radiovisfm.com, Banyuwangi - Pemerintah Desa Sumberarum Kecamatan Songgon Banyuwangi mengamankan 4 orang pencari burung di wilayah setempat dengan cara memakai perekat, karena dinilai menyalahi Peraturan Desa.

Dari KTP yang disita pihak desa, mereka merupakan warga Kecamatan Songgon, Blimbingsari dan Srono.

Kepala Desa Sumberarum, Ali Nurfatoni mengatakan, ke empat pemuda tersebut kepergok sedang melakukan perburuan burung di kawasan Desa Sumberarum dengan menggunakan umpan burung Hantu yang diikat di pohon.

“Batang batang pohon di sekitar burung Hantu itu di beri lem agar disaat dihinggapi burung burung lain maka langsung bisa ditangkap oleh mereka,” ujar Kades Toni.

“Burung Hantu sengaja dibawa oleh ke empat laki laki itu untuk menarik perhatian burung lainnya supaya mendekat,” imbuhnya.

Menurut Kades Toni, setelah diberikan pembinaan, mereka di haruskan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali di atas materai. Karena mereka mengaku tidak mengetahui adanya Peraturan Desa Sumberarum nomor 4 tahun 2018 yang mengatur tentang pelarangan berburu hewan di wilayah setempat.

“Perdes itu juga mengatur tentang pelarangan membuang sempah sembarangan, yang jika dilanggar bisa dikenakan sangsi,” ungkap Kades Toni.

Sementara itu, terkait dengan ditandatanganinya surat pernyataan tersebut adalah langkah preventif yang di lakukan pihak Pemerintah Desa Sumberarum karena mereka mengakui semua kesalahannya.

Selanjutnya, beberapa burung hasil tangkapan mereka di lepas oleh Kades Toni yang disaksikan Satpol PP Kecamatan Songgon, Babinkamtibmas dan perangkat desa pada Senin (7/10/2019), agar kembali ke habitatnya.

Upaya yang dilakukan Pemdes Sumberarum tidak hanya itu saja. Seekor burung Hantu yang dijadikan umpan oleh ke 4 laki laki tersebut juga di lepaskan agar bisa memakan tikus tikus yang menyerang tanaman padi para petani setempat.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Dalam rangka memperingati HUT ke 74 Tentara Nasional Indonesia (TNI), ratusan orang dari berbagai stakeholder melakukan penanaman ribuan pohon Mangrove di pantai Pulau Santen Kelurahan Karangrejo Kecamatan Banyuwangi, Senin (7/10/2019).

Mereka adalah jajaran anggota TNI AL dan TNI AD, Polri, pelajar, relawan SAR serta masyarakat Banyuwangi memenuhi sepanjang muara yang ada di pantai Pulau Santen yang biasa disebut Pantai Syariah.

Mereka menanam ribuan bibit bakau atau tanaman penyusun mangrove di sisi barat dan timur muara dengan panjang lebih dari 200 meter.

Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko juga hadir bersama forum pimpinan daerah, Komandan Pangkalan Laut (Danlanal) Banyuwangi, Letkol Laut (p) Yulius Azz Zaenal, Komandan Distrik Militer (Dandim) 0825 Banyuwangi, Letkol Inf Yuli Eko Purwanto, Kapolres Banyuwangi, AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi, puluhan siswa, relawan SAR dan beberapa karyawan perusahaan yang selama ini bersinggungan langsung dengan kawasan laut juga ikut turun ke dalam lumpur untuk menanam bakau.

“Ada 7000 bibit bakau yang ditanam. Kegiatan ini menjadi bagian dari penanaman 300.074 bakau serentak yang dilakukan TNI di seluruh Indonesia dalam rangka peringatan HUT ke 74 TNI,” papar Danlanal Banyuwangi, Letkol Laut (p) Yulius Azz Zaenal.

Dijelaskan Danlanal, pusat penanaman dilakukan di Jakarta, tapi semua wilayah terutama yang memiliki kawasan pantai menyiapkan penanaman bakau seperti ini.

“Tanaman mangrove semacam ini bisa menyerap empat sampai lima kali lebih besar karbon di udara,” kata Danlanal.

“Dipilihnya pohon mangrove, untuk menjaga ekosistem seperti habitat ikan, pengurangan zat karbon di udara dan melokalisir nyamuk penyebab malaria. Selain itu untuk menjaga agar pantai tidak abrasi,” paparnya.

