radiovisfm.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 9 Jember mencatat kinerja positif selama masa Angkutan Lebaran (Angleb) 2026.
Total akumulasi jumlah penumpang pada seluruh stasiun di wilayah Daop 9 Jember mencapai 482.375 penumpang, yang terdiri dari 237.345 penumpang naik dan 245.030 penumpang turun, dengan total 26 perjalanan kereta api (KA) yang dioperasikan. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan periode Angkutan Lebaran 2025, di mana total akumulasi penumpang tercatat sebanyak 454.287 penumpang, dengan rincian 223.209 penumpang naik dan 231.078 penumpang turun pada jumlah perjalanan yang sama, yaitu 26 KA.
Secara keseluruhan, volume penumpang pada Angkutan Lebaran 2026 mengalami kenaikan sebesar 6,18% dibandingkan tahun sebelumnya. Manager Hukum dan Humas Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. Adapun kereta api komersial favorit masyarakat selama periode Angkutan Lebaran 2026 adalah KA Logawa dengan total 31.175 penumpang, diikuti oleh KA Blambangan Ekspres dengan 23.939 penumpang.
“Untuk layanan Public Service Obligation (PSO), KA Probowangi menjadi yang paling diminati dengan 69.853 penumpang, disusul KA Sri Tanjung dengan 47.403 penumpang,” terang Cahyo.
Sementara, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) terus bergerak cepat merespons peningkatan arus kendaraan di Pelabuhan Ketapang pasca berakhirnya kebijakan pembatasan operasional angkutan barang sumbu tiga ke atas. Lonjakan kendaraan, terutama truk logistik, ditangani melalui langkah taktis dan kolaboratif lintas sektor.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menegaskan bahwa saat ini, ASDP bersama seluruh stakeholder terus memperkuat penanganan agar antrean dapat segera terurai dan layanan kembali normal. Dari dalam pelabuhan, percepatan dilakukan melalui pengaturan pola muatan yang lebih terstruktur.
“Dermaga 1, 2, dan 3 difokuskan untuk kendaraan penumpang—roda dua, roda empat, dan bus. Sementara Dermaga 4 dan LCM dimaksimalkan untuk kendaraan logistik. Skema ini efektif mengurangi mixing conflict, sehingga proses bongkar muat menjadi lebih homogen, cepat, dan efisien,” papar Arief.
Arief mengaku optimalisasi operasional juga dilakukan melalui penguatan ritme layanan kapal dan kesiapan fasilitas pendukung.
“Kami pastikan seluruh dermaga dan armada beroperasi maksimal dengan pola layanan yang lebih terarah. Fokus kami adalah mempercepat turn around time kapal agar antrean kendaraan dapat segera berkurang,” ujarnya.
Di sisi eksternal, pengaturan lalu lintas diperkuat melalui koordinasi intensif bersama aparat berwenang. Dukungan Mabes TNI dengan pengerahan 365 personel lintas matra menjadi elemen penting dalam menjaga kelancaran distribusi kendaraan menuju pelabuhan.
Menurut Arief, pengendalian volume kendaraan juga diperkuat melalui optimalisasi buffer zone. Area Pusri difungsikan khusus untuk menampung hingga 150 truk sumbu tiga, sementara buffer zone Bulusan mampu menampung sekitar 600 unit truk campuran.
“Langkah ini menjaga agar kepadatan tidak langsung terakumulasi di dalam kawasan pelabuhan,” imbuhnya.
Hingga Jumat (3/4) pagi, antrean kendaraan dari arah utara terpantau mencapai Parasputih atau sekitar 7 km dari pintu masuk pelabuhan, didominasi kendaraan logistik. Meski demikian, arus kendaraan dari tollgate menuju dermaga tetap bergerak dengan waktu tempuh berkisar 20 hingga 35 menit.
Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi, Komang Sudira Atmaja menambahkan, sejumlah stakeholder termasuk karyawan Dinas Perhubungan, terlibat langsung dalam kelancaran arus kendaraan bermotor di area Pelabuhan Ketapang selama masa angkutan Mudik dan Balik Lebaran 2026.
“Kami turunkan puluhan staf untuk terlibat langsung mengatur lalu lintas bersama kepolisian dan TNI. Mereka berjaga di sepanjang jalan menuju Pelabuhan Ketapang baik dari arah utara maupun selatan. Termasuk di setiap pertigaan jalan yang menjadi jalur alternative bagi kendaraan yang akan menyeberangan ke Pelabuhan Gilimanuk Bali,” papar Komang.
Komang mengaku, koordinasi peningkatan infrastruktur dan keamanan transportasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan angkutan lebaran di tahun ini. Khususnya di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
