Terkuak! Sisi Lain Jejak Letusan Gunung Ijen tahun 1817, Tiga Desa Hanyut dan Ratusan Ternak Mati Keracunan Belerang

radiovisfm.com – Di balik lanskap eksotis Banyuwangi yang kini memanjakan mata wisatawan dunia, tersimpan sebuah lembaran sejarah kelam yang nyaris terlupakan. Jauh sebelum era pariwisata modern, tanah Blambangan pernah menjadi saksi bisu amukan alam maha dahsyat dari dua raksasa vulkanik: Gunung Ijen dan Gunung Raung.

Bencana kolosal yang terjadi sepanjang abad ke-17 hingga ke-19 ini bukan sekadar letusan gunung api biasa. Peristiwa tersebut terekam dalam arsip kolonial, laporan resmi Asisten Residen C. J. Bosch, hingga kesaksian warga lokal yang merangkum betapa rentannya peradaban manusia di hadapan kekuatan alam.

Peneliti Warisan Geologi Kabupaten Banyuwangi, Abdillah Baraas, mengungkapkan bahwa memori kolektif masyarakat Banyuwangi terhadap bencana masa lalu ini penting untuk dihidupkan kembali sebagai mitigasi modern. Menurutnya, dalam kajian ilmiahnya, bencana vulkanik di masa lampau tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah rangkaian ekologis yang mengubah struktur sosial secara masif.

“Kisah letusan Ijen dan Raung pada abad ke-18 hingga ke-19 mengajarkan kita bahwa dampak bencana tidak berhenti saat dentuman mereda, melainkan memicu krisis multidimensi yang merembet ke sektor pangan, kesehatan, hingga tata ruang wilayah,” ujar Abdillah Baraas.

Puncak dari rangkaian bencana tersebut terekam jelas pada Januari 1817. Kala itu, langit Banyuwangi mendadak berubah menjadi gulita selama beberapa hari akibat letusan eksplosif Gunung Ijen yang memuntahkan kolom-kolom api raksasa, abu tebal, serta material belerang yang mencemari udara.

Ketakutan warga saat itu semakin menjadi-jadi karena bayang-bayang kelam letusan Gunung Tambora pada 1815 masih membekas kuat di ingatan kolektif Nusantara. Suara gemuruh mirip dentuman meriam terus terdengar bersahut-sahutan, membuat warga panik dan mencari tempat perlindungan darurat.

Namun, ancaman mematikan sesungguhnya justru datang setelah hujan deras mengguyur kawasan puncak. Dalam hasil penelitiannya, Abdillah mencatat bahwa bahaya sekunder berupa lahar dingin atau banjir bandang lumpur vulkanik menjadi aktor utama kehancuran permukiman di dataran rendah.

“Dalam catatan sejarah, material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung tersapu air hujan, berubah menjadi aliran lumpur pekat yang menerjang desa-desa seperti Bakoengan (Bakungan), Balook (Baluk), dan Patemon (tempuran kedua aliran sungai di wilayah Kebalenan) hingga meratakan puluhan rumah,” jelas Abdillah.

Dampak kehancuran tersebut terekam sangat luas, menjalar dari kawasan hulu hingga mencemari aliran Sungai Tambong dan bermuara ke laut. Aliran lumpur yang masif bahkan sempat menyumbat alur sungai secara permanen dan membentuk kawasan rawa baru yang mengubah peta topografi Banyuwangi kala itu.

Panik akibat terjangan banjir dan lumpur, warga setempat mencari berbagai cara untuk menyelamatkan diri, mulai dari menaiki perahu di pelabuhan hingga merakit batang-batang bambu demi menyeberang Laut Selat Bali menuju Pulau Bali.

Tidak hanya manusia yang menjadi korban, ekosistem hutan Ijen mengalami porak-poranda parah. Kesaksian seorang pemburu bernama Bapak Kami, yang mendatangkan kembali puncak gunung enam hari pasca-letusan mendapati timbunan abu setinggi 20 kaki yang menimbun harimau, rusa, hingga ribuan burung.

Menanggapi fenomena matinya satwa secara massal ini, Abdillah Baraas menegaskan bahwa letusan Ijen pada masa itu telah memicu kepunahan ekologis lokal yang parah.

“Hilangnya satwa liar seperti harimau dan rusa menunjukkan betapa cepatnya letusan vulkanik melumpuhkan rantai makanan dan merusak habitat alami dalam hitungan jam,” tambahnya.

Penderitaan rakyat Banyuwangi kian sempurna ketika fase pasca-letusan menghadirkan gelombang kelaparan dan wabah penyakit. Gagal panen massal terjadi akibat sawah dan ladang tertimbun abu beracun, sementara ternak warga mati kelaparan atau teracuni air sungai yang tercemar belerang.

Krisis air bersih pun melanda, memicu keluhan kesehatan seperti sakit perut akut dan batuk berat yang menyerang penduduk lokal. Pemerintah kolonial yang dipimpin oleh Residen Roos bahkan kewalahan menghadapi krisis kemanusiaan ini, hingga harus mengeluarkan kebijakan pembebasan pajak tanah bagi wilayah yang terdampak parah.

Melalui lembaran sejarah dan telaah ilmiah Abdillah Baraas, kita diingatkan bahwa ancaman bencana di bumi Blambangan adalah sebuah keniscayaan sejarah. Relokasi muara sungai hingga pemulihan ekonomi yang memakan waktu bertahun-tahun di masa lalu menjadi bukti nyata bahwa kesiapsiagaan menghadapi ancaman Ijen dan Raung harus terus dijaga oleh generasi masa kini.