Danlanal menambahkan, pihaknya sengaja memilih pantai ini sebagai lokasi penanaman karena melihat abrasi di kawasan tersebut. Untuk menekan semakin meluasnya abrasi, maka dilakukan penanaman ribuan bibit mangrove di area setempat.

Dalam kesempatan ini Wabup Yusuf mengapresiasi apa yang dilakukan oleh TNI.

Menurutnya, penanaman mangrove ini dinilai bisa menyelamatkan bumi untuk anak cucu dimasa yang akan datang. Apalagi semua mengetahui bahwa saat ini pantai menjadi destinasi yang menjadi unggulan masyarakat.

“Ini akan melindungi pantai dari abrasi, dan menangkal gelombang besar termasuk tsunami,” tutur Wabup Yusuf.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam pelestarian lingkungan hidup, termasuk bagi masyarakat dan generasi penerus,” imbuhnya.

Sementara, Dandim 0825 Banyuwangi, Letkol Inf Yuli Eko Purwanto menambahkan, kawasan yang dipilih untuk penanaman bakau sendiri kebetulan adalah kawasan yang menjadi milik TNI.

“Kawasan ini tetap perlu dijaga, karena selama ini memang menjadi salah satu kawasan mangrove yang telah menjadi destinasi wisata baru di Banyuwangi,” kata Dandim.

“Selain melakukan penanaman bakau, kami juga akan melakukan pembersihan kawasan dari sampah,” tuturnya.

Hal ini menunjukkan bahwa aparat TNI dan masyarakat semakin solid dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Saya berharap, nantinya Mangrove yang ditanam ini bisa berkembang dengan baik,” pungkas Dandim.

Kegiatan ini diawali dengan apel persiapan kegiatan penanaman pohon Mangrove, bertindak sebagai pengambil apel Danlanal Letkol Laut (p) Yulius Azz Zaenal dan diikuti forpimda.

 

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Setelah dilakukan upaya pertolongan selama 15 jam lebih, sebanyak 13 orang pendaki yang terjebak di kawasan Gunung Raung akibat kebakaran akhirnya berhasil di evakuasi di posko pendakian Wonorejo masuk Desa Kalibaru Manis Kecamatan Kalibaru Banyuwangi.

Dari ke 13 orang pendaki tersebut, 7 diantaranya adalah warga negara Singapura, 2 porter, 2 guide dan 2 WNI. Mereka terjebak di camp 9 atau hampir berada di puncak.

Sementara lahan yang terbakar di area camp 7 di bayangan 2 sejak Jum’at (4/10/2019). Sebanyak 25 orang dari guide local dibantu masyarakat setempat dan TRC BPBD Banyuwangi juga Jember naik ke puncak Raung untuk membantu mengevakuasi puluhan pendaki tersebut pada Jum’at malam, sekaligus membawa logistic makanan dan minuman.

Di susul Sabtu (5/10/2019) ada 15 orang dari tim gabungan SAR Banyuwangi dan Jember juga mendaki. Namun mereka hanya sampai di camp 2 saja, sambil menunggu rombongan turun.

Koordinator Base Camp Kalibaru Banyuwangi, Eko Wahyudianto mengatakan, dari camp 7, para pendaki berhasil menerobos kobaran api hingga mencapai ke camp 4 untuk beristirahat.

“Untung saja di camp 4 itu ada beberapa orang pendaki yang akan naik, sehingga para korban di bantu makanan dan minuman dari mereka,” ungkap Eko.

“Beberapa orang dari pendaki ada yang kondisinya ngedrop akibat kelelahan dan kurang tidur,” imbuhnya.

Selanjutnya, mereka dibantu untuk turun bersama tim evakuasi hingga sampai di posko pintu masuk pendakian. Beberapa orang dari mereka mengalami luka lecet dan luka bakar.

Eko menjelaskan, sejak satu bulan terakhir ini lahan di camp 7 sering terjadi kebakaran akibat kemarau panjang.

“Di area setempat hampir seluruhnya terdapat tanaman ilalang dan pohon cantigi semacam bonsai berukuran besar. Saat ini hampir seluruhnya tanaman itu mengering sehingga mudah terbakar,” papar Eko.

