Budidaya Lele Sistem Bioflok Ala Banyuwangi

Dalam kurun waktu per 50 hari, mereka bisa meraup keuntungan Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta untuk 1 unit tong.



Ilex Vis - Setelah di Kecamatan Songgon, Pemkab Banyuwangi berencana akan mengembangkan pembudidayaan ikan lele dengan menggunakan sistem Bioflok ke sejumlah kecamatan lain.

Sistem Bioflok ini adalah sistem pemeliharaan ikan dengan cara menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah budidaya itu sendiri menjadi gumpalan-gumpalan kecil (floc) yang bermanfaat sebagai makanan alami ikan.

Belasan pemuda Desa Sragi Kecamatan Songgon Banyuwangi yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan (pokdadan) Bayu Pamili berhasil mengembangkan lele di desa mereka yang tergolong dataran tinggi. Salah satunya di pekarangan belakang rumah milik Sadi, warga setempat.

Di lahan tersebut terdapat 20 tong yang dilapisi terpal dengan di topang rangka besi berukuran 1,5 meter dan lebar 3 meter. Masing masing tong berisi 9 – 10 ribu ikan lele jenis jumbo dan sangkuriang.

Mereka sengaja melapisi setiap tong dengan terpal karena untuk menjaga suhu air supaya tetap hangat. Pasalnya, dari informasi yang mereka terima, ikan lele tidak bisa hidup di daerah kawasan dingin.

Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo mengatakan, dalam kurun waktu per 50 hari, mereka bisa meraup keuntungan Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta untuk 1 unit tong.

“Jika di lahan itu ada 20 tong maka keuntungan mereka bisa mencapai Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per 50 hari,” ujar Hary.

“Pengembangan budi daya ikan lele dengan menggunakan sistem Bioflok ini merupakan upaya di dalam pemenuhan program 100 ribu kolam ikan yang di gulirkan pemerintah daerah, selain memanfaatkan pekarangan rumah untuk kolam ikan,” imbuhnya.

Hary mengaku, pemerintah daerah akan mengembangkan sistem Bioflok ini ke sejumlah daerah yakni di Kecamatan Genteng dan Glenmore serta di beberapa tempat lainnya.

“Pembudidayaan ikan lele dengan sistem Bioflok ini merupakan pengembangan dari program mina padi, mina naga dan mina jeruk yang kini juga tengah gencar di gulirkan oleh pemerintah daerah,” tutur Hary.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap, kegiatan budidaya ikan dengan memanfaatkan lahan yang ada bisa meningkatkan kesejahteraan warga. Apalagi ditunjang dengan beragam inovasi warga untuk bisa meningkatkan produksi ikan, yang di nilai bisa meningkatkan taraf hidup warga desa.

“Sistem bioflok dan kolam terpal ini bisa menghemat lahan, juga mampu mengatasi kendala yang ada serta hasilnya menjanjikan pula,” ujar Bupati Anas.

“Untuk mendukung sukses program 100 ribu kolam, kedepan Pemkab akan menggandeng pengusaha tambak besar untuk menyalurkan dana CSRnya di program pembudidayaan ikan dengan bioflok,” ungkapnya.

Dengan begitu program 100 ribu kolam akan semakin cepat terealisasi untuk menciptakan ketahanan pangan keluarga.

Dia mengaku, program 10.000 kolam ikan yang digagas Pemkab Banyuwangi sebelumnya, telah menuai hasil. Dari target 10.000 kolam telah terdapat 13.215 kolam ikan.

“Dari 13.215 kolam ikan tersebut bisa menghasilkan 3.700 ton ikan dengan potensi Rp 50 miliar. Saat ini, juga terdapat lebih 5.000 pembudidaya ikan di Banyuwangi,” pungkas Bupati Anas.

Comments   

Purjoko Triono
0 #1 Purjoko Triono 2017-05-18 02:33
Sangat membantu pembudidaya ikan khususnya pembudidaya ikan Air tawar .
Quote

Add comment


Security code
Refresh