Mirip Unbound Gravel di Kansas, 400 Pesepeda dari 5 Negara Ramaikan Nggravel Glenmore Banyuwangi

radiovisfm.com – Sebanyak 400 pesepeda dari lima negara menantang rute gravel dalam ajang “Nggravel Glenmore” Banyuwangi, Minggu (4/10/2026).

Para peserta datang dari Australia, Belanda, Singapura, Swiss, dan Indonesia. Event ini perdana digelar Mainsepeda berkolaborasi dengan Pemkab Banyuwangi.

Peserta yang ambil bagian berasal dari berbagai spektrum pegowes gravel, mulai dari pesepeda muda hingga senior, atlet profesional maupun debutan.

Nggravel Glenmore menyediakan tiga kategori, yakni kompetitif gravel 100 kilometer (KM) race, kompetitif MTB 100 KM race, serta 80 KM non-race, dengan garis start dan finish di Industri Gula Glenmore (IGG).

Ajang ini bahkan dijuluki sebagai “Unbound Gravel”-nya Indonesia karena karakter rutenya disebut memiliki kemiripan dengan balapan gravel terbesar dan bergengsi di Kansas, Amerika Serikat.

Bagaimana tidak, sekitar 90 persen rute Nggravel Glenmore merupakan jalur gravel. Peserta hanya melewati sedikit aspal dan single track, dengan sebagian besar lintasan berupa tanah, kerikil, serta bebatuan kecil.

Rute tersebut tidak memiliki tanjakan panjang yang berat. Namun, peserta akan menghadapi jalur yang terus menanjak secara halus dan beberapa bagian dengan “sharp hill” atau tanjakan curam dalam jarak pendek.

“Benar-benar mirip Unbound di Amerika,” kata Veri, peserta Gravel 100 KM asal Kediri.

Peserta lainnya, Stephen Lane dari Australia mengaku sudah beberapa kali mengikuti event sepeda di Banyuwangi. Namun, Nggravel Glenmore menjadi pengalaman pertamanya mengikuti balapan gravel di Indonesia.

“Secara umum, saya di sini untuk menikmati pengalaman dan bersenang-senang,” aku Lane.

Peserta asal Yogyakarta, Tika, juga mengaku senang bisa menjajal trek Glenmore. Meski baru pertama kali mencoba rute gravel, ia tetap optimistis mengikuti perlombaan dengan bekal pengalaman dan persiapan dari berbagai kejuaraan balap sepeda di daerah lain.

“Niat saya ikut tidak hanya menyelesaikan perlombaan. Namun juga berolahraga sambil berwisata. Karena di Banyuwangi sudah tidak diragukan lagi, pemandangannya itu selalu spektakuler,” ucap dia.

Founder Mainsepeda Azrul Ananda mengatakan, karakter lintasan Nggravel Glenmore menawarkan berbagai tantangan bagi peserta.

Menurutnya, sekitar empat kilometer pertama masih berupa jalan beraspal. Setelah itu, peserta masuk ke jalur gravel dengan beragam karakter permukaan.

“Ada bagian bisa dengan mudah melaju di atas 40 km/jam. Ada yang ‘rock garden’ menggetarkan badan. Ada pula bagian-bagian berpasir yang menantang konsentrasi,” kata Azrul.

Variasi lintasan tersebut, lanjut dia, menjadi salah satu daya tarik Nggravel Glenmore bagi berbagai kalangan pegowes gravel.

“Inilah yang membuat berbagai spektrum pegowes gravel tergiur rute yang memadukan berbagai jenis permukaan ini,” kata Azrul.

Keberadaan Nggravel Glenmore, menurut Azrul, turut melengkapi berbagai event sepeda yang telah digelar di Banyuwangi, seperti Tour de Banyuwangi Ijen, Ijen KOM, BIG Downhill, BMX Supercross, dan lainnya.

“Sudah sangat komplit Banyuwangi,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Glenmore memiliki potensi wisata alam yang kuat. Kawasan tersebut berada di lereng Gunung Raung dengan udara yang segar dan pemandangan yang asri.

“Glenmore juga memiliki berbagai potensi di antaranya sebagai penghasil kakao berkualitas ekspor, serta didukung komoditas lain seperti tebu, karet, dan kopi,” ungkap Bupati Ipuk.

Kehadiran event Nggravel Glenmore ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pariwisata sekaligus produk unggulan Banyuwangi.

“Terimakasih Pak Azrul yang sudah konsisten gelar event sepeda di Banyuwangi. Kami harap event ini dapat menyuntikkan energi baru bagi sport tourism di Banyuwang,” ujarnya Bupati Ipuk.