Diakui Eko, beberapa hari lalu terjadi badai di puncak Gunung Raung. Hal inilah yang kemungkinan menyebabkan ada api yang terbang ke kawasan tanaman ilalang yang mengering sehingga terbakar dan merembet ke tanaman lain.

“Bahkan saat ini, kebakaran mulai merembet ke sebelah barat di punggungan camp 7,” tutur Eko.

Setelah berhasil di evakuasi, 7 orang warga negara Singapura tersebut segera terbang ke Bandara Surabaya melalui Bandara Banyuwangi untuk meneruskan pulang ke negaranya. Mereka adalah Ng Hui-Lin (23/Pr), Kom Jun Wei (25/Lk), Shervon Ong (24/Pr), Teo Yi Xian (24/Lk), Pang Jia Hui (25/Lk), Beh Ing Tsyr (23/Pr) dan Chua Ying Jie (27/Lk).

Sedangkan 6 pendaki local lainnya adalah 4 warga Kecamatan Kalibaru Banyuwangi yang menjadi Porter dan Guide yakni Widi (Lk), Sam (LK), Sinyo Gimbal (Lk) dan Putri (Lk).

Serta Lutfi Sofian (23) mahasiswa asal Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember dan Felisianus Jeremy (35/Lk) warga Pegangsaan Dua, Kec.Kelapa Gading, Jakarta Utara

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Bersamaan dengan Peringatan HUT ke 74 TNI, sebanyak 2 peleton aparat kepolisian mengepung dua Taman Makam Pahlawan di Banyuwangi dengan bersenjata lengkap, Jum’at (4/10/2019).

Hal ini dilakukan sebagai kejutan bagi personel TNI yang saat ini berhari jadi. 

Dua peleton itu dipimpin langsung oleh Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi dan Waka Polres Banyuwangi, Kompol Yuda Pranata.

Dua peleton dibagi di dua TMP yakni TMP Wisma Raga Satria dan TMP Wisma Raga Laut Pantai Boom Banyuwangi. 

“Kami sengaja memberi kejutan kepada Dandim dan Danlanal Banyuwangi. Karena bersamaan dengan itu, TNI AD dan TNI AL tengah menggelar tabur bunga,” ungkap Kapolres.

Dan penggerebekan ini dilakukan saat mereka usai melakukan tabur bunga.

Kapolres Taufik bersama dengan rombongan membawa tumpeng untuk diserahkan kepada Dandim 0825 Banyuwangi, Letkol Inf Yuli Eko Purwanto. 

Tidak ada ketegangan disana, hanya ada canda tawa dan senyuman di kedua personel pengamanan negara ini. 

“Selamat Dirgahayu ke 74 TNI, jaya selalu. TNI profesional kebanggaan rakyat,” ujar Kapolres Taufik.

Dandim Yuli Eko pun mengucapkan terima kasih atas kejutan tersebut.

Yang terpenting adalah solidaritas TNI dan Polri terus terjaga,” tutur Dandim.

Hal yang sama juga terjadi di TMP Wisma Raga Laut. Pasukan polisi yang dipimpin oleh Waka Polres Banyuwangi Kompol Yuda Pranata berhasil menggerebek rombongan tabur bunga dari Lanal Banyuwangi.

Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Yulius Azz Zaenal pun mengucapkan terima kasihnya kepada kepolisian yang telah memberikan kejutan di HUT ke 74 TNI. 

“Kami bangga dan tetap menjaga solidaritas serta menjaga keamanan negara,” pungkas Danlanal.

radiovisfm.com, Banyuwangi - Jalur pendakian di camp 7 Gunung Raung terbakar, yang menyebabkan 13 orang pendaki terjebak di area camp 9 yang 7 diantaranya adalah warga negara Singapura.

Dan pada Jum’at malam (4/10/2019) petugas Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Banyuwangi bersama Basarnas menuju ke lokasi untuk mengevakuasi para pendaki.

Ke 13 pendaki tersebut terdiri dari 2 porter, 2 guide, 2 WNI dan 7 WNA Singapore terjebak di camp 9. Mereka melakukan pendakian Gunung Raung melalui posko pendakian Wonorejo di Desa Kalibaru Manis Kecamatan Kalibaru Banyuwangi, Jum'at 4 Oktober 2019.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi, Eka Muharram mengatakan, berdasarkan info dari pengelola basecamp pendakian Gunung Raung via Kalibaru Banyuwangi, bencana kebakaran hutan terjadi di jalur pendakian gunung Raung, tepatnya pada camp 7.

