa markir di area salah satu pasar modern yang ada di kawasan Jalan Basuki Rahmat.

Menurut laki laki berusia 60 tahun asal Kelurahan Singotrunan Kecamatan Banyuwangi kota tersebut, sejak Jum’at dan Sabtu (19-20/10) penghasilan perharinya telah mencapai Rp 50.000 lebih dibanding hari biasa yang hanya berkisar diangka Rp 20.000 hingga Rp 30.000.

“Sejak pagi area parkir di penuhi kendaraan dari pulau bali yang akan menyaksikan pagelaran Gandurng Sewu di pantai Boom Marin,” ujar Sahrawi.

Hal itu terlihat dari plat nomor kendarayaan yang terparkir baik sepeda motor maupun mobil, yang membeli berbagai minuman dan makanan untuk konsumsi saat menyaksikan Gandrung Sewu.

“Saya juga sempat menanyakan ke puluhan pemilik kendaraan terkait kedatangannya di Banyuwangi. Dan sebagian besar, mereka mengaku untuk menyaksikan perhelatan Gandrung Sewu,” papar Sahrawi.

Dia menceritakan, mereka rela jauh jauh datang dari Bali ke Banyuwangi hanya ingin menyaksikan kegiatan yang sudah masuk tahun ke 8 penyelenggaraan tersebut.

Hal ini membuktikan bahwa, pesona Festival Gandrung Sewu telah mampu menyedot perhatian dunia sehingga masyarakat dari luar daerah berbondong bondong untuk menyaksikannya.

“Karena lahan parkir yang ada tidak mencukupi dengan banyaknya kendaaraan yang datang, menyebabkan parkiran kendaraan berjajar di sepanjang jalan hingga ke arah selatan tepatnya di area depan SDN Lateng,” tutur Sahrawi.

Rupanya, perhelatan Gandrung Sewu tidak hanya merupakan sebuah pertunjukan yang berbasis dan berakar dari budaya lokal Banyuwangi. Namun, Gandrung Sewu mampu menggeliatkan ekonomi daerah. 

Diantaranya, warung dan restoran rakyat ramai diserbu ribuan wisatawan, penginapan penuh serta wisatawan belanja oleh-oleh.

Hal itu di buktikan juga dengan meningkatnya pendapatan tukang parkir. Dan yang tak kalah penting, ada dukungan yang tinggi dari kepala daerahnya terhadap sektor pariwisata sangat kuat.

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Perhelatan Festival Gandrung Sewu berhasil memukau ribuan penonton yang memadati area pantai Boom marina, Sabtu (20/10) sekaligus mendapat banjir pujian dari berbagai kalangan.

Gerak rampak 1.200 penari Gandrung berkostum merah menyala dengan latar belakang Selat Bali mampu menghipnotis ribuan wisatawan yang hadir.

Saat membuka kegiatan ini, Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengaku salut dengan Banyuwangi yang dinilai kembali menunjukkan kelasnya sebagai destinasi dengan kreativitas luar biasa.

“Gandrung Sewu memenuhi tiga nilai sebuah pertunjukan yang baik, yaitu cultural atau creative velue, communication value, hingga commercial value,” ujar Menpar.

Menurutnya, nilai kultur dan kreativitas di perhelatan tersebut dianggap sangat terasa.

“Tingkat komunikasinya tinggi dan ini terbukti selalu viral di media social,” tutur Menpar.

Dan yang terakhir kata Menpar, dari sisi komersil tidak perlu diperdebatkan lagi. Diantaranya, okupansi pesawat penuh, penginapan penuh, kuliner ramai dan rakyat Banyuwangi yang menikmati.

Selain Menpar Arief Yahya, atraksi wisata budaya ini juga dihadiri Wakil Gubernur BI Saifullah Yusuf, Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi, Guru Besar UI Prof Rhenald Kasali, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Tahun ini, tema yang diusung Festival Gandrung Sewu adalah “Layar Kumendung”, sebuah kisah kepahlawanan dari Bupati Banyuwangi pertama, Raden Mas Alit.

Sosok yang diangkat menjadi bupati kala berusia 18 tahun itu harus mengambil sikap di antara dua pilihan sulit, yaitu terdesak mengikuti perintah penjajah yang menindas atau melakukan perlawanan bersama rakyat yang semakin tak berdaya pasca-perang penghabisan. Di tengah konflik batin itulah, tari Gandrung digambarkan sebagai media konsolidasi kekuatan rakyat Banyuwangi.

Tidak hanya berkamuflase dengan memanfaatkan pertunjukkan seni, tetapi juga menjadi sarana menghibur dan memperkuat batin rakyat yang terkungkung penjajah. Semua fragmen cerita disajikan dengan koreografi yang memukau.

Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) berharap, festival seni-budaya terus menjadi bagian dari pengembangan daerah.

“Jawa Timur adalah daerah kaya seni-budaya, dan Banyuwangi telah terbukti mampu mengolahnya untuk memajukan daerah serta memberi manfaat ekonomi untuk warga,” ungkap Wabup Yusuf.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Prof Renald Kasali mengatakan, atraksi wisata budaya itu telah mengerek pemasaran daerah.

“Banyuwangi berhasil mengubah daerahnya dengan inovasi berkelanjutan,” tutur Renald.

Bupati Azwar Anas menambahkan, Festival Gandrung Sewu adalah bagian dari konsolidasi kebudayaan dengan kemasan pariwisata.

“Disini, penonton dapat menyaksikan unsur pendidikan tentang cinta bangsa yang begitu kuat. Sehingga tidak semata-mata atraksi wisata,” papar Bupati Anas.

“Festival ini juga menjadi sarana regenerasi pelaku seni-budaya berbasis tradisi rakyat dan peminatnya disetiap tahun ribuan anak muda,” imbuhnya.

Bupati Anas memastikan, Banyuwangi tidak akan kekurangan generasi pencinta seni-budaya, sekaligus ini ikhtiar memajukan kebudayaan daerah sebagai pilar kebudayaan nasional.

 

More Articles ...