Warga Lereng Raung Banyuwangi Dievakuasi, Ada yang Ditandu dalam Simulasi Erupsi

radiovisfm.com– Suasana Balai Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, mendadak sibuk saat ratusan warga mengikuti simulasi tanggap darurat erupsi Gunung Raung, Kamis (29/10). Dalam skenario tersebut, warga mengenakan masker, dikelompokkan berdasarkan kondisi masing-masing, hingga mengevakuasi warga yang diperagakan mengalami luka dengan menggunakan tandu.

Latihan yang digelar BPBD Banyuwangi bersama Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung itu dirancang menyerupai situasi darurat ketika gunung api mengalami erupsi. Simulasi ini bertujuan membiasakan masyarakat menghadapi kondisi bencana sekaligus memahami tahapan evakuasi menuju lokasi aman.

Rangkaian latihan diawali dengan pengumpulan warga di Balai Desa Sumberarum. Petugas kemudian membagikan masker untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik dalam skenario erupsi.

Warga selanjutnya dikelompokkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan penanganan. Pemisahan dilakukan untuk memudahkan petugas menentukan prioritas evakuasi, termasuk bagi anak-anak, perempuan, lansia, hingga warga yang membutuhkan pertolongan medis.

Sejumlah warga yang diperagakan mengalami cedera juga mendapat penanganan khusus. Ada yang ditandu karena mengalami luka, sementara lainnya disimulasikan mengalami patah tulang hingga gangguan pernapasan.

Tim medis kemudian memberikan pertolongan awal sebelum para korban dibawa menuju lokasi pengungsian. Seluruh peserta diarahkan ke Lapangan Desa Sragi, Kecamatan Songgon, yang menjadi titik aman dalam skenario latihan tersebut.

Di lapangan itu, petugas telah menyiapkan tenda pengungsian dan pos kesehatan. Fasilitas tersebut disimulasikan sebagai tempat penampungan sementara bagi warga yang harus meninggalkan kawasan terdampak bencana.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banyuwangi, Djadmiko Tri Wurjanto, mengatakan simulasi tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan lereng Gunung Raung.

“Harapannya masyarakat bisa bersiap siaga apabila terjadi erupsi gunung api. Kami mulai dengan mengumpulkan sekitar 100 orang dari berbagai lapisan masyarakat. Skenarionya dibuat senyata mungkin,” ujar Djadmiko, Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, pengelompokan warga menjadi salah satu bagian penting dalam latihan. Sebab, saat bencana terjadi, masyarakat memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda-beda sehingga proses evakuasi perlu disesuaikan.

“Kami membuat pengelompokan atau klaster berdasarkan kondisi warga, mulai dari yang mengalami luka, sakit, sampai yang tidak memiliki kendaraan. Dalam kondisi bencana, evakuasi harus dilakukan dengan cepat,” jelasnya.

Djadmiko menambahkan, warga yang tidak memiliki kendaraan juga perlu mendapat bantuan transportasi. Dalam skenario erupsi, masyarakat harus segera meninggalkan kawasan berisiko dan mengikuti arahan petugas menuju tempat yang telah ditentukan.

“Kalau tidak memiliki kendaraan, mereka akan diangkut menggunakan kendaraan yang disiapkan. Saat terjadi erupsi, warga tidak boleh berjalan sendiri karena keselamatan harus menjadi prioritas,” katanya.

Lapangan Desa Sragi dipilih sebagai titik pengungsian dalam simulasi karena berada di luar radius 10 kilometer dari puncak Gunung Raung. Lokasi itu dilengkapi dengan skenario pendirian tenda pengungsian dan layanan kesehatan untuk menunjang kebutuhan warga.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, di antaranya Basarnas, TNI-Polri, tim kesehatan, pegiat wisata, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), serta perangkat desa.

Melalui simulasi ini, BPBD berharap warga tidak hanya mengenali jalur evakuasi, tetapi juga memahami pentingnya mengikuti arahan petugas, membantu kelompok rentan, serta bergerak menuju lokasi aman ketika situasi darurat terjadi.