Gunung Raung tersebut berada di 3 wilayah kabupaten yakni Banyuwangi, Jember dan Bondowoso. Dan akibat jalur pendakian gunung Raung terbakar menyebabkan 13 org pendaki terjebak di camp 9 karena jalur tidak bisa dilewati.

Rombongan pendaki dalam posisi mau turun dan dalam kondisi sehat. Untuk logistik terpantau hanya tersisa 1x makan,” ujar Eka.

BPBD Banyuwangi menurunkan petugas TRC bersama Basarnas Banyuwangi untuk mendaki ke lokasi para pendaki guna melakukan evakuasi, sekaligus membawa perbekalan logistik untuk mereka,” paparnya.

Eka menambahkan, area yang terbakar diduga sebagian besar terdapat tanaman ilalang akibat musim kemarau cukup panjang.

Untuk memadamkan api menggunakan peralatan di nilai sangat sulit karena kondisi medan yang membahayakan. Sehingga pemadaman menggunakan alat seadanya,” tutur Eka.

Sementara, kobaran api dari lahan yang terbakar di Gunung Raung bisa terlihat jelas dari perkampungan warga di beberapa kecamatan di Banyuwangi.

Para korban yang terjebak tersebut adalah Widi (Lk), Sam (LK), Sinyo Gimbal (Lk) dan Putri (Lk), keempatnya warga Kecamatan Kalibaru Banyuwangi. Juga Lutfi Sofian (23) mahasiswa asal Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember dan Felisianus Jeremy (35/Lk) warga Pegangsaan Dua, Kec.Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Serta 7 orang warga negara asing asal Singapura, yakni Ng Hui-Lin (23/Pr), Kom Jun Wei (25/Lk), Shervon Ong (24/Pr), Teo Yi Xian (24/Lk), Pang Jia Hui (25/Lk), Beh Ing Tsyr (23/Pr) dan Chua Ying Jie (27/Lk).

 

radiovisfm.com, Banyuwangi - Puluhan amunisi di duga sisa peninggalan jaman penjajahan di temukan warga di lahan perhutani di kawasan Kecamatan Sempu Banyuwangi.

Tercatat ada 59 buah ranjau darat atau obyek barang peledak berbentuk batang silinder masing masing sepanjang 10 cm dan berdiameter 6 cm dalam kondisi sudah berkarat. Serta 1 buah peluru tajam jenis mouser dalam keadaan sudah keropos dan patah menjadi 2 bagian.

Seluruhnya di temukan di area lahan perhutani RPH Purwodadi petak 62 C1 Dusun Jayengan Desa Temuguruh Kecamatan Sempu Banyuwangi.

Kapolsek Sempu, AKP Suhardi mengatakan, puluhan amunisi tersebut di temukan oleh Mukid (46) warga setempat saat hendak menanam jahe di lahan perhutani tersebut.

“Selama ini, Mukid bekerja sebagai magersari atau penjaga lahan perhutani yang bekerja menderes getah pinus dan menggarap lahan setempat,” ungkap Kapolsek.

“Saat itu dia sedang mencangkuli tanah untuk di tanami jahe,” imbuhnya.

Namun Mukid mengaku kaget setelah mendapati puluhan amunisi di dalam tanah. Satu persatu benda yang di duga bahan peledak sisa peninggalan jaman perang tersebut di ambil dan di letakkan pada satu tempat. Selanjutnya, seluruhnya di amankan di Mapolsek Sempu guna pengembangan penyidikan lebih lanjut.

“Sekarang puluhan amunisi itu di rendam di dalam bak berisi air untuk mendeteksi keaktifannya,” kata Kapolsek.

Meski demikian, pihak polsek akan segera berkoordinasi dengan Polres Banyuwangi untuk penyimpanan yang lebih aman. Selanjutnya berkoordinasi dengan Brimob Polda Jawa Timur selaku pihak yang ahli dan berkompeten untuk memusnahkan.

“Baru kali ini di wilayah Sempu ditemukan benda benda berupa amunisi,” ujar Kapolsek.

Dengan adanya temuan ini, Kapolsek menghimbau kepada seluruh masyarakat agar selalu berhati hati karena di duga di sekitar lokasi penemuan masih ada berbagai jenis barang peninggalan jaman penjajahan.

 

More Articles ...