radiovisfm.com – Cahaya berganti warna, musik mengalun, lalu ratusan penari memenuhi panggung Indonesia Arena. Malam itu, budaya Nusantara hadir bukan sebagai kenangan, melainkan energi yang terus bergerak.
Kemegahan ini terpancar sempurna ketika Tari Gandrung meriahkan Pagelaran Sabang Merauke yang diselenggarakan pada tanggal 21-23 Agustus 2026 di Indonesia Arena, GBK Senayan, Jakarta.
Sekitar 1.700 pelaku seni, kreatif, dan tim produksi terlibat dalam kesuksesan perhelatan ini, menjadikannya semakin megah. Penambahan jumlah koreografi turut menjadi pembeda utama dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Secara teknis pertunjukan, sebanyak 387 penari membawakan 104 koreografi karya dari 11 tim koreografer. Aksi gemilang mereka tampil harmonis bersama 15 penyanyi nasional, satu grup band, 119 anggota paduan suara, 60 musisi orkestra, serta 50 alat musik tradisional yang dimainkan langsung oleh para musisi. Tak kalah memukau, 16 desainer juga berkolaborasi merancang hingga menghasilkan 1.500 kostum megah yang dipakai sepanjang acara.
Mengusung konsep pementasan kolosalnya, Pagelaran Sabang Merauke 2026 membawa penonton menyusuri keberagaman melalui kisah Hikayat Srikandi Nusantara. Seni tradisional dipertemukan secara apik dengan sentuhan teknologi, alunan musik modern, serta dedikasi tinggi dari ribuan pekerja kreatif di balik panggung.
Apresiasi tinggi datang langsung dari deretan penonton yang hadir memadati arena. Salah satu penonton yang juga sebagai content creator, Andre Budalrek, memandang pagelaran ini sangat bagus sekali karena mampu memperkenalkan budaya Nusantara secara utuh di atas satu panggung.
“Salah satunya melihat penari Gandrung di sini udah seperti pagelaran Gandrung Sewu yang luar biasa. Momen seperti ini sangat berharga karena di generasi sekarang ini masih ada yang melestarikan budaya nusantara,” imbuh Andre antusias.
Di balik kemegahan yang tersaji, sekitar 1.700 pelaku seni dan kreatif bahu-membahu bekerja membangun satu cerita besar. Mereka menyatukan potensi sebagai penari, penyanyi, pemusik, desainer, koreografer, hingga tim teknisi panggung demi sebuah karya sinematik yang utuh.
Persiapan panjang berbulan-bulan akhirnya menyatu dalam satu malam magis ketika lampu utama panggung perlahan meredup. Dari sana, Indonesia Arena seketika berubah menjadi ruang cerita hidup yang membawa penonton menyusuri berbagai wajah kekayaan Nusantara.
Ratusan penari bergerak presisi membentuk gelombang, kemudian berpencar mengikuti dinamika perubahan irama dan alur cerita. Panggung berukuran besar tersebut mendadak terasa begitu intim ketika sorot lampu pencahayaan secara fokus mengikuti perjalanan setiap karakter.
Kekuatan visual busana turut berbicara melalui lebih dari 1.500 kostum rancangan 16 desainer kenamaan. Perpaduan warna, tekstur, dan detail jahitan berhasil memperkuat identitas setiap adegan yang dibawakan tanpa sedikit pun menenggelamkan nilai serta akar budaya aslinya.
Elemen musik tampil menjadi jembatan berikutnya yang mengkoneksikan berbagai daerah dan lintas generasi. Sebanyak 60 musisi orkestra dan 119 anggota paduan suara menyajikan lanskap suara megah yang menghidupkan suasana sepanjang pertunjukan berlangsung.
Suasana semakin magis saat instrumen modern berpadu selaras dengan permainan sekitar 50 jenis alat musik tradisional. Bunyi khas Nusantara meliuk indah menuju irama orkestra dan pop, sebelum akhirnya kembali menemukan jalannya menuju akar tradisi.
Di antara kerumunan para seniman papan atas, penyanyi Raisa menjalani pengalaman baru yang sangat berbeda dari panggung musik biasanya. Malam itu, ia tidak hanya tampil bernyanyi, tetapi juga mendalami seni peran dengan menjelma menjadi sosok heroik Srikandi.
Raisa mengakui bahwa peran tersebut memberikan catatan dan pengalaman baru dalam perjalanan kariernya di dunia seni pertunjukan.
Gemuruh tepuk tangan penonton menjadi jawaban riuh setelah seluruh perjalanan karakter Srikandi selesai dibawakan. Bagi Raisa pribadi, sambutan hangat tersebut terasa datang dengan luapan emosi yang jauh lebih dekat, dalam, dan personal.
Tak jauh dari panggung utama, Yura Yunita turut menghadirkan dunia berbeda melalui interpretasi karakter Mahadewi. Penampilannya sangat dramatis saat ia muncul dari atas naga tiga kepala yang diselimuti efek asap tebal dan permainan tata cahaya mengagumkan.
Pertunjukan terus bergerak dinamis, sementara pekerjaan rumit terus berlangsung secara senyap di balik panggung. Musisi, penata cahaya, kru teknis, hingga pekerja kreatif menjaga ketat setiap momen transisi panggung agar berjalan presisi dan tepat waktu.
Di situlah perhelatan ini memperlihatkan wajah lain dari industri budaya yang jarang terlihat oleh penonton awam. Satu pertunjukan berskala besar terbukti mampu membuka ruang kerja produktif bagi banyak keahlian profesi dalam ekosistem ekonomi kreatif tanah air.
Kolaborasi ini juga melibatkan partisipasi aktif dunia usaha yang memandang seni budaya sebagai bagian penting dari pertumbuhan industri kreatif. Dukungan strategis tersebut membuat panggung budaya memiliki ruang gerak yang jauh lebih luas untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan.
Ketika pertunjukan resmi berakhir, panggung perlahan kembali gelap dan riuh suara tepuk tangan mulai mereda. Kendati demikian, pesan dan cerita kebudayaan yang dibawakan malam itu tidak ikut berhenti seiring padamnya pencahayaan panggung.
Pagelaran Sabang Merauke 2026 berhasil membuktikan bahwa budaya mampu berdiri sejajar dan berdampingan dengan perkembangan teknologi serta industri modern. Tradisi tetap berakar kuat, sementara kreativitas membawanya bertemu dengan generasi muda dan membentang peluang ekonomi baru.
