03 - Twenty One Pilots - Stressed Out

Duo Tyler Joseph dan Josh Dun yang tergabung dalam twenty one pilots sudah menelurkan karya semenjak tahun 2009. Sudah cukup lama sebenarnya. Tapi nama mereka sepertinya baru benar-benar bergaung secara luas saat mereka merilis album ketiga mereka, “Vessel” di tahun 2013 dengan beberapa hits yang mencuri perhatian seperti ‘House of Gold’ atau ‘Guns for Hands’. Dan kini, mereka siap meneruskan ketenaran mereka dengan album keempat yang sukses duduk di posisi #1 Billboard 200, “Blurryface“.

Tentunya kita penasaran ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh twenty one pilots untuk meneruskan sukses “Vessel” dengan “Blurryface”. Tentunya mereka masih menampilkan lagu-lagu yang memadukan banyak genre, meski secara umum konsepnya tetap pop. Sebutlah track ‘Tear In My Heart’ yang melebur dua corak yang berbeda, rock dan pop, menjadi sebuah nomor rock yang tidak hanya cukup eklektik (penggunaan elemen EDMnya cukup efektif dan memberi pembeda sendiri), namun juga sangat catchy dan pastinya tidak akan membosankan jika didengar berulang-ulang. Kinerja yang cukup baik dari band asal Amerika ini.

Secara umum “Blurryface” memang album yang catchy, karena setiap lagu dikerjakan dengan memikirkan komposisi yang gampang dicerna serta mengadopsi berbagai genre yang pastinya gampang lekat di benak para pendengarnya. twenty one pilots menghadirkan reggae dalam beberapa lagu, yaitu ‘Ride’, ‘Polarize’, ‘Message Man’ dan ‘Lane Boy’, yang mana track-track ini juga memiliki tone dan gaya yang berbeda. Contohlah ‘Ride’ yang bergerak di alur balada, sehingga dimasukkan elemen emosi yang cukup kuat, sedangkan ‘Polarize’ menggabungkan juga hip hop agar lagunya terdengar berdegup meriah dan intens, dan ‘Message Man’ hadir dengan semangat retro serta ‘Lane Boy’ yang kompleks karena merupakan perpaduan antara reggae, junggle dan dubstep.

Menarik karena mereka mengerjakan track-track ini dengan kompetensi yang cukup tinggi sehingga lagunya tidak terdengar seperti mengandalkan gimmick belaka, tapi memang dibangun berdasarkan genrenya itu sendiri.

Di track lain, persebaran genre yang terjadi dengan luwes ini juga terjadi. Track pembuka, ‘Heavydirtysoul’ adalah nomor pop soul yang terdengar seperti lagu-lagu yang dibuat oleh musisi Inggris. Di saat lain mereka menjadi penembang pop-folk yang cerah ceria seperti yang ‘We Don’t Believe What’s on TV’ dan di saat lain mereka menjadi musisi synth-pop-rock 80-an dalam ‘Hometown’.

Mungkin nilai lebih juga harus disematkan ke pundak sang vokalis Tyler Joseph, yang seperti bunglon, ia mampu beradaptasi dengan corak setiap genre lagunya, kadang ia terdengar seperti rapper, rocker, folker, reggaeman dan sebagainya, tanpa harus kehilangan karakteristik vokalnya. Ia menggerakkan lagu-lagunya dengan presisi yang pas dan efektif.

Kinerja yang efektif antara Tyler dan Joseph dan Josh Dun inilah yang menjadi sentra kekuatan dari ‘Blurryface’. Pemilihan judul albumnya juga cukup menggelitik. Wajah yang kabur. Seolah band ingin mempertegas jika mereka tidak memiliki bentuk atau tampilan yang jelas, dan mereka hanya ingin menampilkan pop dengan segala bentuknya, bebas nilai atau ikatan dan batasan. Mungkin intersprestasi yang agak ekstrim atau malah mengada-ada, tapi yang pasti ‘Blurryface’ memang adalah album yang memikat dan dijamin akan memuaskan pendengaran.

Add comment


Security code
Refresh