BBPOM Jajaki Kerja Sama Perlindungan Pangan Di Banyuwangi

Ada dua skema kerjasama yang akan dilaksanakan dengan cara mensinergikan program-program BBPOM dengan program pemerintah daerah.

Reporter : Ilex Vis

Radiovisfm.com, Banyuwangi - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) menjajaki kerja sama perlindungan keamanan pangan di Banyuwangi. Untuk mengaplikasikan rencana ini, Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya, Hardaningsih, melakukan kunjungan kerja ke Banyuwangi.

“Kabupaten Banyuwangi telah bertransformasi menjadi salah satu primadona pariwisata di Indonesia,” ujar Hardaningsih.

Bahkan, pesona daerah di ujung Timur Pulau Jawa ini juga dinilai telah dikenal hingga ke manca negara. Maka tak heran, kalau Banyuwangi kini banyak dikunjungi para wisatawan, baik domestik maupun turis asing.

“Dalam kondisi seperti ini, kami berharap masyarakat dan para pelaku usaha di Banyuwangi semakin menyadari pentingnya makanan dan obat-obatan yang aman. Karena, kuliner juga menjadi pendukung pariwisata yang dapat menggerakkan perekonomian daerah,” kata Hardaningsih.

Sehingga pihaknya tertarik untuk menjajaki kerjasama terkait perlindungan keamanan pangan di Banyuwangi.

Perempuan yang biasa di sapa Nining tersebut datang ke Banyuwangi bersama lima orang rombongannya.

“Ada dua skema kerjasama yang akan kami laksanakan dengan cara mensinergikan program-program BBPOM dengan program pemerintah daerah,” ungkapnya.

Yaitu memberikan edukasi kepada para pelaku usaha kuliner dan IKM obat tradisional. Tekhnisnya, di lakukan melalui pelatihan dan dialog. Misalnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mempunyai program pelatihan bagi pelaku usaha jamu, pihak BBPOM siap menyediakan nara sumbernya.

“Begitu juga saat ada pelatihan pelaku usaha kuliner, sehingga kami mengaku bisa bertatap muka langsung untuk mengedukasi mereka,” tutur Nining.

Dalam pelaksanaannya nanti, pelaku usaha jamu akan diajarkan beberapa hal. Seperti komposisi bahan dan cara membuat jamu yang tepat, memilih kemasan yang aman dan higienis, dan yang terpenting tidak mencampur jamu dengan bahan kimia obat (BKO) yang dapat membahayakan kesehatan konsumen.

“Para pelaku usaha kuliner juga akan kami ajarkan bagaimana memproduksi makanan yang tidak hanya lezat, namun juga higienis, aman, dan menyehatkan,” imbuh Nining.

IKM akan diedukasi diantaranya tentang cara memasak yang tepat, kandungan gizi, packaging yang aman, pelabelan yang benar, hingga memperhatikan tanggal kadaluwarsa.

Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko menyambut baik tawaran kerjasama tersebut.

“Kami harap kerjasama ini dapat terealisasi sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Banyuwangi akan pentingnya makanan dan obat-obatan yang aman,” ujar Wabup.

Saat menerima rombongan di Lounge Pelayanan Publik, Wabup Yusuf juga sempat memaparkan inovasi-inovasi pemkab terkait perlindungan pangan bagi warga. Salah satunya, pemkab meluncurkan program inspektur cilik di sekolah-sekolah untuk melindungi anak-anak dari jajanan berbahaya.

“Inspektur ini dibentuk di setiap kelas. Mereka mengawasi temannya untuk tidak jajan makanan yang mengandung zat yang membahayakan tubuh,” papar Wabup Yusuf.

“Bila inspektur ini mengetahui ada temannya jajan yang tidak sehat, maka dia bisa langsung mengingatkan temannya atau langsung lapor kepada guru dan kepala sekolah,” pungkasnya.

Add comment


Security code
Refresh