radiovisfm.com – Latihan Gandrung Sewu di Stadion Diponegoro, Banyuwangi, diwarnai insiden sejumlah penari yang diduga mengalami gejala kesurupan pada Sabtu (10/10/2026) malam. Peristiwa itu terjadi saat para peserta berlatih dengan iringan gamelan dan membuat tim pelatih harus melakukan penanganan bersama tim medis serta Tagana.
Ketua Pelatih Seniman dan Tari Banyuwangi (Patih Senawangi), Suko Prayitno, mengatakan kejadian tersebut berlangsung cepat dan di luar perkiraan tim. Menurutnya, selama latihan sebelumnya, para penari tidak pernah mengalami kejadian serupa.
“Selama ini latihan pakai MP3 tidak ada masalah, aman-aman saja. Kemudian saat latihan malam menggunakan gamelan, ada lagu yang menurut saya sering dibawakan dalam acara Seblang. Setelah lagu itu muncul, satu anak mengalami histeris,” kata Suko saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, penari pertama tersebut sempat meminta gending Seblang dan menari. Setelah itu, penari tersebut kembali sadar. Namun, tidak berselang lama, penari lain ikut mengalami kondisi serupa.
“Anak yang kedua ini meminta kembang setaman untuk disebar-sebarkan. Setelah itu, ada banyak yang mengalami gejala tersebut. Namun, alhamdulillah semuanya sudah tertangani dan bisa sampai rumah,” ujarnya.
Suko memperkirakan jumlah peserta yang mengalami gejala tersebut mencapai puluhan orang. Bahkan, menurut dia, ada tiga orang pelatih yang turut mengalami kondisi serupa.
“Sepengetahuan saya jumlahnya puluhan peserta karena kejadiannya begitu cepat dan di luar dugaan kami. Bahkan pelatih ada tiga orang yang mengalami hal serupa. Alhamdulillah, semuanya cepat tertangani,” ungkapnya.
Ia memastikan para peserta mendapat pendampingan hingga kondisi mereka kembali terkendali. Tim pelatih memilih tetap mendampingi anak-anak sampai sadar, sementara tim medis dan Tagana turut membantu proses penanganan.
“Yang terjadi memang di dalam stadion. Setelah keluar, alhamdulillah kondisinya aman. Kami semua menunggui anak-anak sampai sadar,” jelasnya.
Suko mengapresiasi respons tim medis dan Tagana yang dinilainya sigap ketika kejadian berlangsung. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti karena peristiwa itu terjadi secara mendadak.
“Alhamdulillah, teman-teman medis tanggap. Tim Tagana juga luar biasa membantu saat terjadi kejadian seperti itu,” tambahnya.
Terkait kemungkinan penyebabnya, Suko menduga kelelahan setelah menjalani latihan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Ia juga menyebut kondisi pikiran peserta sebagai kemungkinan lain, meski belum ada kepastian mengenai penyebab kejadian tersebut.
“Anak-anak kemungkinan capek karena juga latihan dan mungkin pikirannya kosong. Cuma gejalanya sebentar-sebentar, tidak lama,” katanya.
Suko menegaskan kejadian itu menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih. Untuk sementara, pihaknya berencana tidak menggunakan gending yang diputar saat insiden tersebut terjadi.
“Ini di luar ekspektasi kami. Ini menjadi bahan evaluasi bersama tim. Untuk sementara, kami tidak menggunakan gending tersebut,” tegasnya.
Suko juga menanggapi anggapan bahwa tim pelatih belum meminta izin sebelum menggelar latihan. Ia menyatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan tokoh dan sesepuh di wilayah Olehsari, termasuk kepala desa dan perangkat desa setempat.
“Kami sudah izin, bahkan sudah sambang ke makam leluhur dan berkomunikasi dengan tokoh-tokoh serta sesepuh di Olehsari, termasuk kepala desa dan perangkatnya,” pungkasnya.
