radiovisfm.com – Mengantisipasi potensi gangguan perjalanan kereta api akibat meningkatnya debit air pada musim hujan, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 9 Jember melakukan peningkatan infrastruktur drainase di dua titik bangunan hikmat (BH), yakni BH.367 di petak jalan Grati–Bayeman dan BH.388 di petak jalan Bayeman–Probolinggo. Pekerjaan berupa pembangunan *box culvert* ini ditujukan untuk memperlancar aliran air sekaligus meminimalkan risiko penyumbatan dan banjir yang dapat mengganggu keamanan serta keselamatan perjalanan kereta api.
Selama pekerjaan berlangsung, KAI menerapkan pengamanan operasional melalui pemasangan Semboyan 2A, yaitu pembatasan kecepatan kereta api maksimal 40 km/jam pada lokasi yang dilindungi. Penerapan semboyan tersebut merupakan langkah antisipatif untuk melindungi pekerjaan konstruksi sekaligus menjaga keselamatan perjalanan kereta api yang melintasi area tersebut.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menjelaskan bahwa peningkatan infrastruktur ini merupakan bagian dari program mitigasi menghadapi musim hujan. KAI terus melakukan upaya preventif melalui perbaikan prasarana, terutama pada titik yang berpotensi mengalami gangguan akibat perubahan kondisi sungai maupun tingginya debit air.
“Keselamatan perjalanan kereta api menjadi prioritas utama kami. Karena itu, potensi gangguan harus diantisipasi sejak dini, termasuk risiko banjir yang dapat dipicu oleh pendangkalan sungai, perubahan dasar sungai, maupun tersumbatnya aliran air. Peningkatan bangunan drainase ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga prasarana tetap andal sehingga perjalanan kereta api dapat berlangsung dengan aman,” ujar Cahyo.
Pekerjaan pertama berlokasi di BH.367 KM 88+640/840 pada petak jalan Grati–Bayeman. Pada lokasi tersebut, KAI melakukan peningkatan konstruksi dengan membangun *box culvert* berukuran 1 × 1 meter untuk menggantikan sistem aliran menggunakan pipa baja berdiameter 0,5 meter.
Kondisi sungai yang mengalami pendangkalan dan perubahan dasar berpotensi memengaruhi kelancaran aliran air, terutama ketika debit meningkat saat hujan. Oleh karena itu, peningkatan konstruksi dilakukan sebagai langkah untuk mendukung kelancaran aliran air dan mengurangi potensi gangguan terhadap jalur kereta api. KAI menargetkan penyelesaian seluruh pekerjaan di lokasi ini pada 10 November 2026, seiring dengan pencabutan Semboyan 2A setelah persyaratan teknis dan keselamatan terpenuhi.
Sementara itu, pekerjaan kedua dilaksanakan di BH.388 KM 94+535/735 pada petak jalan Bayeman–Probolinggo. Peningkatan dilakukan melalui pembangunan *box culvert* berukuran 2,5 × 1,5 meter untuk menggantikan konstruksi jembatan beton dengan bentang 3 meter.
Kondisi bukaan aliran yang relatif rendah berpotensi menyebabkan material tersangkut dan menghambat aliran air. Ketika debit meningkat, hambatan tersebut dapat meningkatkan risiko penyumbatan dan banjir. Melalui pembangunan *box culvert*, KAI berupaya meningkatkan keandalan sistem aliran air pada lokasi tersebut. Pekerjaan ini ditargetkan selesai pada 15 November 2026, bersamaan dengan pencabutan Semboyan 2A setelah seluruh pemeriksaan dan persyaratan teknis dinyatakan terpenuhi.
Cahyo menambahkan, penerapan Semboyan 2A selama pekerjaan berlangsung merupakan bagian dari pengendalian risiko operasional. Pembatasan kecepatan maksimal 40 km/jam diberlakukan untuk memberikan perlindungan selama pekerjaan konstruksi dan memastikan perjalanan kereta api tetap berada dalam kondisi yang terkendali.
“Pemasangan Semboyan 2A bukan sekadar pembatasan kecepatan, melainkan bagian dari prosedur pengamanan ketika terdapat pekerjaan yang perlu dilindungi di sekitar jalur kereta api. Setelah pekerjaan selesai, pencabutan semboyan akan dilakukan sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan teknis yang berlaku. Keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap tahapan pekerjaan,” jelasnya.
Secara keseluruhan, wilayah kerja KAI Daop 9 Jember memiliki 361 bangunan hikmat (BH), yang terdiri atas 355 jembatan, 2 flyover, 2 underpass dan 2 terowongan. Bangunan-bangunan tersebut merupakan bagian penting dari infrastruktur perkeretaapian yang memerlukan pemantauan, perawatan, dan peningkatan secara berkelanjutan untuk menjaga keandalan jalur.
KAI Daop 9 Jember terus memperkuat upaya mitigasi melalui pemeliharaan prasarana, pemeriksaan kondisi jalur, serta penanganan titik-titik yang berpotensi mengalami gangguan akibat cuaca. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mengutamakan keselamatan sekaligus menjaga kelancaran operasional perjalanan kereta api.
“Kami berupaya memastikan setiap potensi risiko dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin. Kami juga terus melakukan evaluasi terhadap kondisi prasarana, khususnya dalam menghadapi musim hujan. Dengan dukungan pemeliharaan yang berkelanjutan dan penerapan prosedur keselamatan secara konsisten, kami berharap perjalanan kereta api tetap aman, andal, dan nyaman bagi seluruh pelanggan,” tutup Cahyo.
