Anggap Diskriminasi Pelajar, Anas Minta Batalkan Aturan Di SMPN 3 Genteng

Pemerintah daerah berupaya untuk menjaga kerukunan umat beragama, malah muncul paradigma tersebut.

Ilex Vis - Bupati Abdullah Azwar Anas meminta Dinas Pendidikan Banyuwangi untuk membatalkan aturan wajib berjilbab yang di terapkan di SMP Negeri 3 Genteng.

“Itu Aturan inisiatif dari pimpinan sekolah setempat yang di terapkan secara serampangan, karena tanpa melihat latar belakang agama siswa sehingga berpotensi mendiskriminasi pelajar beragama selain Islam. Saya sangat kecewa,” papar Bupati Anas.

Menurutnya, pemerintah daerah berupaya untuk menjaga kerukunan umat beragama, malah muncul paradigma tersebut.

“Jika berjilbab untuk pelajar muslim tidak masalah, namun ini di terapkan secara menggeneralisasi tanpa melihat latar belakang agama pelajarnya,” ujar Bupati Anas.

Dia menambahkan, penerapan aturan ini bakal menjadi pertimbangan serius bagi dirinya untuk mengevaluasi kinerja kepala sekolah.

“Saya sudah minta Kepala Dinas Pendidikan, Sulihtiyono untuk mengkaji pemberian peringatan dan sanksi kepada pimpinan sekolah yang menerapkan aturan itu,” tegas Bupati Anas.

Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiyono mengatakan, pihaknya sudah menginstruksikan kepala sekolah SMPN 3 Genteng untuk menghapus aturan itu sesuai instruksi Bupati.

Seperti diketahui, terdapat kejadian kurang mengenakkan yang menimpa NWA, salah seorang pelajar perempuan dari Kecamatan Genteng. Pelajar itu urung masuk SMPN 3 Genteng karena ada aturan pewajiban seluruh siswi mengenakan jilbab tanpa terkecuali.

“Terdapat tiga skema pendaftaran siswa baru. Yang pertama sistem zona dan siswa dari keluarga kurang mampu. Kedua, pendaftaran berbasis online. Ketiga, jalur minat, bakat, dan prestasi,” papar Sulihtiyono.

NWA mendaftar melalui online dengan dua pilihan, yaitu SMPN 1 Genteng dan SMPN 3 Genteng. Yang bersangkutan kemudian diterima di SMPN 3 Genteng, namun urung masuk karena adanya aturan pewajibab berjilbab. Akhirnya NWA mencoba melalui jalur minat, bakat, dan prestasi, sehingga diterima di SMPN 1 Genteng.

“Ke depan tidak akan ada lagi permasalahan serupa terjadi di kemudian hari,” pungkas Sulihtiyono.

Add comment


Security code
Refresh