radiovisfm.com – Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) selalu sukses menjadi magnet bagi ribuan pasang mata. Namun di balik keindahan koreografi dan kemegahan kostum yang akan ditampilkan, ada denyut nadi perekonomian masyarakat bawah yang ikut berputar kencang berkat rangkaian persiapan acara tahunan ini.
Suasana riuh dan penuh semangat begitu terasa saat para peserta BEC menggelar latihan koreografi massal. Kegiatan yang menjadi bagian dari persiapan akhir menjelang pertunjukan utama parade kostum budaya tersebut dilangsungkan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi.
Latihan yang diikuti oleh ratusan pemuda-pemudi berbakat ini ternyata tidak hanya menggugah semangat para penari yang sedang mematangkan gerakan mereka. Lebih dari itu, hiruk-pikuk proses kreatif ini menjelma menjadi rejeki nomplok yang sangat disyukuri oleh sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bumi Blambangan.
Banyaknya masyarakat yang datang untuk menonton jalannya latihan membuat area sekitar RTH Rejoagung mendadak ramai. Kondisi ini pun langsung dimanfaatkan oleh para pedagang kaki lima dan pelaku usaha kecil untuk mengais keuntungan, mengingat tingginya antusiasme warga yang memadati lokasi sejak pagi hari.
Salah satu pedagang cemilan Cimol yang turut panen cuan dari membludaknya pengunjung adalah Santoso. Pria paruh baya yang merupakan warga asli desa Rejoagung tersebut sehari-harinya menyambung hidup dengan berjualan aneka makanan ringan dan camilan keliling.
“Saya sangat bersyukur dengan adanya kegiatan latihan di sini, dagangan saya yang terjual sangat lumayan,” ujar Santoso.
Bagi Santoso, ramainya pembeli dalam waktu singkat merupakan berkah yang jarang terjadi di hari-hari biasa. Pria yang mengaku sudah 20 tahun berjualan di lingkungan sekolah, RTH Bagorejo, dan kawasan sekitarnya ini biasanya harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjajakan dagangannya.
“Saya biasanya jualan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, tapi hari ini saya jualan di sini belum lama udah habis. Semoga selalu ada kegiatan seperti ini di desa kami,” pungkasnya.
Selain dampak ekonomi yang langsung dirasakan warga, BEC tahun ini juga menjanjikan tontonan seni yang sarat akan nilai sejarah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sengaja mengangkat narasi heroisme masyarakat Bumi Blambangan saat menantang kongsi dagang Belanda (VOC) pada abad ke-18 silam untuk membakar semangat nasionalisme generasi muda.
Mengusung tajuk utama “Perang Bayu, The Great War of Blambangan”, festival budaya kontemporer ini merajut kembali kisah perjuangan heroik rakyat Blambangan melawan kolonialisme pada medio 1771–1772. Melalui balutan kostum megah dan koreografi yang dinamis, sejarah kelam sekaligus membanggakan tersebut akan dihidupkan kembali di sepanjang jalan protokol Banyuwangi.
