Gelar Hearing Bersama DPRD, Sopir Logistik Minta Rute Ketapang-Lembar Dibuka Kembali. Ini Alasannya

radiovisfm.com – Sopir truk logistic dan antar kota antar provinsi yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) Banyuwangi meminta rute penyeberangan Ketapang-Lembar NTB dibuka kembali, karena selisih harga tiket penyeberangan Jangkar Situbondo-Lembar NTB dinilai cukup mahal mencapai 900 ribu rupiah.

Hal itu terungkap dalam hearing yang digelar oleh ASLI bersama DPRD Kabupaten Banyuwangi. Hearing juga dihadiri langsung oleh General Manager ASDP Cabang Ketapang, Ardhi Ekapati, Ketua Gabungan Pengusaha Sungai, Danau dan Pelabuhan (Gapasdap) Banyuwangi, Putu serta pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjungwangi juga sejumlah stakeholder pelabuhan lainnya.

Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi, Made Cahyana Negara usai memimpin hearing mengatakan, para sopir logistik yang tergabung dalam ASLI menyampaikan berbagai persoalan mereka utamanya terkait permintaan dibukanya kembali penyeberangan Ketapang-Lembar Nusa Tenggara Barat yang selama ini sudah ditutup. Dan mereka dialihkan ke penyeberangan Pelabuhan Jangkar Situbondo menuju Lembar NTB.

“Mereka berharap adanya sambung komunikasi yang baik untuk mengatasi persoalan ini, sedangkan kami di DPRD menjembatani aspirasi mereka,” ungkap Made.

Made mengaku, seluruh stakeholder pelabuhan sudah memberikan jawaban yang baik. “Pihak ASDP menyampaikan bahwa rute penyeberangan Ketapang-Lembar NTB untuk saat ini masih belum bisa dibuka kembali karena dermaga Ketapang-Lembar masih dipakai untuk penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Bali,” ujar Made.

Sebelumnya, rute penyeberangan ke Pelabuhan Lembar NTB dilayani dari Pelabuhan Ketapang. Namun sejak satu tahun terakhir ini, rute tersebut dialihkan dari Pelabuhan Jangkar Situbondo ke Lembar NTB, untuk mengurai kemacetan di Pelabuhan Ketapang.

“Kami sudah sejak lama mengajukan surat permohonan dibukanya kembali rute Ketapang-Lembar ke Kementrian Perhubungan maupun ke berbagai lembaga pelabuhan, namun hingga saat ini masih belum ada respon,” kata Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) Banyuwangi, Selamet Barokah.

Hal ini diajukan karena Selamet beralasan bahwa posisi pelabuhan Jangkar di Situbondo dinilai kurang strategis bagi sopir logistic yang berdomisili di Banyuwangi. Selain itu, fasilitas di Pelabuhan Jangkar kurang memadai.

“Selisih harga tiket yang sangat jauh yakni mencapai 900 ribu rupiah dibanding rute Ketapang-Lembar loh. Kami berharap rute Ketapang-Lembar dibuka kembali,” terang Selamet.

Jumlah sopir logistic maupun truk antar kota antar provinsi yang tergabung dalam ASLI Banyuwangi mencapai 2.154 orang.

Sementara, Ketua Gapasdap Banyuwangi, Putu mengaku, jumlah operator kapal yang mengoperasikan armadanya di lintasan Jangkar-Lembar terus berkurang dan saat ini hanya tersisa 2 kapal.

“Ini disebabkan karena hasil operasional terus berkurang dan tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan pembelian BBM maupun gaji karyawan serta kebutuhan lainnya,” jelas Putu.

“Operator kapal berhak untuk memilih lintasan mana yang digunakan untuk operasional armadanya guna menutup biaya operasional,” imbuhnya.

Putu menegaskan, apabila dari sisi bisnis, operasional kapal di lintasan Ketapang-Lembar dinilai lebih baik dibanding Jangkar-Lembar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.